Home / Keluarga / Kesehatan / Benarkah Imunisasi Lumpuhkan Generasi?

Benarkah Imunisasi Lumpuhkan Generasi?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Pendahuluan

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Akhir-akhir ini kita sering mendengar atau melihat seminar dengan judul yang membuat mata seorang dokter terbelalak. “Imunisasi lumpuhkan generasi” atau “Wahai para orangtua bekali dirimu dengan pengetahuan tentang bahaya imunisasi”. Sebagai seorang dokter saya lalu merenung, bila benar apa yang mereka serukan itu, betapa besar dosa saya sebagai dokter anak yang sering mengimunisasi bayi dan anak yang datang ke tempat praktek. Betapa jahatnya saya sebagai manusia karena telah mengimunisasi begitu banyak bayi dan anak selama ini, bahkan sejak saya masih sebagai dokter umum di puskesmas dahulu. Lalu saya merenung dan mencoba meneliti kembali permasalahan ini. Siapa sebenarnya yang salah dan siapa yang benar? Dalam kontroversi yang memuat perbedaan 180 derajat ini, tidak mungkin kedua-duanya salah atau benar. Pasti salah satu benar dan yang lain salah. Dan saya khawatir bila selama ini sayalah yang bersalah itu. Saya sungguh khawatir jangan-jangan saya telah melumpuhkan begitu banyak generasi muda. Jangan-jangan saya telah melakukan dosa kemanusiaan yang sangat besar. Galau habis-habisan.

Rasa galau itu membuat saya membuka-buka literatur dan data yang ada tentang permasalahan imunisasi. Saya mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan seruan yang menentang keras imunisasi. Suatu pernyataan yang sangat bertolak belakang dengan yang selama ini saya pelajari bahwa imunisasi itu suatu tindakan preventif yang amat bermanfaat buat kemanusiaan. Di lain pihak kegalauan saya juga semakin menjadi bila mengingat andai seruan tersebut kemudian menyebar ke masyarakat luas lalu apa yang akan terjadi dengan bayi-bayi mungil tak berdosa itu di kemudian hari? Mungkinkah penyakit-penyakit berat yang dapat dicegah dengan imunisasi akan bangkit kembali dari kuburnya gara-gara seruan itu? Masalah ini justru menimbulkan kegalauan lebih dalam bagi saya.

Apakah Sebenarnya Imunisasi Itu?

Sebelum melangkah lebih jauh mari kita bahas sekilas apakah yang dimaksud dengan imunisasi. Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak terpajan pada penyakit tersebut ia tidak menjadi sakit. Kekebalan yang diperoleh dari imunisasi dapat berupa kekebalan pasif maupun aktif. Imunisasi yang diberikan untuk memperoleh kekebalan pasif disebut imunisasi pasif, dengan cara memberikan antibodi atau faktor kekebalan kepada seseorang yang membutuhkan. Contohnya adalah pemberian imunoglobulin spesifik untuk penyakit tertentu, misalnya imunoglobulin antitetanus untuk penyakit tetanus. Contoh lain adalah kekebalan pasif alamiah antibodi yang diperoleh janin dari ibu. Kekebalan jenis ini tidak berlangsung lama karena akan dimetabolisme oleh tubuh.

Kekebalan aktif dibuat oleh tubuh sendiri akibat terpajan pada antigen secara alamiah atau melalui imunisasi. Imunisasi yang diberikan untuk memperoleh kekebalan aktif disebut imunisasi aktif dengan memberikan zat bioaktif yang disebut vaksin, dan tindakan itu disebut vaksinasi. Kekebalan yang diperoleh dari vaksinasi berlangsung lebih lama dari kekebalan pasif karena adanya memori imunologis, walaupun tidak sebaik kekebalan aktif yang terjadi karena infeksi alamiah. Untuk memperoleh kekebalan aktif dan memori imunologis yang efektif maka vaksinasi harus mengikuti cara pemakaian dan jadwal yang telah ditentukan melalui bukti uji klinis yang telah dilakukan.

Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang dan menghilangkan penyakit tersebut pada sekelompok masyarakat (populasi), atau bahkan menghilangkannya dari dunia seperti kita lihat pada keberhasilan imunisasi cacar variola. Keadaan terakhir ini lebih mungkin terjadi pada jenis penyakit yang hanya dapat ditularkan melalui manusia, seperti penyakit difteri dan poliomielitis. Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) merupakan penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan kematian dan kecacatan seumur hidup dan akan menjadi beban bagi masyarakat di kemudian hari. Sampai saat ini terdapat 19 jenis vaksin untuk melindungi 23 PD3I di seluruh dunia dan masih banyak lagi vaksin yang sedang dalam penelitian.

