Home / Berita / Opini / Saat Bola Membidik Perempuan

Saat Bola Membidik Perempuan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Sejak awal, Gary Neville, salah satu anggota pelatih tim sepak bola nasional Inggris di bawah Roy Hodgson, menyatakan bahwa fenomena sirkus WAGs sebagaimana terjadi di Piala Dunia 2006 tidak akan terulang kembali.

“Hal itu tidak akan terulang lagi. The FA sudah belajar dari pengalaman di tahun 2006. Begitu juga dengan tim Inggris dan para pemainnya. Itu kondisi yang tidak ideal bagi semuanya. Saat ini adalah dunia yang berbeda dan kesalahan tersebut tak akan terulang lagi di bawah kepengurusan manajer siapa pun dan rezim siapa pun. Platform sudah ditentukan. Kami mengelolanya saat ini dengan cara yang sama sekali berbeda. Kami sekarang di sini untuk bermain sepak bola. Kami di sini untuk bekerja,” tegasnya (Dailymail, The Telegraph, 31/5).

WAGs, atau Wives and Girlfriends, mulanya adalah istilah yang diberikan tabloid Inggris kepada para istri dan pacar pesepakbola Inggris. Pada perhelatan Piala Dunia 2006 di Baden Baden, Jerman, dari tim Inggris, yang datang tak hanya para pemain dan manajer, namun juga para istri dan pacar. Di antaranya adalah Victoria Caroline (istri David Beckham), Cheryl “Tweedy” Cole (pasangan Ashley Cole), Coleen McLoughlin (Wayne Rooney), Louise Bonsall (Michael Owen), Emma Hadfield (Gary Neville), dan Carly Zucker (Joe Cole). Juga Melanie Slade (Theo Walcott), Abbey Clancy (Peter Crouch), Alex Curran (Steven Gerrard), dan Elen Rives (Frank Lampard).

Publik Baden Baden dan dunia dibuat terperangah dengan gaya hidup serba mewah yang ditampilkan WAGs. Di siang hari, Victoria dkk berbelanja. Tentu saja yang dibeli bukan brand sembarangan tapi yang papan atas semacam Prada, Gucci, Dolce and Gabbana, Dior, Diane von Furstenberg, Chloe, Marni, Blumarine, dan Wolford. Sementara di malam hari para WAGs ini berpesta dengan minum-minuman keras yang mahal.

Tak pelak, wartawan membuntuti mereka 24 jam. WAGs di Piala Dunia 2006 jadi lebih menonjol ketimbang kiprah suami atau pacar mereka. Sayangnya, langkah timnas Inggris yang saat itu diasuh pelatih Sven-Goran Eriksson kandas di perempat final. Victoria cs dituding berandil besar dalam kegagalan ini. Menurut analisis tabloid The Sun, WAGs membuat pasangannya kehilangan konsentrasi di lapangan dengan berita-berita mengenai pesta dan belanja.

Sejak itu popularitas WAGs meroket. Seiring dengannya, dunia sepak bola semakin menunjukkan sisi lain. Yakni munculnya para wanita di dalam bisnis sepak bola. Ini bukannya tanpa sebab. Di dalam ideologi kapitalisme yang berkuasa sekarang, ukurannya adalah uang. Enam belas negara yang berlaga di Polandia dan Ukraina tentu bukan semata ingin mengangkat trofi Henry Delaunay, tapi juga memperebutkan 196 juta Euro. Menurut Detik.com setahun yang lalu (18/06/2011), ke-16 tim yang lolos ke putaran final Euro 2012 akan langsung menerima bonus sebesar 8 juta Euro. Satu juta Euro akan diberikan lagi untuk setiap kemenangan di fase grup dan 500 ribu Euro untuk setiap hasil imbang. Tim yang finish di posisi tiga klasemen akhir fase grup mendapat 1 juta Euro. Sementara itu kemenangan di babak perempat final Piala Eropa 2012 akan bernilai 2 juta Euro, dan kemenangan lain di semifinal 3 juta Euro. Di final Tim juara Euro 2012 lantas mendapatkan 7,5 juta Euro, sedangkan sang runner-up diberikan 4,5 juta Euro. Dengan demikian, jika sebuah tim tidak terkalahkan dari fase grup sampai dengan menjadi juara maka bonus total sebesar 23,5 juta Euro (atau setara dengan 288 miliar rupiah).

Fakta lain bahwa sepak bola lekat dengan bisnis dan uang adalah maraknya perjudian sepak bola. Di Barat, perusahaan judi online menjadi sponsor klub. Pecandu sepak bola tentu ingat akan logo perusahaan judi online yang pernah tertera di jersey klub seperti Real Madrid, AC Milan, dan Juventus. Frederic Oumar Kanoute, saat bernaung di bawah manajemen Seville, pernah menolak memakai kaos timnya yang disponsori judi online. Ia muslim dan menolak judi.

Eksploitasi Perempuan dalam Sepakbola

Demi memperbesar perputaran uang, dimunculkan prensenter sepak bola perempuan untuk mendobrak maskulinitas sepak bola. Eksploitasi terhadap perempuan ini belakangan semakin banyak yang menyadarinya. Tahun lalu saja, KPI menerima sejumlah pengaduan dari masyarakat terkait busana presenter kuis sepak bola. Koordinator Bidang Isi Siaran KPID Jabar Nursyawal, menyatakan bahwa menurut publik, cara berpakaian para presenter tersebut telah melanggar norma di masyarakat.

Memang sepak bola saat ini bukan sekadar olahraga. Di dalam ideologi kapitalisme ia menjelma menjadi salah satu mesin pencetak uang. Salah satu yang patut disayangkan adalah apabila perempuan terseret untuk menjadi komoditi di dalam industri ini. Memang perempuan adalah makhluk menawan dalam arti fisik. Apapun alasannya, hampir semua orang pasti menyukai keindahan dan ironisnya di sinilah media mengeksploitasi perempuan dengan mendudukkan perempuan sebagai salah satu bentuk komoditas. Roy Thaniago, koordinator Remotivi, sebuah lembaga pemantau program televisi, menyatakan bahwa di dalam pertandingan sepak bola atau talkshow, kameramen seringkali menyorot perempuan-perempuan cantik tanpa ada konteks yang jelas. Azima, komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), juga berpendapat, bahwa masih banyak program televisi yang menempatkan perempuan sebagai penarik perhatian melalui tubuhnya.

Eksploitasi terhadap perempuan jelas membahayakan generasi sehingga diperlukan upaya untuk menghentikannya. Selain terus-menerus melakukan pencerdasan terhadap perempuan, juga diperlukan dorongan untuk amar ma’ruf nahi munkar (menyeru kepada kebaikan mencegah kejahatan) di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat harus dididik untuk berfungsi sebagai salah satu kontrol terhadap segala bentuk eksploitasi perempuan. Dan yang tak kalah penting adalah upaya untuk menghadirkan Islam sebagai ideologi tandingan dari kapitalisme sekuler yang memimpin dunia saat ini. Karena hanya dengan menjadikan Islam sebagai pemenang dalam pertarungan antar ideologi inilah kita bisa mengubur kisah tentang eksploitasi terhadap perempuan, untuk selama-lamanya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nurismawati Machfira
Ibu rumahtangga, berdomisili di Inggris.

Lihat Juga

lelaki-suriah-menolong-perempuan-amerika

(Video) Kebaikan Lelaki Suriah ini Membuat Perempuan Amerika Menangis

Organization