05:03 - Minggu, 01 Februari 2015

Cinta (tak) Harus Memiliki

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Ade N. Syahmeniar - 14/06/12 | 19:30 | 24 Rajab 1433 H

Ilustrasi (peam.es)

dakwatuna.com – Cinta. Hanya satu kata, tersusun dari lima huruf yang berbeda. Sangat sederhana. Kata yang sama sekali bukan kata sulit untuk dituliskan, pun untuk diucapkan. Namun kata sederhana ini menjadi jutaan tema dalam kehidupan. Tema dalam kisah bahagia, kisah sedih yang tak ada habis-habisnya, kisah lucu yang menyegarkan, kisah kegalauan remaja zaman sekarang, kisah sukses penuh semangat, dan kisah-kisah lainnya.

Kali ini aku ingin berbagi tentang cinta antar manusia. Teringat akan sebuah kalimat, “cinta tak harus memiliki”. Kalimat yang cukup populer dan sering dijadikan alasan atau sekadar kalimat penghibur bagi mereka yang sedang dilanda kisah cinta episode kesedihan. Kalimat populer ini jelas ditujukan untuk kisah cinta antar manusia. Cinta pada seseorang yang diharapkan dapat menjadi pasangan hidup, namun tak berujung pada pernikahan. Kasihan. Ah, mereka bukan orang-orang yang perlu untuk dikasihani. Karena rasa kasihan hanya akan menambah kesedihan bagi yang mengalami. Malang. Sejatinya orang-orang yang mengalami episode ini bukanlah orang yang malang. Jika disikapi secara baik, hal ini justru dapat melatih yang bersangkutan untuk menjadi lebih sabar, lebih dewasa, lebih bijaksana, dan selalu yakin serta bersyukur akan pemberian-pemberian dari Allah. Karena yakinlah, bahwa Allah akan memberikan yang terbaik yang kita butuhkan, bukan yang terbaik (menurut kita) seperti yang kita inginkan.

Cinta tak harus memiliki. Sedikit terasa mengganjal dalam hati mencermati kalimat ini. Konon kabarnya, fitrah manusia untuk mencintai. Ya, baiklah kalau begitu. Tapi yang mengganjal di sini adalah seseorang mencintai seorang manusia lainnya sebelum dinyatakan sah dan halal. Apakah salah? Entahlah. Suka pada seseorang sebelum menikah, sepertinya tak ada masalah. Tak ada masalah jika hanya sebatas rasa kagum, simpati, suka karena terdapat teladan yang baik dalam diri seseorang. Tapi apakah harus mencintainya? Mengharapkan seseorang tersebut untuk menjadi pasangan hidup, sepertinya itu juga bukan suatu kesalahan. Sangat wajar jika seseorang mengharapkan pasangannya adalah orang yang baik, shalih/shalihah, mengagumkan, dan terdapat suri teladan yang baik dalam dirinya. Wajar, sangat wajar dan manusiawi. Tapi apakah harus mencintainya? Dan apakah harus “dia”?

Kawan, aku bukanlah orang yang penuh kebaikan sehingga aku pantas untuk menggurui dan menasihatimu. Maaf, sekali lagi, maaf. Tugas kita sesama muslim adalah saling mengingatkan pada saudaranya. Dan kali ini, sejatinya aku ingin mengingatkan diriku sendiri, dan ingin berbagi padamu. Mohon ingatkan aku jika ada yang salah, kawan.

Wajar-wajar saja jika kita suka pada seseorang, mengaguminya, itu hal yang manusiawi. Tapi mencintainya, wajarkah? Teringat seorang teman mengatakan kalimat yang juga cukup populer tentang cinta. “Cintai apa yang dimiliki, bukan miliki apa yang dicintai.” Begitu pula kurasa dengan kekasih, pasangan hidup, seorang manusia yang menjadi pendamping dunia akhirat. Sayang sekali jika kita mencintai seseorang yang belum tentu akan menjadi pasangan hidup kita nantinya. Iya kalau jodoh kita adalah dia. Tapi jika bukan, betapa kasihan jodoh kita yang sebenarnya. Ia yang seharusnya mendapatkan cinta seutuhnya, namun sebagian hati telah tertawan pada hati yang lain. Ia yang seharusnya kita cintai, tapi nyatanya hanya mendapatkan sisa-sisa cinta dari sekeping hati kita yang rapuh ini.

