Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menjadi Muslim Militan dan Shalih

Menjadi Muslim Militan dan Shalih

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Mengarungi samudra kehidupan
Kita ibarat para pengembara
Hidup ini adalah perjuangan
Tiada masa ‘tuk berpangku tangan
 
Setiap tetes peluh dan darah
Tak akan sirna ditelan masa
Segores luka di jalan Allah
Kan menjadi saksi pengorbanan
 
Allahu ghayatuna
Ar-Rasul qudwatuna
Al-Qur’an dusturuna
Al-Jihadu sabiluna
Al-Mautu fii sabilillah asma amanina
 
Allah adalah tujuan kami
Rasulullah teladan kami
Al-Qur’an pedoman hidup kami
Jihad adalah jalan juang kami
Mati di jalan Allah adalah, cita-cita kami tertinggi

(Shoutul Harokah: Bingkai Kehidupan)

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comSecuplik nasyid harakah ini disinggung oleh Ust. Natsir Harist dalam taujihnya yang bertemakan: Menjadi Muslim Militan dan Shalih. Menjadi seorang muslim tentu saja adalah sebuah kebaikan luar biasa yang tidak ternilai harganya, namun hal itu tidaklah cukup. Maka berusaha menjadi muslim yang shalih adalah sebuah kebutuhan khusus bagi diri sendiri agar diri ini bisa dekat dengan Allah Ta’ala, penciptanya. Keshalihan pun senantiasa akan meluas dan mendewasa seiring kebersamaannya dengan ibadah-ibadah sunnah dan wajib yang senantiasa selalu dihidupkannya. Hingga pada akhirnya keshalihan itu meningkat derajatnya dan meluas radiusnya. Tak hanya shalih untuk diri sendiri, namun juga keshalihan yang membumi, menyebar luas, berderak, menghinggapi sendi-sendi kehidupan di sekeliling muslim tersebut.

Namun sayangnya, lagi-lagi menjadi muslim saja atau bahkan menjadi muslim yang shalih tidaklah cukup, meskipun kita tidak menafikan bahwa perjuangan seseorang menjadi muslim saja terkadang mengancam nyawa, pula perjuangan seseorang menuju keshalihan bukanlah barang sepele serupa membalikkan telapak tangan. Tidak, kita sama sekali tidak ingin menafikan hal tersebut. Akan tetapi, sekarang mari kita tengok sedikit ke belakang, ke kisah paling mulia yang pernah ditorehkan dalam sejarah umat manusia, sirah Rasul Muhammad saw.

Kemunculan Islam dari awal mulanya, perjuangan Islam dengan dakwah sembunyi-sembunyinya, perkabaran Islam secara terang-terangan, berbagai perang yang hampir-hampir merontokkan segala pertahanan, hingga akhirnya kemenangan gemilang yang menjadi buah perjuangan yang lebih dari hanya sekadar berbilang.

Siapakah mereka penggerak roda dakwah Islam di awal mulanya? Abu Bakr? ‘Umar bin Khattab? ‘Utsman bin Affan? ‘Ali bin Abi Thalib? Hamzah? Zaid bin Haritsah? Arkom bin Abi Arkom? Bukankah mereka muslim yang shalih? Jika pertanyaannya demikian maka jawabannya akan sangat jelas, “Ya!” mereka adalah muslim-muslim yang shalih. Namun, apakah hanya berhenti di sana, hanya berhenti pada keshalihan semata?

