Home / Pemuda / Cerpen / Karena Amanah Aku Melupakan-Mu

Karena Amanah Aku Melupakan-Mu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comAku mengorbankan banyak hal. Aku harus bersabar dengan banyak hal… aku harus melakukan berbagai macam hal dan aku harus kehilangan banyak hal yang aku sukai selama ini. Itu semua semenjak aku mengenal TARBIYAH!

Sampai keluargaku aku hadapi dengan begitu sabar. Bukan hanya waktu tapi aku korbankan egoku untuk menembus jantung pertahanan keluargaku mencapai misiku, diridhai dengan berbagai aktivitas yang dianggap nggak penting. Aneh, bahkan ekstrim!

Kuliah pun aku korbankan. Jika semestinya aku bisa fokus kuliah dan mengerjakan tugas kuliah, co-ass, mengerjakan proyek-proyek bersama dosen, aku harus mengorbankan waktu-waktu santaiku, waktu bersama temanku, waktu tidurku bahkan, sejak aku mengenal Tarbiyah. Ada yang aku temukan dan aku perjuangkan sejak aku bertemu Tarbiyah.

Tak hanya itu. Aku pun harus rela kehilangan teman-temanku. Entah karena mereka menjauh atau karena aku yang menjauh karena “minder”ku. Aku harus kehilangan saat-saat bersama temanku untuk bergurau, makan bersama, nonton film, jalan-jalan, main game, tracking, untuk satu hal yang baru aku tahu dan sekarang aku tuju.

Amanah-demi amanah telah melalaikanku akan semua hal itu. Aku lupa dan terbuai dengan apa yang saat ini aku bersamanya. Ambisiku kian memuncak

“Seharusnya bukan begitu. Hargai pendapat saya!”

“Tapi akh, argumentasi Antum sudah terpatahkan. Coba Antum yakinkan kami dengan argumentasi lagi sampai kami yakin”

“Pokoknya ya itu. Titik!”

Aku merasa sedang di puncak kebenaran yang perlu diakui kebenarannya dan menjadi orang yang perlu dihargai dan dihormati. Berentetan “amanah” yang aku pegang sekarang dan di awal aku mengenal Tarbiyah telah membuat aku memiliki banyak kelebihan di antara yang lain. Dari wawasanku, public speaking, buku-buku yang sudah aku tulis, orang mengagumi berbagai kelebihan yang aku dapatkan begitu cepat. Cepat dalam belajar dan sekarang aku benar-benar di puncak. Akulah orang yang harus didengar pendapatnya!

###

“Bismillah, dengan berbagai pertimbangan maka insya ALLAH akh Roja menjadi mas’ul pengganti saya”

“ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR!”

Suara takbir mengguncang hati ku. Hati ini seakan tak rela. “Apa lebihnya Roja dibanding aku? Aku lebih pintar public speaking, aku pun lebih banyak memiliki jaringan nasional maupun internasional, aku orang yang populis, aku lebih terkenal dari pada dia. Kenapa Roja yang terpilih jadi ketua selanjutnya dan bukan aku???”

Aku pun pulang dengan membawa senyum sejadinya di depan orang-orang yang aku temui. “Bukankah amanah itu harus diberikan kepada ahlinya. Bukankah hadits juga menyatakan kalau tidak diberikan pada ahlinya maka hancurlah jadinya??? Lalu kenapa Roja?”

Sampai di kontrakan aku mengunci kamar dan coba merenungkan. “Adakah yang salah padaku? Kenapa mereka tidak memilihku?”

Ti tuut tiit tittitt…suara dering hp pun membangunkan dari lamunanku. “Mas Arman menelfon aku? Ada apa ya” gumamku mengira-ngira apa yang akan dikatakan Murabbiku nanti. “Apakah beliau tahu kalau aku sebenarnya tidak terima dengan keputusan syura tadi??? Ah, mana ada yang tahu hatiku”

“Assalamu’alaikum akh, lagi dimana? Antum baik-baik saja kan?”

“Wa’alaikumsalam Mas. Alhamdulillah saya baik-baik saja maz, sekarang lagi di kontrakan. Ada apa ya mas?”

“Antum lupa ya akh, kalau kita sekarang liqa”

“APA…??? Astaghfirullah. Afwan mas, saya lupa. Afwan mas afwan. Tempatnya dimana? Saya ke sana sekarang”

“Ditempat biasa akh. Kami tunggu ya”.

###

Sampailah aku di sebuah forum yang telah memberikan aku banyak hal. Meski tak langsung. Forum liqa yang telah mengajariku banyak hal. Yang menjadikan aku seakan seorang mualaf. Dalam bingkai ukhuwah tarbiyah.

Tampak beberapa temanku sudah begitu tenang memandang dalam satu fokus ke arah mas Arman, murabbi kami. Sayup-sayup ku dengar kata-kata orang yang sangat aku hormati itu…

“Bukan seberapa besar amanah yang kita pegang, tapi seberapa besar tanggung jawab kita kepada amanah. Kita hanyalah makhluk kecil di antara triliunan makhluk ALLAH. Kita bukanlah apa-apa tanpa ALLAH. Bahkan pertemuan kita dalam bingkai Islam ini pun atas kehendak ALLAH. Apakah pantas kita berbangga dengan amanah kita padahal yang membantu selesainya amanah kita adalah ALLAH?  Jika kita hanya berfikir akan mendapatkan amanah apa, bukan dengan amanah kita bisa apa, selesailah kita. Maka coba kita pikirkan kembali, untuk apa kita hidup di dunia. Untuk apa amanah ini jika kita malah semakin jauh dari tujuan akhir kita yaitu Ridha ALLAH, Patutkah kita mengotori tujuan kita dengan hati-hati yang riya’ dan ujub? Jika Antum menginginkan suatu amanah (jabatan) tapi Antum kecewa karena tidak berhasil mendapatkannya, maka coba kita lihat kembali hati kita, apakah niat kita sudah karena ALLAH???”

Tak sampai aku masuk bersama lingkaran itu, aku pun berlari. Berlari sekencang-kencangnya. Jauh dan semakin jauh dari mereka yang sedang melingkar. Aku menangis, ALLAH telah menegurku lewat suatu yang tak aku sangka. ALLAH begitu lembut menegurku tanpa membuka aib penyakit hatiku ke orang lain. “Ya ALLAH, berkali-kali aku melupakanMU, Tapi Engkau selalu saja mengampuni bahkan memberikan jalan untuk hambaMU ini bisa kembali”

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (19 votes, average: 9,84 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lihat Juga

Begitu Melimpah Nikmat Allah, Maka Berqurbanlah