Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Masih Banggakah Kita Bersyariah?

Masih Banggakah Kita Bersyariah?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Sayyidina Umar bin Khattab radiyallhu ‘anhudalam suatu riwayat pernah mengatakan bahwa “seorang mukmin ialah dia yang senang dengan kebaikannya (ibadah) dan gelisah dengan keburukannya (dosa)”

Definisi yang singkat namun mempunyai arti yang sangat dalam dan sangat luas. Seperti menyindir, walau ini dikatakan jauh sebelum ratusan tahun lalu tapi sepertinya cocok untuk kaum muslim zaman sekarang ini. Bagaimana tidak? Kata-kata Amirul-mukminin itu benar-benar kata yang pas untuk menyentil realita gaya hidup muslim zaman sekarang yang sudah jauh di luar batas-batas norma syariah.

Di zaman yang serba mudah ini, tentu membuat orang semakin gampang untuk melakukan apa saja. Dengan kemajuan media, semua bisa tercapai dengan sangat mudah dan dengan waktu yang secepat mungkin. Lihat bagaimana mudahnya, hanya dengan sekali klik saja kita sudah bisa menyebarkan informasi ke seluruh belahan dunia manapun.

Lalu apa kaitannya dengan definisi muslim yang dijelaskan oleh sayyidina Umar RA?

Ya. Lihat bagaimana sebagian muslim menggunakan segala kemudahan ini? Facebook dan twitter misalnya. 2 media sosial yang paling digandrungi anak muda ini berhasil membuat ‘aib menjadi santapan publik. Banyak dari para pemuda muslim yang justru malah ‘doyan’ mengumbar ‘aib dirinya bahkan keluarganya. Dan anehnya ia senang dengan itu semua. Bukankah mengumbar ‘aib suatu keburukan?

2 media yang seharusnya bisa menjadi jembatan menggapai pahala dengan saling bersilaturahim dan saling mengingatkan, tapi hanya digunakan untuk hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat dan cenderung kepada suatu kemungkaran.

Bangga mempublikasi photo-photo mereka, yang perempuan mengumbar auratnya, dan kaum laki dengan bangga mengupload photo atau videonya yang sedang bergumul dengan kemaksiatan. Dan mereka bangga dan senang dengan itu semua, aneh bukan?!

Sebaliknya mereka malah malu jika harus menuliskan sebuah ayat atau hadits atau nasihat ulama di dinding-dinding mereka, padahal itu suatu kebaikan dan tentu berpahala. Tetapi mereka lebih senang kalau dinding mereka berisi dengan kata-kata galau keluhan, dan sebagainya. Atau dengan kata-kata seorang yang mereka sebut dengan ilmuwan dan intelek walaupun kata-kata itu menyalahi syariah.

Kenapa harus malu dan harus takut mengisi dinding dengan nasihat ukhuwah yang agamis. Bukankah itu sebaik-baik perkataan? Yaitu perkataan yang mengajak kepada ALLAH. Sebagaimana telah dijelaskan dalam ayat 33 surat Fushilat.

Itu yang di dunia maya, di dunia nyata tidak jauh berbeda. Kebanyakan dari kita lebih suka dengan mereka yang “bad boy”, atau seorang yang breaking rule, bahkan rule agama. Sudah tidak peduli lagi mana halal dan mana haram, malah menganggapnya bak pahlawan yang dinanti-nanti, memujanya setinggi langit. Tapi dengan para asatidz kampung yang dengan gigih menyuburkan syariah dan menanam serta menyirami ajaran agama di daerah malah tidak dilirik. Dan bahkan dicurigai sebagai orang radikal. Masya Allah.

Dalam hal pemikiran, Banyak (sedikit Insya Allah) pemuda muslim yang mengatakan dirinya intelek dan berpendidikan justru lebih senang dengan pemikiran-pemikiran liberal bebas padahal jauh keluar dari norma agama. Dan sebaliknya, mengatakan kepada yang manut dan straight dalam syariah dengan sebutan kaku atau bahkan judul tidak asik. Apakah mereka telah menganggap bahwa syariah Islam tidak sempurna sehingga harus melakukan pembaharuan-pembaharuan yang justru menjerumuskan kesesatan?

Poligami mereka caci maki tapi perzinahan malah mereka legalkan. Membaca koran menjadi kewajiban, tapi Qur’an ditinggalkan. Lantunan musik pengumbar syahwat mereka dengarkan, lantunan ayat suci mereka abaikan. Liberalis mereka sukai, para asatidz mereka curigai. Bahasa Inggris mereka dambakan, bahasa Arab katanya kampungan. Ilmu dunia diminati, tapi ilmu agama alergi. Bahkan ketika ada ceramah agama pun tutup telinga.

Begitukah seorang muslim?

Antipati pada hal agama dan lebih senang kepada hal-hal di luar agama adalah indikasi bahwa iman yang belum sempurna dan butuh dicharge kembali. Dalam hadits Nabi SAW menjelaskan bahwa Iman itu mempunyai cabang yang jumlahnya antara 73-79 cabang. Yang paling rendah ialah menghilangkan duri dari jalan dan malu itu salah satu cabang iman.

Dalam kitabnya Al-futuhat Al-Madaniyah, Imam Nawawi Banten menjelaskan hadits tersebut bahwa jika salah satu cabang Iman itu tidak ada dalam diri seorang muslim maka tidak sempurnalah Imannya. Dan jika ada, maka bertambah Imannya. Dan dari salah satu cabang Iman itu ialah “Al-Mubahaah Fil-Umur Al-Diniyah” yaitu “Bangga dengan Perkara-perkara Agama”. Dan ini yang menjadi masalah bagi kaum Muslim belakangan ini. Sudah tidak adanya kebanggaan dalam beragama.

Dulu, perempuan dewasa malu kalau keluar rumah tanpa memakai jilbab. Tapi zaman sekarang justru malu kalau keluar rumah berjilbab. Dulu, para lelaki dewasa malu kalau sudah dengar azan, tapi masih nongkrong di jalanan. Lah zaman sekarang justru jalanan itu ramai sekali jadi tempat tongkrongan ketika azan berkumandang. Hilang sudah kebanggaan. Na’udzu Billah…

Kalau sudah tidak ada lagi kebanggaan, muslim Indonesia akan semakin menjadi seperti “ayam mati di lumbung padi”. Ini kan mengherankan ayam yang sumber utama makanannya itu gabah tapi malah justru mati di kubangan gabah itu sendiri. Muslim yang dengan sedemikian indahnya ajaran Islam itu sendiri, tapi malah antipati dan ‘ogah’ dengan syariah padahal justru dengan tegaknya syariat itu sendiri di situlah adanya kebangkitan dan kejayaan.

Dengan ini, mari kita kembali banggakan agama kita dengan terus menguatkan tekad untuk taat menjalankan syariat agama yang mulia ini. Sudah tidak ada keraguan lagi bahwa kejayaan akan tercapai jika syariat ini ditegakkan.

Wallahu A’lam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 9,40 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ahmad Zarkasih
Mahasiswa. Lahir di Jakarta tahun 1989.

Lihat Juga

bank syariah

Good Corporate Governance (GCG) di Bank Syariah dan Bank Konvensional