Home / Pemuda / Cerpen / My Lovely Bunda (Bagian ke-5)

My Lovely Bunda (Bagian ke-5)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

*****

dakwatuna.com Dari hari ke hari bunda semakin gila saja, membuatku sebentar lagi pasti akan kehilangan kewarasan juga, oopss! Bukan!! Bundaku tidak gila, kata-kata adalah doa, aku tidak boleh bicara sembarangan. Maksudku, keinginan bunda untuk memiliki menantu dari hari ke hari semakin menggila saja. Sekarang Zahra diangkat  anak oleh bunda yang otomatis berarti Zahra adalah anak angkatnya. Dan target pun beralih pada gadis itu. Aku sih enjoy-enjoy saja, malah bersyukur aku tak di desak lagi untuk menikah oleh bunda. Masalahnya adalah, rasanya benar-benar tak enak ada orang asing, yang entahlah siapa dia, memanggil bundaku dengan panggilan bunda dan sok berakrab ria dengan bunda. Cih! Memang siapa dia? Oke, bundaku memang bunda yang terbaik, siapa saja boleh diangkat anak olehnya. Tidak heran member merasa iri kepadaku karena hal ini; memiliki bunda yang baik dan sangat menyenangkan. Mereka telah menganggap bunda sebagai ibu mereka sendiri, begitu juga sebaliknya bunda telah menggap member sebagai putra-putra bunda sendiri. Apa lagi member yang memiliki keluarga yang luar biasa sibuk atau alasan-alasan lain yang membuat mereka tidak mendapatkan kasih sayang orang tua secara utuh; bunda merupakan oase di tengah-tengah terbatasnya limpahan kasih sayang orang tua. Bunda terkadang sengaja datang dan membawakan makanan untuk kami yang sedang latihan, jika ada di antara kami yang sakit beliau tidak hanya akan khawatir tetapi juga ikut menjaga sampai kami sembuh. Hmm…Tapi, kenapa Zahra juga harus diangkat bunda sebagai anaknya? Bukankah bunda baru saja mengenal Zahra. Entah kenapa aku merasa sedikit tidak rela ada orang asing yang memanggil bundaku dengan sebutan bunda.

Bunda memperkenalkan Zahra pada semua member yang datang ke café dan dengan tak tau malunya bunda mengumumkan ingin salah satu dari mereka menjadi menantunya. Dan aksi pun dilancarkan. Zahra terkadang disuruh menggantikan bunda mengantar makanan pada kami yang sedang latihan di ruang gedung ajensi. Itu sih masih wajar, yang lebih gilanya bunda juga menyuruh Zahra mengatar makanan ke dorm. Memangnya kami boy band keren apaan? Membiarkan seorang gadis memasuki dorm kami, memasuki dorm sekumpulan pria-pria berstatus lajang. Oke, aku memang berlebihan. Bibi pengurus dorm kami juga seorang wanita, dan pernah juga ada salah satu program acara sebuah stasiun televisi yang krunya sebagian adalah wanita memasuki dorm kami. Tapi, konteksnya jelas berbeda bukan?

Baiklah, sampai sejauh ini gadis bernama Zahra itu cukup tahu diri juga, dia hanya mengantar sampai depan dorm. Menelponku untuk keluar, memberikan bawaannya, lalu pergi begitu saja. Sudah.

Tapi anehnya, kenapa Zahra bisa dekat dengan Rangga? Semenjak pertemuan pertama Zahra dengan member, terutama dengan Rangga, aku sering mendengar Rangga berbicara di telpon dengan Zahra. Bahkan sampai betah berlama-lama telpon-telponan layaknya sepasang ABG labil yang tengah kasmaran. Ya…Memang sih dia pernah mengaku sebagai fansnya si Rangga, tapi tidak begini caranya ‘kan? Bunda bilang gadis itu gadis baik-baik dan terhormat. Baik-baik apanya? Terhormat apanya? Apa bedanya gadis kesayangan bunda itu dengan fans labil kami, jika di setiap sela-sela latihan Garuda Boys, dia membiarkan dirinya ditelpon oleh pemuda yang otaknya agak condong kekiri-kirian itu?  Cih!!!

