Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Akhirnya Saya Tahu Siapa Jenazah Itu

Akhirnya Saya Tahu Siapa Jenazah Itu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comAkhirnya saya tahu siapa jenazah itu. Namanya Pak Kholid. Salah seorang pengurus masjid dekat tempat tinggal saya. Orang yang tergolong rajin shalat berjamaah di masjid daripada warga kebanyakan. Jika azan berkumandang, ketika mungkin orang-orang memilih untuk shalat di rumah, hanya sedikit orang yang shalat di masjid. Dan Pak Kholid termasuk orang yang sedikit itu. Bahkan, di banyak kesempatan, dirinyalah yang mengumandangkan azan itu. Kalaupun dirinya tidak nampak di masjid, sepertinya itu hanya sesekali saja. Mungkin dirinya sedang kerja, atau pula sakit.

Awalnya saya tidak menyangka bahwa yang meninggal itu Pak Kholid. Karena tiba-tiba saja keranda mayat didatangkan ke dalam masjid setelah kami para jamaah selesai shalat Isya. Ya, tiba-tiba sekali. Karena sebelumnya saya tidak melihat keranda mayat itu di luar. Kendati demikian, saya sempat menangkap kesan yang lain saat datang ke masjid. Di benak saya entah kenapa jamaah terlihat lebih banyak daripada biasanya. Walaupun jumlah seperti itu masih tergolong wajar dan tidak terlalu mencolok. Hanya saja terkesan lain. Selain itu terlihat beberapa mobil dan motor parkir di luar masjid. Agak lain dari biasanya yang sepi kendaraan. Tapi rupanya rasa penasaran saya terjawab dengan adanya keranda mayat tersebut. Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.

Ketika pihak keluarga menyebutkan nama jenazah, saya belum begitu menyadari siapa sebetulnya pemilik nama tersebut. Karena jika almarhum orang yang sering shalat di masjid, insya Allah saya pasti tahu. Karena jamaah yang sering shalat di masjid itu sedikit, jadi saya bisa mengenal siapa saja wajah-wajah yang sedikit itu. Tapi masalahnya, keranda itu tertutup dan wajah jenazah sama sekali tidak terlihat. Alhasil, tatkala prosesi penyolatan dan doa selesai, ketika jenazah telah dilarikan ke pemakaman, dan para jamaah telah pulang ke rumah masing-masing, saya masih bertanya dalam hati, yang mana orang yang bernama Pak Kholid itu.

Tak lama berselang, setibanya saya di rumah, saya baru bisa menyimpulkan siapa pemilik nama tersebut berdasarkan kumpulan informasi yang saya dapatkan dari bincang-bincang dengan warga, dan dengan intuisi saya tentunya. Sekarang wajahnya bisa saya gambarkan di benak saya. Ya, saya tahu siapa Pak Kholid itu. Pribadi yang lekat dengan nuansa kebaikan masjid. Sosok yang memberikan keteduhan dari wajahnya. Lelaki yang begitu semangat shalat berjamaah. Orang yang membuat jamaah yang lain kini merasa kehilangan dan tetap membicarakan kebaikannya, meski dirinya telah tiada dengan kesan tiba-tiba. Tanpa sakit. Tanpa bencana. Kabarnya, dirinya didapati menghembuskan napas terakhir di usia sekitar 50-an tahun selepas santap makanan di acara kondangan yang dihadirinya dua hari yang lalu sebelum tulisan ini dibuat, yakni Senin sore, 11 Juni 2012.

Begitulah. Satu potret kematian yang kembali menyadarkan kepada kita, bahwa maut itu pasti menjemput. Tak peduli kita siap atau tidak, maut itu akan datang kepada kita tanpa ada istilah ‘nanggung entar dulu’. Tua-muda atau sehat-sakit hanyalah gambaran kondisi, bukan patokan pasti kematian. Karena banyak kisah mereka yang muda, tapi sudah lebih dulu tiada. Banyak pula yang sakit, tapi tidak kunjung dicabut nyawanya. Namun ada pula yang nampak sehat, sedetik kemudian pergi untuk selamanya, seperti Pak Kholid. Padahal kalau mau menghitung hari, tak lama lagi kita akan menyambut bulan suci Ramadhan. Maka pantaslah kita memperbanyak doa, Allahumma bariklana fii rajaba wa sya’ban wa balighna ramadhan. Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan.

Ini pelajaran berharga buat kita. Tak ada yang dapat menjamin kita masih bisa merengkuh nikmat bulan Ramadhan tahun ini. Jangankan Ramadhan yang masih beberapa minggu lagi, esok hari pun tiada yang tahu. Masihkah kita membiarkan diri kita santai begitu saja? Sementara para sahabat Rasulullah SAW begitu mempersiapkan Ramadhan dengan sangat baik. Fisik, jiwa, ilmu, dan harta, mereka gunakan untuk menyambut Ramadhan. Tak rela rasanya memasuki Ramadhan dengan kesiaan lantaran amal yang lemah dan sepinya ibadah. Padahal saat itu Ramadhan masih terhitung beberapa bulan jauhnya. Bahkan di antara mereka ada yang segera sigap menyiapkan dirinya untuk menyambut Ramadhan tahun depan, padahal baru sehari saja meninggalkan Ramadhan. Ya, karena memang begitu. Ramadhan adalah waktu kita membekali diri untuk menjalani sebelas bulan yang lain. Sementara sebelas bulan yang lain adalah masa kita membekali diri untuk kita menjalani Ramadhan.

