Home / Pemuda / Cerpen / Ketika Allah Mengabulkan Doa Hamba-Nya

Ketika Allah Mengabulkan Doa Hamba-Nya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comDi sore hari yang indah, saat kami berdua menikmati secangkir teh sambil bersenda gurau dan berdiskusi ringan, tercetus sebuah keinginan yang aku ungkapkan kepada suamiku…

“Pi… sebagai tanda syukur kita pada Allah atas semua kemudahan, anugerah, rizki dan karunia-Nya, Papi setuju ngga kalo kita ambil anak asuh? tapi anak yatim gitu Pi, sekalian buat nemenin anak-anak kita main, mudah-mudahan keimanan kita menjadi bertambah dan kita semakin dekat sama Allah…”

Suamiku hanya tersenyum dan berkata, “Mudah-mudahan keinginan Mami dikabulkan oleh Allah…”

Mungkin saat kami berbicara waktu itu, ada Malaikat yang mencatat dan mengaminkan keinginanku dan menaikkan doa ku tersebut kepada Allah, lalu Allah mengabulkan keinginanku tersebut. Namun apakah dengan semudah itu Allah dengan begitu saja langsung mengabulkan keinginanku?

Inilah bentuk terkabulnya keinginanku…

Setelah percakapan tersebut, kami menghubungi beberapa Panti Asuhan, namun kami tidak menemukan anak yang cocok untuk kami angkat, hingga sebulan kemudian suamiku jatuh sakit secara mendadak, tensinya tiba-tiba melonjak tinggi dan terjadi perpecahan pembuluh darah di otaknya. Hanya enam hari suamiku dirawat di ICU lalu menghembuskan nafasnya yang terakhir dan kembali kepada Penciptanya. Sungguh peristiwa yang terjadi di luar dugaanku dan sangat tiba-tiba.

Aku belum siap untuk menghadapi kejadian ini, memang aku mengucapkan innalillahi wa’inaillaihi rojiun, Yaa, semua makhluk di dunia ini berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Namun aku tetap tidak dapat membendung kesedihan yang aku rasakan. Aku menangis dan menangis hingga akhirnya aku menyadari bahwa aku harus mengikhlaskan kepergian suamiku menghadap Illahi. Karena suamiku adalah milik Allah, dan aku hanya dititipkan sementara oleh Allah untuk membahagiakannya.

Perlahan aku berkata pada jasad suamiku, “Papi… Mami ikhlas Papi pergi menghadap Allah… atas seizin Allah kita bertemu, dan atas ridha-Nya pula Allah mempertemukan kita… dan sekarang… atas Kehendak Allah pula kita berpisah, Mohon maaf atas semua kesalahan Mami ya Pi, insya Allah Mami kuat dan sabar dalam menghadapi ini semua, dan Semoga Allah memberi kemudahan, kekuatan dan kesabaran untuk Mami dalam merawat, mendidik dan memelihara anak-anak kita, Papi yang tenang dan bahagia ya bersama Allah…”

Lalu aku mencium tangannya dan kedua pipinya… seperti biasa aku lakukan bila aku pamit untuk pergi bekerja atau suamiku pamit untuk pergi tanpa diriku. Entah kekuatan dari mana hingga aku dapat melakukan semua itu dengan tenang. Namun setelah keluar dari ruang ICU, setelah aku menenangkan tangisan anakku, aku kembali jatuh pingsan.

Sesampainya di rumah, aku sudah tidak mampu lagi untuk menangis, aku hanya mampu menatap jasad suamiku dan berharap ada keajaiban dari Allah sehingga suamiku bisa hidup kembali, dan terkadang aku berharap bahwa yang aku lihat bukanlah jasad suamiku… Hatiku terlalu hancur untuk bisa menangis, dan aku merasakan kesedihan yang sangat menyakitkan, kehilangan belahan jiwa, seorang suami yang baik dan penyayang yang sangat menyayangi dan mencintai keluarganya. Tidak pernah terlintas dalam pikiranku aku akan ditinggal pergi oleh suamiku secepat ini. Kutatap wajah kedua anak-anakku yang masih kecil-kecil, terpancar kesedihan yang sangat mendalam di sela-sela isak tangis mereka.

