Home / Pemuda / Cerpen / My Lovely Bunda (Bagian ke-6, Selesai)

My Lovely Bunda (Bagian ke-6, Selesai)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

****

dakwatuna.comDisaat-saat terakhir konser Asia Tour 3 Teipei Garuda Boys, Alif benar-benar tak bisa berkonsentrasi lagi. Semua member menyadarinya dan tahu betul apa penyebabnya. Akhirnya, sang leader, Indra menghentikan rangkaian jadwal perform mereka sejenak. Berbicara kepada seluruh GFF yang hadir untuk memberitahukan baru saja di terima kabar bahwa ibu dari salah seorang member mereka jatuh sakit dan sedang di rawat di rumah sakit. GFF terlihat shock dan ikut bersedih ketika mendengar kabar itu, terutama Alifers, fans Alif, mereka meneriakkan kata-kata penenang agar Alif jangan terlalu bersedih dan khawatir, mereka juga mendo’akan agar bunda Alif baik-baik saja. Alif yang mendengar itu, semakin berkaca-kaca dan terharu. Perasaannya yang tadinya sedikit kalut sekarang lumayan tenang ketika mengetahui begitu banyak yang mendukung dan mendo’akan kesehatan ibunya. Alif mengucapkan terimakasih sebelum akhirnya Alif pamit dan diizinkan pergi meninggalkan panggung untuk menemui ibunya dirumah sakit. Member lain berjanji akan menyusul Alif setelah menyelesaikan konser mereka.

Alif berlari menuju mobilnya, dan benar-benar tak tenang ketika menunggu jadwal keberangkatan pesawatnya di bandara, untung saja masih ada jadwal keberangkatan terakhir untuk malam ini. Alif pun masih tak henti-hetinya berlari ketika telah sampai di depan resepsionis menuju kamar bundanya. Ia sangat khawatir dan cemas bukan main, rasanya tak ada yang dapat membendung kekhawatirannya saat ini. Hatinya terus saja menjeritkan do’a-do’a agar Tuhan menjaga sang bunda tercinta. Kakinya terasa tak menapak bumi. Jantungnya terasa tak lagi berfungsi karena untuk sesaat ia tak ingat bagaimana caranya untuk bernafas. Pandangannya mengabur dan hanya tertuju pada satu titik fokus; bayangan bunda yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit!

Meski telah sampai di depan pintu kamar rawat bunda, tangan Alif tak langsung mendorong pintu itu agar terbuka. Tangannya mendadak terasa berat untuk digerakkan. Dengan kekuatan yang tersisa, Alif berusaha membuka pintu itu. Begitu pintu terbuka, pemandangan pertama yang ia lihat membuat perasaannya tak kalah shock di banding saat ia mendapat telpon dari Ahda ketika berada di ruang ganti yang mengabarkan bundanya pingsan dan masuk rumah sakit..

Bayangan Alif meleset. Lalu, apakah kekhawatiran Alif semenjak ia berlari dari Teipei hingga sekarang ia berada di depan dua orang wanita yang tengah tertawa-tawa, dan seorang balita yang juga tengah terkikik-kikik menjadi sia-sia belaka?

Alif mematung mendapati pemandangan yang membuat ia bingung ini. Sementara dua orang wanita yang tengah menatapnya juga melakukan hal yang sama.

‘Alif? Sedang apa kau di sini, bukankah kau akan kembali besok?’ tanya bunda yang sedang duduk di tepi ranjang sambil menjuntaikan kakinya dengan santai, tidak terlihat tanda-tanda ia sedang sakit. Sementara wanita di depan bunda yang sedang duduk memeluk seorang gadis cilik juga memasang ekpresi yang menyiratkan pertanyaan yang sama.

Mendengar pertanyaan bundanya, bukannya menjawab Alif malah meneteskan air mata. Air mata lega karena mengetahui wanita yang sangat ia cintai ini baik-baik saja. Ia melangkah, awalnya pelan, semakin dekat ke bundanya Alif nyaris berlari dan menghambur kepelukan bunda.

