Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Harga Sebuah Ketulusan

Harga Sebuah Ketulusan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comSiang ini saya menyempatkan untuk berkunjung ke rumah seorang teman. Seperti umumnya di negeri ini, bila bertamu biasanya akan disuguhi makanan. Demikian pula yang saya alami saat berkunjung ke rumahnya. Secangkir teh, entah tawar atau manis, itu suguhan yang paling umum untuk menjamu pengunjung.

“Ayo diminum! Jangan sungkan-sungkan!” kata teman saya sambil mengasongkan secangkir teh yang dia bawa. Tanpa rasa canggung, saya pun mereguknya perlahan. Menikmati hidangan teh yang dia sajikan. Yah, antara haus dan menghormati tuan rumah lah. Dia sudah susah-susah membuatkan air teh. Lumayan walaupun teh tawar.

Akhirnya saya iseng untuk bertanya…

“Eh, kalau saya bayar tehnya 2 ribu, mau nggak?”

“Nggak usah lah! Buat apa?” jawabnya.

“5 ribu deh…”

“Nggak ah!”

“Kalau 10 ribu?”

“Nggak. Nggak mau!”

“50 ribu lah sok!” (ini penawaran terakhir, saya tak ada duit lagi).

“Nggak. Kamu bayar berapa pun juga saya nggak akan mau.”

“Lho, kenapa? Padahal di warteg aja kalau beli teh manis cuma Rp.2.500.”

“Kan saya ngasih buat kamu.”

“Ooh… gitu ya?”

Pernahkah terpikir, kenapa secangkir teh tawar tak bisa terbeli dengan harga 50 ribu? Padahal kalau makan di warteg, segelas teh manis (dingin atau hangat) harganya hanya Rp. 2.500,-. Ada juga yang mahal. Tapi seumur hidup pesan minuman teh, paling mahal harganya 15 ribu. Itu pun segelas ice mint tea. Secangkir teh tawar yang tak terbeli meski disodori uang 50 ribu, secangkir teh macam apakah gerangan? Harga cangkirnya yang mahal kali ya? Ah tidak, yang saya hargai bukan cangkirnya kok. Tapi isinya, air tehnya.

Kalau mau main hitung-hitung memakai ilmu ekonomi. Seharusnya secangkir teh itu sudah terbeli dengan uang senilai 2 ribu rupiah. Tapi entah kenapa yang terjadi adalah sebaliknya. Uang 50 ribu pun tak mampu membelinya. Seolah-olah secangkir teh ini tak ternilai harganya, seakan tak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa membelinya.

Saya tak tahu persis kenapa secangkir teh ini menjadi tak ternilai harganya. Mungkin benar apa kata seorang tua, bahwa ketulusan membuat sesuatu menjadi tak ternilai harganya. Seperti secangkir teh yang tadi saya nikmati. Ketulusanlah yang membuat secangkir teh ini menjadi tak ternilai harganya.

Hmmhhh… Tak semua yang gratis itu tak ada harganya. Terkadang sesuatu yang saya dapat dengan cuma-cuma justru tak ternilai harganya. Kado dari teman, traktiran dari sahabat, oleh-oleh yang bapak bawa sepulang kerja, air susu ibu… dan masih banyak lagi.

Entah dengan cara apa saya bisa membayar ketulusannya…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (15 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Adit Purana
Seorang warga dari pinggir Kota Bandung yang gemar jalan-jalan menelusuri hiruk-pikuk kehidupan di negeri ini, terutama sisi lain kehidupan pinggiran yang jauh dari popularitas. Selalu tertarik dengan tema Kesederhanaan dan Kebersahajaan. Penikmat Bus DAMRI yang suka naik angkot. Setelah merampungkan sekolah Psikologi jenjang S-1, melanjutkan studi untuk bidang yang lebih spesifik: Magister Psikologi Sosial. Menjalani keseharian dengan beraktivitas di bidang sosial melalui forum-forum, komunitas, dan tim kecil.

Lihat Juga

Menghargai Proses