Home / Pemuda / Cerpen / Sepasang Kaos Kaki

Sepasang Kaos Kaki

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (pheezank.blogspot.com)

dakwatuna.comRibet!

Satu kata itu cukup untuk menggambarkan keadaanku jika harus memakai benda itu ke manapun aku pergi, selangkah dari rumahku pun sepasang benda itu selalu “dipaksa” menghiasi kakiku.

Pernah dalam hati aku bertanya, “Mengapa telapak kaki juga aurat? Bukankah laki-laki sama sekali tidak tertarik dengan telapak kaki, Apa bedanya telapak kaki dengan telapak tangan yang bebas dari predikat aurat?”

Dan masih banyak kalimat pembenaran lainnya.

Aku kesal dengan kakak perempuanku yang selalu mengingatkanku untuk memakai kaos kaki ketika hendak keluar rumah.

“Jangan lupa kaos kaki.”

“Hei… kakimu itu aurat, harus ditutup!”

“Kakak beliin kaos kaki baru nih, dipakai yaa.”

Kakak perempuanku itu tidak pernah bosan mengingatkanku, kurang kerjaan kali ya? Ga kok, kerjaannya banyak, tapi masih saja kekeuh mengingatkanku untuk hal kecil seperti itu. Dia tau persis kapan waktunya aku keluar rumah, walaupun saat itu dia lagi di dapur, eh taunya udah nunggu depan pintu rumah sambil memasang senyumannya yang khas, “Jangan lupa kaos kakinya yaa…”

Waduh kak, Ribet!

Dan seperti saat ini, dia sudah melirikku dari tadi yang sedang bersiap-siap pergi, hari ini aku halaqah di rumah teman sekolahku. Sebenarnya rumahnya tak terlalu jauh dari rumahku. Lima menit cukup untuk berjalan ke rumahnya. Tapi lagi-lagi pasti aku dipaksa memakai kaos kaki, karena itulah aku memilih memakainya duluan daripada mendengar “perintah” kakak perempuanku terlebih dahulu.

Kuambil sepasang kaos kaki, lalu memakainya.

“Waah… adik kakak tambah cantik deh, kalau pakai kaos kaki,” ujarnya.

“Maksa banget, ga nyambung tauu, cantik itu di wajah bukan di kaki!”

Kakakku tersenyum lalu mencubit pipiku.

“Mau halaqah kan, mau dianter ga?”

“Ga usah kak, lebih banyak pahalanya kalo jalan.”

Subhanallah.”

Lagi-lagi kakakku memasang wajah “pura-pura” takjub denganku, aku segera melangkahkan kaki keluar rumah untuk halaqah daripada harus mendengarkan celoteh kakak perempuanku itu.

***

Sehabis halaqah, aku berjalan menuju rumahku, tapi di perjalanan kata-kata Murabbi-ku it terus berputar berulang-ulang di benakku. Sungguh membekas dan menjawab permasalahanku mengenai kaos kaki ini.

Setelah Murabbi ku menyampaikan materi tadi, aku telah mengazzamkan pada hatiku untuk istiqamah menutupi kakiku ke manapun aku pergi, walaupun hanya sejengkal dari rumahku.

Murabbiku menjelaskan tentang persyaratan apa saja yang harus dipenuhi sehingga jilbab sah untuk dipakai. Salah satunya ialah busana yang tidak menampakkan betis/kaki atau celana panjang yang membentuk kakinya, dan kedua telapak kaki pun harus ditutup.

“Kaki juga aurat, aurat yang sering diabaikan oleh kaum wanita, tidak sempurna istilah “menutup aurat” itu jika melakukannya hanya setengah-setengah?? Lagipula bila kita shalat, kita mesti menutup kaki, karena jika terlihat, hukum shalat jadi tidak sah. Apakah kita rela dibakar api neraka hanya karena menganggap ringan akan hal ini??”

Kata-kata itu terhujam di hatiku. Benar kata beliau, bahwasanya seorang muslimah itu harus berhijrah secara kaffah, jangan setengah-setengah. Dalam segala aspek kehidupannya. Salah satunya dalam melaksanakan perintah menutup aurat ini.

Murabbi ku melanjutkan,

“Apakah yang akan terdetik di hati kita apabila ada seorang lelaki yang menegur: “kaki juga aurat, tidakkah kamu mengetahuinya wahai wanita…”,

Apakah yang terlintas di hati dan pikiran kita? Malu? Karena lelaki juga mengetahui batas aurat seorang wanita tetapi kita tidak sadar atau pura-pura tidak tahu akan aurat kaki kita??”

Kami yang ada di halaqah jadi terdiam kala itu. Ya, benar. Setiap jengkal dari anggota tubuh wanita memiliki daya tarik yang sangat kuat, tak terkecuali “Si telapak kaki”.

Kaki adalah bagian dari aurat muslimah. Tapi banyak yang masih kurang menyadarinya, sehingga bagian kaki antara betis sampai ujung kaki masih di tampakkan. Padahal dalam ayat tentang aurat, kaki termasuk bagian yang harus tertutupi.

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.” (QS. An Nur: 31)

Terbayang di pikiranku bagaimana hari-hariku selanjutnya, pasti susah plus ribet.

Tapi aku sudah bertekad dalam hatiku.

Aku rela memakai kaos kaki walau hanya untuk membuang sampah di belakang rumahku.

Aku rela memakai kaos kaki walau hanya pergi ke warung di sebelah rumahku.

Aku rela memakai kaos kaki walau hanya menyambut tetangga yang bertamu ke rumah.

Ya, Aku rela kaos kakiku basah terkena air yang melimpah daripada kakiku terkena percikan api neraka.

Semoga aku bisa istiqamah ya Allah, untuk menjadi muslimah yang kaffah.

Aamiin.

Untuk seluruh muslimah: “Saudariku, yuk kita sempurnakan hijab, menyempurnakan cinta kita untuk-Nya”

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (35 votes, average: 9,17 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Seorang Penulis asal Palembang, pernah menuntut ilmu di Universitas Sriwijaya.
  • Aziez James Sulivan Vegend’s

    emank bner kta kakak km, klo prempuan memakai kaos kaki tu jd tmbah cntik
    ku jstru suka jika prmpuan mmakai kaos kaki

Lihat Juga

Ilustrasi. (Foto: asosiasipenulisislam-sby.blogspot.com)

Nampak Aurat Tanpa Sengaja Saat Shalat, Apa Hukumnya?

Organization