Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ketika Cinta Tak Berujung Cita

Ketika Cinta Tak Berujung Cita

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (cedmedia.ntu.edu.sg)

dakwatuna.comCinta itu gaib, tak terlihat tapi bisa dirasakan. Cinta itu misteri kehidupan yang belum terjawab. Terjawab akan suatu arti, terjawab dari suatu definisi. Rangkaian kata yang belum tersusun rapi dari singgasana kerapuhan hati, meski sudah banyak pujangga yang mencoba menguaknya. Pujangga yang sama rapuhnya dengan cinta itu sendiri.

Cinta laksana lautan tak berujung, yang terlihat hanyalah banyu biru berayun-ayun. Laksana batu karang yang membentenginya, gagah tak terkalahkan. Dentuman ombak pun tak kuasa melawan kerasnya keteguhan batu karang. Cinta juga laksana mercusuar di hamparan pasir putih dari barat ke timur. Dia menuntun jalannya para perahu-perahu kehidupan dari derasnya gelombangan dan gelapnya malam di lautan.

Cinta bisa menghanyutkan. Bisa juga menyelamatkan. Cinta laksana burung terbang ke angkasa. Kesejukan dan kehangatannya terasa dari balik awan. Menapaki butiran-butiran kecil air yang perlahan menetes ke gersangnya perut bumi. Bumi tempat dari sang penikmat cinta berdiri menatap jauhnya cita.

Cinta berikan makna juga hadirkan cita. Cita-cita luhur dari sang penikmat cinta. Penikmat cinta seakan tersihir oleh angan cita dari cinta. Apapun akan dilakukannya untuk cita dan demi cinta. Tak jarang sang penikmat ini jadi ketakutan jika citanya dengan cinta tak berujung. Sang penikmat jadi gila, gila karena cinta katanya. Mereka bilang cinta itu buta, apa benar?? Benar cinta buta untuk korban cinta Ketika cinta tak berujung Cita.

Cinta bisa membunuh, bisa juga menyembuhkan. Terbunuh oleh angan cita yang hanya angan saja. Terbunuh oleh bayangan semu sang pujaan hati. Pujaan hati yang menggerogoti hati dari sang penikmat cinta rapuh. Rapuh oleh angan-angan liarnya. Rapuh oleh ketidakkuasaannya. Karena letih menahan derasnya rongrongan nafsu. Gigitannya sangat luar bisa. Dia tak punya kekuatan dari Sang Maha Cinta. Sayang beribu sayang, cintanya lemah tak berujung cinta. Sebaliknya…!

Cinta bisa menyembuhkan. Menyembuhkan hati yang rapuh, jiwa yang merana dan raga yang sendiri. Ketika dia cinta pada Sang Maha Cinta. Dia selalu ada dalam episode-episode yang terlewatkan oleh sang penikmat cinta dari sang Maha Cinta. Dia selalu mengobati luka-luka dari sang pujaan hati yang menggoreskan luka. Dia bisa mencabut duri yang ia tancapkan. Dia berikan semua apa yang sang penikmat cinta butuhkan. Dia berlari mengejar sang penikmat cinta saat, sang penikmat cinta menghampirinya. Sungguh luar biasa kuatnya dari Sang Maha Cinta. Pemilik semua cinta. Pemutar balik dari hati-hati penikmat cinta. Jika penikmat-penikmat cinta mencintainya, takkan ada lagi kata Cinta itu buta, cinta itu busuk, cinta itu duri, cinta itu palsu dan lain-lain. Yang ada hanyalah kesejukan, keindahan dan ketenteraman karena cinta dari Sang Maha Cinta.

Sang Maha cinta selalu ada dalam hati kita, jiwa-jiwa penikmat cinta. Tapi pernahkah kita mencintai Dia? Atau hanya mencintai sang pujaan hati?

Hidup adalah pilihan, begitu juga dengan cinta. Cintailah Sang Maha cinta agar cinta kita berujung dengan cita. Karena Dia Maha segalanya…

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (18 votes, average: 9,39 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Jakariya Nugraha
Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil, Aktifis Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia, Kader Keluarga Mahasiswa Islam Libaasuttaqwa STTT.

Lihat Juga

Ilustrasi. (buzzerg.com)

Laila Majnun dan Lailatul Qadr