Home / Berita / Opini / Idealisme versus Apolitisme

Idealisme versus Apolitisme

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (nanafrans.wordpress.com)

dakwatuna.comKita bisa melihat bagaimana kondisi Indonesia kini secara keseluruhan, kemiskinan dan kebobrokan moral serta pendidikan menjadi warna-warni yang umum kita temui di keseharian yang rasanya hal-hal tersebut tergeletak begitu saja tanpa banyak yang mau peduli dengan apa dan bagaimana untuk memperbaiki kondisi tersebut, bahkan yang sangat disayangkan adalah banyak yang berkoar menyalahkan pemerintah secara mutlak yang menggeneralisir bahwa semua salah pemerintah, ya memang pemerintah memegang andil besar dalam tanggungjawab ini tapi apakah dengan terus menyalahkan akan merubah?

Ungkapan protes yang timbul dari ketidaksesuaian impian dan kenyataan ini membuktikan bahwa setiap insan memiliki idealisme pada perubahan yang lebih baik dari suatu kondisi ke kondisi lain yang lebih baik dari sebelumnya akan tetapi mayoritas masyarakat pada umumnya hanya berhenti pada idealisme yang berwujud pada tuntutan, ya sekadar menuntut tanpa memunculkan solusi atau bahkan sekadar berpartisipasi dalam wujud solusi yang lebih kongkret dalam mewujudkan perubahan.

Kita bisa ambil contoh dalam sebuah Pemilu Raya di sebuah kampus, yang dimana dari sekian ribu mahasiswa yang terdaftar sebagai mahasiswa di kampus tersebut hanya ratusan orang yang ingin secara tulus berpartisipasi dalam rangka mendukung sosok pemimpin mereka di arena kepemimpinan kampus padahal yang menuntut perubahan di kampus tersebut terhitung lebih banyak dari yang ‘rela’ berpartisipasi dalam Pemilu Raya tersebut, itu hanya sekadar contoh kecil dalam lingkup sederhana dalam tataran kampus yang notabene miniatur masyarakat luas. Sejatinya ketika masyarakat mikro dalam kampus saja berfikir idealis tapi apolitis, maka tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di masyarakat yang lebih majemuk.

Kita menyadari bahwa masing-masing kita memiliki idealisme yang merupakan fitrah dari Allah Swt untuk cenderung pada kebaikan akan tetapi sikap apolitis yang bisa kita terjemahkan secara sederhana sebagai sikap apatis alias tidak peduli terhadap politik, baik politik itu sendiri maupun segala perlengkapan dan kelengkapannya tentu menghambat terwujudnya perubahan yang diinginkan, bagaimana bisa kita menginginkan perubahan tanpa ada tindakan politis sedikit pun, rasanya tidak mungkin terlebih lagi perubahan yang diinginkan ada dalam ranah pemerintahan yang notabene tidak mungkin ‘bersih’ dari politik.

Apolitisme atau sikap apolitis harusnya kita kikis dan tidak menjadi sesuatu yang kita pegang teguh dalam pola pandang kita terhadap kehidupan yang ada kini, karena bagaimana bisa kita berharap pemerintahan yang mayoritas berpolitik berubah ke arah yang lebih baik tanpa ada gerak politik berupa partisipasi dalam rangka mewujudkan perubahan tersebut, rasa-rasanya idealisme kita dalam rangka ‘memohon’ perubahan akan menjadi omong kosong belaka.

Maka dari itu sejatinya tidak ada pertentangan antara sikap idealisme yang cenderung pada perubahan ke arah yang lebih baik dengan politik yang katanya kotor dan jikalau benar kotor bagaimana bisa bersih kalau tidak ada orang-orang berakhlak dan berpikiran bersih turut andil dalam ranah politik yang ada kini dan sekali lagi kita atur lagi kerangka berfikir kita bahwa tidak ada pertentangan antara keduanya(idealisme dan politik) hingga kita mampu berpartisipasi aktif serta kontributif dalam rangka mewujudkan perubahan.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah Menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d:11)

Wallahualam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

El-Andalusy
Mahasiswa tingkat 2, S-1 Teknik Telekomunikasi Institut Teknologi Telkom Bandung, aktif di KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Komisariat Institut Teknologi Telkom.
  • Mendikbud Syok Usai Temui Penikam Siswa SMA Yayasan Karya-Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhammad Nuh mengunjungi AD alias Jarot, di Mapolres Jakarta Selatan.

    M Nuh sempat syok saat berbincang dengan pembunuh Deny (17), pelajar SMA Yayasan Karya (Yake) 66.

    “Saya agak surprise, syok. Saya sempat tanya, puas mas membunuh korban? ‘Saya puas pak’,” kata Nuh dengan mata berkaca-kaca kepada wartawan, Rabu (26/9/2012) malam.

    Menegaskan apa yang didengarnya, Nuh kembali bertanya kepada pelajar kelas XI SMK Kartika Zeni.

    “Puas pak, tapi agak menyesal,” ungkap Nuh menirukan perkataan AD.

    Lebih lanjut Nuh menuturkan, mendidik anak seperti tersangka memang berat. Ia menilai dari cara berbicara, gerak tubuh dan penampilannya, tak ada tanda penyesalan dalam diri AD.

    “Ada beban sosial yang dibawanya. Bukan lagi masalah pendidikan atau sekolah biasa,” lanjut Nuh.

    Sebelumnya, tawuran pelajar antara SMK Karya 66 dengan SMK Kartika Zeni, pecah di Jalan Payakumbuh, Setiabudi. Tawuran berujung pada tewasnya Deny, dengan luka bacok di bagian perut.