Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menjadi Batu Bata dalam Bangunan Dakwah

Menjadi Batu Bata dalam Bangunan Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Jemari ini sudah kehilangan kesabaran untuk menulis ketika saya sampai pada materi ini.

Unik, khas, dan punya keunggulan tersendiri.

Itulah kiasan untuk menggambarkan susunan penempatan batu bata dalam perjalanan dakwah…

Pada dasarnya dakwah adalah sebuah estafet perjuangan. Estafet penyempurnaan isi dan materi dakwah yang telah disempurnakan dengan kehadiran sang lelaki mulia, Rasulullah Muhammad Saw. Perjalananku sekarang adalah Takdir dari Rabbku untuk menjadi bagian dari batu bata bangunan dakwah yang agung ini.

Yaa, sebagaimana proses membangun sebuah bangunan pada umumnya, tidak semua batu bata diletakkan pada posisi yang tinggi dan tidak juga harus semuanya berada di bawah. Kualitas batu bata yang ingin bergabung dalam sebuah bangunan, sudah pasti selaras dengan besarnya kebutuhan bangunan. Semakin besar dan tinggi sebuah bangunan, maka kualitas batu batanya juga harus berkualitas dan menahan bobot bangunan itu…

Kiasan tidak semua batu bata ditempatkan pada posisi yang sama menggambarkan keunggulan dan kekhasan masing-masing dari batu bata tersebut. Dari kesemua kiasan di atas, dapat saya tarik kesimpulan, di manapun posisi kita dalam dakwah telah tersusun rapi untuk menunjang keutuhan bangunan dakwah. Setiap posisi saling melengkapi posisi yang lain. Ketidakberadaan kita dalam bangunan tersebut akan mengurangi keindahan dan kekokohan bangunan dakwah.

Saya pun teringat dengan hadits Rasulullah:

“Perumpamaan aku dengan nabi sebelumku, ibarat seorang lelaki membuat sebuah bangunan, yang diperindah dan dipercantik seluruhnya, kecuali satu tempat untuk batu bata di salah satu sudutnya. Ketika orang-orang mengelilinginya, mereka kagum dan berkata, seandainya ada batu bata diletakkan di situ, maka akulah batu bata itu, dan aku adalah penutup para nabi.”

Teruntuk teman-teman seperjuangan dakwah, jangan pernah lelah menjadi bagian dari bangunan ini, ketahuilah bahwa keberadaan kita sangat diperlukan demi kesempurnaan perjuangan ini. Jadilah batu bata yang menghiasi yang lain di manapun kita diposisikan dalam bangunan dakwah ini. Inilah seni kontribusi yang menjadi jembatan penerus estafet perjuangan Rasulullah…

Akhir kata:

“Sesungguhnya medan berbicara itu tidak semudah medan berkhayal. Medan berbuat tidak semudah medan berbicara. Medan jihad yang benar tidak semudah medan jihad yang keliru. Terkadang sebagian besar orang mudah berangan-angan, namun tidak semua angan-angan yang ada dalam benak mampu diucapkan dengan lisan. Betapa banyak orang yang dapat berbicara, namun sedikit sekali yang sanggup bekerja dengan sungguh-sungguh. Dan dari yang sedikit itu banyak yang sanggup berbuat namun jarang yang mampu menghadapi rintangan-rintangan yang berat dalam berjihad…” (Hasan Al Banna)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Student of Universitas Bakrie, Accounting Study Program. Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Aktivis LDK (Lembaga Dakwah Kampus) Basmala Universitas Bakrie. Member of Muamalah Community. Seorang hamba yang tidak sempurna namun selalu berusaha menjadi sempurna di mata Tuhan.

Lihat Juga

Hubungan Baik Dakwah Sekolah dan Kampus