‘Bunda, bunda tidak apa-apa? Bunda baik-baik saja ‘kan?’ Alif memeluk bunda dengan sangat erat, membiarkan air matanya membasahi bahu bunda yang memeluknya. Melihat itu, Zahra tersenyum dan berdiri dari duduknya, lalu membawa Syifa yang dari tadi berada dalam pangkuannya untuk duduk di bangku yang terletak tidak jauh dari pintu. Niatnya untuk keluar dan meninggalkan dua ibu dan anak itu entah kenapa ia urungkan begitu saja.

‘Hey! Bunda tidak apa-apa. Kau lihat ‘kan bunda baik-baik saja. Sudah…sudah, jangan cengeng seperti ini,’ bunda mengusap-usap punggung Alif yang tengah terisak dipangkuannya. Alif melepaskan pelukannya dan menatap bunda untuk memastikan perkataan bunda.

‘Bunda tidak apa-apa, bunda hanya pinsan sebentar karena kelelahan saja. Siapa yang mengabarimu? Bunda sudah melarang semua orang agar kau tak diberitahu. Ahda yang memberitahumu? Lalu, bagaimana dengan konsermu?’

‘Aku sudah bilang berkali-kali, bunda tidak apa-apa saat bicara dengannya di telpon. Dia saja yang terlalu panik berlebihan,’ tiba-tiba Ahda sudah berada di depan pintu dan menutup pintu itu dibelakangnya. Kemudian ia melangkah menghampiri satu-satunya sofa di ruangan itu dan merebahkan dirinya di sana. Alif menatap Ahda dengan kesal, ia meraih bangku di belakangnya dan duduk sambil melingkarkan lengannya ke sekeliling pinggang bunda, lalu merebahkan kepalanya di paha bunda.

‘Bunda jangan pernah sakit lagi ya… Aku bisa gila kalau bunda sakit,’ ucap Alif pelan sambil menelengkan kepalanya ke paha bunda.

Bunda menoel kepala Alif dan berujar, ‘hus! Ucapan apa itu? Hanya orang yang tak punya Tuhan yang akan mengucapkan itu. Jika Dia berkehendak bunda sakit sekarang, meskipun kau berkata  tak mau, bunda akan tetap sakit. Sudah sebesar ini kenapa masih belum mengerti sih…’ bunda kesal dengan putranya yang tak kujung pintar juga (?)

‘Aku tahu bunda,’ Alif merengek. ‘Ya…Pokoknya sekarang aku maunya bunda tidak sakit…Aku akan melakukan apapun agar bunda tidak sakit, apapun permintaan bunda, apa pun yang bunda inginkan saat ini, walau sesulit apa pun pasti akan kukabulkan. Akan kukabulkan jika bunda mau berjanji menjaga kesehatan bunda dan tidak pernah sakit lagi. pokonya semuanya akan kulakukan. Disuruh menikah pun aku pasti mau, pokoknya semuanya,’ ucap Alif sambil menumpukan pipinya ke paha sebelah kiri bundanya.

‘Benarkah? Kau ini ada-ada saja,’ Bunda mengelus-elus rabut Alif yang modelnya memang sedang trend dan banyak ditiru oleh pemuda-pemuda zaman sekarang.

‘Aku tidak bercanda bunda, aku serius,’ rengek Alif sambil mendongak dan menatap bundanya untuk meyakinkan bundanya bahwa ia tidak sedang main-main. Ia ingin bundanya baik-baik saja dan ia akan melakukan apa pun agar bunda baik-baik saja. Sudah cukup ia selama ini bermain-main, ia ingin membahagiakan bundanya. Bunda tak boleh terlalu lelah, tak boleh terlalu banyak berfikir, bunda harus hidup bahagia, damai dan selalu merasakan ketenangan dalam hidupnya. Bukankah banyak penyakit di dunia ini yang salah satu penyebabnya adalah karena tidak adanya ketenangan hati, kedamaian dan kebahagiaan?