Hey!!! This is not my business!!! Perasaan bunda tidak pernah mengajarkan aku untuk bersu’uzon-ria. Astaghfirullah… Bagaimana kalau mereka tak seburuk yang aku pikirkan? Bukankah itu artinya aku berfikiran buruk sendiri? Dan otomatis aku kotor sendirian? Ya!! Tertawalah sepuasnya kalian di atas sana, sementara aku berkecimpung dilautan kotoran otakku sendiri!!!

‘Yah…yah…hihihi yah kikik,’ hmm? Bocah siapa ini? Kenapa menghalangi jalanku? Dan jangan seenaknya memanggilku ayah, aku bukan ayahmu. Apakah tampang seimut aku sudah pantas jadi seorang ayah?

‘Alif, bawa dia ke sini! Dan tutup pintunya, bahaya kalau dia sampai keluar!’ aku melihat bunda mengibaskan tangannya, menyuruh aku mendekat.

Aku mengikuti perintah bunda, menatap balita yang masih menatapku dengan mata bulat beningnya. Okh…kurasa aku mulai tersihir dengan wajah polos tanpa dosanya itu, karena tanpa dikomandoi sudut bibirku tertarik membentuk sebuah senyuman begitu bocah itu juga menarik sudut sudut bibirnya, memamerkan dua giginya yang tumbuh seperti gigi kelinci, dan menenggelamkan kedua bola matanya. Aku menekuk kakiku dan mensejajarkan tubuhku dengan ukuran tubuhya, lalu meraih bocah itu, mengangkatnya tinggi-tinggi sebelum akhirnya tubuh mungil itu berada dalam dekapanku.

Aku menutup pintu café di belakangku dan membawa bocah dalam pangkuanku ini mendekati bunda. Selama perjalanan kami menuju bunda, kami masih saling memandang satu sama lain, dia dengan senyum polosnya, aku dengan senyum gemeeees-ku. Mulut mungilnya masih saja menyebut kata ‘yah’ dengan cadel sambil terkikik-kikik dan sesekali mengeluarkan suara yang melengking. Sungguh bahagia sekali sepertinya, seolah-olah topan badaipun tak kan sanggup meruntuhkan kebahagiaan bocah ini.

‘Anak siapa, bunda?’ tanyaku begitu kami sudah berada di depan bunda yang sedang sibuk membereskan piring-piring.

‘Anak Zahra’ ucap bunda santai, eh! Aph-…

‘Aphua!!!? Anak Zahra?’ tuh kan, apa kubilang?

Mendengar teriakanku bunda terlonjak kaget dan mengelus-elus dadanya seraya beristighfar.

‘Ih!!!’ Pletak!!!

‘Adaw!!! Sakit!’ aku menjerit menyuarakan rasa sakitku di bagian kepala yang baru saja dijitak bunda dengan kesal.

‘Kenapa berteriak? Jantungku nyaris copot gara-gara teriakanmu itu,’ bunda kesal bukan main.

Kuusap-usap kepalaku yang berkemungkinan benjol karena jitakan bunda.

‘Aku ‘kan hanya terkejut bunda, ternyata gadis itu sudah punya anak. Siapa ayahnya bunda?’ tanyaku semakin ngawur.

Sebelum bunda sempat membalas kengawuranku, sebuah suara menghentikan kami.

‘Hikss,’ senyum polos yang tadinya menghiasi wajah bocah dalam gendonganku ini kini lenyap sudah berganti dengan ekspresi terkejut campur mendung, layaknya langit yang menghitam karena awan gelap yang mengandung berton-ton air hujan yang siap di tumpah ruahkan ke bumi.

‘Huwaaa,’ dan benar saja, air berton-ton itu tumpah-lah sudah membanjiri pipi mulusnya.

Kutatap bunda dengan tatapan horor, bingung dengan kondisi yang tengah terjadi dan apa yang musti dilakukan. Bunda malah mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.

Detik kemudian bunda meraih bocah yang tengah meraung ini dari pangkuanku.

‘Ooo, Syifa sayang…cup…cup, kenapa menangis…hey…hey lihat itu ada cicak,’ Bunda menunjuk cicak yang kebetulan memang sedang nangkring di salah satu sudut dinding café (?). Lalu, bocah yang bernama Syifa itu pun mengikuti arah telunjuk bunda sambil sesenggukan. Dan…Ajaib!!! Syifa pun diam. ‘Cicak cicak di dinding,’ Syifa tertawa ketika bunda menyanyikannya dengan riang.

