Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Manajemen Tangis

Manajemen Tangis

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comBanyak yang bilang wanita itu cengeng, sedikit-sedikit menangis. Ketika kita (umat muslim khususnya muslimah) menerima kesedihan maka kita akan menangis, demikian pun jika kegembiraan tiada tara yang hadir kita juga menangis. Namun, orang-orang kafir sama halnya seperti kita. Mereka juga menangis baik dalam sedih maupun bahagia. Lalu apa yang membedakan menangisnya seorang muslim dan kafir?

Yang perlu dipahamkan, menangis bagaimanakah yang mendapat keutamaan? Saudara-saudaraku mari sejenak kita berlayar ke masa lalu, menyelami bi’ah penuh makna dari berbagai torehan sejarah. Berikut merupakan kisah ketegaran muslimah yang insya Allah menghuni jannah.

Pertama, tentang keluarga dai Abu Thohah. Suatu ketika Abu Thohah mendapat perintah dari Rasulullah untuk berangkat berjihad. Saat itu ia dan istri baru saja dikaruniai seorang anak yang sudah lama dinanti. Seharusnya berat hati sepasang suami istri tersebut untuk melaksanakan perintah Rasul ditambah kondisi anak mereka yang sedang sakit. Namun, istri Abu Thohah justru menguatkan tekad Abu Thohah untuk berjihad.

Sepulang berjihad, Abu Thohah disambut dengan begitu hangat oleh istrinya. Istri berdandan begitu cantik dan mempersembahkan malamnya untuk suami tercinta. Ketika itu Abu Thohah belum ingat bahwa ia dulu meninggalkan anak mereka dalam keadaan sakit, hingga istrinya memberikan sedikit taushiyah dan berita,

“Suamiku, bagaimana menurutmu jika barang yang dititipkan orang diambil pemiliknya?”

“Tentu saja harus mengikhlaskan.”

“Nah, anak kita sudah diminta kembali oleh Allah.”

Barulah Abu Thohah ingat bahwa anaknya dulu sakit dan saat ia pulang anaknya tersebut sudah kembali ke rahmatullah. Sungguh luar biasa ketegaran yang dimiliki istri Abu Thohah. Bagaimana wanita bisa mengatur emosi jiwanya seperti demikian?

Kedua, kisah ibunda Nabi Musa AS. Bagaimana manajemen hati seorang wanita ketika menerima kabar bahwa anak laki-laki yang ia sayangi harus dibunuh karena suatu rezim penguasa? Saat-saat mengerikan adalah ketika harus menyaksikan darah daging kita dibunuh di depan mata kita sendiri. Namun ibunda Nabi Musa AS telah diberikan segala keutamaan oleh Allah SWT melalui hidayah dan ketegarannya. Hidayah ketika diperintah menghanyutkan Nabi Musa ke sungai Nil dan ketegaran saat harus menjaga aliran sungai hingga ditemukan oleh Asiyah istri Firaun.

Ketiga, perjuangan Bunda Hajar yang ditinggalkan Nabi Ibrahim. Saat Ibrahim meninggalkan Hajar di lembah tak berpenghuni, menggendong bayi yang masih menyusu, dan hanya dibekali dengan setangguk air. Terbayangkah oleh kita bagaimana rasa takut dan gejolak hati beliau? Tanpa siapa-siapa, tanpa bekal, tanpa tangis.

Beliau tetap sabar, terlebih ketika Ibrahim tak menoleh saat Hajar menanyainya, “Apakah Allah yang menyuruhmu?” Ibrahim membenarkannya. Apa jawaban Hajar?

“Kalau begitu ia tak akan menyia-nyiakan kami.”

Kemuliaan atas sabar yang dimiliki Hajar berlanjut ketika anaknya, Ismail, hendak disembelih oleh Ibrahim atas perintah Allah. KATAKAN! Dari mana lagi beliau mendapat ketegaran luar biasa??

Hikmah yang bisa kita ambil dari ketiga kisah di atas adalah bahwa sesungguhnya tangisan itu tidak seharusnya tidak ditujukan ketika kita mendapat cobaan dari Allah SWT. Seharusnya bukan menangis yang kita lakukan ketika merasa dunia ini seakan sempit dengan beban-beban hidup serta amanah yang bertebaran. Karena bagi muslimah yang mengerti, cobaan adalah bagian dari cara Allah untuk membuat diri kita lebih berkualitas di hadapan-Nya.

Lalu menangis bagaimana yang sebenarnya diutamakan?

Kembali kita belajar dari sejarah. Sejarah ini dating dari seorang sahabiyah tua, Ummu Aiman, yang semasa hidup Rasulullah sering berkunjung ke rumahnya karena ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Setelah Rasulullah wafat, dua sahabat istimewa beliau yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khattablah yang menunaikan kebiasaan Rasulullah untuk berkunjung ke rumah Ummu Aiman. Hal yang mengejutkan terjadi, didapati oleh kedua sahabat Rasul bahwa Ummu Aiman tengah menangis tersendu-sendu. Padahal saat itu tidak sedang terjadi masalah besar.

Ketika ditanyai, Ummu Aiman menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis, wahyu-wahyu Allah sudah tidak akan turun ke muka bumi ini sepeninggal Rasulullah. Tidak akan pernah.”

Lagi dan lagi. Kita dihadapkan pada sebuah pembanding yang sangat luar biasa. Dari sini saya menyimpulkan bahwa tangis karena takut dan rindu pada Allah-lah yang seharusnya kita lakukan. Karena hanya pada-Nyalah kita diizinkan untuk takut dan berharap. Maka, alasan apa yang bisa meringankan untuk cenderung lebih memikirkan cobaan-cobaan daripada Sang Pencipta cobaan tersebut?

“Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali Imran (3): 175)

Semoga dengan ini kita semua akan merevisi kembali niatan kita menangis. Bergegas untuk kembali menjadikan keimanan kita berkualitas dengan terus menjadikan Allah sebagai tujuan.

Waallahu’alam.

About these ads

Redaktur: Samin Barkah, Lc., ME

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 9,40 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Meira Ernawati
19 tahun, sudah menikah.

Lihat Juga

renungan-hidup

Manajemen Rasa Bersalah

Organization