‘Bunda tahu…kau serius. Jadi, benar kau akan menuruti keinginan bunda? Kau mau jika bunda minta kau menikah secepatnya?’ entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja muncul ide gila dipikiran bunda untuk memanfaatkan situasi ini.

‘Hmm…baiklah, tapi siapa yang mau menikah denganku? Apalagi secepatnya pula,’ ujar Alif sambil memeluk lutut bunda dan menumpukan lagi pipinya di paha bunda. Bunda dapat menangkap sedikit keraguan dalam ucapan Alif, tapi bunda mengabaikannya, bunda akan menangkap sekecil apa pun peluang itu. Ahda yang tadinya berbaring di sofa dan membelakangi bunda dan sang abang memutar tubuhnya agar dapat menyaksikan seperti apa wajah abangnya saat ini. Zahra yang duduk di dekat pintu dan tadinya sedang sibuk memegangi cemilan yang sedang diemut Syifa ikut mendongakkan kepalanya untuk melirik dua ibu dan anak itu.

‘Siapa?’ Bunda mengulang pertanyaan Alif. ‘Kau ini bicara apa anakku sayang, tentu saja Zahra,’ ujar bunda lagi. Tersirat kekagetan di wajah Zahra, Ahda tersenyum melirik abangnya yang masih menyembunyikan wajah, kemudian berpindah melirik Zahra.

‘Tidak mau!’ tolak Alif kasar yang membuat bunda kaget. ‘Aku tidak mau, dia ‘kan pacarnya si Rangga bodoh itu. Untuk apa aku menikah dengan pacar orang!’ sakartis Alif yang membuat bunda menoel kepalanya dengan kesal. Alif tahu Zahra mendengarkan ucapannya, peduli amat.

‘Ihh! Jangan bicara sembarangan! Kau harus punya bukti yang konkrit untuk menuduh orang!’

‘Bunda tanya sendiri pada orangnya, dia ‘kan sangat mengidolakan si ikan teri itu,’ Alif menggerakkan kepalanya untuk mencari posisi yang enak di paha bunda. Ia dapat melihat gambar beruang di celana piyama yang dipakai bunda. Alif mengores-goreskan kukunya ke gambar beruang yang tepat di depan matanya itu, terasa keras karena tulang lutut bundanyalah yang sedang ia towel-towel.

‘Anak bodoh! Zahra memang mengidolakan Rangga. Rangga itu, pemuda yang berada pada urutan kedua yang diidolakan Zahra di Garuda Boys, Rangga juga menyukai Zahra bahkan sangat menyukai Zahra sampai pemuda itu pernah melamar Zahra, tapi ditolak oleh Zahra,’ Bunda dapat merasakan tubuh Alif mematung, mungkin karena kaget kalau ternyata Rangga sangat menyukai Zahra dan bahkan sampai melamar dan Alif tak tahu semua itu?

‘Kenapa? Rangga tak menceritakannya padamu?’ Bunda dapat merasakan keterkejutan putranya karena Alif selama ini merasa mungkin mereka semua, member Garuda Boys sudah terlalu dekat sehingga tak ada rahasia apa pun di antara mereka. Tapi, kenapa Alif tak tahu kalau Rangga sudah melamar Zahra.

Mendengar Alif tak menjawab pertanyaanya, bunda pun melanjutkan, ‘kau tak ingin tahu siapa member Garuda Boys yang berada pada urutan nomor satu yang paling diidolakan Zahra?’ tanya bunda dengan nada menggoda.

‘Bunda…’ sebuah rengekan dari arah pintu membuat bunda kembali ingat bahwa mereka tak hanya berdua saja di kamar rawat rumah sakit ini. Bunda melirk sekilas ke arah suara, ia sempat melihat ekspresi Zahra yang memohon dan menggeleng-gelengkan kepalanya agar bunda tak melanjutkan ucapannya. Tapi, kali ini bunda memilih untuk mengabaikan apa pun dan kembali memusatkan perhatiannya kepala Alif yang masih menyembunyikan wajahnya.

‘Dan, kau tak ingin tahu siapa pemuda yang menyebabkan Zahra menolak lamaran Rangga, pemuda paling keren di Garuda Boys itu?’

