Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Habituasi Kebaikan dan Keburukan

Habituasi Kebaikan dan Keburukan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (tutinonka.wordpress.com)

dakwatuna.com Pernahkah mengelus-elus kepala kijang dari balik pagar di kawasan Istana Bogor? Ketika kita memberikan makanan kijang tersebut mendekat dan jika kita sentuh kepalanya sontak mungkin ia akan kaget dan bereaksi spontan. Itu wajar. Coba ulangi lagi, sentuh atau elus-elus dia di tempat yang sama, ia tampak lebih kalem, lebih jinak, lebih santai. Percaya? Nah setelah itu coba sentuh lagi di bagian lain, ia akan kaget lagi dan jika kita terus menerus melakukannya maka ia akan tenang kembali. Begitulah teorinya. Kita baru saja mencontohkan dalam kehidupan sehari-hari apa yang dimaksud dengan habituasi. Salah satu perilaku dalam dunia hewan dan dikaji di bidang Biologi.

Kita akan coba membahas habituasi dalam persperktif yang lebih aplikatif. Sebelum itu, kita ulangi sejenak pelajaran SMA kita terkait perilaku makhluk hidup. Allah SWT menciptakan semua mahluk-Nya dengan sangat indah dan sempurna. Perilaku pada hewan bisa kita amati mulai tingkat rendah yang bersel satu hingga manusia yang menjadi makhluk paling maju dan modern saat ini. Perilaku yang teramati berkorelasi positif dengan sistem saraf pada hewan tersebut. Dengan kata lain, hewan tingkat rendah akan memiliki perilaku berbeda dengan hewan tingkat tinggi. (wesh, khawatir terlalu Biologi banget dan malah jadi membosankan kita langsung to the point saja). Perilaku terbagi dua menjadi perilaku yang diturunkan secara genetik dan hasil proses belajar. Manusia dengan anugerah sebagai makhluk yang paling maju saat ini akan banyak berperilaku dengan orientasi belajar (learning). Habituasi termasuk salah satu di dalamnya. Habituasi dapat dikatakan suatu pembiasaan. Suatu hal yang terjadi berulang-ulang atau dengan frekuensi yang tinggi kita alami dapat menghilangkan respon alamiah kita.

Jika pada paragraf pertama modelnya adalah kijang, maka pada paragraf ini kita akan memodelkannya pada manusia. Pernahkah mendengar seorang yang sangat menjaga shalat berjamaahnya di masjid kemudian suatu saat di tidak shalat berjamaah disebabkan hal sepele mengurusi kebun anggurnya yang sedang panen? Begitu besar penyesalannya hingga mungkin sampai ia akan infakkan kebunnya agar tidak menghalanginya untuk shalat berjamaah. Penyesalan itu adalah respon alamiah yang penting bagi seorang muslim. Respon alamiah itu dapat terbentuk karena pengetahuan atau hasil belajar kita contohnya, “sebaik-baik shalat wajib adalah di masjid”. Oleh karena itu si pengusaha anggur tadi berusaha menjaga betul shalatnya. Respon alamiah yaitu penyesalan ini akan berangsur-angsur menghilang jika perbuatan tersebut ia lakukan berulang-ulang kali sehingga tidak akan ada beban yang berarti lagi jika selanjutnya ia tidak shalat berjamaah di masjid karena kebunnya atau hal lain. Selanjutnya banyak alasan yang akan kita buat sendiri untuk membenarkan perbuatan kita tersebut. Respon alamiah kita akan betul-betul hilang jika perbuatan itu semakin dibiasakan. Kita terhabituasi untuk meninggalkan shalat berjamaah.

Bagaimana menghadapinya? Kita gunakan teori yang sama. Habiatuasi. Kita harus mengkondisikan diri kita dan lingkungan kita agar selalu terbiasa dan akrab dengan hal-hal yang baik. Jika ini sudah kita lakukan maka, hal tadi akan membantu kita dalam meningkatkan respon alamiah kita terhadap hal lain yang bertentangan dengan hal tersebut. Alarm dini. Selanjutnya adalah menghindari dan mengubah hal tersebut. Alarm dini ini penting untuk membentengi diri kita akan tak jauh terperosok dalam kemaksiatan karena membuat kita peka. Wallahu’alam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mohammad Fadhillah
Penulis adalah seorang Mahasiswa S1 Biologi 2009, Institut Pertanian Bogor. Asal daerah dari Kabupaten Belitung Timur, Propinsi Kep. Bangka Belitung. Saat ini aktif di Lembaga Dakwah Kampus FMIPA IPB yaitu, Serambi Ruhiyah Mahasiswa FMIPA (Serum G) 2012 dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat IPB 2012.

Lihat Juga

Ilustrasi (klinik fotografi Kompas)

Puasa dan Perbaikan Akhlak Bangsa