Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kenikmatan Halaqah, Membuatku Tak Perlu Keliling Dunia

Kenikmatan Halaqah, Membuatku Tak Perlu Keliling Dunia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Kapur putih yang pucat
Terasa penuh warna
Dan pelangi yang enggan datang pun berbinar

Kertas putih yang pudar
Tertulis seribu kata
Dan kuungkap semua yang sedang kurasa
Dengarkanlah kata hatiku
Bahwa ku ingin untuk tetap di sini

Tak perlulah aku keliling dunia
Biarkan ku di sini
Tak perlulah aku keliling dunia
Karena ku tak mau jauh darimu

***

Bersaudara tak mesti sedarah…
Bersaudara tak harus serumah…
Bersaudara bukan soal daerah…
Karena persaudaraan yang benar adalah atas dasar ukhuwah Islamiyah
Kita dipersaudarakan oleh Allah yang kita sembah…
Kita bersaudara karena Rasulullah yang menyampaikan hidayah…
Adakah persaudaraan yang lebih indah dari persaudaraan karena Allah?

***

Ilustrasi (hudzaifah.org)

dakwatuna.comBerawal dari sebuah formalitas dan berujung pada sebuah ‘candu’. Semula yang bertemu malu-malu dan enggan untuk saling mengenal pada akhirnya justru rindu jika tak jumpa. Masih ingat kenangan beberapa bulan lalu ketika saya dikumpulkan bersama teman-teman satu halaqah. Dengan wajah canggung ini memaksa untuk bisa mengenal dengan baik beberapa kepala yang hingga sekarang menjadi bagian dari hati saya.

Tulisan ini saya persembahkan untuk mereka yang telah menjadi arti penting dalam perjalanan dakwah ini (atas izin Allah). Mereka yang telah rela mencurahkan waktu dan pikiran kadang hanya untuk mendengar dan berupaya memberi solusi terbaik atas segala macam qadhaya.

Memang tak mudah untuk merasakan kecintaan seperti ini. Ada banyak permasalahan dan ujian untuk saya bisa membanggakan ukhuwah penuh kasih sayang terhadap mereka. Bahkan suatu ketika, lingkaran kami sempat hampir terputus karena satu sama lain belum saling mengerti dan memahami mengenai urgensi halaqah, mengapa halaqah itu penting hingga menimbulkan suatu mahabbah (kecintaan) pada saudara seiman. Pada akhirnya, kini Allah mengabulkan doa saya beberapa tahun silam mengenai sosok-sosok makhluk-Nya yang akan membantu saya menemukan arti dari sebuah persahabatan dan cinta karena Allah.

Kepemahaman yang saya dapatkan, fungsi utama halaqah itu sendiri adalah sebuah tadzkirah (pengingat yang menampar) melalui materi dari murabbi atau kultum. Akan ada seperti pengganjal yang cukup berat untuk disingkirkan ketika masa pertemuan itu ditunda atau memang tidak bisa terlaksana oleh berbagai alasan. Ketika halaqah hanya diartikan sebatas transfer ilmu, maka saya yakin kegelisahan macam itu tidak akan terjadi karena sebenarnya kita sendiri mampu mendapatkan ilmu dari banyak sumber. Maka sebenarnya apa yang menyebabkan hati-hati ini terikat begitu kuat dan nyaman?

Dan apa-apa yang terjadi pun sebenarnya tak sebegitu mewah, mereka hanya ikut menangis ketika saya mulai mengadukan atas ketidakberdayaan dan kealpaan sebagai seorang makhluk, mereka turut memohonkan keringanan atas dosa-dosa saya, mengingatkan layaknya para sahabat di berbagai novel roman picisan.

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka….” (QS. Al-Anfal: 63)

Ternyata itulah bagian dari kekuasaan Allah. Maka tidak ada yang menjamin apakah apa yang kita kehendaki terhadap seseorang atau sosok-sosok akan menjadi bagian dari tautan hati kita tanpa seizin-Nya. Andaikan saya diberikan kemampuan menuliskan rasa cinta saya pada mereka selama tiga hari tiga malam, rasanya itu tidak akan cukup untuk mewakili rasa ini terhadap apa-apa yang mereka ajarkan pada diri lemah di jalan dakwah ini. Inilah kenikmatan yang benar-benar saya dapatkan dari halaqah, namun ini hanya bagian kecil dari banyak hal yang bisa saya tuai.

Rasanya tak perlu lagi keliling dunia untuk mencari-cari makna cinta ketika saya menikmati kebersyukuran atas limpahan rahmat ukhuwah yang Allah berikan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (15 votes, average: 8,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Meira Ernawati
19 tahun, sudah menikah.

Lihat Juga

Bocah Suriah berusia 5 tahun, Omran Daqneesh, yang diselimuti debu dan darah, duduk di dalam ambulance setelah diselamatkan dari puing-puing reruntuhan bangunan yang terkena serangan udara Rusia di Aleppo pada 17 Agustus 2016. (Mahmoud Rslan / Getty Images)

Si Kecil Omran, Durrah, dan Tangisan Dunia