Topic
Home / Pemuda / Cerpen / Man Jadda Wa Jada

Man Jadda Wa Jada

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (majix1.deviantart.com)

dakwatuna.com – Hari itu, kurang lebih 7 tahun yang lalu. Kelulusan SMP yang membuat orang tuaku bangga dengan prestasi yang mampu kuraih. Tak begitu memuaskan, tapi posisi 10 besar dan berhasil membuat bapak maju ke panggung adalah hal yang luar biasa, untukku. Sampai di rumah, peluk ibu menjadi hadiah kelulusan. Senyum kakak-kakakku menjadi kado keberhasilan. Bangga. Ucapan bapak itulah yang sampai saat ini masih aku ingat. Ah, beruntungnya aku menjadi bagian dari keluarga ini. Bukan keluarga yang kaya raya, tapi keluarga yang penuh dengan kasih dan sayang.

Pendaftaran SMA sudah buka sejak beberapa hari lalu, tapi aku belum juga memutuskan. Perbedaan pendapat antara aku dan orangtua membuatku ragu menentukan pilihan.

“Allah sebaik-baik pemilih keputusan, shalatlah di tengah malam dek. Segala keputusan ada di tanganmu. Hanya, bapak ingin kamu tak pergi jauh dari kota ini. Kau anak terakhir, dan rasanya bapak tidak yakin untuk melepasmu sendiri di luar kota. Hanya itu”, kata bapak dengan bijak di ruang tamu.

Esok hari setelahnya, aku mengajak semua keluarga untuk berdiskusi masalah tersebut. Malam itu terasa begitu hangat, apalagi dengan pisang goreng yang ibu buat.

“Nana sudah memutuskan. SMA 1 di luar kota. Bolehkan?”, aku memulai percakapan. Dan, hening. Hanya ada suara jangkrik di luar sana. Kuperhatikan satu persatu wajah keluargaku. Sepertinya ibu hampir menangis, dan benar saja. Tapi kenapa? Alasannya baru kutahu setelah 3 tahun menimba ilmu di SMA tersebut.

***

Berita gembira, bahwa aku berhasil masuk ke SMA 1. SMA idaman setiap pelajar SMP. SMA dengan biaya yang tak sedikit. SMA dengan fasilitas yang lengkap. SMA favorit. Dan aku menjadi bagian dari SMA itu, 3 tahun lamanya. Alhamdulillah, di hari yang kutargetkan, aku berhasil lulus dengan prestasi yang cukup memuaskan. Aku berhasil lulus! Tapi kebahagiaan itu rasanya tak sempurna ketika di hari pelepasan, aku datang tanpa pendamping. Apa boleh buat. Bapak harus menjaga warung, ibu harus mengajar di SD, kakakku semua berada di luar kota untuk kuliah. Ya sudahlah, mungkin ini yang terbaik.

Sehari setelah pelepasan, aku pulang ke rumah dan disambut senyum mekar kedua orangtua. Ibu yang tak henti-hentinya mengucap kata maaf karena tak bisa hadir di hari pelepasan, dan bapak yang juga seringkali mengucap kata selamat karena aku sudah akan menjadi mahasiswa membuatku sangat terharu.

Kriiiing… kriiiiing… bunyi khas handphoneku menggema di kamar. Kak Eka.

“Assalamu’alaikum, kak”.

“Wa’alaikumsalam. Congrats ya na. Akhirnya, jadi alumnus SMA 1”, kata kak Eka dengan penuh semangat.

“Iya, kak. Makasih ya. Hehe”

“Kakak dulu takut kamu tak berhasil lulus. Apalagi dengan kondisi ekonomi kita yang apa adanya. Dan kau tahu, dulu kakak berfikir untuk berhenti kuliah waktu kamu memutuskan masuk SMA 1. Apalagi melihat ibu menangis saat itu. Ah, hari ini, kau lulus, itu bagaikan mimpi. Hebat dah! Tanpa beasiswa padahal. Haha.”

“Ibu? Ah. Kenapa kak Eka tidak bilang sejak awal? Bahkan aku tak memikirkan masalah biaya.”

“Sudahlah, keyakinanmu yang membuat kami yakin. Sudah ya, pulsa limit nih. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

Jadi itu, kenapa ibu menangis. Biaya sekolah yang memang mahal. Dan sejak itulah, aku berazzam untuk benar-benar berbakti dan mengikuti kata mereka yang ada di sekitarku.

***

Hari berganti, dan tibalah ujian tertulis untuk masuk ke Perguruan Tinggi. Kali ini aku memilih untuk melanjutkan di sebuah universitas pendidikan di Yogyakarta dan mengambil prodi informatika. Dan semua setuju dengan pilihanku. Tanpa ragu, kudaftarkan diri lewat jalur ujian mandiri. Dan lagi, berita gembira. Aku diterima hanya dengan sekali ujian. Alhamdulillah, Allah memudahkan segalanya.