Begitulah. Hidup ini hendaknya dipenuhi dengan persiapan. Bukankah Allah SWT telah mengingatkan kepada kita?

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [QS. Al-Hasyr (59): 18]

Dalam ayat tersebut, persoalan ‘memperhatikan bekal untuk hari esok’ diapit oleh dua kata takwa. Itu berarti tidaklah seseorang mengaku bertaqwa, sebelum dirinya benar-benar mempersiapkan bekal akhiratnya dengan sebaik mungkin. Sebaliknya, tidaklah ada seorang yang serius mempersiapkan bekal akhiratnya kecuali hanya orang-orang yang benar-benar bertaqwa. Bukankah pesan untuk benar-benar bertaqwa sering kita dengar kala khatib shalat Jum’at mengingatkan kita setiap pekannya?

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” [QS. Ali ‘Imran (3): 102]

Akhir ayat tersebut berbunyi, wa laa tamuu tunna illaa wa antum muslimuun. Kata “muslimuun” merupakan bentuk subjek dari Islam yang juga berasal dari kata al-istislaam yang artinya berserah diri. Berserah diri juga bisa kita jabarkan dengan tunduk sepatuhnya kepada ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya. Maka kesimpulannya, janganlah kita mati melainkan dalam keadaan berserah diri kepada Allah SWT; melainkan dalam keadaan rajin shalat; melainkan dalam keadaan sering beramal; melainkan dalam keadaan penuh manfaat kepada orang lain; melainkan dalam keadaan berjuang di jalan Allah SWT; dan sebagainya.

Begitulah. Memang ada baiknya kita sering-sering merefleksi dan mengintrospeksi kualitas dan kuantitas amal kita selama ini, sebelum kita akhirnya benar-benar sampai pada deadline (baca: garis kematian) yang Allah SWT tetapkan kepada kita. Karena hidup dan mati adalah ujian. Ujian untuk mengetahui siapa yang paling baik amalnya di hadapan Allah SWT. Ya, yang paling baik, dari segi kualitas maupun kuantitas.

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,” [QS. Al-Mulk (67): 2]

Kini bulan Rajab sudah semakin mendekati akhirnya. Kesudahannya berarti awal gerbang bulan Syawal dan Ramadhan. Sudah sejauh apakah persiapan kita menyambut bulan suci tersebut? Ah, sudahlah. Rasanya terlalu naif membayangkan minggu-minggu ke depan tanpa memperhatikan bagaimana keesokan hidup kita pada setiap harinya. Kuncinya hanya satu, persiapan. Persiapan yang berbasis sebuah amal. Amal yang disokong kuatnya ilmu. Ilmu yang didasari dari lezatnya iman. Sungguh relevan. Menawan.

Begitulah. Kematian itu bukan soal kapan, di mana, dengan siapa, kenapa, dan bagaimana. Karena semua itu hanya sebuah sebab. Tapi kematian itu berbicara tentang apa. Apa yang kita lakukan sebelumnya. Apa kedudukan kita di mata-Nya. Tapi pertanyaannya, sudahkah kita men-design dan menjalani hidup ini dengan indah, sehingga nanti kita bisa mati dengan indah? Mati dalam keadaan tersenyum indah, karena dapat bertemu dengan Yang Maha Indah.

Kematian itu pasti. Kita pun lantas akan terganti. Seperti dua pisau yang pasti akan hancur dan terganti. Namun perbedaannya, pisau yang satu hancur karena dirinya digunakan, lalu tumpul, diasah, digunakan lagi, lalu tumpul lagi, diasah lagi, dan begitu seterusnya hingga benar-benar rusak dan harus diganti. Berbeda dengan pisau kedua yang tidak pernah digunakan sama sekali. Dirinya tetap saja hancur karena karat yang melekat. Dirinya mati karena kalah melawan waktu. Akhirnya, pisau itu pun juga diganti. Keduanya sama-sama hancur dan terganti. Itu pasti. Tapi bedanya, nilai manfaat yang dapat pisau-pisau itu hasilkan sebelumnya. Itu menariknya.

Begitulah. Kini kita mengerti. Mau seperti apa design kita mati nanti tergantung design hidup yang kita jalani sekarang ini. Indah atau tidaknya design kehidupan akhirat kita pun berbanding lurus dengan design kehidupan yang kita jalani di dunia ini. Maka bersiaplah. Semoga kita tak mau kalah baiknya dengan almarhum Pak Kholid.

Allahu a’lam…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (27 votes, average: 8,78 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Deddy Sussantho
Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Staf Ahli Kaderisasi Lembaga Dakwah Kampus Syahid UIN.

Lihat Juga

6

Kendati Kudeta Berhasil Digagalkan, Erdogan Instruksikan Rakyat Tetap Bertahan Di Jalan