Adakah Bukti Bahwa Imunisasi Bermanfaat?

Pertanyaan selanjutnya yang perlu dijawab adalah adakah manfaat imunisasi? Ataukah imunisasi hanya bikin mudharat (keburukan) buat kemanusiaan? Untuk menjawab pertanyaan ini saya kemudian menelaah berbagai data status kesehatan masyarakat sebelum dan sesudah ditemukannya imunisasi di berbagai negara. Namun saya ingin menampilkan data dari negara maju seperti Amerika Serikat, karena kelompok antiimunisasi selalu menuduh bahwa imunisasi adalah sebuah proyek konspirasi dari negara ini untuk melumpuhkan generasi muda di seluruh dunia.

Sebelum adanya vaksin polio, terdapat 13.000 – 20.000 (16.316) kasus lumpuh layuh akut akibat polio dilaporkan setiap tahun di AS meninggalkan ribuan korban penderita cacat karena polio yang mesti menggunakan tongkat penyangga atau kursi roda. Saat ini AS dinyatakan bebas kasus polio. Angka penurunan mencapai 100%.

Sebelum adanya imunisasi campak, 503.282 kasus campak terjadi setiap tahun dan 20% di antaranya dirawat dengan jumlah kematian mencapai 450 orang per tahun akibat pneumonia campak. Setelah ada imunisasi campak kasus menurun hingga 55 kasus per tahun pada tahun 2006. Angka penurunan 99.9%.

Sebelum ditemukan imunisasi difteri terjadi 175.885 kasus difteri per tahun dengan angka kematian mencapai 15.520 kasus. Setelah imunisasi ditemukan tahun 2001 jumlahnya menurun menjadi 2 kasus dan tahun 2006 tidak ada lagi laporan kasus difteri. Angka penurunan mencapai 100%

Sebelum tahun 1940an terdapat 150.000-260.000 kasus pertussis setiap tahun dengan angka kematian mencapai 9000 kasus setahun. Setelah imunisasi pertussis ditemukan angka kematian menurun menjadi 30 kasus setahun. Namun dengan seruan antiimunisasi yang marak di AS terjadi lagi peningkatan kasus secara signifikan di beberapa negara bagian. Pada 8 negara bagian terjadi peningkatan kasus 10-100 kali lipat pada saat cakupan imunisasi pertussis menurun drastis.

Sebelum vaksin HiB ditemukan, HiB merupakan penyebab tersering meningitis bakteri (radang selaput otak) di AS, dengan 20.000 kasus per tahun. Meningitis HiB menyebabkan kematian 600 anak per tahun dan meninggalkan kecacatan berupa tuli, kejang, dan retardasi mental pada anak yang selamat. Pada tahun 2006 kasus meningitis HIB menurun menjadi 29 kasus. Angka penurunan 99.9%.

Hampir 90% bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi Rubella saat hamil trimester pertama akan mengalami sindrom Rubella kongenital, berupa penyakit jantung bawaan, katarak kongenital, dan ketulian. Pada tahun 1964 sekitar 20.000 bayi lahir dengan sindrom Rubella kongenital ini, mengakibatkan 2100 kematian neonatal dan 11.250 abortus. Setelah adanya imunisasi hanya dilaporkan 6 kasus sindrom Rubella kongenital pada tahun 2000. Kasus Rubella secara umum menurun dari 47.745 kasus menjadi hanya 11 kasus per tahun pada tahun 2006. Angka penurunan 99.9%.

Hampir 2 milyar orang telah terinfeksi hepatitis B suatu saat dalam hidupnya. Sejuta di antaranya meninggal setiap tahun karena penyakit sirosis hati dan kanker hati. Sekitar 25% anak-anak yang terinfeksi hepatitis B dapat diperkirakan akan meninggal karena penyakit hati pada saat dewasa. Terjadi penurunan jumlah kasus baru dari 450.000 kasus pada tahun 1980 menjadi sekitar 80.000 kasus pada tahun 1999. Penurunan terbanyak terjadi pada anak dan remaja yang mendapat imunisasi rutin.

