06:30 - Selasa, 02 September 2014
H. Imam Nur Suharno, MPdI.

Timbangan Cinta

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: H. Imam Nur Suharno, MPdI. - 22/06/12 | 13:30 | 02 Shaban 1433 H

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – “Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”(QS. Attaubah [9]: 24).

Tak ada seorang pun di dunia ini yang dapat hidup tanpa cinta. Hidup tanpa cinta adalah kehidupan semu yang tidak bernilai. Hati yang kosong dari cinta adalah hati yang beku dan keras. Jasad yang hidup tanpa cinta adalah jasad yang hidup segan, mati tak mau. Setiap manusia hidup dengan cinta. Karena itulah manusia yang kehilangan rasa cinta biasanya akan menjadi jasad yang mati dan menderita depresi serta gangguan kejiwaan karena ia telah kehilangan gairah hidup.

Karena itu, semakin besar rasa cinta, semakin bertambah nilai dan detak kehidupan. Semakin besar keterikatan seseorang dengan cinta, maka detak nadi kehidupannya pun akan semakin bertambah.

Melalui ayat di atas, Allah SWT membuat permisalan timbangan cinta. Cinta kepada bapak, anak, saudara, istri, keluarga, harta kekayaan, perniagaan, dan tempat tinggal diletakkan pada piring timbangan pertama. Kemudian, cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya diletakkan pada piring timbangan kedua. Jika piring timbangan pertama lebih diunggulkan dari pada yang ke dua maka kehancuran bakal menimpa.

Permisalan timbangan di atas menunjukkan perbandingan kekuatan cinta (quwwatul mahabbah). Karena itu, Allah SWT tidak memerintahkan untuk sekadar mencintai-Nya begitu saja. Tetapi, Dia menuntut hamba-Nya agar lebih mencintai-Nya dari pada yang lain. Sebab, “Di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS Albaqarah [2]: 165).

Oleh karena itu, mencintai orang tua diwujudkan dengan birrul walidain. Mencintai anak diwujudkan melalui kasih sayang. Mencintai saudara diwujudkan melalui kerjasama dalam kebaikan. Mencintai istri diwujudkan melalui keteladanan. Mencintai keluarga diwujudkan melalui jalinan silaturahim. Mencintai harta kekayaan, perniagaan, dan tempat tinggal diwujudkan sebagai sarana peningkatan penghambaan kepada-Nya. Wallahu a’lam.

H. Imam Nur Suharno, MPdI.

Tentang H. Imam Nur Suharno, MPdI.

Dosen SETIA Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (5 orang menilai, rata-rata: 8,80 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
69 queries in 1,455 seconds.