Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Rujak Cinta

Rujak Cinta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (flickr.com / Cmajor)

dakwatuna.com – Pastinya kita mengenal rujak? Makanan yang terbuat dari campuran buah-buahan yang dibaluri bumbu kacang di atasnya. Sungguh enak dan sedap di lidah. Semakin banyak variasi buahnya semakin memanjakan mata. Semakin membuat lidah menggigil nikmat dan terpesona dengan gurihnya rasa. Semakin kuatlah getaran di hati, di otak dan di semua sisi tubuh yang berhubungan dengan indra perasa. Akhirnya sepiring rujak habis tak berbekas dan hanya meninggalkan sedikit campuran kacang tanah yang tak bisa terambil sendok.

Ternyata tidak semua rujak itu terbuat dari campuran buah-buahan. Ada rujak yang tidak memerlukan biaya dalam pembuatannya. Tidak juga memerlukan campuran buah-buahan. Rujak ini terkadang datang tanpa diundang dan pergi lagi tanpa diminta.  Rujak ini terkadang sangat sedap dalam kehidupan, namun kadang-kadang juga mendatangkan rasa yang tak enak. Mau tahu rujak apa itu? Sekali lagi mau tahu? Hemm… kita ikuti catatan ini sampai habis. Ok!

Rujak ini menjadi nafas dalam kehidupan anak-anak Adam. Berhubungan dengan pencarian tulang rusuk Adam yang hilang. Berkaitan dengan kelangsungan generasi pewaris tahta kehidupan. Selalu dibicarakan dan tak pernah habis untuk dibicarakan dan didiskusikan. Dialah rujak perasaan cinta. Sebuah rasa yang diselimuti dengan keindahan-keindahan tiada bandingan. Rasa rujak ini ketika menghampiri tak memandang wajah dan rupa, latar belakang ekonomi, status sosial di masyarakat atau jenjang pendidikan. Rujak cinta hadir kepada siapa saja. Dia hadir mengaduk-ngaduk rasa indah dalam hati setiap insan yang merasakannya.  Rujak Cinta mengandung unsur vitamin kerinduan yang mendalam. Rujak cinta juga mengandung rasa asam cemburu. Dipermanis dengan manisnya gula kesetiaan. Ditambah baluran kacang kebersamaan pada semua perbedaan bahan cintanya. Dan diperindah dengan gurihnya kesabaran saling memahami.

Begitulah rasa rujak cinta yang mengaduk-ngaduk perasaaan dan emosi dua insan yang merasakannya. Rujak cinta membuat hidup menjadi indah dan berwarna. Kesetiaan, rasa rindu, dan cemburu semuanya menyatu menghadirkan sensasi rasa yang indah. Rujak cinta tak bisa dibeli, dia hanya hadir pada hati dua insan yang diinginkannya. Dia hadir dari pertemuan hati ke hati. Bukan wajah ke wajah atau karena keseringan interaksi. Dia juga tak hadir karena paksaan materi, ketampanan/kecantikan dan ketinggian jabatan. Bahan-bahan cinta hanya hadir saat sang pemilik hati mengaruniakan kepada yang diinginkanNya.

Begitulah cinta, dia membangun istananya dalam hati-hati yang diinginkannya. Dia mempertemukan dua hati dari dua insan berlainan jenis. Dia kemudian mendatangkan campuran rujak perasaan yang indah. Dia menyatukan perbedaan-perbedaan menjadi kekuatan persamaan. Dia hadir untuk saling melengkapi dan menutupi kekurangan. Dia hadir untuk mengokohkan cita-cita kehidupan antara dua insan yang bertautan hati itu. Dia hadir untuk mewujudkan pengaplikasian keindahan ajaran Islam secara bersama-sama. Cinta bukan hadir pada jiwa-jiwa pesimis yang hanya ingin mengumbar nafsu. Memburu kenikmatan sesaat dari memperturutkan syahwat-syahwat tak terawat. Tapi cinta adalah pertemuan hati-hati yang ingin memanjakan pengabdiannya pada Allah semata. Pada akhirnya cinta adalah gerakan bersama kenikmatan keindahan surga sebelum surga sebenarnya.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,40 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sardini Ramadhan
Staf di Bappeda Kabupaten Ketapang. Alumni FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak.

Lihat Juga

Ilustrasi. (buzzerg.com)

Laila Majnun dan Lailatul Qadr