Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Please Ukhti, Jangan Apatis!

Please Ukhti, Jangan Apatis!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Saya : “Ngapain cemberut, kayak orang ga mau pahala aja. Bersedekahlah, walaupun hanya dengan senyuman.”

Teman : “Lagi kesel!”

Saya : “Waduh, beneran nih?”

Teman : “Si *ani itu ngeselin, aku curhat sampe panjang sepuluh paragraf, eh pas selesai bukannya nanggapin, tapi malah balik cerita. Mendingan gak usah ngomong dengan dia sama sekali.”

Saya : Hah?? @#$!^&*%^#.

Ilustrasi (wordpress.com/bintangumilang)

dakwatuna.comMungkin sebagian besar dari kita pernah mengalami kejadian seperti di atas, bahkan mungkin kitalah yang menjadi “Pendengar” yang tidak baik bagi teman kita, menjadi “Orang Cuek” yang hanya memikirkan masalah diri sendiri tanpa adanya rasa empati pada hal-hal yang tengah terjadi pada orang lain di sekeliling kita, khususnya teman kita.

Ada kalanya teman kita bercerita tentang kucing yang lucu di rumahnya, malah kita balas dengan cerita tentang masakan kita yang enak.

Ada kalanya teman kita bercerita tentang nilai ujiannya yang anjlok, kita jawab dengan keluhan tentang materi membosankan dari dosen kita.

Ada kalanya teman kita bercerita tentang perasaan sedihnya karena ibunya yang sedang sakit, kita menenangkannya dengan bercerita tentang ibu kita yang mengajak kita berbelanja kemarin malam.

Dan masih banyak jawaban yang sama sekali tidak ada korelasi (hubungan) dengan cerita teman kita, malah jawaban yang keluar dari mulut kita, mungkin adalah sesuatu yang menyakitkan teman kita.

Di saat dirinya sedang terluka, mungkin saja kata-kata yang keluar dari mulut kita akan menambah luka di dalam hati teman kita.

Sikap Apatis! Mungkin terlalu ekstrem jika sebutan ini ada pada diri kita, tapi apa lagi yang pas untuk menggambarkan sikap kita yang tidak respon terhadap teman kita.

Kita sibuk memperbaiki diri kita, tanpa berusaha membantu teman-teman kita untuk memperbaiki diri mereka.

Saya (penulis) pernah membaca sebuah artikel mengenai seorang akhwat yang ditegur oleh seorang ikhwan karena si akhwat melakukan suatu kesalahan, dalam artikel tersebut si akhwat melakukannya tidak sengaja. Dan mirisnya lagi, kesalahan si Akhwat tersebut seharusnya tidak diluruskan oleh si Ikhwan, karena si Ikhwan sama sekali tidak mempunyai hubungan kekerabatan pada si Akhwat.

Aneh.

Tak punyakah dia sahabat wanita yang mengerti dan sadar akan kekeliruannya? Di manakah teman-temannya berada ketika dia tanpa sengaja melakukan kesalahan? Apakah harus seorang ikhwan yang menegur seorang akhwat dikarenakan tak ada teman yang mengingatkan si akhwat?

Jujur. Saya orang yang cuek. Saya sangat khawatir sifat ini akan mengikis rasa “sadar” atas keadaan dan lingkungan sekitar saya, tapi tentu sifat ini jangan dijadikan alasan untuk tidak berempati terhadap orang lain.

Saya bisa saja berkata seperti ini,

“Maaf, saya sudah dari sono nya cuek.”

Tapi alangkah egoisnya jika alasan seperti ini, kita jadikan tameng yang melindungi kita dari kewajiban untuk menghargai perasaan seseorang.

Mari kita buka mata dan telinga kita, latih hati kita agar mudah peka terhadap masalah teman kita. Sesungguhnya teman-teman kita membutuhkan perhatian dari kita, jangan sampai mereka mendapatkan perhatian dari “orang yang salah”.

Persiapkan wajah yang manis untuk mereka…

Lapangkan dada kita untuk menerima curahan hati mereka…

Keluarkan sikap terbaik kita untuk mereka…

Lalu, rasakan kenikmatan jalinan ukhuwah dengan mereka…

Semoga dengan terjalinnya hubungan yang indah dengan teman kita, akan menumbuhkan cinta di hati kita yang takkan pernah terusik karena hadirnya kerikil-kerikil dalam jalinan ukhuwah yang kita jalin dengan mereka.

Semoga.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (28 votes, average: 9,46 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Seorang Penulis asal Palembang, pernah menuntut ilmu di Universitas Sriwijaya.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Foto: itrademarket.com)

Ketika Dakwah Bermuhasabah: Saat Binaan Ingin Menikah, Bijaklah Wahai Murabbi