Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Aku Mencintaimu Saat Ini

Aku Mencintaimu Saat Ini

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (wordpress.com/bintangumilang)

dakwatuna.comKembali membuka lembaran tentang sebuah kerinduan. Rindu moment ketika tangan kita bersentuhan mesra. Ukhuwah sesungguhnya tanpa kata manis menghujam dada penuh amarah walau terbungkus cinta… katanya…

Rindu senyum berseri tanpa basa basi tak berarti… Bilakah akan ada lagi..?

***

‘Mbak, si ukhti datang kajian ga tadi?’

‘Ga datang dik… izin ada kuliah’

‘Mmm… Emang jam berapa Mbak?’

‘Jam 2, dik….’

‘Ga ada kuliah mbak jam segitu… wallahu’alam’

‘Owhh… ga tau juga dik… nanti coba ditanya lagi….’

‘Iya Mbak… si ukhti itu bla bla bla….’

‘Mmm… Udah tabayun, dik?’

‘Belum sih mbak… di kampus ga sempat… sms ga dibalas….’

***

Esoknya datanglah sebuah sms…

‘asslmkmwrwb mbak cayank..mbak..afwan kmarin g bisa ikut kajian..emang g jadi kuliah mbak..tp ana dapat kelas les baru mbak..alhmdllh buat tambahan biaya hidup mbak..saking girang nya lupa sms mbak..hehe afwan jiddan’

Ku balas…

‘wlkmslmwrwb smangad slalu dd ku cayank..alhmdllh..boleh ni traktir2.. :D’

***

Ukhti fillaah… Kapan ya terakhir kita tanya kabar saudari kita… Menanyakan keluarganya… Moodnya yang terlihat kurang bagus ketika kajian siang tadi… Atau tentang keuangan ia yang anak kost… Masih adakah beras yang tersisa… Kapan ya kita tahu bahwa puasa nya ia karena jatah bulanan tak lagi tersisa…

Kapan ya terakhir kita bercanda tanpa beban… Bercanda yang bukan basa basi… Tapi dari hati yang jadi penghibur diri… Cukup lah rasa nya diskusi di kala syura’ tadi.
Kapan ya terakhir kali kita tahu bahwa ada seorang ukhti yang merintih sesak menahan rasa karena berita yang tak karuan asal usul nya…

Dan tanpa rasa bersalah… tak sengaja… ternyata kita juga pembawa pesan berantai tanpa nahkoda…

Ukhti… Betapa ku cemburu dengan agenda dakwahmu yang sukses menyita waktu dan pikirmu hingga mengabaikan aku… saudara mu… Aku mulai risih dengan aktivitasmu yang menyisihkanku hingga ruang husnudzonmu makin terasa menghimpit relung kalbu…

Ego ku terlalu besar ukhti…
Rindu ku tak lagi terkendali…
Hanya sanggup katakan…
‘Aku mencintai mu saat ini’

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (38 votes, average: 9,42 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Penulis adalah Guru kelahiran Curup - Bengkulu, 21 Februari 1988. Saat ini penulis tercatat sebagai guru tetap di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Padang Ulak Tanding- Bengkulu. Penulis mengampuh mata diklat bahasa Inggris.
  • Subhaanallah….Jazakillah atas artikelnya….

  • Tiada manisnya senyum, yang dirasa,.
    Tiada rindu, yang menyesakkan dada,.
    Tiada tawa, yang menyegarkan jiwa,.
    Melainkan keimanan yang menjadikan kita bersaudara,.. ^_^

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Geliat Cinta Pejuang

Organization