Home / Berita / Opini / Dunia Sepi Penyandang Spektrum Autisme

Dunia Sepi Penyandang Spektrum Autisme

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comPertama kali melihatnya, hanya berkesan ada sesuatu yang tak biasa padanya. Seorang anak tak banyak bicara bahkan tak banyak suara. Kedua kali bertemu dengannya, saya ikut tertawa bersama mereka yang meminjamkan anak ini sebuah sepeda tanpa rem, ia terjerembab, hasil memaksakan sang sepeda berhenti, di sore hari sembari menunggu anak-anak pulang. Ternyata saya kejam juga.

Kali itu saya bertemu dengannya di koridor, berisik teman-temannya sambil menutup pintu sebuah ruang kelas, lagi-lagi dia tanpa suara memilih berada dalam kelas saja, mungkin dari pada harus berdebat panjang dengan teriakan yang akan membuat semakin ricuh- saya membatin. Lalu saya buka pintunya dan memberikan tanda padanya untuk keluar, tanpa ada kontak mata, ia berjalan keluar, lagi-lagi tanpa suara, saya pilih hanya melihatnya berjalan menjauh.

Atau saat saya mulai merasa ketidakbiasaan itu semakin perlu untuk ditelaah lebih jauh, saat saya mulai mendaftar dan menulis deretan indikator perilaku sebuah spektrum dan memberikan daftar itu pada wali kelasnya, kini kembali saya melihat ia sibuk berjongkok memandangi standar sepeda yang patah. “Kenapa kak?” kini saya mulai buka suara padanya, tapi lagi-lagi tak ada suara, hening saja. “Ini bu, sepeda saya patah standarnya sama ‘Si Kakak’ –kita sebut ia begitu” teriak sang pemilik sepeda padaku yang masih memandang bergantian antara Si Kakak dan sang sepeda yang patah standarnya. Tiba-tiba ia menjauh, menempelkan tangan pada sebuah pegangan besi dan menunduk, kembali saya buka suara “kakak menyesal?” Ia mengangguk perlahan. “Coba kakak ke sini, minta maaf sama temannya” kataku padanya, tapi kembali tak kutemukan kontak mata. “Kamu maafin si Kakak kan? ini bisa dibetulin ko kak, tinggal di bawa ke bengkel paling perlu skrup baru aja” kataku berganti pada si pemilik sepeda yang kemudian mengangguk yakin.

“Maafin aku ya” katanya kaku sambil mengulurkan tangan, kemudian mematung.

Saya kaget, dia mematung seakan berhenti bernafas, bahkan seperti waktu berhenti untuknya.

“Hey kak, gak apa-apa, ibu gak marah… come on…”

Masih mematung, ku sentuh pundaknya

“Kak, ayo lah my man, biasa ajah…”

Tetap mematung, panik juga.

Tiba-tiba si pemilik sepeda berkata “udah, kamu gak usah begitu terus aku gak apa-apa…” baru kemudian dia bergerak, seakan nyawanya kembali setelah berjalan-jalan, dan tentu saja setelah itu, tanpa suara ia pergi meninggalkan saya yang masih takjub. Sepertinya saya belum masuk dalam daftar manusia di dunianya.

Setelah daftar indikator perilaku itu terisi, saya masih tak yakin terhadap apa yang tertera di sana, tapi daftar checklist itu terlalu nyaris sempurna untuk tidak dikatakan YA. Dia penderita spektrum autisme, individu yang terkunci dalam dunianya, yang kurang mampu berinteraksi dengan dunia sosial di luar dirinya. Individu yang akan selalu terlihat sendiri, ketika bahagia ia sendiri, begitu pun ketika sedih, kecewa, sakit, sepi, dan untuk membayangkannya saja sudah membuat saya bergidik, ya Allah ia terpenjara dalam dunianya. Tak pandai berkomunikasi, tak pandai bercerita apa yang ia rasakan, ia inginkan, bahkan mungkin apa yang ia butuhkan. Walaupun kita masih bisa melihat respon emosinya, terlebih untuk emosi-emosi negatif seperti marah, sedih, dan takut. Dan diagnosis itu semakin tertegakkan dengan pernyataan wali kelasnya bahwa orang tua Si Kakak telah menyatakan bahwa Si Kakak adalah penderita Spektrum autisme.

Dalam referensi psikologi autisme adalah sebuah gangguan yang akan disandang penderita seumur hidupnya. Hidupnya akan bersama-sama dengan defisit bahasa, perilaku motorik yang lebih “unik”, perilaku repetitif (berulang), dan tentu saja kesendirian yang sangat.

