21:28 - Minggu, 23 November 2014

Pidato Presiden Mursi Harus Jadi Pelajaran bagi Pemimpin Indonesia

Rubrik: Nasional | Kontributor: dakwatuna.com - 29/06/12 | 09:10 | 09 Shaban 1433 H

Dr. Muhammad Mursi, Presiden Mesir. (inet)

dakwatuna.com – Dalam pemilihan presiden yang sangat demokratis, Mohammed Mursi terpilih menjadi Presiden Mesir. Kemenangan Mursi ini pun menarik perhatian dunia internasional dan menjadi berita dimana-mana. Mursi telah menggeser kekuasaan Husni Mubaraok yang diktator dengan cara-cara yang demokratis.

Dan yang lebih menarik lagi, adalah pidato kemenangan sang presiden. Dalam pidato kemenangan, Mursi dengan tegas menyatakan siap menjadi pemimpin bagi semua warga Mesir. Sebagai seorang Presiden, Mursi siap menempatkan diri sebagai pelayan, dan bukan sebagai penguasa. Mursi pun bertekad memprioritaskan kewajiban dibandingkan haknya sebagai seorang pemimpin.

Selain, masih dalam pidatonya, Mursi berjanji merangkul semua komponen bangsa untuk bersama-sama membangkitkan negara dan memajukan masa depan bangsa. Mursi juga berjanji meletakkan posisi rakyat dan penguasa sama di sisi undang-undang, serta tidak mengizinkan campur tangan asing. lebih dari itu, Mursi meminta rakyat Mesir untuk tidak mematuhinya bila ia tidak melaksanakan janji-janjinya.

Menurut Ketua Umum Persatuan Pelajar Indonesia di Malaysia (PPIM), Zulham Effendi, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Kamis, 28/6), pidato singkat Mursi ini penuh makna. Bahkan, pidato Mursi yang menyatakan bahwa gajinya disumbangkan untuk rakyat dan negara ini bisa dijadikan pembelajaran bagi semua pemimpin bangsa, terutama di Indonesia.

Zulham pun menggambarkan Indonesia yang telah 14 tahun melewati masa reformasi sejak rezim Soeharto tumbang. Hingga kini, Indonesia masih belum bisa bangkit sebagai negara yang maju dibandingkan negara-negara tetangga. Pertumbuhan ekonomi Indonesia menurut BPS telah meningkat menjadi 6,3 persen pada tahun 2012 akan tetapi masyarakat belum juga merasakan kesejahteraan.

Negara pun, lanjut Zulham, dililit berbagai persoalan yang tidak kunjung selesai. Kasus Pajak, kasus Century, kasus Nazaruddin dan kasus-kasus lainnya yang tidak terselesaiakan telah membuat masyarakat tidak lagi banyak berharap. Di sisi lain, utang luar negeri Indonesia telah mencapai 221,60 miliar dollar AS pada tahun 2011. Sementara itu, jutaan warga Indonesia harus mencari nafkah di luar negeri karena di Indonesia lapangan pekerja sangat sedikit.

“Pertanyaan mendasar, sebenarnya mau dibawa kemana bangsa dan tanah air tercinta ini? Bisakah Indonesia keluar dari benang kusut permasalahan yang ada? Mungkin sudah saatnya pemimpin-pemimpin di Indonesia belajar dari sejarah pemimpin di dunia yang telah berhasil membawa perubahan dan kemajuan bagi bangsa dan negaranya,” demikian Zulham. (ysa/RMOL)

Redaktur: Hendra

Keyword: , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (37 orang menilai, rata-rata: 9,32 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • http://rumahalbanna.blogspot.com/ Rumah Al Banna

    Di Mulai dari Diri Sendiri, Keluarga, Masyarakat, Lalu Negara . . .
    Insya Allah Indonesia Bisa!

Iklan negatif? Laporkan!
31 queries in 0,844 seconds.