Home / Berita / Opini / Bangkit dan Runtuhnya Islam di Mesir, Refleksi Kemenangan Ikhwanul Muslimin

Bangkit dan Runtuhnya Islam di Mesir, Refleksi Kemenangan Ikhwanul Muslimin

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Foto ini diambil dari TV Nasional Mesir, pendukung Muhammad Mursi bersuka cita setelah pengumuman kemenangan Mursi, di Tahrir Square, Kairo, Mesir, (24/6). (AP Photo)

dakwatuna.comMesir adalah sebuah negara tua dan memiliki peradaban yang jatuh bangun silih berganti pula. Peradaban Mesir kuno kita kenal menyembah dewa matahari, Ra. Bangunan-bangunan yang hingga kini ada itu digunakan untuk penyembahan dewa matahari. Nabi Musa alaihissalam diutus untuk mengajarkan Islam pada masyarakat yang nota bene berada di Mesir. Kita ingat dan paham bagaimana kisah perjuangan Nabi Musa alaihissalam dalam meyakinkan umatnya hingga harus ‘adu sihir’ dan menggantungkan nyawa di tepi laut merah. Begitulah Allah berkehendak.

Dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW, Islam pun menyentuh daratan Mesir. Islam masuk ke Mesir setelah khilafah Islam mengakuisisi Byzantium pada tahun 639M. Pada khilafah Turki Utsmani, Fatimiyyah dipercaya untuk memimpin Mesir. Peninggalan yang hingga kini masih bisa kita lihat adalah Universitas Al-Azhar. Kampus ini berdiri tahun 973 M dan universitas tertua di dunia sekaligus di khazanah intelektual Islam khususnya.

Setelah berakhirnya khilafah Turki Utsmani, posisi Mesir menjadi dilema. Di mata zionis, Mesir bisa menjadi penyangga yang kokoh karena besarnya potensi Mesir. Dan hari ini dan seabad terakhir kita lihat memang demikian adanya. Siapa yang menyumbang pasokan energi untuk Israel? Jawabannya adalah Mesir. Belum lagi masalah politik, hukum, dan keamanan. Dalam film dokumenter Tears of Gaza (air mata Gaza) ada seorang Palestina yang mendoakan laknat Allah untuk Israel dan Mesir. Ini menunjukkan betapa pendudukan Israel atas Palestina dibalik kekuatan besar Mesir. Mesir semakin takluk pada zionis setelah kalah perang dengan Israel plus perjanjian Camp David yang salah satu isinya adalah Mesir menjadi pemasok energi bagi Israel dengan harga murah.

Selepas khilafah Turki Utsmani dan kerajaan Mesir yang masuk dalam protektorat Inggris, Mesir berdiri sebagai negara republik dengan Muhammad Najib sebagai presiden pertama (1953-1954). Ketiga presiden berikutnya adalah Gamal Abdul Nasser (1954-1970), Anwar Sadat (1970-1981), dan Husni Mubarak (1981-2012). Dan kini, Mesir kembali dipimpin oleh Islamis, Ikhwanul Muslimin.

Meski pernah di bawah kekuasaan Turki Utsmani, Mesir juga pernah di bawah kekuasaan Inggris hingga tahun 1922. Pemerintahan yang adil dan zhalim juga silih berganti. Kerajaan Mesir tidak bertahan lama karena korupsi terjadi dimana-mana. Dengan momentum kekalahan perang Arab-Israel tahun 1948, terjadilah revolusi Mesir dan kerajaan ini berakhir tahun 1953. Sejak tahun 1953 ini Mesir menjadi negara republik.

Pergerakan Islam Modern

Kerajaan Mesir sempat berganti raja hingga tiga kali antara 1922 hingga 1953. Namun syariat Islam tidak ditegakkan. Dengan kondisi seperti itu muncullah seorang pemuda yang menggerakkan masyarakat untuk kembali mengangkat Islam sebagai landasan negara, beliau adalah Hasan Al-Banna. Pergerakan ini bernama Ikhwanul Muslimin (IM) atau lazim disebut ikhwan saja.

IM berdiri pada tahun 1928 dengan Hasan Al-Banna sebagai ketua. Hasan Al-Banna dikenal sebagai seorang pemimpin kharismatik. Saat berusia 10 tahun bahkan beliau sudah hafiz Al-Qur’an. IM juga bergabung dalam perang Arab-Israel di tahun 1948. Dengan gerakan seperti ini, IM dibenci pemerintah dari zaman kerajaan Mesir hingga beberapa dekade republik Mesir. Setelah perang Arab-Israel, pemimpin IM diculik dan IM dianggap sebagai organisasi berbahaya.

Memasuki era republik, ternyata pemerintah masih membenci IM karena alirannya yang mengedepankan syariat Islam. Salah seorang pimpinan IM, Syaikh Sayyid Qutb, digantung pada masa Gamal Abdul Nasser hanya karena tidak mau mengatakan Al-Qur’an sebagai Makhluk. Hal ini bisa ‘dimaklumi’ karena penguasanya memang bukan dari kalangan Islamis.  Semua presiden dari Muhammad najib hingga Husni Mubarok berasal dari kalangan partai berhaluan sosial-nasional-demokrat dan militer.

Dengan izin dan kuasa Allah, pada 24 Juni 2012 sebuah sejarah besar terjadi di Mesir. Sesuai keputusan Dewan Tinggi Pemilihan Presiden Mesir mengumumkan Muhammad Mursi sebagai Presiden Mesir. Sejarah besar karena Mursi diusung oleh kalangan Islamis. Sejarah besar karena kekuasaan sosialis-nasionalis-demokratis-militer yang berjalan sebelumnya terbukti lebih banyak memusuhi Islam dan rakyat Mesir dan Palestina pada khususnya.

Tentang Mesir menteror Palestina, pernah terjadi Mesir ikut-ikutan membangun benteng raksasa untuk memblokade rakyat Gaza. Pernah pula membuat peraturan yang menyusahkan arus perdagangan keluar Gaza. Secara umum bisa dikatakan, keberadaan Mesir yang besar tidak bisa membantu saudaranya Palestina yang hingga kini masih terzhalimi.

Akhirnya, perjalanan panjang IM dan doa Syaikh Hasan Al Banna semoga diijabah Allah. IM diberi mandat untuk memimpin Mesir dan mengembalikan syariat Islam untuk memakmurkan Mesir serta menolong Palestina. Visi besar seorang Hasan Al Banna mulai memperlihatkan benih-benih keberhasilan. Semoga IM bisa seperti AKP di Turki yang berhasil menguasai parlemen dan legislatif dan mulai kembali mengedepankan Islam sebagai rambu-rambu negara. Semoga IM bisa menyatukan negara-negara Arab untuk tidak lagi tunduk pada zionis.

Dan… semua terjadi semata-mata karena iradah dan qudrah Allah subhanahu wa ta’ala.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abbaz
Karyawan, Pelaku Bisnis Online, menyukai info seputar dinamika perkembangan Islam.

Lihat Juga

Implementasi Perkembangan Praktik Audit Syariah di Bank Islam Malaysia