“Jodoh itu tak akan tertukar”, begitu celoteh temanku yang lain. Yakinlah bahwa seseorang yang berjodoh dengan kita nantinya adalah yang terbaik. Jadi tak perlu menyibukkan diri untuk mencintai hati yang belum tentu akan mencintai seperti kita mencintainya. Kalaupun ia juga cinta, belum tentu kan berjodoh. Tak sampai hati rasanya bila menyakiti pasangan yang sebenarnya nanti. Dialah yang seharusnya dicintai dengan sepenuhnya. Bukan dengan sisa-sisa cinta, apalagi hanya sebagai pelarian semata. Ada baiknya jika sekarang kita mempersiapkan diri dan menjaga hati untuknya. Tak ingin hati ini ternoda oleh cinta yang salah alamat.

Cintaku hanya akan kuberikan setelah akad nikah. Ijab qobul yang begitu sakral terucap, menggetarkan hati begitu dahsyat sehingga cinta itu kan tumbuh secara alami. Aku hanya ingin mencintainya setelah ia halal bagiku. Sepenuhnya, tanpa terbagi.

Kembali pada dua kalimat cinta yang cukup populer tadi. “cinta tak harus memiliki” dan “cintai apa yang dimiliki, bukan miliki apa yang dicintai”. Dua kalimat ini terasa bertolak belakang dari satu sudut pandang tertentu. Kalimat pertama menyiratkan makna bahwa cintailah apa saja, siapa saja. Tapi ingat, mencintainya bukan berarti harus memilikinya.

Sedangkan kalimat kedua, cukup lugas. Memberikan pandangan dan pilihan yang sedikit berbeda. Ada perbedaan antara mencintai apa yang dimiliki dengan memiliki apa yang dicintai. Dalam konteks pasangan hidup, Mencintai apa yang dimiliki, ini berarti cinta itu tumbuh setelah seseorang sah dan halal bagi kita. Sedangkan memiliki apa yang dicintai, ini berarti cinta itu telah bersemi indah sebelum seseorang tersebut sah dan halal baginya. Jika kita ingin “memiliki apa yang kita cintai”, maka kalimat “cinta tak harus memiliki” berlaku di sini. Namun tak kan berlaku jika kita “mencintai apa yang kita miliki”. Yang berlaku adalah “cinta harus memiliki”. Karena kita sudah memiliki terlebih dulu sebelum mencintainya. Dan hal ini menyiratkan sebuah isyarat rasa syukur yang begitu besar atas apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kita. Kalaupun ternyata pasangan kita nantinya tak sesuai harapan, itu artinya Allah ingin kita belajar untuk bersabar. Dan ingatlah, Allah itu bersama orang-orang yang sabar. Di sisi lain, Allah akan menambah nikmatnya bagi yang selalu bersyukur.

Sungguh dahsyat rasanya jika kita mencintai apa yang kita miliki. Hidup dalam bingkai cinta yang tulus berhiaskan kesyukuran dan kesabaran. Kebahagiaan bukanlah hal yang sulit diwujudkan. Kedamaian dan ketenangan pun akan terus mengiringi dalam setiap degup jantung. Bukankah ini begitu indah, kawan?

Satu hal yang perlu diingat, kawan. Cinta pada manusia bukanlah yang abadi. Jadikan cinta itu sebagai media mengalirnya cinta menuju muara cinta yang paling agung. Cinta pada Allah. Cinta inilah yang hakiki. Mencintai pasangan merupakan salah satu perwujudan cinta pada Rabb yang menguasai jiwa ini. Sebesar apapun cinta itu, tetap tujuan akhirnya adalah cinta pada Sang penguasa cinta. Dialah yang memiliki cinta terluas, cinta tak berbatas. Dialah yang berhak untuk dicintai sepenuhnya. Karena setiap detail kehidupan kita tak bisa lepas dari cinta-Nya.

Kawan, andai dirimu kebingungan melabuhkan cinta karena belum ada seseorang yang halal bagimu, tak perlu merasa galau. Kegelisahan hanya membuat kita terus merasa risau. Ada Allah yang kita miliki dan yang memiliki kita sepenuhnya. Cintailah dengan cinta terbaik yang kita punya. Yakinlah Dia tak akan menyia-nyiakan cinta kita yang seadanya ini. Jika yang kita dapatkan tak sesuai keinginan, bukan Allah tak mencintai kita. Tapi Allah ingin kita belajar menjadi orang yang sabar sehingga kita bisa terus merasa dekat dengan-Nya. Karena Allah bersama orang-orang yang sabar. Namun jangan lupa untuk bersyukur ketika yang kita dapatkan sesuai keinginan. Karena rasa syukur itulah yang menjadikan nikmat Allah terus bertambah. Tidak pernah rugi, bukan? Ibarat berdagang, perdagangan yang selalu menguntungkan hanyalah perdagangan dengan Allah, Rabb penguasa semesta.