Bunda melirikku sekilas.

‘Ini gara-gara dirimu!’ desis bunda penuh penekanan yang membuat aku merinding. Wuahaha.

 

***

‘Syifa ini anak panti. Zahra yang membawanya ke sini. Tadinya Zahra akan membawa Syifa pulang ke kampung halamannya. Tapi, bunda cegah. Tidak mungkin kan, anak sekecil ini dibawa-bawa dalam perjalanan sejauh itu. Nanti kalau masuk angin bagaimana? Ditinggal di panti juga tidak mungkin, tidak ada yag bisa menjaganya kecuali Zahra dan tante Farah. Farah mendadak juga ada keperluan mendesak sekarang,’ bunda menjelaskna panjang lebar sambil memegangi cemilan yang diemut Syifa. Enak sekali dia, aku saja yang anak kandung bunda tak sampai disuapi seperti itu.

‘Jadi, bunda akan jadi pengasuh dia sampai gadis itu kembali?’

‘Ck! Kau ini! ‘Dia’, ‘gadis itu’, mereka punya nama. Siapa yang mengajarimu jadi anak nakal seperti itu? Aduh..aduh, Syifa kau berat sekali sayang, tangan nenek sampai pegal begini,’ bunda memang terlihat kecapean.

‘Sini bunda, biar kugendong!’ aku meraih Syifa dan dalam sekejap Syifa sudah berada dalam pelukanku. Bocah ini masih sibuk dengan cemilannya, mulutnya belepotan coklat dan kuambil tisu yang ada di meja di sampingku dan membersihkan mulutnya. Syifa menyodor-nyodorkan coklat lezatnya ke wajahku yang membuat aku terpaksa berkelit menghindari serangannya sekaligus terkekeh karena tingkahnya itu. Kulihat bunda langsung duduk di bangku terdekat dan memukul-mukul lengannya yang tadi menggendong Syifa dengan tangannya yang lain.

‘Bunda jelas-jelas sudah tua, kenapa sok kuat mau mengasuh Syifa segala? Biarkan saja Zahra membawanya! Atau serahkan dia ke karyawan di sini,’ ujarku tak mau peduli alis cuek bebek dan tanpa kusadari bunda sudah menatapku dengan tatapan membunuhnya.

‘Rasanya aku tak pernah punya putra yang tidak punya perasaan seperti itu,’ oke, sindiran bunda telak menohok rasa prikemanusiaanku yang hemm memang agak mengabur akhir-akhir ini.

‘Bukan begitu bunda, akibatnya lihat saja bunda jadi keletihan seperti ini ‘kan? Sampai kapan bunda akan menjaga Syifa, sampai si Zahra kembali? Lagian, untuk apa dia pulang kampung kalau dia harus menelantarkan anak orang seperti ini,’ entah kenapa aku sedikit kesal dengan gadis yang bernama Zahra ini, ia meninggalkan tanggung jawab dengan seenaknya.

‘Zahra kembali nanti sore, dia harus pulang kampung karena ada anak-anak terlantar yang mesti ia jemput di kampungnya, tentu saja hanya Zahra yang bisa menjemput karena hanya dia yang tahu daerah kampung halamannya itu. Sementara Rangga juga tidak bisa, dia hari ini ada drama musikal, bukan? Asisten Rangga yang diutus Rangga untuk menemani Zahra jelas tidak tahu daerah situ,’ jelas bunda lagi. Tunggu! Rangga?

‘Rangga? Apa hubungannya Rangga dengan semua ini bunda?’

Buk! Buk! Aku menoleh pada gadis kecil yang tengah memukul-mukul dadaku dengan tangan mungilnya. Hey!! Kemeja merahku sekarang belumuran coklat? Yah lanjutkan saja aktivitas barumu itu, jika itu membuatmu senang? Kotorilah sesukamu kemeja merah favoritku ini dengan coklatmu itu, bocah nakal!

