Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Dhuha Di Kantor? Mana Sempat?!

Dhuha Di Kantor? Mana Sempat?!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Bekerja, bekerja dan bekerja.

Seperti itulah aktivitas kita setiap harinya. Minimal delapan jam kita habiskan waktu untuk mencari uang. Hmmm…bekerja maksud saya. Tapi kita bekerja untuk apa sih? Menjemput rizki Allah alias mencari uang bukan?

Untuk bekerja, berapapun waktu yang dibutuhkan rasanya selalu tersedia. We are ready all the time. Kadang sampai direwangi lembur pulang malam. Its oke. Memang kerja keras itu, harus. Dalam haditsnya kita diperintahkan untuk bekerja seolah–olah kita hidup selamanya. Apalagi di zaman sekarang yang serba “bertarif”, tidak ada yang gratis. Bahkan untuk ke toilet sekalipun.

Tapi… alangkah lebih baiknya jika kerja keras itu kita barengi dengan sedikit “kerja keras” untuk mengisi kebutuhan rohani kita. Saya tulis sedikit, sebab selalu lebih banyak waktu yang kita belanjakan untuk memenuhi kebutuhan jasmani. Umumnya demikian, kecuali bagi orang–orang yang memang berkecimpung di dunia kerohanian. Coba kita hitung secara matematis. Taruhlah kita gunakan waktu 10 menit untuk sekali shalat fardhu. Jika dikalikan lima kali dalam sehari semalam, artinya kita gunakan 50 menit waktu kita untuk shalat. Sedang untuk bekerja? Waktu yang kita gunakan berlipat–lipat dari itu.

Lalu, bagaimana kita menyiasati waktu kita untuk tetap berusaha dekat dengan Allah meskipun kita bekerja? Insya Allah sebenarnya selalu ada jalan selama ada niat untuk melakukan. Demikian yang saya yakini. Salah satunya adalah dengan membiasakan shalat Dhuha di kantor. Sibuk? Pasti, namanya juga bekerja. Justru pada saat pekerjaan kita terasa overload, menguras tenaga dan pikiran, mengambil air wudhu dan rehat sejenak untuk menyapa Tuhan akan memberikan kembali kedamaian yang luntur oleh ratusan file–file di komputer atau tumpukan berkas–berkas yang tidak ada habisnya. Feeling refresh. Shalat Dhuha tidak memberatkan alias fleksibel. Kita diberi kebebasan untuk melakukannya sesuai dengan keinginan, juga waktu yang kita miliki. Dua rakaat, empat rakaat, delapan rakaat atau dua belas rakaat sekaligus. Tinggal pilih mana yang paling ringan untuk dilakukan.

Alangkah sayangnya… padahal jika kita tahu seperti apa faedah shalat Dhuha insya Allah akan eman–eman meninggalkannya. Allah, seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, menjanjikan akan membangun rumah di surga bagi siapa saja yang melanggengkan shalat Dhuha. Dalam hadits qudsi disebutkan pula bahwa siapa yang mengerjakan shalat empat rakaat di pagi hari, Allah akan menjamin dan mencukupkan segalanya dengan limpahan barakah sepanjang hari itu. Termasuk mencukupkan rizkinya (ini yang ditunggu-tunggu). Shalat Dhuha memberikan keberkahan kepada yang mengerjakannya. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tabhrani dan Abu Hurairah, diceritakan bahwa di akhirat kelak, Allah akan memanggil orang-orang untuk masuk ke surga melewati pintu Dhuha, sebuah pintu surga yang dipersiapkan bagi orang–orang yang mengerjakan shalat Dhuha. Subhanallah… ganjaran yang benar–benar amazing, tidak akan terbeli dengan berapapun uang yang kita hasilkan dari kerja keras sepanjang hayat meski direwangi dengan (bahasa ekstrimnya) jungkir balik banting tulang peras keringat dari pagi hingga pagi lagi.

Shalat Dhuha adalah shalat orang yang kembali pada Allah (sholatul awwabiin) setelah mereka lupa dan disibukkan oleh pekerjaan. Alangkah beruntungnya jika kita adalah bagian dari muflihuun yang melaksanakan sholatul awwabiin. Mengejar dunia, tidak pernah ada habisnya sebab sudah menjadi qudrah manusia memiliki sifat tidak pernah puas. Pencapaian demi pencapaian, target demi target seolah berkejaran dengan waktu yang tidak bisa diajak kompromi. Sukses dalam karir dan materi, itu tujuannya. Namun esensi hidup bukankah bukan hanya semata gemilang di dunia? Kita semua pasti menginginkan keselamatan hidup di dunia dan di akhirat. Doa kita sallimnaa fiddunyaanaa wa ukhronaa mesti dibarengi dengan ikhtiar untuk meraihnya.

