Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Aku dan Dakwah

Aku dan Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comKisah ini bermula ketika aku baru saja melaksanakan OSPEK Universitas Jenderal Soedirman.

Jalanan di depan kampusku memang terlihat sepi, tak seperti jalanan sewaktu di kota SMA ku terdahulu. Begitu juga hatiku kala itu, Dunia perkuliahan telah mengubah prinsip dan kebiasaan hidupku. Aku yang masih seperti anak kecil, tak terasa telah menginjakkan kakiku di sebuah kampus di Purwokerto, Universitas Jenderal Soedirman.

*****

Di sebuah selasar masjid kampus.

Lantunan Al Qur’an terdengar sayup-sayup merdu dari dalam masjid, aku yang masih berada di luar masjid, membuka buah kakiku untuk sekadar melaksanakan shalat Zhuhur. Saat itu, saat pertama kalinya aku di perkenalkan dalam bingkai ukhuwah, aku bertemu dengan salah seorang Mahasiswa yang ku lihat pertama kali saat UKM Expo Ospek Universitas. Aku melihat di identitas jaketnya, dia tergabung dalam UKKI (Unit Kegiatan Kerohanian Islam). Pertama kali aku di sambut di sebuah masjid kampus ini.

Aku memang telah meng-azzamkan bahwa aku harus berubah dari dunia (yang boleh dibilang) kegelapan menuju yang “lebih terang”. Lalu aku sedikit menyapanya;

“Assalamu’alaikum. Mas, mas anak UKKI ya?” Sapaku. (UKKI adalah UKM yang bergerak di bidang dakwah kampus di kampusku)

“Wa’alaikumussalamwarahmatullahwabarakatuh. Iya. Ade namanya siapa? Dari Fakultas apa?”. Jawabannya begitu lembut, santun penuh ukhuwah, tangannya menjulurkan yang berarti mengajak bersalaman.

Subhanallah. Indahnya ukhuwah ini. (Dalam hatiku)

“Arifin dari Biologi, mas”. Kemudian dia sedikit menjelaskan tentang dakwah di Kampus ini, aku di sarankan untuk masuk Lembaga yang berada di tingkat Fakultas (LDF-Lembaga Dakwah Fakultas—red).

“Alhamdulillah, saya juga dari Biologi. Boleh minta nomor HandPhone-nya?”. Tanyanya. Lalu ku sebutkan beberapa digit angka yang ditulisnya di telepon genggamnya.

Aku berpamit untuk bergegas meninggalkan masjid itu, setelah ku ketahui, lelaki itu bernama Egy.

Semenjak saat itu, seringkali aku mendapati SMS Taushiyah dari laki-laki itu. Aku semakin yakin untuk memasuki lembaga dakwah di Fakultasku. Aku di pertemukan kembali dengan laki-laki itu sewaktu UKM Expo di OSPEK tingkat Fakultas. Mulai dari situlah aku mengenal UKMI (Unit Kegiatan Mahasiswa Islam). Aku berdecak kagum melihat beberapa laki-laki dan perempuan shalihah yang terlihat indah mengenakan jilbab nya yang lebar itu.

*****

 “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran 104)

Berawal dari sebuah pencarian jati diri, pada dasarnya hampir semua Unit kegiatan di Fakultasku, aku mendaftarnya. Dari mulai Kerohanian, Pencinta Alam, Penelitian, Jurnalistik, English Club, dll. Hingga nantinya aku dipertemukan dengan lingkungan yang baik. Hal itu adalah kenikmatan yang luar biasa yang telah menjadi titik tolak sebuah perubahan HidayahNya dan keindahan Islam.

Aku termenung, meratapi akan fokus di manakah kegiatanku? Aku bertanya pada diriku sendiri, apa yang bisa kulakukan untuk Agamaku?? Apa yang bisa kulakukan dan bagaimana aku bisa melakukannya? Karena untuk mewujudkan itu semua tak bisa dengan pengorbanan yang biasa, tetapi membutuhkan pengorbanan yang di luar kebiasaan. Sebuah elektron tidak akan berguna ketika ia tidak bergerak keluar dari orbitalnya. Bergerak menuju arah yang lebih baik tentunya. Menjawab kebingungan itu, aku sedikit berfikir mulailah dari diri sendiri, kemudian amalkan dan tularkan kepada orang lain. Aku ber’azzam untuk masuk lembaga dakwah.

*****

Akhir September, aku diharuskan mengikuti sebuah training agar dinyatakan resmi menjadi anggota UKMI. Berbagai step telah aku lewati, hingga akhirnya aku telah resmi menjadi anggota UKMI. Saat itulah pertama kalinya aku mengenal Barisan Dakwah Tarbiyah, yang indah serta melejitkan potensi.

Diperkenalkan pula aku pada salah satu pengajian khas Tarbiyah, pengajian pekanan yang disebut Liqa. Saat pertama kalinya aku mengikuti pengajian pekanan ini, aku di pertemukan dengan Guru (Murabbi)ku. Aku menyukai model pengajian seperti ini, karena di situlah ditemukan indahnya ukhuwah, saling mengingatkan dalam segala hal kebaikan dan kebenaran. Setiap pekan, selalu dipertanyakan amal-yaumi (Ibadah harian).

Mulai dari situlah, aku mengenal sedikit lebih jauh tentang Indahnya Tarbiyah. Dakwah telah mengubah kehidupanku yang sebelumnya acuh tak acuh terhadap segala permasalahan kampus, menjadi sedikit tidak apatis.