‘Ya Tuhan, anakku… Memang kau tidak tahu? Lama-lama kau bisa jadi autis, Alif! Sibuk dengan duniamu sendiri dan tidak peduli dengan semua orang yang ada di sekitarmu! Rangga dan Zahra ‘kan satu kampung dan sudah lama mereka bekerja sama untuk membangun kampung mereka. Termasuk membawa anak-anak terlantar di kampung mereka ke panti Farah yang memang tak diragukan lagi kualitasnya itu. Ckck, aku salut dengan Rangga, dalam keadaan sesibuk apa pun dia masih sempat memikirkan nasib orang banyak. Aku berharap sekali hubungan Rangga dan Zahra tidak hanya sekedar hubungan sekampunghalaman saja. Bagus sekali kalau mereka akhirnya menikah,’ diakhir kalimatnya suara bunda agak bergetar dan ia dengan sengaja mengalihkan tatapannya dariku. Aku tahu, harapan itu sesungguhnya ditujukan padaku. Aku menghela nafas berat dengan pelan. Bunda berusaha pura-pura melupakan harapannya, tapi aku tahu, jauh dilubuk hati bunda, harapan itu masih ada. Mendadak aku merasa seperti manusia paling kejam di dunia ini.

Pagi mulai beranjak, siang pun mulai menampakkan diri, dan café kami sudah mulai didatangi pengunjung. Kutatap bunda dari taman kecil di belakang café kami melewati dinding kaca tembus pandang. Bunda menyuruhku bermain dengan Syifa. Bunda bilang bunda sudah tidak kuat lagi menggendong gadis kecil ini. Wanita yang paling kucintai itu sekarang sedang sibuk melayani pengunjung tanpa menyadari, aku, putranya yang paling bodoh ini sedang mengamatinya. Untuk wanita seumur bundaku, tubuh mungil itu memang terlihat masih kuat, tapi tak bisa dipungkiri, usia memang sudah mulai mempengaruhi gerak-geriknya, beliau tak lagi selincah dulu. Selincah di mana beliau menggendong aku di punggungnya sambil berlari sewaktu aku masih kecil

‘Yah…yah! Yah…yah,’ gadis kecil yang sedang menggerakkan tubuhnya dalam pangkuannya ini sukses menghalau kegalauan yang sempat menghinggapi pikiran dan perasaanku.

‘Mmm…mmm,’ hanya itu suara yang bisa ia perdengarkan sejak tadi, tapi aku tahu sekarang ia sedang menginginkan aku membawanya kembali ke dalam karena tangannya teracung ke arah di mana bunda berada. Waa, kacau kalau begini, bagaimana jadinya jika aku tak bisa menghentikan rengekannya ini? Di tengah kepanikan, tak sengaja mataku menangkap seekor kupu-kupu yang hinggap di atas ranting bunga yang daunnya berguguran. Aku menunjuk kupu-kupu itu dan berusaha agar Syifa memperhatikan arah telunjukku. Ia melakukannya dan sekarang ia tak lagi merengek. Syifa diam dan menatapku sekilas lalu kembali menatap kupu-kupu itu lagi. Syifa mulai mengacungkan tangannya ke arah kupu-kupu dan aku pun mengerti ia ingin kami mendekati kupu-kupu itu. Begitu kami sudah berada dalam jarak dekat dengan kupu-kupu itu, Syifa menatapnya lekat-lekat. Sesekali ia menatapku, dan mulut mungilnya lagi-lagi melontarkan kata-kata andalannya,’mm mm.’ Kemudian aku mengangguk seraya tersenyum dan mengeja,’ku-pu-ku-ku-pu.’ Dan ia pun membalas,’mm’ seolah mengerti apa yang aku katakan. Pertualangan kami pun berlanjut, aku mengajaknya mendekat ke kolam ikan yang berukuran kecil di taman itu yang banyak sekali ikan kecil, lagi-lagi aku menunjuk-nunjuk. Menunjuk ikan kecil itu agar Syifa juga melihatnya. Kali ini reaksinya; terkekeh kecentilan begitu melihat ikan itu meliuk-liuk di dalam air. Riang sekali. Tiba-tiba ia memiringkan kepalanya sambil memamerkan senyum menakjubkan dengan lesung pipi yang sangat teramat manis, demi dapat menatap wajahku, seakan-akan ia ingin tahu apakah aku juga ikut berbahagia seperti dirinya. Aku membalasnya dengan senyum yang juga tak kalah merekah sambil mengedip-ngedipkan mataku sok centil. Entah seperti apa aku, yang pasti aksiku sukses membuat ia terkekeh dan kembali memusatkan kembali perhatiannya kepada sekumpulan ikan-ikan kecil itu. Kemudian aku mengajaknya menapaki jembatan kecil yang sengaja dibuat di tengah kolam kecil itu agar kami dapat sampai di seberang kolam. Ia langsung menolak saat aku menurunkannya dari gendongan dan hendak mengajaknya berjalan menapaki jembatan itu, sepertinya Syifa ketakutan dan aku pun kembali menggendongnya. Kami mengelilingi kolam kecil itu dan menyebrangi jembatan kecilnya berkali-kali sampai aku keletihan dan terduduk di batu kecil di tepi kolam dengan Syifa dipangkuanku. Aku bersenandung dan menggoyang tubuh Syifa yang bersandar keletihan di pangkuanku. Pohon kecil di belakang kami cukup menaungi kami dari panasnya terik matahari. Rasanya damai sekali.