Hari-hari kulalui tanpa semangat, seolah-olah separuh jiwaku ikut pergi bersama suamiku. Entah mengapa selama setahun lebih aku pun selalu berpakaian menggunakan warna hitam atau warna gelap lainnya dan aku pun tidak lagi bertabaruj (berhias diri) walau hanya menggunakan bedak tipis, itupun tidak lagi aku lakukan. Dan aku lebih sering menyendiri serta melamun, hingga aku ditegur oleh atasanku. Beliau menegurku karena aku sesungguhnya sudah melewati masa berkabung, namun aku masih terlihat terus dalam suasana berkabung.

Hampir setiap malam kulalui dengan shalat Tahajud, memohon ampun dan meminta kekuatan kepada Allah, hanya kepada Allah aku curahkan seluruh perasaanku, kesedihanku, kekhawatiranku. Deraian air mata tercurah di atas sajadahku dan menjadi saksi atas kesedihan dan keluh kesahku kepada Allah. Menjadi saksi atas penyerahan seluruh hidupku dan masalahku kepada Allah. Kuakui kalau sesungguhnya aku merasa tidak kuat dan lemah dalam menerima ujian ini, namun kukembalikan semuanya hanya kepada Allah.

Empat tahun sudah kulewati waktu tanpa suami tercinta, tanpa kekasih belahan jiwa. Kini anak-anakku sudah beranjak remaja, dan aku bersyukur mereka menjadi anak-anak yang shalih dan berakhlak sangat baik. Di setiap shalatku, kunaikkan sejumlah doa untuk suamiku dan anak anakku, dan aku yakin suamiku berbahagia di sana karena setiap shalat mendapatkan kiriman doa dari istri dan anak anaknya.

Kini baru kusadari bahwa, sesungguhnya setiap ucapan adalah doa dan Allah sudah mengabulkan doa serta keinginanku, namun Allah mengabulkan doaku tersebut tidak sama dengan bentuk yang kita harapkan, tidak dalam bungkus yang indah. Ternyata membutuhkan kesabaran, keikhlasan, kesungguhan dan kekuatan serta tawakal dalam membuka bungkus tersebut. Serta membutuhkan doa dan hubungan yang terus menerus dengan Allah. Dan Subhanallah… ternyata bungkus tersebut memiliki hadiah yang sangat indah, di dalamnya berisi dua orang anak yatim yang shalih yang menjadi penyejuk bagi jiwaku, mataku dan hatiku. Anak-anak yang menjadi Quratu ‘Ain bagiku… Ya, keinginanku untuk memelihara anak-anak yatim dikabulkan oleh Allah, dan ternyata… anak anak yatim itu adalah anak-anak kandungku sendiri.

Kedua anakku tersebut memiliki akhlak yang sangat baik, Saat tadarus bersama, bahkan si sulung sudah dapat mengoreksi bacaan Al-Quran ku dan adiknya, setiap shalat berjamaah, si Aa begitu kami biasa memanggilnya selalu menjadi imam di rumah kami, dan adiknya si Dede yang akan membacakan doa setelah selesai Shalat. Kami biasa berdiskusi bersama dan melakukan kegiatan bersama sama. Subhanallah walhamdulillah… kami tidak merasa sendiri lagi di dunia ini, kami dapat merasakan cinta dan kasih sayang Allah kepada kami melalui orang-orang yang menyayangi kami. Allah selalu menolong setiap ada masalah yang menimpa kami, Allah memberkahi kehidupan kami dan mencukupi semua kebutuhan kami, Allah menjaga dan memelihara kami. Namun yang paling utama adalah, kami dapat merasakan kenikmatan dalam beribadah kepada Allah dan kami merasa dekat dengan Allah. Tidak ada lagi kesepian dan kesedihan karena Allah selalu bersama kami.

Dengan kejadian ini ada hikmah yang aku ambil, bahwa Allah sangat menyayangi dan mencintai semua hamba hamba-Nya. Allah akan mengabulkan semua doa dan permohonan hambaNya walaupun dalam bentuk yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan dan mungkin saja Allah akan menyimpan doa kita di akhirat nanti untuk kebaikan kita. Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Al-Mu’min:60)

Jangan pernah berprasangka buruk pada Allah, “Sesungguhnya Allah berfirman: “Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku.” (HR. Turmudzi)

About these ads

Redaktur: Samin Barkah, Lc., ME

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (47 votes, average: 9,51 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Fatima Az zahra
Saya adalah seorang wanita biasa yang memiliki 2 orang anak.
  • sn aishah

    sungguh indah cerpen/ kisah ini….

Lihat Juga

Indahnya Hidup dalam Panduan Allah