Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Beginilah Tarbiyah Para Pahlawan Itu Diharumkan

Beginilah Tarbiyah Para Pahlawan Itu Diharumkan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (jr-photos.com)

dakwatuna.comBegitu banyak sosok pahlawan yang namanya begitu harum membasahi bumi sampai saat ini. Namun kadang kita baru sanggup untuk mengagumi para pahlawan itu dan belum bergegas untuk mengambil ibrah dan menapaki jalan mereka. Ketika masing-masing dari kita punya deretan nama yang kita anggap sebagai pahlawan maka izinkan saya untuk mengemukakan tentang pahlawan yang akan saya tuangkan dalam tulisan ini. Sungguh bagi saya pahlawan paling memukau sepanjang zaman dan melintasi getaran-getaran periode generasi mereka adalah pahlawan keimanan. Mereka yang berjuang untuk berkibarnya bendera keimanan. Berjuang atas nama dan landasan iman.  Juga melahirkan dan menginspirasi pahlawan-pahlawan baru dengan harum dan sejuknya iman. Dan tentunya setiap generasi melahirkan jenis pahlawan ini. Nama mereka terkenang bukan hanya di atas papan nama pusara namun nama mereka menggetarkan keteguhan bumi dan akan mengkilaukan hijaunya surga.

Tak usahlah saya deretkan nama mereka di sini karena kepahlawanan mereka bukan untuk mengharumkan nama mereka melainkan kepahlawanan atas nama cinta mereka terhadap Rabb dan rasulNya. Namun tak sekadar menjadikan nama-nama mereka sebagai tambahan nama untuk generasi-generasi baru melainkan ada yang lebih hakiki dari mereka untuk kita teladani yaitu bagaimanakah proses tarbiyah mereka dan jalan tarbiyah seperti apakah yang mereka tempuh. Jadi seperti apakah tarbiyah yang melahirkan para pahlawan? Untuk menjawabnya maka saya punya lantunan kalimat mendasar untuk menjawab kesejatian dan kehakikian itu, yaitu

“Kalbu sebagai pusat garapan tarbiyah para pahlawan “

Bagian yang paling penting dan mendasar dari tarbiyah para pahlawan itu adalah iman. Jadi pertama kali yang harus terbasahi oleh iman adalah kalbu yang merupakan garis start tempat awal berlari untuk menuju dan menikmati sebuah perjuangan hidup. Ketika kita hendak menengok perjalanan tarbiyah mereka maka teladan yang tepat adalah lihatlah bagaimana pahlawan hebat sepanjang masa, Rasulullah saw yang mentarbiyah para pahlawan pewarisnya yaitu para sahabat beliau. Mereka para sahabat sekaligus murid terbaik Rasulullah saw di tarbiyah dengan memposisikan iman di kalbu sebagai lentera penerang awal sebelum proses-proses tarbiyah yang lain. Atsar para sahabat mengatakan:

“Kami di beri iman sebelum Al-Qur’an

Hal ini menggoreskan makna bahwa beliau saw menanamkan terlebih dahulu keimanan di hati para sahabat. Menyemaikan terlebih dahulu apa itu arti dari keyakinan. Yang tentunya ini akan menjadi sumber energi terbesar dalam diri para sahabat. Dan sebetulnya semua orang mampu mempelajari Al-Qur’an bahkan kalau kita mau menengok sebuah awal ditabuhnya genderang serangan Ghazwul fikr yang di kirimkan golongan yang tak rela dengan cahaya Al Islam yaitu raja Louis seorang raja Romawi yang memilih orang-orang pilihan untuk mempelajari Al-Qur’an namun dengan motivasi untuk merusak kehidupan orang beriman.

Allah SWT berfirman:

Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. (QS. At Taubah: 124-125)

Inilah istimewanya Al-Qur’an, ia merupakan kalamullah. Sesuatu yang suci dan kalam dari yang maha suci Allah swt. Mempunyai pengaruh yang khas dan pengaruhnya begitu hebat untuk orang-orang yang beriman. Jika hati ingin mendapat petunjuk yang benar maka selayaknya keimananlah terlebih dahulu yang harus tertanam dalam diri pahlawan. Jadi titik awal bagaimana para pahlawan ini di harumkan dengan tarbiyah adalah dengan melakukan kerja islahul qalb (perbaikan hati).  Maka tataplah kisah harum para pahlawan itu dalam realitas pada masa kehidupan sang penuntun tarbiyah para pahlawan Rasulullah saw. Kita akan menyaksikan seorang sahabat berada pada puncak kegigihan dalam berjuang menegakkan keimanan dan mengamalkan Al Islam sehingga benar-benar terwujud menjadi sebuah jalan hidup yang menginspirasi peradaban dunia karena selayaknya itulah al Islam yang tarbiyahnya mewarnai kehidupan para pahlawan itu.

Berikutnya mari kita resapi sebuah proses bagaimana para pahlawan ini mentarbiyah para kader penerusnya agar para penerus pemegang kunci peradaban ini mengharumkan diri menuju Rabbnya. Dengan penuh semangat dan ketulusan seorang pahlawan mengerahkan seluruh daya dan upaya untuk mentransformasikan keadaan hati para binaannya dari kondisi sakit menjadi sehat, dari kondisi terkunci menjadi peka dan dari kondisi lalai menjadi kondisi yang senantiasa di penuhi desahan nafas dzikir. Para pahlawan kemudian mentarbiyah para pahlawan berikutnya agar senantiasa selalu berada pada jalan Islam dengan penuh komitmen dan keistiqamahan. Mengantarkan jiwa para pahlawan berikutnya menuju Allah SWT. Ia mengusahakan dan menginginkan pahlawan yang terdidik dari tangan pahlawan ini naik pada maqamul ubudiyah (tingkatan penghambaan) yang sempurna sehingga menggapai pula puncak tertinggi dari kebenaran Al Islam. Perhatikan firman Allah SWT berikut:

“Hai orang yang berselimut. Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya). (Yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. (QS. Al Muzzammil: 1-5)

Inilah langkah yang harus di tempuh para pahlawan untuk menempa diri agar mampu mengemban perjuangan besar karena isyarat dari perkataan yang berat menandakan sebuah kepahlawanan yang besar dan berat yang akan di pangku oleh para pahlawan.  Oleh karena itu jangan sampai kita terbelenggu oleh kejahiliyahan di bingungkan oleh proses-proses yang kita melupakan proses penting dalam tarbiyah itu, kita kadang lupa inti dari tarbiyah itu sendiri. Maka dari itu mari kita lahirkan kembali semangat para pahlawan hebat itu dalam diri kita dan generasi penerus kita. Kita terapkan lagi proses tarbiyah profetik yang pernah dan selalu di lakukan oleh pahlawan itu. Maka meminjam sebuah wacana bahwa predikat umat terbaik ini mampu kita raih dengan meneladani seoptimal mungkin sosok pahlawan hebat di dalam diri para pahlawan hari ini. Maka seperti inilah tarbiyah para pahlawan itu di harumkan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Eru Zain
Mahasiswa di Purwokerto. Salah seorang anggota KAMMI Daerah Purwokerto. Anak pertama dari 3 bersaudara. Anggota juga di Forum Lingkar Pena Purwokerto.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Rintihan Pahlawanku