Home / Pemuda / Essay / Ke-Galau-an Tarbawiyah

Ke-Galau-an Tarbawiyah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (hudzaifah.org)

dakwatuna.com – “Adik-adik binaan ana itu, jago klo hafalan Quran dan hadits, Lail-nya juga luar biasa, tapi tiba giliran diajak kegiatan hampir semuanya pake slogan ‘afwan’ semua..” curhat seorang Murabbiyah pada temannya sesama Murabbiyah.

“Mmm… klo binaan ana sebaliknya, ukh…” temannya menanggapi. “Kegiatan aktif luar biasa…tapi mutaba’ah yaumiyahnya innalillaah…” curhatnya tak kalah sedih.

Usut punya usut, ternyata alasannya: “ana belum mampu menyeru karena tak baiknya ruh.” Dan sebaliknya, sang Mutarabbi berdalih, “ana ini kan sibuk menyeru…wajar jika perlu dispensasi khusus terkait kesehatan ruh”

Eh, ternyata masih timbul lagi keluhan dari Mutarabbi lain: “ana datang terus tiap pertemuan rutin, tapi ya itu… bahasannya tak menguatkan ruh. Apalagi klo jelang pemilu, duwhhh…jadwal liqo’at bisa berganti DS sana sini. Klo selalu pake alasan sekedar materi bisa diperoleh di luar lingkaran, lalu untuk apa ada pertemuan rutin tiap minggu itu?”

***

Ada yang sibuk menyeru tapi kehilangan ‘ruh’…

Ada yang memiliki kondisi ‘ruh’ yang luar biasa tapi kurang semangat dalam menyeru…malah terkadang menutup diri dengan alasan belum mampu…

Fenomena ‘Kegalauan tarbawiyah’ yang memang tidak sedikit dirasakan oleh para kader. Ada yang terfokus dengan isu yang dianggap sebagai problematika umat, lalu terlena hingga lupa dengan kualitas dirinya. Terbuai kesibukan eksternal hingga memangkirkan kebutuhan internal yang perlu direkonstruksi. Tentu saja hal ini akan melemahkan suatu bangunan. Nampak kokoh di depan, namun rapuh di dalam. Dan sebaliknya, ada juga mereka yang merasa kurang nya asupan nutrisi ruhiyah & tsaqafiyah yang seharusnya bisa optimal diperoleh hingga melahirkan keengganan bersegera merespon positif permasalahan eksternalnya. Sebuah kebutuhan yang wajar tentunya, namun tetap saja pengesampingan masalah eksternal rasanya juga bukan solusi yang cukup baik. Karena sekarang ini adalah era nya untuk ekspansi.

Pernah beberapa kali terdengar cerita atau dicurhati langsung via dunia maya. Ada kecenderungan yang sama di banyak daerah. Bahkan pernah ada seorang senior berkata, “kita punya banyak tenaga sebenarnya, tapi mereka layaknya macan tidur. Maka perlu prosesi khusus untuk membangunkan.” Lalu dalam hati saya bergumam, “iya klo tu macan g ngamuk-ngamuk waktu dibangunin… klo ngamuk bukannya malah buat masalah baru tu…”

“Shalih diri, shalih sekitar”

Benar. Men-shalih-kan diri baru kemudian men-shalih-kan sekitar kita. Tapi tentu saja tak menunggu kita shalih sempurna baru bersegera men-shalih-kan lingkungan kan. Ingat juga bagaimana agama ini mengajarkan untuk menyampaikan ilmu yang dipunya walau satu ayat saja. Maka sudah seharusnya tak ada lagi justifikasi sepihak yang mengatakan: saya belum mampu menyeru karena tak baiknya ruh. Atau sebaliknya: saya ini menyeru… perlu dispensasi khusus terkait kesehatan ruh.

Sungguh sebuah fenomena kesenjangan yang memprihatinkan. Namun bukan masa nya tuk saling menyalahkan. Sekarang tinggal bagaimana menyusun mekanisme yang mumpuni tanpa harus saling menyesali. Para Mutarabbi yang merasa ruhiyah belum memadai, mari bergegas menguatkan semangat untuk swadidik diri, tarbiyah dzatiyah. Bukankah sarana-sarananya sudah banyak tersedia, tinggal azzam nya yang perlu terus ditumbuhkan dan dijaga keberlangsungannya. Para Murabbi juga mohon memahami kegalauan ini. Mari saling menguatkan ikatan hati hingga tak galau lagi. Tentu saja tanpa harus mengabaikan pendistribusian maslahat kepada umat. Karena sekarang lah eranya ‘berbuat lebih banyak’.

Bukan begitu ikhwah fillaah sekalian… ^_^

***

Tetap bergerak tanpa ruhiyah apa jadinya.
Tak ada kebersamaan ridha dan pertolongan Allah.
Bertahan memperbaiki ruhiyah lupakan masalah dunia,
Akan jadi apa lingkungan sekitar yang jadi amanah kita sebagai khilafah di bumi NYA?
Terlupakah kita jika para pembawa risalah awal dakwah ini telah mengibaratkan dengan kalimat yang berkobar syarat makna:
ketika siang, mereka adalah prajurit berkuda yang pantang menyerah kalah. tiba malam menjelang, maka mereka adalah para rahib yang khusyuk tepekur dalam ibadah untuk Rabb-nya…

Wallaahu’alam…

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (14 votes, average: 9,64 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Penulis adalah Guru kelahiran Curup - Bengkulu, 21 Februari 1988. Saat ini penulis tercatat sebagai guru tetap di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Padang Ulak Tanding- Bengkulu. Penulis mengampuh mata diklat bahasa Inggris.
  • aa adit

    kalau buat saya sih, da’wah itu hal yang sebenernya sederhana, yang bahkan tukang becak pun dapat melakukannya… jadi bener2 ga ada alasan buat bilang “ngga”. btw, nice post, Mbak!

  • idemuslim

    sip mbak..
    Jika kurang ruhiyyah tetaplah berada di bahteraJangan malah berenang lemparkan diri ke samuderaBahanya lebih tidak terprediksi dari kejenuhan di bahteraBagaimanapun sendirian itu berbahayaKerja setan jadi lebih mudah dalam menggodaKurang ruhiyyah bisa diobati
    Putus Tarbiyyah berpotensi malah memusuhi

    Kurang ruhiyyah itu dinamika dakwah
    Karena manusia tidak konstan imannya

    Putus tarbiyyah itu malapetaka,
    bagi yang sudah mencicipi kelezatannya

    Tarbiyyah itu kekuatan penting dakwah
    Karena di dalamnya ada mengingat Allah dan Rasul-Nya
    Jika sesekali ada agenda pemilu, maka itulah amal nyatanya.
    Di Liqoat kita belajar sabar, berani, dan akhlak islam lainnya
    Saat DS lah teori-teori seharusnya menjelma menjadi aplikasi
    Bagaimanapun latihan menembak itu mudah,
    Menembak sasaran sesunggunya lah yang susah, karena nyawa taruhannya…

  • bagus

  • mungkin perlu bahas materi ttg itu dr Al quran n hadits. ato coba bahas buku fiqih jihad yg disusun syekh yusuf qaradhawy, ada bahasan ttg brbagai dimensi jihad.

  • Siip Tawazun…
    Muslim sbg makhluk Tuhan yg hrs selalu menjaga hubungan vertikalnya dgn Sang Khalik…
    Muslim sbg makhluk sosial yg hrs selalu menjaga hubungan horizontalnya dgn makhluk Alloh yg lain…

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Kiya Galau