Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mereka Adalah Pintu Surga yang (Mungkin) Sedang Tersia-Sia

Mereka Adalah Pintu Surga yang (Mungkin) Sedang Tersia-Sia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comTubuhnya gemuk, seringkali marah-marah. Tak pernah menyangka awalnya bahwa ummi abinya tertarbiyah, karena melihat sikapnya yang tak pernah terlihat disiplin, saya pikir anak ini lahir di keluarga (maaf jika saya sebut) biasa.

Bukan apa, sampai satu kali terbesit ragu, benarkah kedua orang tuanya siap memiliki anak, hingga ia terbiarkan seakan liar tanpa aturan.

Bu, dia merebut makanan aku…

Bu, Si Ini nangis di dorong dia…
–laporan tentang dia.

***

Pagi tadi dia menangis. Seperti kebiasaannya saat menangis, meraung dan mengamuk. Padahal lima menit sebelumnya, saya asyik memandanginya menggerakkan tubuh untuk senam, berlenggak-lenggok menirukan gerakan bebek. Sampai terpingkal, dan di tegur orang karena terlalu asyik tertawa.

Namun, tentu saja setelahnya, saya harus mendiamkan dia yang menangis karena terjungkal di dorong temannya yang sebelumnya di dorong dia.

Mau marah, tapi selalu saja luluh. Melihat tubuhnya yang gempal, ingin sekali memanggilnya “ndut-ndut”. Seandainya hubungan kami bukan dalam posisi formal dunia pendidikan, tentu panggilan itu yang akan sering saya sebut.

Di siang hari, di berguling sepanjang aula, berbolak dan berbalik, berguling-guling, nampak ingin bergulung, menikmati dunianya sendiri. Satu hal lucu saat dia mendapatkan dua kotak kacang yang membuatnya menangis raung. Saat itu kelasnya mengadakan tukar kado, incaran dia adalah sebuah bey blade, padahal modalnya hanyalah sepasang kaos kaki. Itupun dengan ia dapatkan dari uang dua ribu rupiah miliknya, ditambah empat ribu rupiah meminta pada teman-temannya, serta tambahan korting dua ribu rupiah dari penjual kaos kaki. Tapi apanyana, dasar nasib dia hanya dapatkan dua kotak kacang.

Akhirnya dia menangis dan tak mau pulang, mengusak di lantai koridor, membuat saya harus mengangkatnya. Belum lagi bila ingat sikap joroknya dengan (maaf) mengambil kotoran hidung dan ditempelkannya di celana. Ya Allah, jika saja ingat itu, maka saya akan sangat segan mengangkatnya dan menempelkan diri padanya.

***

Selalu tertempeli label “anak nakal” menjadikannya bercerita bahwa dirinya adalah matahari yang panas dan menyengat, mengganggu dan menyiksa orang lain, dalam pertemuan konseling saya dengannya.

Sikapnya yang tidak peduli, tangan jahilnya, teriakannya, dorongannya, sikap joroknya, benar-benar tidak disiplin, pura-pura lupa. Ah, kalau saja sabar itu berbatas, tentu saya akan memilih berteriak “dasar anak nakal!”

Tapi seperti di awal saya katakan, hati saya selalu luluh, apalagi saat memandang matanya. Hati saya ingin mengatakan, “dia hanyalah korban kesibukan.” Namun, mungkin itulah kekalahan. Karena pendisiplinan tetap saja butuh ketegasan.

***

Bukankah seorang anak adalah anugerah? Berapa banyak pasangan yang ingin memiliki anak. Namun, banyak juga pasangan yang telah memilikinya tanpa sadar malah menyia-nyiakan keberadaannya. Tidak sedikit anak yang merasakan ketidaknyamanan karena memiliki ibu yang sangat sibuk bekerja dan ayah yang senin hingga Jum’at berangkat saat mereka belum bangun dan pulang saat mereka akan tidur, pun hari libur yang diisi oleh waktu istirahat orang tua, yang tentu saja membuat mereka tidak ke mana-mana.

Kita semua memahami bahwa pekerjaan dan kesibukan yang dipilih orang tua memang dilakukan untuk menunjang keamanan perekonomian keluarga. Paling mendasar agar anak-anak bisa sekolah. Pun sebenarnya bisa menjadi sebuah aktualisasi diri bagi seseorang yang masih terus berada dalam tahap perkembangan, ketika memiliki karir dan mengembangkan potensinya. Tapi, bukankah anak adalah amanah utama? Dan yang harus mengalah adalah mereka yang telah dewasa.

Kekecewaan saya kembali merebak ketika dalam pertemuan dengan orang tua dia, tersebut kata “trauma”. Ingin sekali saya katakan “halloooo… apakah dalam membahagiakan anak Anda, pantas terucap kata trauma?” tentu saja saya memilih tidak mengatakannya, karena saya masih menjunjung etika dan perasaan mereka sebagai orang tua.

Namun,  juga menjadi sebuah perih, saat para orang tua seakan menyerahkan mahar berupa uang SPP per bulannya dengan seakan menyebutkan ijab: “saya serahkan pendidikan anak saya dengan mahar SPP sekian ratus ribu rupiah, di bayar tuuunnnnaaaai…”

Ya, saya tahu mendidik anak itu berat… maka itulah surga berada di bawah telapak kaki ibu, dan seorang ayah pun di janjikan surga jika berhasil menjaga anak-anaknya. Namun anak tetaplah anak, tanggungjawab, yang akan menjadi bahan pertanyaan di akhirat. Yang jika saja mereka shalih, akan menjadi bekal untuk tiap kita memasuki surga milik Allah. Tidakkah kita tanamkan itu betul-betul?

Siapa pun, entah mereka yang biasa saja, apalagi yang telah menisbatkan diri menjadi seorang yang tertarbiyah, tak pernah salah sekali-kali membuka kembali buku mengenai orang tua atau pengasuhan anak, tak salah mencari hadits-hadits tentang bagaimana Rasulullah mendidik putra putrinya. Tak pernah salah meluangkan waktu untuk mereka yang seharusnya menjadi yang tercinta setelah Tuhan kita. Bisa jadi mereka adalah pintu surga, yang sekarang (mungkin) sedang tersia-sia.

***

Ayah… bunda… kami di sini, menunggu kasih sayangmu, menunggu waktu-waktu yang habis karena bersama denganmu, menunggu dibelai oleh mu saat akan tidur, diceritakan olehmu tentang dunia, walau mungkin hanya tentang duniamu atau dunia keluarga kecil kita. Ayah bunda, aku anakmu, yang rindu.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (18 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nuram Mubina
Seorang yang mencintai dunia psikologi dan proses mempelajari perilaku manusia serta menyenangi ketika menemukan keunikan mereka. Akan terus belajar dan belajar untuk menjadi sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat bagi sesama.

Lihat Juga

Ilustrasi. (seehati.com)

Pernah Bernadzar Akan Berhenti Bekerja Setelah Melahirkan, Ternyata Gaji Suami Tidak Cukup, Bagaimana?