Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Beginilah Rasulullah Berbisnis

Beginilah Rasulullah Berbisnis

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Judul Buku : Beginilah Rasulullah Berbisnis
Penulis : Hepi Andi Bastoni
Cetakan : I, 2012
Penerbit : Pustaka al-Bustan, Bogor
Tebal : 289 Halaman
ISBN : 978-979-1324-03-08

Cover buku “Beginilah Rasulullah Berbisnis”.

dakwatuna.comUmat Islam di zaman modern ini mengalami keterpurukan hampir di seluruh aspek kehidupannya, mulai dari akhlak, strata sosial, ekonomi, dll. Masyarakat dunia menilai Islam identik dengan pengangguran, perbudakan, rumah kumuh, tidak berpendidikan, peminta-minta (bahkan untuk mendirikan tempat ibadah), dan bentuk-bentuk kemiskinan lainnya. Hal ini sangat berkebalikan dengan kondisi umat Islam di era kejayaan beberapa abad yang lalu. Kenapa hal ini bisa terjadi?

Banyak faktor pastinya. Umat terdahulu berpedoman hanya kepada Al Qur’an dan menjadikan Rasulullah sebagai tauladan, sedangkan umat zaman ini telah melalaikan petunjuk Rabb-Nya dan telah menjadikan kaum kafir sebagai panutannya.  Maka, umat ini membutuhkan sosok-sosok yang “kembali” meniti jalan kesuksesan umat terdahulu untuk dapat mengembalikan kejayaan umat Islam. Salah satu keteladanan yang harus dipaksakan untuk dilakukan adalah mengikuti jejak sukses Rasulullah dalam hal finansial, yaitu kemampuan beliau menyiapkan modal ibadah, dakwah, dan jihadnya.

“Jika ada sepuluh pintu, maka Sembilan di antaranya adalah berdagang”. Karena itulah Rasulullah berbisnis sebagai jalan kesuksesannya.

Lalu, apa yang membedakan bisnis ala Rasulullah dengan bisnis-bisnis yang lainnya?

Perbedaan itulah yang dipaparkan Hepi Andi Bastoni dalam 289 halaman buku padat manfaat ini. Dengan gaya bahasa yang segar dan mengalir, beliau memaparkan ulasan bahasan bisnis ala Rasulullah ini dalam lima bagian. Bagian satu sampai tiga merupakan brainstorming tentang keharusan umat Islam untuk menjadi umat yang kaya. Sudah bukan menjadi hal yang tabu lagi untuk dengan tegas bertekad “saya wajib kaya”. Mengapa? Karena untuk menutup aurat butuh uang, karena untuk zakat butuh uang, karena haji membutuhkan banyak uang, karena dakwah butuh uang, karena jihad juga membutuhkan uang. Karena untuk dapat memberi, harus memiliki. Dan karena sebaik-baik harta adalah di tangan mukminin. Maka, berlomba-lombalah untuk menjadi Abdurrahman bin Auf, Umar bin Khattab, Abu Bakar, dan Rasulullah, dalam hal kekayaan dan kedermawanannya.

Bagian empat dan lima merupakan fokus utama bacaan sarat ilmu ini. Bagian inti ini ditujukan kepada pengusaha yang unggul dan akan menambah nilai unggulnya dengan sentuhan keteladanan Rasulullah. Keteladanan Rasulullah dalam sirah dipaparkan lebih khusus tentang dunia finansial beliau. Rasulullah adalah seorang pekerja keras sejak usia kanak-kanak, pengusaha handal saat usia muda, bersahaja dalam usia senja. Pada poin inti ini dikuak rahasia kedahsyatan bisnis Rasulullah, yang tidak hanya dahsyat dari nilai finansial yang dihasilkan, tapi juga poin plus-plus di sisi Allah.

Salah satu kunci keberhasilan beliau adalah kesederhanaan dan kejujuran Rasulullah yang melahirkan trust atau kepercayaan, sehingga para pemilik modal mempercayakan usahanya untuk dikelola Rasulullah. Kejujuran itu pulalah yang membuahkan trust konsumen sehingga meningkatkan laba karena tingkat pembelian yang meningkat nyata. Kunci utama lainnya adalah zakat dan sedekah yang tak pernah terlalaikan olehnya sehingga sucilah hartanya dan berkahlah usahanya.

Semoga keteladanan Rasulullah dalam berbisnis dapat memotivasi umat Islam untuk menjadi pengusaha yang jujur, amanah, peduli, dan tangguh. Sehingga, umat Islam dapat bangkit dari keterpurukan moral dan finansial yang terus membelenggu wajah dunia Islam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (28 votes, average: 8,93 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ibu rumah tangga yang tinggal di daerah Bogor. Saat ini aktif menekuni dunia pendidikan dan merintis wirausaha bersama suami.
  • mohon maaf mau bertanya, bagaimana dengan suatu kisah yang mereka berlomba2 memancing ikan di kala panen datang utnuk mendapatkan uang lebih pd saat itu akhirnya hrs mendapatkan hukumankrn mereka melalaikan kewajiban yg lebih wajib lainnya drpd hal duniawinya. Mungkin antumn paham kisah yg anamaksud. ana mohon pencerahannya.

Lihat Juga

Ormas-Ormas Islam Hadiri Maulid Nabi di DPP PKS