”Kantor” yang saya maksud dalam tulisan ini sebenarnya memiliki arti yang luas. Bisa berarti rumah, sekolah, kampus, kantor pemerintah, kantor swasta ataupun sawah. Setiap orang memiliki kantornya sendiri. Apapun nama kantornya, kita memiliki cara untuk menyiasati bagaimana “mencari atau mencuri” beberapa menit saja waktu untuk berdhuha. There is a will there is a way. Wa hayya ‘alashsholaah. Semoga…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Penulis berprofesi sebagai PNS di lingkup Pemkab. Tulungagung Jawa Timur. Menekuni dunia literasi sejak dua tahun terakhir. Tulisannya tergabung dalam 40 antologi, buku solo Love and Live Undercover, Meraup Pahala Kala Haid Tiba, dan Kitab Gang Pitu telah terbit tahun ini. Dua novel Islaminya insya Allah terbit awal tahun 2014. Penulis aktif dalam jaringan kepenulisan Jaringan Pena Ilma Nafia (JPIN)
  • nyantai aja bos.Rizki Allah itu luas koq.Tdk hanya di kepolisian. Zaman Rasulullah malah jauh lebih parah, jauh lebih kejam dari sekedar diberhentikan dari pekerjaan :)

  • coba dr yg mudah dl

  • budhi

    saya sering sholat dhuha di kantor pada jam kerja. saat pekerjaan saya sudah hampir beres, saya coba untuk sholat dhuha. tp akhir2 ini saya di tegur oleh atasan saya. atasan saya beralasan bahwa dhuha itu sunnah, sedangkan kerja itu wajib. Jadi lebih baik kerjakan yang wajib. Seakan2 atasan saya melarang saya untuk sholat dhuha secara halus. sedangkan sholat dhuha sudah menjadi rutinitas saya, saya ingin antara mengejar dunia diimbangi dengan menghidupkan yang sunnah dan wajib. Saya harus bagaimana untuk masalah ini ? Thanks.

    • Fikrullah Satrio Dewandaru

      Kenapa gak coba berdialog dengan si bos ?
      Ingat ya, rezeki Anda bukan di tangan bos Anda, percayalah Allah Azza wa Jalla pasti memudahkan segala urusan, selama kita dekat dengan Allah Azza wa Jalla.

  • Eris Riso

    Tanya:

    Apakah boleh melaksanakan shalat Dhuha di saat jam kerja kantor,
    khususnya jika di tempat shalat kepenuhan oleh jama’ah sehingga shalat tersebut
    mesti dilaksanakan di jam kerja resmi?

    Jawab:

    Perlu diketahui bahwa hukum asal shalat sunnah adalah di rumah.
    Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    أَفْضَلُ
    صَلاَةِ المَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ المَكْتُوْبَة

    ”Sebaik-baik shalat seseorang adalah di rumahnya kecuali shalat
    wajib.” (HR. Bukhari
    dan Muslim)

    Nabi shallallahu
    ‘alaihi wa sallam bersabda,

    اِجْعَلُوا
    مِنْ صَلاَتِكُمْ فِي بُيُوْتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوْهَا قُبُوْرًا

    “Jadikanlah shalat-shalat kalian di rumah kalian dan janganlah
    jadikan rumah tersebut seperti kuburan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Tidak selayaknya bagi seorang pegawai melalaikan pekerjaan dari
    atasan yang hukumnya lebih wajib dari sekedar melaksanakan shalat sunnah.
    Shalat Dhuha sudah diketahui adalah shalat sunnah. Oleh karenanya, hendaklah
    seorang pegawai tidak meninggalkan pekerjaan yang jelas lebih wajib dengan
    alasan ingin melaksanakan amalan sunnah. Jika memungkinkan, pegawai tersebut
    bisa melaksanakan shalat Dhuha di rumahnya sebelum ia berangkat kerja, yaitu
    setelah matahari setinggi tombak. Waktunya kira-kira 15 menit setelah matahari
    terbit.

    [Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhut ‘Ilmiyyah wal Ifta’ no.
    19285, 23/423. Yang menandatangani fatwa ini adalah Syaikh Bakr ‘Abdullah Abu
    Zaid, Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alu
    Syaikh sebagai anggota dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz sebagai
    ketua]

Lihat Juga

Upaya Untuk Khusuk Dalam Shalat