Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / “Menunggu”

“Menunggu”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comBoleh saja pernah merasa lelah hanya untuk menunggu. Juga boleh saja pernah merasa kesal hanya untuk menunggu. Lantas tersimpulkan seluruh rasa dalam satu muara rasa; benci, lalu termuntahkan rasa itu dengan lidah serapah. Bila apa yang ditunggui tak kunjung tiba.

Cukup, dan Sebentar kita simpan rasa lelah dan benci. Dan coba tengok ke belakang. Ada di masa itu di kala Musa AS beranjak meninggalkan kaumnya untuk kembali membawa rahmat dan petunjuk dari Tuhan untuk kaumnya. Dijanjikan hanya empat puluh malam saja Musa AS akan kembali dengan rahmat dan petunjuk dari Tuhannya. Hanya satu diminta Musa As; jangan sampai Tuhan murka kepada kalian Bani Israil. [1]

Menunggu rupanya terlalu lelah dan payah bagi Bani israil. Belumlah sampai empat puluh malam Musa As akan kembali, malang melintang hari-hari mereka Bani Israil haru-biru dihura-hura dideru oleh nafsu. Ragu bila menunggu Sang Pemandu pilihan Tuhan yang maha tahu. Lantas payah menunggu, menyungkurkan diri mereka ke dalam kehinaan yang teramat hina. Menjadikan diri sebagai budak-budak sebentuk seekor binatang yang tidak lebih mulia dari seorang budak. Murka lah Tuhan dan Musa As; Kemudian Musa As kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Berkata Musa As: “Hai kaumku, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Tuhanmu menimpamu, dan kamu melanggar perjanjianmu dengan aku?”. [2]

Ada juga di masa itu di kala Aisyah RA mulai merasa resah dan gelisah dengan fitnah. Setelah satu bulan lamanya Aisyah RA hampir seakan merasa tidak mendapatkan kelembutan dari seseorang yang tercinta, Muhammad SAW. Dia tidak tahu kapan tiba masanya. Dia hanya menunggu meski harus terasa pilu. Menunggu cumbu seperti masa lalu sebelum itu. Hanya berharap mimpi yang memberi tahu. Untuk bebas dari fitnah yang membelenggu. Menunggu memang terasa pilu. Hari-harinya penuh sendu kelabu. Bedanya, ia RA simpulkan rasa itu dalam satu muara rasa; Allah maha tahu.

Bukan mimpi yang ditunggui tiba agar terbebas dari fitnah. Malah Tuhan langsung memberi kabar gembira dengan kalimat yang tersimpan istimewa pada lauhah. [3] Akhirnya, harmoni cumbu dan cinta bersemi semula. [4]

Menunggu, rahasianya satu; Keyakinan cinta yang menyatu. Cinta yang menyatu bagai sungai nil dan tanah kinanah. Bagaikan Mekah dan Ka’bah. Bagaikan mentari dan pagi. Hanya cinta yang membuat mampu bertahan berdiri menanti. Tak peduli kini atau nanti. Tak peduli kalbu begitu rindu yang menggebu. Cinta -lah yang merangkai tunggu menjadi rindu, merangkai rindu menjadi asa, merangkai asa menjadi doa. Merangkai doa lebih indah dari sekadar kata mutiara. Seperti Aisyah RA menunggu kelembutan cintanya. Seperti alKhansa menunggu pejuang-pejuang kecilnya kembali dari medan jihad.

Menunggu itu bukan diam tapi pekerjaan dan bekerja. Sebab cinta tidak diam. Seperti halnya bila melukiskan wujudnya cinta. Ada tinta yang mengukirkan katanya. Ada kata yang menuturkan rasanya. Ada rasa yang menafsirkan maknanya. Menunggu adalah pekerjaan terberat dari rasa cinta. Tarik-menarik antara sekian rasa. Antara rindu dan pilu. Antara harap dan ratap. Antara cemas dan ikhlas. Antara istiqamah dan hianah. Antara ada dan tiada.

Menunggu juga bisa membuat hati mengeras dan membatu. Lalu pecah berkeping menjadi serakan serapah dan fitnah. Menghancurkan keyakinan menjadi ragu. Melumatkan iman menjadi kelabu dan layu. Seperti hati Bani Israil. Hati yang membatu dan lebih keras dari batu. Kala menunggu sang Pemandu pilihan Tuhan yang maha tahu kembali dari bukit Thur. Tak sanggup melebur dalam sinar sabar yang memancar. Tersungkur dalam kufur menutur mengekor pada seukir baqor [5] yang berkhuar. [6]

Lalu. Bila menunggu tak kunjung tiba. Bukan cinta yang tidak menyatu karenanya. Bahkan Tuhan hendak selalu bersama. Maka bersabarlah, “…sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. [7]

Dan bila menunggu tak kunjung juga tiba, yakinlah bahwa Tuhan telah menetapkan apa yang mestinya ditunggu-i. Bahwa Tuhan telah menetapkan Rezki. Bahwa Tuhan telah mengikatkan sebuah nama untuk sahabat hati. Bahwa Tuhan telah menetapkan baik dan buruk setiap makhluk.

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu. Maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri”. [8]

Allah a’lam.

Catatan Kaki:

1 : lihat kisah Musa As as. al a’raf: 142
2 : Thoha: 86
3 : lauhah; lembaran/mushaf
4 : kisah hadis ifki. An Nur: 11
5 : baqor(arabic); sapi
6 : khuar(arabic); bersuara ; al a’raf 148
7 : al Baqarah: 153
8 : ath Thur: 48

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (13 votes, average: 9,69 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

mahasiswa universitas al-azhar cairo tingkat 3 fakultas syariah islamiyah

Lihat Juga

ilustrasi (inet)

Mencari Senja