Kemudian aku mengajaknya berdiri dan beranjak ke bagian taman yang masih tertutup atap café karena matahari sudah mulai meninggi dan daun daun itu tak sanggup lagi menaungi kami. Ia tak menolak ketika aku menyodorkan segelas air putih kemulutnya, terlihat ia sangat kehausan. Syifa juga memakan cemilan yang aku sodorkan. Tapi, belum habis separo Sifya menjatuhkan cemilannya. Aku memasang ekspresi sedihku dan menggeleng agar ia mengerti bahwa tidak boleh membuang-buang makanan. Syifa sesaat menatapku seperti sedang berfikir, lalu kemudian ia menunjuk-nunjuk cemilannya yang terjatuh itu. Mungkin menyuruhku untuk mengambil cemilan itu lagi. Haha, lucu sekali. Lagi-lagi, aku pun membiarkan Syifa berjalan mengelilingi taman café kami yang memang kecil, hingga ia terduduk di lantai dan tersandar ke pintu café. Ia kelelahan. Aku mengikuti Syifa yang duduk di lantai dan kelelahan, tapi begitu ia kugoda dengan menutup muka dan membukanya lagi dengan seruan, ‘ba!’ Ia masih sanggup terkikik-kikik.

Sekarang, ia sibuk dengan cemilannya lagi. Menyenangkan sekali menatap wajah polos dan murah senyumnya, meski seharian mengeluarkan keringat untuk menjaga Syifa, tapi aku tak sedikit pun merasa lelah dan bosan yang ada hanyalah perasaan damai, nyaman dan menyenangkan. Rasanya demi mempertahankan wajah polos dan senyum yang bukan main manisnya itu agar tetap berada dalam jarak pandangku, aku mampu melakukan apa saja. Mengarungi samudra? Melintasi benua? Terjun bersama air terjun Niagara? Atau mendaki gunung Everest? Boleh saja, jika memang aku memiliki sembilan nyawa.

Sehari bersama Syifa sungguh sangat menyenangkan, kebersamaan kami terasa sangat indah, rasanya seperti terbang bebas bersama burung rajawali, berada di puncak gunung paling tinggi, dikelilingi jutaan bunga warna-warni, dan disuapi bunda makanan terenak dan wangi. Oke, aku lebay!

Yang pasti, entah kenapa aku sangat ingin punya anak seperti Syifa. Aku tentu saja akan menjadi seorang ayah yang baik.

 

Writer POV

Bunda mengamati Alif yang sedang terkikik bersama Syifa di taman yang letaknya berada di samping café. Menatap pemandangan itu, bunda malah berkaca-kaca, terharu mengharu biru dan diam-diam berharap pemandangan itu adalah nyata. Pemandangan dimana putra dan cucunya sedang tertawa-tawa bahagia. Bunda pun menghirup nafas dengan berat dan berdoa di dalam hatinya, ‘Tuhan Yang Kuasa membolak-balikkan hati setiap manusia, lunakkanlah hati putra hambaMu ini. Egois sekali jika hamba memaksakan kehendak hamba padanya. Engkaulah yang Maha Kuasa Ya Allah…’ Do’a yang selalu bunda ulang-ulang di setiap sujudnya.

— Bersambung… 

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Rumiati
Lulusan Sastra Indonesia Universitas Andalas Padang, angkatan 2005. Diwisuda pada bulan September 2011. Pada tahun ajaran baru ini insyaallah akan berkegiatan mengajar di sebuah TKIT di kota Pariaman.

Lihat Juga

Ilustrasi. (pinterest.com)

Berdiri Bersamamu