Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Karena Ukhuwah Itu, Aku Masih Bersama Kalian

Karena Ukhuwah Itu, Aku Masih Bersama Kalian

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (nurlienda.wordpress.com)

dakwayuna.com – ”Di mana orang-orang yang saling mencintai karena KeagunganKu? Hari ini Aku naungi mereka dengan naunganKu” (H.R Muslim).

Sahabat, tentulah kita mengenal baik dengan istilah ukhuwah. Saya beropini bahwa Ukhuwah itu lahir ketika kita menyadari kelemahan dan kelebihan dari saudara-saudara kita. Menerimanya dengan lapang dan bukan untuk menghujatnya. Bermuara dari aqidah yang kuat, bersandar kepada iman kita kepada Allah SWT, karena ukhuwah merupakan konsekuensi dari keimanan.

Kini realitasnya tidak sedikit ketika saudaranya memiliki kekurangan atau pun ada hal yang tidak disukai dari saudaranya kemudian membuat komunikasinya berubah dan rasa cintanya berkurang. Sehingga lahirlah kondisi memilih. Ingatlah sahabat, seandainya kita mencinta karena Allah dan membenci pun karena Allah maka pandanglah saudara kita dari sisi kebaikannya. Seandainya ada sifat yang kurang kita sukai maka bencilah sifatnya bukan orangnya. Sebuah keniscayaan seandainya sifat dan jasad itu menyatu dalam satu tubuh. Namun begitulah ukhuwah lahir di atas cinta yang suci. Adanya pertautan hati yang kuat, ikatan cinta yang tidak satu pun orang mampu membelinya meskipun membelanjakan semua isi langit dan bumi. Karena Allah lah yang mempersatukan hati kita semua.

Ukhuwah itu akan mengatakan kebenaran-kebenaran dan bukan lah hadir untuk membenar- benarkan. Ukhuwah itu hadir dan membangun cinta di antara sesama, ukhuwah itu hadir membangun kepercayaan yang kuat di antara sesama. Ukhuwah lahir untuk membangun saudara-saudaranya, ukhuwah itu nasihat dan teguran yang menghembuskan kesucian cinta, ukhuwah itu energy yang menjadi rahasia kemenangan para sahabat, Dan ukhuwah itu hadir untuk bersama memperjuangkan mihwar dakwah ini.

Kini kita disatukan dalam sebuah jalan, jalan suci seperjuangan, yaitu jalan untuk membangun bangsa, negara dan umat. Yang lahir karena ukhuwah itu sendiri. Memancarkan cinta untuk saudara-saudara kita dalam mengharapkan ridha Allah SWT. Berharap kita bersama-sama menuju surgaNya kelak. ”di jalan ini kita saling membutuhkan dan saling mengisi setiap kekurangan untuk menghilangkan ketakutan dan kelemahan.

Barangsiapa di antara kalian yang ingin menikmati taman surga hendaklah ia berjamaah. Karena syaitan itu bersama orang-orang yang sendiri, dan ia akan menjauh dari dua orang”. (H.R Ahmad Turmudzi dan Hakim)”

Sehingga, Fudhail bin Iyadh; seorang ulama yang sangat dikenal begitu dekat dengan Masjidil haram ini, beliau menghelakan nafas terakhirnya saat mendengar ayahnya membaca ‘Dan jelaslah bagi mereka adzab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.’ (Az-Zumar: 47) ketika shalat, sesaat setelah beliau mendengar ayat itu, beliau jatuh dan meninggal. Nasihat-nasihatnya sangat menyentuh hati dan semua orang saat itu mengakuinya. Di antara nasihatnya ialah “siapa yang ingin bersaudara dengan orang yang tidak memiliki aib, tanpa kekurangan, ia takkan memiliki saudara”. Abu Darda pernah mengatakan, “kata-kata keras dan kasar dari seorang saudara itu masih lebih baik daripada engkau kehilangan seorang saudara.”

Syeikh Ar Rasyid juga mengatakan “masing-masing kita harus bersabar bersama orang-orang se perjalanan, yakni Sabar dari kekasaran, sabar dari kesalahpahaman, sabar dari keburukan dalam berbagai bentuknya yang dilakukan oleh saudaranya. Karena manusia tak pernah lepas dari kekeliruan dan kekhilafan. Dan nilai ukhuwah itu takkan pernah dapat terbayar dengan apapun. Karena Allah SWT yang mempersatukannya.

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Anfal: 63)

Wallahu’alam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (15 votes, average: 9,73 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nada Ash-Shubhi
Lahir di Bandung 21 September. Anak ke empat dari enam bersaudara; Amal, Maruf, Hodam wijaya, Gigin Ginanjar, Wiguna Syukur Ilahi. Inilah keenam lelaki yang selalu disebut-sebut dalam doa orang tua itu. Doa kesuksesan untuk masa depan. Mereka adalah anak sejarah yang akan menggoreskan tinta di lembaran sejarah peradaban sebari penguak dinding sejarah. Semoga menjadi pemimpin di negeri sarat nestapa ini. Lahir dari pasangan Solihat dan Adeng. Setelah menyelesaikan studi S1 program studi perbankan syariah, STEI SEBI, Depok. Kini aktivitas melanjutkan studi di STIS Nurul Fikri, Lembang jurusan siyasah syariah. Mulai mencoba menulis setelah lulus dari SMA, meskipun saya tidak tahu apa yang saya tulis. Beberapa karyanya diantaranya adalah Buku Belajar merawat indonesia, serial kepemimpinan alternatif (Bersama beastudi etos DD), Buku Talk Less Do More (SEBI Publishing), Paper Model agricultural Banking, Paper Peran LPZ dalam pengembangan ekonomi umat di Indonesia, Buku Catatan sang surya (Bersama Komunitas MOZAIK Sastra)

Lihat Juga

Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawwarah (gattours.com)

Menghidupkan Makna Hijrah