Home / Berita / Perjalanan / Ada Kursi Cap Kaki Tiga di Kabupaten Buton

Ada Kursi Cap Kaki Tiga di Kabupaten Buton

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(Dhiyaudzdzikrillah)

dakwatuna.com “Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thoha: 114)

Anak-anak dari salah satu kelurahan di Kabupaten Buton, selalu bersemangat menempuh perjalanan hampir 20 km ke sekolah. Ada yang berjalan kaki, menggunakan sepeda, menggunakan angkutan desa atau ojek, maupun diantar dengan motor oleh orang tuanya. Sebagian besar lebih senang berjalan kaki dengan alasan agar sehat, walau alasan utamanya adalah hemat ongkos. Begitulah anak-anak ini, tak patah arang berjalan mendaki ke sebuah tempat yang mampu mewujudkan impian mereka, setidaknya bisa membaca.

Bermain dan bercengkerama dengan teman menjadi kebiasaan sebelum kelas dimulai. Setelah bel besi dipukul dengan palu sebanyak hampir enam kali, anak-anak memasuki ruang kelas masing-masing dan memulai pelajaran. Alhamdulillah tiga ruang kelas di sekolah ini sudah berlantaikan keramik, sedang yang lain masih berlantai batu. Alhamdulillah lagi setiap kelas sudah dilengkapi whiteboard. Semuanya Alhamdulillah. Jika kita mau merunut berdirinya sekolah ini, sungguh kita akan banyak bersyukur. Awalnya sekolah ini dibangun di dalam perkampungan. Namun karena terletak di antara aliran angin barat dan bangunan sekolah mudah roboh diterjang angin, maka kini sekolah dipindahkan di perbatasan kampung. Sekolah ini terletak di antara laut dan bukit sehingga terhindar dari angin laut. Sekolah ini menjadi satu-satunya sekolah dasar yang berdiri di kelurahan ini.

Ruangan kelas berukuran 7×5 meter sekolah ini, mampu menampung sebanyak 25 anak. Sebuah meja panjang dan kursi panjang digunakan dua orang anak. Seringkali, satu kursi panjang diisi oleh tiga orang anak. Hanya beberapa kursi satuan saja yang tersedia di dalam kelas. Begitu kondisi sarana prasarana sekolah negeri ini.

Bahkan di salah satu kelas, ada sebuah kursi yang masih digunakan seorang siswa walau terlihat sudah tidak layak pakai. Saya menamai kursi itu dengan kursi cap kaki tiga. Julukan itu diberikan karena memang kursi ini hanya dengan 3 kayu sebagai ‘kaki’ penyangga. Siswa yang duduk di atas kursi itu, tidak merasakan kesulitan mendudukinya karena sudah terbiasa. Kursi cap kaki tiga dengan teknik duduk tertentu membuat senyaman mungkin siswa mengikuti pelajaran di kelas.

Kursi cap kaki tiga, mungkin masih menjadi sebuah keberuntungan dibandingkan sekolah di daerah yang jumlah kursinya tidak mencukupi bahkan atap atau ruang kelas yang tidak memadai.

Memang sangat terlihat perbedaan yang mencolok antara sekolah di daerah perkotaan dengan di pelosok negeri ini. Kursi cap kaki tiga, memang menjadi keberuntungan bagi anak di sini, namun mereka berharap teman-teman yang berada nun jauh dan tidak terjangkau sebagaimana mereka mendapatkan dukungan yang lebih. Kursi cap kaki tiga masih menjadi keberuntungan, karena yang terpenting anak-anak dapat menikmati kegiatan pembelajaran.

Kursi cap kaki tiga memang sebuah keberuntungan tapi bukan berarti pemakluman. Anak-anak di daerah ini terbilang cerdas. Setiap hari, anak-anak di kelurahan ini mengkonsumsi ikan. Kita mengetahui konsumsi ikan sangat bagus untuk perkembangan otak anak. Bukankah modal kecerdasan anak itu perlu didukung dengan sistem dan sarana pembelajaran yang baik?  Bukan pula sekadar kursi cap kaki tiga saja, namun yang terpenting semua siswa di negeri ini mendapatkan pendidikan yang layak. Layak untuk mendapatkan hak sebagaimana dalam pembukaan undang-undang negara kita, “…mencerdaskan kehidupan bangsa…”

Tidakkah kita melihat keikhlasan anak-anak kita di setiap pagi hari sebelum memulai pelajaran, membaca “Robbi zidni I’lma warzuqni fahma…amiin”. Sudah saatnya mereka mendapat dukungan belajar sebaik-baiknya.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dhiyaudzdzikrillah, SP.
Dari Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa Jakarta yang sedang pengabdian di SDN 1 Wagola, Pasarwajo, Buton, Sulawesi Tenggara.
  • Keterbatasan sarana ternyata tidak melunturkan semangat yang tinggi untuk menimba ilmu. Salut buat anak2ku di Buton. ALLAH SWT selalu merahmati kalian

  • Wahhh,,,,,baru q tau dakwatuna memuat artikel tentang kondisi sosial di Kabupaten Buton,,,

    Syukron utk penulis artikel ini

  • jadi inget dulu waktu sd sempet kaget. saya dulu murid pindahan dari jawa yang fasilitas sekolahnya enak trus ke daerah timur indonesia yang sebangku diisi 3 orang sekelas 50 orang lebih padahal kapasitas maksimal 1 kelas saat itu ga sampe 40 orang. fasilitas yang sudah jauh berbeda itu pun sudah dianggap sebagai sekolah terbaik di kecamatan. semoga ga ada lagi hal2 seperti ini untuk ke depan :)

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Kaki-kaki yang Berlumur Garam