Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tiga Bekal untuk Para Pemuda

Tiga Bekal untuk Para Pemuda

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (kawanimut)

dakwatuna.comSeorang yang memegang misi panjang, tentu menyiapkan bekal menjadi hal amat penting. Demikian pula dengan pemuda yang sudah sadar akan peran sebenarnya di tengah sekumpulan makhluk Allah lainnya. Bekal di sini tak cukup hanya mencakup finansial saja. Justru bekal non fisiklah yang terbukti membuat banyak pejuang dan para pendahulu kita berhasil dalam misinya.

Bang Porkas (2012) menuturkan setidaknya ada tiga bekal yang patut diusahakan berada dalam genggaman pejuang muda, yaitu at-tarbiyah al-fithriyah, al-‘ilmu wa al-hikmah, dan asy-syakhshiyah al-qiyaadiyah.

1. At-Tarbiyah al-Fithriyah (Pendidikan Jiwa)

Makna at-tarbiyah al-fithriyah di sini sama dengan at-tarbiyah al-islamiyyah, karena pada dasarnya fitrah dan jiwa manusia ialah sebagai seorang Muslim yang mentauhidkan Allah SWT. Adapun pokok kegiatan di dalamnya ialah pembinaan kesadaran, pemahaman, dan karakter keislaman serta pengasahan potensi seorang Muslim. Seluruh rangkaian proses tersebut tentu tak berhenti di titik menjadi pribadi yang shalih individu, namun dituntut menjadi pribadi yang shalih sosial pula. Artinya, salah indikator keberhasilan proses at-tarbiyah al-islamiyyah seseorang ialah sejauh mana kontribusi yang bisa dia berikan untuk umat di sekelilingnya. Adapun tindakan kongkretnya ialah berupa mujahadah (berupaya sungguh-sungguh) untuk senantiasa istiqamah dalam menambah kapasitas keilmuan, amal, serta meningkatkan skill penunjang misi. Jadi, pendidikan jiwa di sini mencakup tak hanya tazkiyatun nafs, tapi banyak hal lain yang membentuk kepribadian seorang Muslim yang utuh.

2. Al-‘Ilmu wa al-Hikmah (Ilmu dan Kebijaksanaan)

Selain keilmuan agama, keilmuan umum pun menjadi syarat yang tidak bisa diabaikan oleh para pengemban amanah masa depan. Masyarakat yang menjadi target kita tentu akan lebih respect manakala memiliki satu atau lebih disiplin ilmu yang kita kuasai. Peluang inilah yang membantu tersampainya setiap pesan kebenaran yang membangun. Lain keilmuan, lain pula kebijaksanaan. Perlu dicatat di sini bahwa jangan sampai sebagai generasi muda kita terlampau berlebihan. Hal ini sebenarnya tidak wajar karena hakikat seorang pemuda ialah penuh dengan semangat yang menggebu, tidak apatis. Dan kebijaksanaan di sini sebaiknya kita tarik ke arah keseimbangan antara perhitungan yang matang dan semangat membumikan kebenaran di lingkungan kita. Jadi, tidak ada dalih bagi pemuda untuk menjadikan tameng sikap bijaksana untuk tidak bergerak. Demikian pula jangan sampai gerak-gerik perbaikan itu dilakukan serampangan tanpa adanya pertimbangan.

3. Asy-Syakhshiyah al-Qiyaadiyah wa al-Jundiyyah (Pribadi Pemimpin dan Prajurit)

Pemuda dengan pribadi ganda (pemimpin sekaligus prajurit) pun ternyata amat penting guna memuluskan agenda kita. Hal ini berkaitan dengan pencapaian misi bersama dalam sebuah jamaah atau perkumpulan. Ada kalanya kita memang diperlukan untuk menjadi pimpinan dan pionir. Namun, suatu saat kita pun harus siap menjadi prajurit atau yang dipimpin. Perpindahan peran seperti ini tentu dilakukan bukan sekadar formalitas, namun demi tercapainya tujuan dengan baik. Kita sebaiknya tampil menjadi pimpinan saat memang itu adalah bidang yang kita kuasai dan dikhawatirkan tidak maksimal bila dipegang orang lain. Tapi, ketika pada saatnya sebuah tugas itu bukan merupakan bidang kita ada orang lain yang bisa melakukannya, maka kita menjadi yang dipimpin adalah pilihan utama. Apalagi jika kita kaitkan hal ini dengan regenerasi atau distribusi tugas, maka shifting position ini amat penting adanya. Tepat sekali jika orang bijak mengatakan bahwa kepemimpinan sejati itu bukan perkara posisi, namun perkara kontribusi.

Sekali lagi, bahwa segala mujahadah kita sebagai generasi mudah melalui rangkaian bekal di atas  harus mendapat perhatian khusus. Alangkah dekatnya kemenangan itu jika bekal sudah kita genggam dan peran sebagai pemuda harapan masa depan sudah kita tempuh dengan amat baik. Akhirnya, kita harus sadari bahwa hal itu tentu bukan perkara mudah, namun bukan berarti tak mungkin.

Disarikan dari materi “Peran Pemuda dalam Membangun Bangsa” oleh Porkas Halomoan (mantan Ketua Rohis UI; inisiator berdirinya Salam UI; Mantan pengurus departemen Kaderisasi KAMMI Pusat; dan Direktur PT Azhar Tri Daya) dalam agenda Mabit FSLDK Jadebek di Masjid Baitul Ihsan kompleks Bank Indonesia, Jakarta pada hari Sabtu-Ahad, 9-10 Juni 2012.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nur Afilin
Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Pendidikan Pemuda dan Penyakit Sekolahisme