Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tuli-Tuli Yanti

Tuli-Tuli Yanti

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Dhiyaudzdzikrillah)

dakwatuna.com “Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

“Tuli-tuli… sanggara banda”, ungkap Yanti

Sore itu, selesai shalat Ashar dan mengaji, aku mendengar sayup-sayup suara. “Tuli-tuli… sanggara banda”, suara pelan yang datang dari kejauhan. Benar atau tidak kalimat yang terdengar di telingaku ini. Sekali lagi aku memastikan kalimat itu. “Tuli-tuli… sanggara banda”, semakin jelas terdengar. Tidak salah lagi apa yang aku dengar. Apa gerangan maksud dari kalimat itu. Kalimat yang baru aku dengar setelah tiba siang tadi dari Jakarta di salah satu desa di Buton, Sulawesi Tenggara. Saat itu pun aku tersenyum sendiri. Telingaku masih bagus bahkan tidak tuli apalagi ‘tuli-tuli’ (banyak yang tuli).

Mencoba keluar kamar dan ‘melongok’ ke pintu depan rumah, memastikan ada orang yang lewat. Ternyata benar seorang anak perempuan terlihat malu-malu dan salah tingkah dilihat oleh aku. Anak perempuan itu melintas di depan rumah sambil membawa sebuah keranjang plastik yang berisi tuli-tuli.

“Mau dek…coba ke sini”, ujarku padanya. Di teras rumah transaksi pun berlangsung. Aku penasaran dengan makanan apa yang ia bawa. Ketika anak perempuan itu membuka tutup keranjang plastik putih terlihat gorengan berbentuk angka delapan. Makanan ini mirip dengan ‘lanting’, makanan khas Jogja, tetapi lebih besar. Aku pun bertanya harga satuannya dan anak perempuan itu menjawab “500 rupiah” pelan. Aku pun bergegas masuk mengambil piring dan meminta anak perempuan itu menunggu sejenak.

Piring pun disodorkan sambil berkata “2 ribu ya dek”. Empat potong tuli-tuli pun diletakkan di piring secara perlahan. “Siapa namanya dek?”, tanyaku pada anak perempuan tadi. “Yanti”, singkat saja anak perempuan itu berbicara. “Sekolah kelas berapa dek?”, timpalku padanya. “Kelas 6”, dua kata singkat keluar dari mulutnya. Ia pun bertanya padaku apakah tuli-tulinya memakai sambal atau tidak. Sambal kacang pun melingkari tuli-tuli di piring setelah aku mengangguk padanya.

Kisah ini bukan sekadar tentang tuli-tuli yang terbuat dari kasuami (singkong yang dihaluskan), melainkan tentang penjualnya. Bagaimana seorang anak tak segan berjualan membantu orang tuanya. Ia yang masih anak-anak ini akan memasuki masa remaja. Ia pun tak segan-segan berjualan berkeliling kampung sambil berkata, “Tuli-tuli… sanggara banda” (dibaca “Tuli-tuli…pisang goreng”).

Begitu banyak mata menyoroti pergaulan remaja di perkotaan. Tapi sayang… anak yang akan remaja seperti Yanti di pelosok negeri ini tak pernah diperhatikan. Seharusnya remaja di perkotaan belajar dari Yanti. Hidup tak sekadar menghabiskan waktu dengan ‘nongkrong’ di jalan, tapi bagaimana berjuang menghidupi diri bahkan untuk keluarganya. Jangan sampai hidup para remaja mengikuti jargon yang menyesatkan seperti ‘muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga’. Tidak akan pernah Sang Pencipta memberikan begitu saja tanpa kita berusaha. Itu janji-Nya.

“Yanti tiap sore jualan ini untuk bantu orangtua?”, tanya ku untuk terakhir kalinya. Dan anggukan kecil menjadi tanda pertemuan hari ini. Aku pun berdoa semoga Yanti dan keluarga hidup lebih baik. Semoga tuli-tuli Yanti kelak akan menjadi tapak perjuangan kesuksesannya.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dhiyaudzdzikrillah, SP.
Dari Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa Jakarta yang sedang pengabdian di SDN 1 Wagola, Pasarwajo, Buton, Sulawesi Tenggara.