Bukankah Abu Bakar adalah orang yang membenarkan perjalanan Rasulullah saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dalam waktu semalam, ketika penduduk-penduduk Mekah mencaci beliau? Bukankah ‘Umar yang menantang seluruh penghuni Mekah di balik bukit ketika ia akan pergi berhijrah ke Madinah? Bukankah ‘Utsman yang dengan mudahnya berinfak sepuluh ribu dinar (setara Rp. 8.5 Milyar) untuk pasukan ‘usrah yang tengah membutuhkan bantuan? Bukankah ‘Ali yang dengan beraninya menggantikan Rasulullah saw saat kaum Quraisy hendak membunuh Rasulullah dengan mengepung rumah beliau? Betapa besar kerja-kerja mereka untuk Islam, betapa mulia ‘izzah mereka untuk Islam. Maka, hal apakah yang mereka miliki hingga apa-apa yang mereka lakukan selalu yang terbaik untuk agama ini? Militansi yang kuatlah jawabannya. Mereka adalah orang-orang muslim yang shalih, yang sangat takut kepada Tuhannya, sangat cinta kepada Rasul-Nya, sangat baik akhlak dan perangainya, serta merekalah orang-orang yang sangat tinggi militansi perjuangannya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, militan berarti bersemangat tinggi dan penuh gairah. Maka tidak menjadi hal yang mustahil Islam mampu mencapai masa kejayaannya karena pada saat itu para penggerak dakwahnya adalah orang-orang yang bersemangat tinggi dan penuh gairah dalam menyeru manusia kepada Allah ‘azza wa jalla.

***

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (Al-Ankabut: 2).

Jihad adalah bukti militansi. Muslim yang berjihad haruslah bertaqwa dan senantiasa berbaris rapi dan teratur seakan seperti bangunan yang kokoh. Bangunan yang kokoh tidaklah mudah dihancurkan.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ ﴿٤﴾

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh (Ash-Shaff: 4)

Muslim yang militan haruslah menjaga hubungannya dengan Allah dan tentu saja dengan manusia. Dalam bergaul dengan manusia kita harus mampu memperkenalkan kebaikan kita dan mengenali kebaikan mereka. Ta’aruf bukanlah mencari ‘aib sesama muslim, pun jika ditemukan keburukannya, maka tidak boleh ghibah.

Barangsiapa melihat kemungkaran yang dilakukan oleh muslimin, maka ubah dengan tangan, jika tidak bisa nasihati saudara kita untuk meluruskan kesalahan yang telah dilakukannya, jika masih belum berhasil juga, maka mohonkan ampun kepada Allah atas kesalahannya.

Ciri-ciri muslim yang shalih dan militan, seperti yang diungkapkan oleh Ust. Natsir Harits, adalah:

1. Hatinya hidup, mau mendengar ayat-ayat Allah dan apabila disebutkan nama Allah, bergetar hatinya. Karena Allah adalah yang Maha Besar, maka pantaslah ketika nama-Nya disebut bergetar hati, dan bertambahlah keimanan ini. Hati seorang muslim yang militan dan shalih dihidupkan oleh dzikir yang senantiasa ia lakukan saat berdiri, duduk, maupun berbaring.

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿١٩١﴾

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali-Imran: 191)

2. Dekat dengan Al-Qur’an, meskipun sesibuk apapun. Karena Al-Qur’an adalah dzikir terbaik serta Allah sudah menjamin kemudahan keseluruhan isi Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an haruslah dimulai dengan keimanan di hati, sehingga ketika dibacakan kepadanya bertambah imannya.

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ ﴿١٧﴾

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al-Qamar: 17).

3. Kepada Tuhannya ia selalu bertawakal. Tidak pernah menyandarkan kepada kemampuannya. Sepenuhnya tawakal kepada Allah swt. Persiapan sangat penting akan tetapi itu tetap saja sepenuhnya hanya kepada Allah-lah bertawakal.

قُلْ إِنَّمَا يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَهَلْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ ﴿١٠٨﴾

Katakanlah: “Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: “Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa. Maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya).” (Al-Anbiya: 108)

4. Suka beribadah, yaitu ibadah-ibadah mahdhah, salah satunya adalah shalat. Selain menyempurnakan yang wajib juga senantiasa menghidupkan shalat-shalat sunnah. Seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw, beliau senantiasa menjaga shalat dua shalat sunnah entah dalam keadaan safar maupun mukim, yaitu shalat witir dan shalat qabliyah subuh.

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ ﴿٢٣٨﴾

Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’. (QS. Al-Baqarah: 238)

5. Senang dan mudah berinfak. Seorang muslim yang shalih dan militan sangat mudah berinfak dari apa-apa yang ia cintai karena ada sebuah kesadaran yang tinggi bahwa di setiap hartanya ada bagian untuk orang-orang miskin.