Semua berjalan seperti biasa. Kak Eka dan Kak Ida berhasil lulus di tahun pertamaku masuk kuliah. Bekerja di tempat yang memang mereka inginkan. Suatu kali, aku dan kak Putri, yang juga kuliah di tempat yang sama denganku terlibat dalam sebuah percakapan.

“Alhamdulillah, kak Ida lulus juga. Kalau dipikir-pikir, Allah itu baiiik banget. Ya, kau paham kan, Na. Ibu hanya guru SD, bapak ganti-ganti kerjaan. Tapi mereka berhasil mendidik kita. Kak Ida, kak Eka. Kau yang alumni SMA 1, mahasiswi informatika dengan biaya yang tak sedikit. Dan aku. Empat! Bayangkan dik. Mungkin itulah berkah dari shalat Dhuha yang rutin bapak ibumu kerjakan”, kata kak Putri dengan senyum yang begitu kembang.

Dan kusadari, nikmat itu benar-benar terasa. Benar apa yang dikatakan kak Putri. Mungkin ini berkah yang dapat kami rasakan.

***

Kak putri lulus saat aku masih semester 4.  Dan Kak Eka pun mengakhiri masa lajangnya di tahun yang sama. Ah, aku kehilangan keduanya dalam arti yang membahagiakan.  Masuk ke semester 6, kak Ida pun menikah. Dan aku yang paling menjadi beban bagi bapak dan ibu saat itu. Rasanya, ingin segera mengakhiri perkuliahan.

8 semester sudah kulalui. Bebas teori dan hanya menyisakan skripsi. Berbulan-bulan bimbingan, akhirnya sampailah di hari yang kutunggu. Ujian skripsi. Dan kau tahu aku dapat nilai apa? A. Itulah nilai skripsiku. Dan akhirnya, tiga bulan setelahnya, aku memakan baju toga. Berfoto di depan gedung auditorium dengan teman-temanku yang lain. Teman. Berfoto dengan teman. Ya, lagi-lagi, kedua orang tuaku tak bisa hadir karena ada hal yang memang tak bisa ditinggalkan. Pernikahan Kak Putri yang memang tak bisa diubah tanggalnya. Apalagi wisudaku yang dadakan, tak mungkin juga untuk pindah tanggal. Tapi, kehadiran kak Eka dan suaminya cukup membuatku bahagia, walaupun tak sempat untuk berfoto dengan pakaian togaku. Saat itu, hanya bisa berkhusnudzon dengan segala kejadian. Mata ini memang sangat erat hubungannya dengan hati. Beginilah ketika sedih, mata pun mengalirkan airnya. Walau sadar, bahwa menangis bukanlah solusi.

***

Langit sudah pekat ketika aku sampai di stasiun kota. Menunggu jemputan di keramaian rasanya memalukan. Apalagi dengan jinjingan tas yang cukup membuat tangan pegal. Semenit, dua menit, akhirnya sepuluh menit berlalu. Tapi dimana dia yang berjanji akan menjemputku?

“Dek”. Dia menepuk bahuku dari belakang.

“Eh. Bapak”, kupeluk dia dengan rindu yang meluap. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya menetes juga, walau tak mengucur deras.

“Ayo, pulang. Tadi ban motornya bocor, jadi agak lama. Untung pak bengkelnya lagi sepi”

“Iya, ndakpapa.”

Kami pun pulang dengan menaiki motor yang apa adanya. Motor supra sejak zamanku masih SD. Ya, kami memang bukan keluarga yang kaya raya. Bertahan dengan motor ini pun rasanya sudah sangat bersyukur.

Ibu menyambutku dengan air mata. Kau bisa bayangkan apa yang aku lakukan. Menangis tersedu dalam pelukannya. Aku tak malu. Karena inilah bukti cintaku. Bukti rinduku. Kak Ida, Kak Putri, Kak Eka, dan keluarganya, menyambutku pula dengan senyum dan tangisnya. Ya Rabb, tiada nikmat yang dapat aku dustakan. Indahnya keluarga.

***

Sahabat, inilah bukti kesungguhan. Inilah bukti keyakinan. MAN JADDA WA JADA. MAN SHABARA ZAFIRA. Ketika kau bersungguh-sungguh dan bersabar, keberhasilan akan mampu kau raih. Bumbui dengan keyakinan bahwa kau bisa. Ketika kau yakin, maka akan ada kemungkinan untuk berhasil. Tapi, jika kau tak yakin, maka selamanya kau takkan berhasil. Dan, Allahlah sebaik-baik perencana. Di balik segala kesedihan, pastilah akan ada kebahagiaan. Berbaik sangkalah padaNya, maka hatimu akan menjadi tenang. Percayalah.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (19 votes, average: 9.32 out of 5)
Loading...

Tentang

Lihat Juga

Sabar

Figure
Organization