15:32 - Minggu, 26 Oktober 2014
Nur Afilin

Peran Strategis Pemuda

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Nur Afilin - 27/06/12 | 19:30 | 07 Shaban 1433 H

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Bicara peran pemuda selalu menarik. Pun pembicaraan itu bisa membikin telinga merah. Apalagi jika yang dibincangkan ialah peran pemuda dalam membangun bangsa. Menarik karena pemudalah harapan bangsa masa depan. Bicara pemuda berarti bicara apa yang akan terjadi kelak. Potret pemuda saat ini ialah gambaran bangsa di masa mendatang, begitu kata Bang Porkas Halomoan (Direktur PT Azhar Tri Daya). Adapun telinga bisa memerah bahkan dada mungkin terasa sesak karena ternyata kita sadar masih terlalu banyak bersantai ria di tengah tumpukan amanat.

Lebih menarik dan menantang lagi jika peran pemuda dalam membangun bangsa ini dikaitkan dengan jati diri seorang Muslim. Mengapa? Karena upaya membangun bangsa ialah bagian dari proyek global meneruskan risalah Nabi Muhammad SAW. Bukankah risalah Islam yang beliau bawa juga mencakup aspek kebangsaan dan ketatanegaraan?

Mengapa pemuda yang digadang menjadi pengemban tugas ini? Bang Porkas yang juga mantan pengurus departemen Kaderisasi KAMMI Pusat ini menyebutkan setidaknya karena pemuda memiliki beberapa peran strategis sebagai berikut.

* Bi’ts al-Himmah min at-Tasaa’ulaat

Secara bahasa berarti pemudalah yang bisa mengangkat semangat dari problematika. Sederhananya, hendaknya pemuda Islam tidak melulu fokus membahas hal yang partikular. Banyak isu dan problematika keumatan yang berdampak besar dan menyentuh masyarakat umum. Ranah inilah yang sering dilupakan para pemuda Islam dan aktivis dakwah masa kini. Contoh paling nyata misalnya penyikapan terhadap Lady Gaga. Dengan membawa panji gerakan Islam muda, maka setidaknya kita bisa menyatakan sikap penolakan dengan elegan dan intelek. Sehingga, masyarakat awam tidak lantas mudah terprovokasi bahwa Islam itu keras karena penyikapan saudara kita yang memilih jalur ‘keras’.

* Naql al-Ajyaal

Artinya pemuda sebagai generasi penerus. Untuk mewujudkan peran ini perlu ada komunikasi intensif dengan para pimpinan ormas Islam dan pemegang kebijakan urusan keumatan lain. Dari merekalah kita bisa mendapat ilmu dan skill menjadi pimpinan yang efektif dan sensitif terhadap problem yang ada. Jadi, sebaiknya hindari sikap fanatisme buta yang berakibat keengganan untuk berinteraksi dengan mereka, sekalipun berbeda organisasi. Sadarilah bahwa peran mereka dalam membina masyarakat akan berakhir, dan kitalah yang nantinya akan meneruskan.

* Istibdaal al-Ajyaal

Selain sebagai penerus, pemuda juga berperan sebagai generasi pengganti. Manakala ada pihak-pihak yang menyalahgunakan wewenang dan bisa berakibat fatal, maka hendaknya kita berani tampil untuk menggantikan mereka. Tentu bukan dengan berorientasi kepada materi dan kekuasaan, melainkan demi kemaslahatan orang banyak. Cara yang ditempuh pun tak harus dengan kekerasan, karena masih ada jalur diplomasi, lobbying, dll.

* Tajdiid Ma’nawiyah al-Ummah

Pemuda juga patut memperhatikan peran ini, yaitu sebagai pembaharu mental umat. Melalui setiap program yang kita arahkan kepada umat, harus ada prioritas bidikan dalam rangka memperbaharui mental ini. Dalam upaya ini, ada peta sosial berupa piramida dakwah yang layak diperhatikan. Di bagian puncak piramida ialah orang-orang dengan tingkat keilmuan dan pengamalan yang tinggi. Jumlah mereka paling kecil dibandingkan yang lain. Di bawahnya ada kelompok ‘aktivis’ yang senang beraktivitas, namun kurang memahami makna dari tiap aktivitas yang dilakoninya. Mereka sebenarnya lebih cocok disebut sebagai “emblemis”. Ya, banyak dari mereka yang lebih mengharap mendapat emblem, sertifikat, pin, atau tanda partisipasi lainnya. Lalu, kelompok umat terbesar ialah para ‘pelarian’. Mereka ialah kelompok orang yang sedang mencari aktivitas di luar rutinitas yang mungkin membosankan atau mengecewakan. Kelompok terakhir inilah yang sebisa mungkin kita jadikan fokus utama jika kita berniat memperbaharui mental mereka. Konsekuensinya, program kita pun harus lebih banyak diarahkan ke generalis. Kemasan dan pembahasaan yang persuasif juga mutlak diperlukan.

* ‘Anaashir al-Ishlaah

Secara bahasa memang hanya bermakna pemuda sebagai unsur perbaikan, namun bukan pemuda kalau selalu di belakang (Halomoan, 2012). Maksudnya, dalam upaya menyemai kebaikan di mana saja, unsur kepeloporan itu amat penting. Ambillah peran sebagai pionir, bukan selalu memilih menjadi follower. Makna perbaikan di sini harus benar-benar dijaga, sehingga setiap gerak nyata dan gerak pikir kita tak mengabaikan asas manfaat dan mudharat yang akan timbul nanti.

Disarikan dari materi “Peran Pemuda dalam Membangun Bangsa” oleh Porkas Halomoan (mantan Ketua Rohis UI; inisiator berdirinya Salam UI; Mantan pengurus departemen Kaderisasi KAMMI Pusat; dan Direktur PT Azhar Tri Daya) dalam agenda Mabit FSLDK Jadebek di Masjid Baitul Ihsan kompleks Bank Indonesia, Jakarta pada hari Sabtu-Ahad, 9-10 Juni 2012.

Nur Afilin

Tentang Nur Afilin

Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (2 orang menilai, rata-rata: 10,00 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
109 queries in 1,718 seconds.