Di seluruh dunia penyakit tetanus menyebabkan kematian pada 300.000 neonatus dan 30.000 ibu melahirkan setiap tahunnya dan mereka tidak diimunisasi adekuat. Tetanus sangat infeksius namun tidak menular, sehingga tidak seperti PD3I yang lain, imunisasi pada anggota suatu komunitas tidak dapat melindungi orang lain yang tidak diimunisasi. Karena bakteri tetanus terdapat banyak di lingkungan kita, maka tetanus hanya bisa dicegah dengan imunisasi. Bila program imunisasi tetanus distop, maka semua orang dari berbagai usia akan rentan menderita penyakit ini.

Sekitar 212.000 kasus mumps (gondongan) terjadi di AS pada tahun 1964. Setelah ditemukannya vaksin mumps pada tahun 1967 insidens penyakit ini menurun menjadi hanya 266 kasus pada tahun 2001. Namun pada tahun 2006 terjadi KLB di kalangan mahasiswa, sebagian besar di antara mereka menerima 2 kali vaksinasi. Terjadi lebih dari 5500 kasus pada 15 negara bagian. Mumps merupakan penyakit yang sangat menular dan hanya butuh beberapa orang saja yang tidak diimunisasi untuk memulai transmisi penyakit sebelum menyebar luas.

Sebelum vaksin pneumokokus ditemukan, pneumokokus menyebabkan 63.000 kasus invassive pneumococcal disease (IPD) dengan 6100 kematian di AS setiap tahun. Banyak anak yang menderita gejala sisa berupa ketulian dan kejang-kejang.

Dari data di atas para ahli menyimpulkan bahwa imunisasi adalah salah satu di antara program kesehatan masyarakat yang paling sukses dan cost-effective. Program imunisasi telah menyebabkan eradikasi penyakit cacar (variola, smallpox), eliminasi campak dan poliomielitis di berbagai belahan dunia. Dan penurunan signifikan pada morbiditas dan mortalitas akibat penyakit difteri, tetanus, dan pertussis. Badan kesehatan dunia (WHO) pada tahun 2003 memperkirakan 2 juta kematian anak dapat dicegah dengan imunisasi. Katz (1999) bahkan menyatakan bahwa imunisasi adalah sumbangan ilmu pengetahuan yang terbaik yang pernah diberikan para ilmuwan di dunia ini.

Kesalahpahaman Tentang Imunisasi

Meskipun imunisasi telah terbukti banyak manfaatnya dalam mencegah wabah dan PD3I di berbagai belahan dunia, namun masih terdapat sebagian orang yang memiliki miskonsepsi terhadap imunisasi. Secara umum berikut ini adalah beberapa miskonsepsi yang sering terjadi di masyarakat:

Kesalahpahaman 1: Penyakit-penyakit tersebut (PD3I) sebenarnya sudah mulai menghilang sebelum vaksin ditemukan karena meningkatnya higiene dan sanitasi.

Pernyataan sejenis ini dan variasinya sangat banyak dijumpai pada literatur antivaksin. Namun bila melihat insidens aktual PD3I sebelum dan sesudah ditemukannya vaksin kita tidak lagi meragukan manfaat vaksinasi. Sebagai contoh kita lihat kasus meningitis HiB di Canada. Higiene dan sanitasi sudah dalam keadaan baik sejak tahun 1990, namun kejadian meningitis HiB sebelum program imunisasi dilaksanakan mencapai 2000 kasus per tahun dan setelah imunisasi rutin dijalankan menurun menjadi 52 kasus saja dan mayoritas terjadi pada bayi dan anak yang tidak diimunisasi.

Contoh lain adalah pada 3 negara maju (Inggris, Swedia, dan Jepang) yang menghentikan program imunisasi pertussis karena ketakutan terhadap efek samping vaksin pertussis. Di Inggris tahun 1974 cakupan imunisasi menurun drastis dan diikuti dengan terjadinya wabah pertussis pada tahun 1978, ada 100.000 kasus pertussis dengan 36 kematian. Di Jepang pada kurun waktu yang sama cakupan imunisasi pertussis menurun dari 70% menjadi 20-40% hal ini menyebabkan lonjakan kasus pertussis dari 393 kasus dengan 0 kematian menjadi 13.000 kasus dengan 41 kematian karena pertussis pada tahun 1979. Di Swedia pun sama, dari 700 kasus pada tahun 1981 meningkat menjadi 3200 kasus pada tahun 1985. Pengalaman tersebut jelas membuktikan bahwa tanpa imunisasi bukan saja penyakit tidak akan menghilang namun juga akan hadir kembali saat program imunisasi dihentikan.