‘Bundaaa…’Zahra benar-benar merajuk sekarang, ia sampai berdiri dari duduknya, ia tak mempedulikan Syifa yang memegangi jilbabnya dengan tangan yang belepotan coklat.

‘Pemuda itu adalah kau anakku,’ Zahra mengernyit dan tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar rawat inap itu.

‘Zahra sangat mengidolakanmu, dan Rangga tahu Zahra mencintaimu, tapi dia masih nekat melamar Zahra karena kau selalu menolak Zahra,’ Bunda hening sejenak untuk meraba-raba apa yang tengah dirasakan putranya karena Alif hanya diam saja. Kemudian Bunda dapat merasakan pipi Alif bergerak di pahanya, seperti pipi yang mengembung karena membentuk sebuah senyuman.

‘Kau memang bodoh Bang, semua orang juga tahu kalau Zahra menyukaimu. Sangat, sangat menyukaimu. Kau saja yang tidak tahu. Kau harus menikahinya, jika tidak, dia akan menikah dengan Bang Rangga. Jika dia menikah dengan Bang Rangga, dia tidak akan bisa menjaga Bunda seperti tadi. Kau tahu ‘kan, kita semua sibuk, sebelum ada Kak Zahra, Bunda sering ditinggal sendiri. Kau sibuk dengan Asia Tour-mu, Ayah sibuk dengan perusahaannya, dan aku sibuk dengan café, untung saja ada kak Zahra yang mau menjaga Bunda meskipun dia juga punya kesibukan, pokoknya aku tak mau punya kakak ipar selain kak Zahra. Kau mengerti?’ titah Ahda panjang lebar layaknya ombak yang akan menerjang batu karang tanpa ada yang bisa menghalangi.

Alif menegakkan kepalanya, dan menatap Ahda tajam. ‘Bodoh katamu? Kau yang bodoh! Kau saja yang menikah dengannya, bodoh! Mana ada gadis yang mau dinikahi karena alasan agar ada yang menjaga Bunda? Kalau hanya untuk menjaga Bunda, kau cari saja pembantu. Kau pikir gadis mana yang mau menikah dengan pemuda yang akan menjadikan dirinya pembantu untuk menjaga ibunya!’ ujar Alif kesal dengan wajah datar andalannya.

‘Jadi, kau tak mau menikah dengannya?’ Ahda bangkit dari berbaringnya dan menatap Alif dengan penuh emosi, tidak habis pikir dengan abang satu-satunya ini. ‘Baik! Kalau itu maumu. Aku akan menikahinya sekarang juga!’Ahda tak kalah membentak.

‘Sssst! Kenapa kalian jadi bertengkar? Ahda, sudah sana! Lanjutkan lagi tidurmu! Jangan ganggu abangmu. Dia tentu punya pemikiran sendiri untuk memandang segala sesuatunya,’ ujar bunda bijak. Ahda kesal karena bunda malah membela Alif, tapi ia tetap menuruti perintah bundanya, kembali berbaring di sofa membelakangi Alif dan bunda.

‘Jangan berfikir yang tidak-tidak lagi. Zahra adalah gadis yang mencintaimu apa adanya. Dia mencintai apa yang kau cintai. Dia menerima dan mencintai orang-orang yang kau cintai dan juga sangat mencintai keluargamu. Apa lagi yang kau tunggu?’ Bunda memiringkan kepalanya demi menatap wajah Alif sambil mengusap-usap kepala putranya itu.

Alif mengangguk. ‘Baiklah Bunda, terserah Bunda saja,’ ujar Alif kemudian.

 

— THE END

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Rumiati
Lulusan Sastra Indonesia Universitas Andalas Padang, angkatan 2005. Diwisuda pada bulan September 2011. Pada tahun ajaran baru ini insyaallah akan berkegiatan mengajar di sebuah TKIT di kota Pariaman.

Lihat Juga

Tidur yang baik dan menyehatkan ala Rasulullah, SAW (ilustrasi) - heruno.me)

Kala Ibu Terlelap