Di tengah hirup pikuk area tambang
Bersama mendungnya awan

Tentang Ade N. Syahmeniar

Ade Nugraha Syahmeniar, nama lengkapku. Pernah numpang kuliah di Teknik Geodesi UGM, lulus tahun 2011. Pernah juga mampir sekolah di Smanda Bandar Lampung, setelah sebelumnya nyicip 3 tahun di SMP… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra El-Bugeri

Keyword: ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (123 orang menilai, rata-rata: 9,24 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • http://www.facebook.com/profile.php?id=100001810584678 Crin D Cvin

    makasih ats tausyiah’y…

  • http://www.facebook.com/profile.php?id=100001810584678 Crin D Cvin

    menyejukan hati..

  • http://www.facebook.com/bulurokeng Buluk Rokeng Asi

    terima kasih tambahan ilmunya

  • http://www.facebook.com/andi.ugimakkaraseng Andi Batari Ugi-Makkaraseng

    .terima kasih untuk “penyejuk gundah” itu..

  • http://rumahalbanna.blogspot.com/ Rumah Al Banna

    Mencintai yg Menciptakan Cinta

    :cool

  • loretta ollich

    assalamu’alaikum :)

    saya menemukan link kesini secara tidak sengaja, dan tergelitik komen ni :D

    “cintailah apa yang dimiliki”. mungkin maksudnya “apa yang dititipkan kepada kita” ya,,hehehe bukankah semua milik Allah SWT? :)

    lalu, (mungkin krn saya wanita) saya agak mengernyit dengan ini : “Tapi jika bukan, betapa kasihan jodoh kita yang sebenarnya. Ia yang
    seharusnya mendapatkan cinta seutuhnya, namun sebagian hati telah
    tertawan pada hati yang lain. Ia yang seharusnya kita cintai, tapi
    nyatanya hanya mendapatkan sisa-sisa cinta…”

    seandainya seorang lelaki menikah, dan memberikan cintanya pada istrinya tsb, kemudian karena ketetapan Allah mereka berpisah, dan kemudian lelaki tsb menikah kembali (dg perempuan lain) yang ternyata adalah jodohnya yang sebenarnya. apakah itu artinya ia juga hanya mendapatkan sisa-sia cinta?

    mungkin bukan kasihan, bahwa ia adalah jodoh sebenarnya yang belakangan ditemukan. lha wong emang baru ketemunya sekarang…

    hehe. just thinking, tidak ada maksud mendebat lho :)
    nice post :)

    wassalamu’alaikum

  • http://www.facebook.com/rafidahaddini Annisa Lathifah

    membacanya benar2 mengobati galau pagi ini :)

  • loretta ollich

    baru inget pernah komen disini, dan penasaran ada tanggapan apa :D

    saya juga tidak yakin kok jodoh itu cuma satu atau bisa banyak..
    terlepas dari berapa jumlah jodoh (?), apakah wanita yang dinikahi kedua, atau bahkan ketiga, keempat, dst, lantas hanya mendapat sisa, sisa-sisa, sisa-sisa-sisa, dst? :D

    menurut saya, semua sudah ada jatah dan waktunya. kapan dan seberapa banyak. *jawaban cari aman hahaha*

    anw thx for answering :)

  • http://www.facebook.com/tika.azuri Atikah

    tp bagaimana klw cinta tak hrus memliki krn soal restu ortu krna dlihat dari segi materi,pendidikan????

  • lang ates

    cinta tak harus memiliki (bwat yg cinta bertepuk sebelah tangan) .. tapi cinta harus di perjuangkan (klo 2 insan sudah saling jatuh cinta)…

  • Ania

    kalau menurut saya, mencintai itu memiliki.. karena dengannya, ada perasaan suka dan benci, ada perasaan bahagia dan patah hati..entah itu karena Alloh atau hawa nafsu :)

  • Feby MAUL 26

    sungguh indah kata – kata cinta tak harus memilikinya, ingin sperti itu, tetapi perasaan ini tidak bsa berbohong

  • Feby MAUL 26

    sungguh indah kata – kata cinta tak harus memilikinya, ingin sperti itu, tetapi perasaan ini tidak bsa berbohong

Iklan negatif? Laporkan!
137 queries in 1,362 seconds.