Ternyata di sini, di dalam barisan dakwah ini, kehidupanku berbalik seratus delapan puluh derajat. Di sinilah akhirnya aku menemukan teman yang bersahabat, yang mau menemaniku, yang mau berbagi denganku. Mereka menerimaku apa adanya, mereka membantuku saat aku dalam kesulitan, menghiburku saat aku sedih, mengajakku ke kantin saat istirahat, bahkan mengundangku berkunjung ke rumah mereka. Mereka ada, bukan hanya sekedar guratan di dalam otakku, dan merekalah yang membuat hidupku lebih berarti.

Satu semester telah kulalui di kampus biologi ini, satu semester pula aku tergabung dalam lingkaran tarbiyah penuh ukhuwah, UKMI. Saat itu memang tengah melaksanakan Oprec Pengurus. Aku iseng mendaftarnya. Amanah pertamaku berada dalam Brigade Kaderisasi. Saat pertama kali-lah, ghirah ku tengah membara, bak api yang baru saja disiram oleh bensin, membulak tanpa kenal lelah jemu.

Semenjak itulah, aku sedikit berkontribusi di lingkaran tarbiyah ini, dari mulai perekrutan hingga penjagaan. Aku sangat senang berada di departemen ini, Mas’ul yang baik, bijaksana serta berpegang teguh di atas manhajNya. Dinamika dakwah di departemen ini sangat terasa, bahkan aku kagum karena saudaraku memiliki semangat jihad yang sangat tinggi. Ibarat diesel, kala itu aku hanyalah sebuah proses pemanasan. Ibarat proses transkripsi, aku berada di tahap inisiasi.

Ku mulai lagi episode hidupku, labirin kehidupan tak ubahnya berjalan seiring perubahan waktu. Aku menyadari bahwa memasuki lembaga dakwah adalah suatu hal yang baru yang ada pada diriku, dalam otakku pun tak pernah terbesit jikalau nantinya aku berada di dalam jamaah ini. Namun Sang Sutradara kehidupan telah menggoreskan tintaNya, bahwa aku harus berada di sini, dijalan ini, karena pada hakikatnya bukan lah kita yang memilih taqdir, tapi taqdir yang telah memilih kita.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan Surga untuk mereka. Mereka berperang di Jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, sebagai janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan Jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itu lah kemenangan yang Agung” (QS. At Taubah: 111)

Karena aku tau, inilah jalan terbaik dari Allah, Meski aku tahu, jalan yang kutempuh ini tak mulus, jalan ini penuh onak duri, aral rintangan, ranjau dan bebatuan terjal. Akan tetapi, aku sangat yakin bahwa inilah skenario kehidupan dari Sang Sutradara, jalan yang dijanjikan surga, serta jalan yang mendapatkan jaminan dari Sang maha Segalanya.

Mustafa Masyhur dalam Fiqih Dakwah menyampaikan:

“Jalan dakwah tidak ditaburi bunga-bunga yang harum baunya, tetapi merupakan jalan yang sukar dan panjang. Sebab antara yang haq dan bathil ada pertentangan yang Nyata. Dakwah memerlukan ketekunan dan kesabaran memikul beban berat. Dakwah memerlukan kemurahan hati, pembenaran dan pengorbanan tanpa mengharapkan hasil yang segera, tanpa putus asa dan putus harapan. Yang diperlukan adalah usaha dan kerja keras terus menerus dan hasilnya diserahkan kepada Allah”

Sahabatku….

Jika kita terlahir bukan untuk menjadi pemenang atas pertarungan ideologi demi meraih peradaban yang hakiki, lantas untuk alasan apa kita lahir ke bumi ini? Bukankah kita dilahirkan sebagai pemenang? Bukankah kita dilahirkan untuk berjuang meraih kemuliaan dan kegemilangan umat di atas panji Islam, di atas Al-Qur’an dan as-Sunnah??

Sungguh jika suatu hari Khilafah tegak kembali, air mata kita pasti akan jatuh berlinang, hati kita akan riang tiada terperi karena perjalanan yang telah dititi. Perjuangan inilah yang akan menjadi kado amalan yang akan kita banggakan di hadapan Allah swt kelak, yaitu ketika di yaumil akhir nanti, Allah SWT bertanya kepada kita:

“Wahai fulan/fulanah, apa yang telah engkau lakukan di dunia sehingga Aku harus memasukkanmu ke SyurgaKu?”

Tentu kita semua berharap bisa berucap dengan penuh rasa bangga, air mata kita jatuh berlinang penuh cinta,

segala penderitaan yang kita alami di dunia lenyap seketika, karena balasan yang akan diberikan Allah swt kepada kita, sungguh jika saat itu tiba, kita memohon kepada Allah swt agar kita bisa berucap lirih :

“Duhai Allah… telah ku jadikan hidupku sebagai pengabdian kepada-Mu, telah kujadikan Islam sebagai agama dan sistem hidupku, telah kujadikan Muhammad sebagai kekasihku dan suri teladanku, telah ku jadikan Al-Qur’an petunjuk dan pedoman hidupku, dan telah ku jadikan hidupku sebagai perjuangan kepada umat-Mu, inilah persembahan terbaikku, terimalah perjuangan hamba-Mu, ya Rabb..”

Seseorang bertanya, “Mengapa perjuangan dakwah itu pahit?”

“Karena Surga itu manis…”

Inilah Jalanku, Inilah jalan panjangku, izinkan aku berada di Jalan cinta para pejuang, berada di Jalan dakwah penuh cinta…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,73 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Akhmad Arifin
Seorang Mahasiswa muda Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Aktif di KAMMI Komisariat Soedirman Purwokerto dan di LDF UKMI Fakultas Biologi UNSOED.

Lihat Juga

Lembaga Dakwah Membina Hubungan dengan Pers