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ ﴿١٩﴾

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. (Adz-Dzariyat: 19)

6. Tetap pergi berjihad, ringan maupun berat. Jihad di sini adalah al-qital (perang). Akan tetapi, muslim yang shalih dan militan mengetahui jihad dengan perang bukanlah menjadi dasar gerakan. Dasar gerakannya adalah kelembutan, dialog, dakwah, dan debat dengan cara yang terbaik. Namun, jika akhirnya belum berhasil juga dan bahkan membahayakan umat muslim maka berperang menjadi kewajiban

انفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٤١﴾

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (At-Taubah: 41)

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ﴿١٩٠﴾

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Al-Baqarah: 190).

7. Para nabi berjuang bersama rabbaniyyun. Rabbaniyyun ini tidaklah tersedia seketika, melainkan membutuhkan tahapan-tahapan yang perlu dilakukan, yaitu: perekrutan, pembinaan, dan dakwah. Binaan para nabi ini selalu mau berjuang di jalan Allah juga, mereka selalu berusaha merekrut yang lainnya untuk pada akhirnya bersama-sama berbaris di jalan Allah. Berjuangnya para nabi (murabbi) senantiasa bersama dengan para binaannya (mutarabbi).

وَكَأَيِّن مِّن نَّبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ ﴿١٤٦﴾

Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (QS. Ali-Imran: 146)

8. Berani mati dan berani setengah mati. Terkadang ada umat muslim yang berani mati di jalan Allah, namun ketika ia setengah mati –dalam artian bisa jadi memiliki cacat tubuh atau keburukan fisik disebabkan jihad di jalan Allah– ia kecewa, menggerutu, dan bahkan putus asa terhadap karunia Allah. Akan tetapi, seorang muslim yang shalih dan militan ia akan tetap ridha dan ikhlas dengan itu semua, karena ia meyakini: segores luka di jalan Allah, kan menjadi saksi pengorbanan.

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ ﴿١٦﴾

(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS. Luqman: 16)

9. Berharap syahid di jalan Allah. Jika kita ingat kisah Khalid bin Walid, betapa besar pengharapannya syahid di jalan Allah. Tak pernah sedikit pun ia berpikir akan kembali ke rumah setelah berjihad di jalan Allah. Pernah dalam salah satu perang, sebagai komandan ia memerintahkan seluruh pasukannya mundur, agar ia bisa maju sendiri ke medan perang dan menjemput syahid. Namun, Allah berkehendak lain, majunya Khalid justru membuat musuh-musuhnya tunggang-langgang hingga Khalid belum juga berjumpa syahid di medan jihad.

قُلْ هَلْ تَرَبَّصُونَ بِنَا إِلَّا إِحْدَى الْحُسْنَيَيْنِ ۖ وَنَحْنُ نَتَرَبَّصُ بِكُمْ أَن يُصِيبَكُمُ اللَّهُ بِعَذَابٍ مِّنْ عِندِهِ أَوْ بِأَيْدِينَا ۖ فَتَرَبَّصُوا إِنَّا مَعَكُم مُّتَرَبِّصُونَ ﴿٥٢﴾

Katakanlah: “tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan (kemenangan atau mati syahid). Dan Kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu.” (QS. At-Taubah: 52)

10. Meminta izin kepada orang tuanya ketika akan pergi berjihad di jalan Allah. Betapapun orang tuanya adalah orang yang sering bermaksiat bahkan menyekutukan Allah, namun seorang muslim yang shalih dan militan akan senantiasa menghormati mereka.

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ ﴿١٤﴾

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman: 14)

Itulah mengapa kejayaan Islam di masa silam bukanlah hal yang mustahil karena memang aktor-aktor utama penggerak dakwahnya adalah mereka-mereka yang shalih dan militan, dua hal yang sebenarnya tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Lalu di mana posisi kita sekarang?

Wallahu a’lam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad al-Fatih
Lahir di Bogor Tahun 1989. Dan saat ini tinggal di Taiwan Taiwan sebagai mahasiswa Master di NTUST Taiwan.

Lihat Juga

Pejabat Non-Muslim Pada Zaman Al-Mu’tadhid Billah