Penyebab autisme belum diketahui secara pasti, tetapi diduga akibat abnormalitas otak dan kekurangmampuan seorang penderita autisme untuk melakukan kontak sosial membuat mereka kesulitan untuk memiliki hubungan dekat dengan teman sebaya, guru, saudara (kakak atau adik), bahkan orang tua mereka sendiri.

Menurut Psikolog O Ivar Lovaas (1979) anak-anak penderita autisme memiliki defisit perseptual sehingga mereka hanya dapat memproses satu stimulus saja pada waktu tertentu, cara berpikirnya fokus dan tidak bisa terpecah pada dua atau lebih masalah sekaligus dalam satu waktu. Pada waktu-waktu tertentu mereka akan terlihat sangat sensitif terhadap rangsangan apapun, dan di waktu lain mereka menjadi sangat tidak sensitif sehingga orang-orang di sekitarnya akan bertanya-tanya “apakah mereka tuli?” kekurangmampuan mereka dalam menerjemahkan kondisi lingkungan sosial inilah yang menyebabkan penderita autisme selalu gagal atau paling tidak kurang mampu memahami dan menerapkan aturan-aturan sosial.

Maka ketika suatu kali Si Kakak terlihat berguling-guling di bawah tangga sekolah, hanya sebuah kata: “miris” saat seorang yang merespon perilaku Si Kakak dengan memiringkan jari telunjuknya di depan kening, tanda beliau menuduh Si Kakak “gila”, mungkin itu cara terkasar yang saya pilih untuk menceritakan kejadian tersebut. Si Kakak memang seringkali tidak menengok ketika dipanggil, bukan karena ia tuli, tapi memang otaknya yang meminta ia harus fokus pada satu hal saja serta ketidakmampuannya merespon lingkungan sosial membuat ia terus saja berjalan tanpa mempedulikan orang baru yang memanggil.

Namun satu hal yang seringkali menjadi kemampuan luar bisa seorang penderita autis, biasa disebut sebagai Savant Syndrome yaitu kemampuan luar biasa yang tidak akan dimiliki oleh orang normal pada umumnya, misalnya saja kemampuan untuk mengetahui hari di sebuah tanggal pada berpuluh-puluh tahun yang akan datang, atau yang terjadi pada Si Kakak adalah kemampuannya untuk mengingat dan menuliskan sama persis tulisan yang telah ia baca di sebuah buku, bahkan tanpa menggeser titik maupun komanya, seperti proses scanning atau foto kopi, benar-benar persis. Tulisannya yang rapi, detail dalam mencatat dan mengerjakan soal, dan benar-benar cerdas dalam menyelesaikan soal matematika, itulah keunggulannya di tengah ketidakmampuannya berinteraksi sosial.

Terkait proses pendidikan manusia, harus di sadari bahwa proses mendidik tidak hanya ditujukan untuk mengembangkan kecerdasan intelektual seseorang, tapi mendidik harus pula memiliki tujuan untuk mengembangkan kecerdasan spiritual dan emosional yang mencakup kontak sosial dengan lingkungan yang akan membantu anak nantinya dapat bertahan (survive) dalam kehidupannya di dunia dan sukses dalam kehidupan akhiratnya. maka keadaan Si Kakak atau penyandang spektrum autisme lainnya tetaplah harus dibantu, paling tidak terkait dalam proses memperkenalkan norma-norma yang dipegang masyarakat untuk dapat bertahan dalam interaksi masyarakat yang terkadang menyudutkan penderita autisme.

Pada akhirnya, sudah cukup kita berdiri sebagai seorang yang berlaku tak paham tentang perbedaan individu, khususnya anak-anak, ciptaan Allah. Hentikanlah tawa-tawa tak berguna yang tercipta akibat kita menemukan perilaku “unik” di sekitar kita. Hentikan itu semua dan gantikan dengan sebuah kepahaman tentang Kemahabesaran Allah yang menciptakan manusia dengan berbagai karakter dan keistimewaan, yang bisa membuat kita belajar untuk lebih mensyukuri hidup. Wallahualam bis shawab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nuram Mubina
Seorang yang mencintai dunia psikologi dan proses mempelajari perilaku manusia serta menyenangi ketika menemukan keunikan mereka. Akan terus belajar dan belajar untuk menjadi sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat bagi sesama.

Lihat Juga

Sikap Dunia Internasional Terhadap Upaya Kudeta di Turki