Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ayah yang Mengajariku

Ayah yang Mengajariku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (123rf.com / Jasmin Merdan)

dakwatuna.comDalam hidup yang kita jalani ini, begitu banyak hal yang didapat dan termaknai dalam setiap episode kehidupan yang terlalui. Di setiap episode kehidupan, kita belajar tentang berbagai makna yang bisa meresap dalam diri ini. Makna tentang memberi atau berbagi, tentang cinta, tentang perjuangan, tentang pengorbanan, dan masih banyak lagi makna yang tergoreskan dalam catatan hidup nan penuh arti.

Pelajaran tentang makna bisa banyak kita dapati dari berbagai sisi dan sudut dalam bingkai kehidupan yang dijalani. Bisa dari seseorang yang penuh cinta dan arti, dan melalui indahnya berbagai cerita yang terangkai rapi di setiap episodenya kehidupan. Makna akan setiap laku yang kita jumpai, mempunyai arti sendiri. Kali ini, akan ku arahkan pandangan sorotan pena yang tergores ini tentang makna perjuangan yang ada pada seorang lelaki yang begitu luar biasa. Dia adalah ayah.

Ya, aku memanggilnya ayah. Dia adalah seorang lelaki yang begitu luar biasa dalam hidup ini, memberi tak kenal henti, berbagi tak kenal rugi, dan bekerja tak kenal lelah. Ayah, satu kata penuh makna yang menggambarkan kita makna akan perjuangan. Dia adalah pemimpin dalam keluarga, penuh tanggung jawab pada keluarga yang dipimpinnya, selalu berusaha sekuat tenaga dalam setiap kerja-kerja yang dilakukannya. Di setiap detik yang terlalui, di setiap menit yang berganti, beliau bergerak lincah untuk melangkah mencari rizki yang terhampar di setiap penjuru bumi Allah yang penuh cinta. Saat mentari menyapa di pagi yang masih berselimut kabut, engkau sudah bersiap-siap dengan segala perbekalan yang akan menemani mu di setiap langkah. Meninggalkan rumah penuh asa, meminta doa kepada semua agar diberi yang terbaik. Dalam langkah yang kau ayun, teriknya cahaya mentari membakar kulitmu yang  tiap waktu bertambah hitam legam, membaur dengan tubuh mu yang berkuah keringat karena bekerja demi sebuah senyum kebahagiaan  yang terukir di wajah-wajah orang-orang  yang menunggumu di rumah penuh harap, serta sayang dan cinta yang membalut pada setiap rangkaian doa.

Begitu banyak pengorbanan yang kau berikan demi kebahagiaan orang-orang yang kau cintai, engkau jaga kami setulus hati sekokoh jiwa. Entah berapa kali diri ini membuat susah dirimu. Entah berapa kali diri ini menangis demi sesuatu hal, meminta demi sebuah keinginan yang semakin hari kian bertambah dan berubah. Tapi engkau tak pernah mengeluh dan menggerutu, dirimu senantiasa berjuang sekuat tenaga, walau diri harus bermandikan cahaya matahari yang membakar kulitmu menjadi hitam legam, tubuhmu basah karena bermandikan kuah keringat. Semua itu kau acuhkan, meski lelah menyapa, asamu terkadang memudar tapi kau segera tebalkan asa itu demi kebahagiaan orang-orang yang kau cintai setulus hati sekokoh jiwa. Engkau abaikan rasa sakit yang singgah di setiap sendi-sendi tubuhmu, kau ganti dengan senyum merekah yang kau tunjukkan kepada kami.

Ayah.  Engkau tak pernah lelah dan bosan mengajari kami. Engkau begitu indah mengajarkan makna perjuangan pada diri ini. Mengajarkan tentang bagaimana menjaga kobaran semangat juang agar tetap menyala terang dan tak mudah redup oleh cobaan yang menghadang. Engkau mengajari ku tentang sebuah arti tanggung jawab akan setiap kata yang terucap dan sikap yang terlukiskan. Engkau mengajari bagaimana memberi sesuatu yang dimiliki terbungkus tulusnya ikhlas, hingga diri ini mengerti indahnya berbagi. Mengajari diri ini, bagaimana menjaga dan membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Sepenuh kasih serta rasa sayang yang mengalir pada setiap perbuatan hingga mereka merasakan syahdunya cinta yang terbukti nyata melalui kata dan laku. Dirimu selalu ada di saat suka ataupun duka ketika menghampiri diri ini. Doamu senantiasa menghiasi di setiap langkah perjuangan kami.

Ayah, satu kata penuh makna tentang perjuangan dan pengorbanan. Semoga diri ini bisa menjadi anak yang berbakti padamu, memberikan balasan yang terbaik dan terindah untukmu. Sadar bahwa semua yang kau lakukan tak akan pernah sanggup untuk dibalas, berharap diri ini bisa menjagamu pada saat dirimu semakin rapuh termakan usia. Mengukirkan senyum-senyum kebahagiaan di saat kau menikmati masa tuamu, mengalirkan kasih sayang pada setiap sendi-sendi tubuh rentamu yang haus dan rindu akan cinta yang dapat menguatkan jiwa. Berharap di setiap doa diri ini bisa menjagamu hingga engkau kembali kepada-Nya.

Semangat Berbagi Inspirasi!

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (13 votes, average: 9,23 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ali Fuadin
Mahasiswa. Lahir di Ciamis dan saat ini tinggal di Purwokerto.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Andi Gunawan)

Senandika