Kesalahpahaman 2: Mayoritas anak yang terkena penyakit justru yang sudah diimunisasi.

Pernyataan ini juga sering dijumpai pada literatur antivaksin. Memang dalam suatu kejadian luar biasa (KLB) jumlah anak yang sakit dan pernah diimunisasi lebih banyak daripada anak yang sakit dan belum diimunisasi.

Penjelasan masalah tersebut sebagai berikut: pertama tidak ada vaksin yang 100% efektif. Efektivitas sebagian besar vaksin pada anak adalah sebesar 85-95%, tergantung respons individu.

Kedua: proporsi anak yang diimunisasi lebih banyak daripada anak yang tidak diimunisasi di negara yang menjalankan program imunisasi. Bagaimana kedua faktor tersebut berinteraksi diilustrasikan dalam contoh berikut. Suatu sekolah mempunyai 1000 murid. Semua murid pernah diimunisasi campak 2 kali kecuali 25 yang tidak pernah sama sekali. Ketika semua murid terpapar campak, 25 murid yang belum diimunisasi semuanya menderita campak. Dari kelompok yang telah diimunisasi campak 2 kali, sakit 50 orang. Jumlah seluruh yang sakit 75 orang dan yang tidak sakit 925 orang. Kelompok antiimunisasi akan mengatakan bahwa persentase murid yang sakit adalah 67 % (50/75) dari kelompok yang pernah imunisasi, dan 33% (25/75) dari kelompok yang tidak diimunisasi. Padahal bila dihitung dari efek proteksi, maka imunisasi memberikan efek proteksi sebesar (975-25)/975 = 94.8%. Yang tidak diimunisasi efek proteksi sebesar 0/25= 0%. Dengan kata lain, 100% murid yang tidak mendapat imunisasi akan sakit campak; dibanding hanya 5,2% dari kelompok yang diimunisasi yang terkena campak. Jelas bahwa imunisasi berguna untuk melindungi anak.

Kesalahpahaman 3: Vaksin menimbulkan efek samping yang berbahaya, kesakitan, dan bahkan kematian.

Vaksin merupakan produk yang sangat aman. Hampir semua efek simpang vaksin bersifat ringan dan sementara, seperti nyeri pada bekas suntikan atau demam ringan. Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) secara definitif mencakup semua kejadian sakit pasca imunisasi. Prevalensi dan jenis sakit yang tercantum dalam KIPI hampir sama dengan prevalensi dan jenis sakit dalam keadaan sehari-hari tanpa adanya program imunisasi. Hanya sebagian kecil yang memang berkaitan dengan vaksin atau imunisasinya, sebagian besar bersifat koinsidens. Kematian yang disebabkan oleh vaksin sangat sedikit. Sebagai ilustrasi semua kematian yang dilaporkan di Amerika sebagai KIPI pada tahun 1990-1992, hanya 1 yang mungkin berhubungan dengan vaksin. Institut of Medicine (IOM) tahun 1994 menyatakan bahwa resiko kematian akibat vaksin adalah amat rendah (extra-ordinarily low).

Besarnya resiko harus dibandingkan dengan besarnya manfaat vaksin. Bila satu efek simpang berat terjadi dalam sejuta dosis vaksin namun tidak ada manfaat vaksin, maka vaksin tersebut tidak berguna. Manfaat imunisasi akan lebih jelas bila resiko penyakit dibandingkan dengan resiko vaksin.

Contoh vaksin MMR (melindungi campak, mumps (gondongan) dan rubella (campak jerman)
Pneumonia campak: resiko kematian 1:3000, resiko vaksin MMR alergi berat 1:1000.000
Ensefalitis mumps: 1 : 300 pasien mumps. Resiko vaksin MMR ensefalitis 1:1000.000
Sindrom rubella kongenital : 1 : 4 bayi dari ibu hamil kena rubella

Contoh vaksin DPaT (melindungi difteri, pertussis, dan tetanus)
Difteri: Resiko kematian 1 : 20. Resiko vaksin DPaT menangis lama sementara 1 : 100
Tetanus: Resiko kematian 1 : 30. Resiko vaksin DPaT kejang sembuh sempurna 1 : 1750
Pertussis: Resiko ensefalitis pertussis 1 : 20. Resiko vaksin DPaT ensefalitis 1 : 1000.000

Kesalahpahaman 4: Penyakit penyakit tersebut (PD3I) telah tidak ada di negara kita sehingga anak tidak perlu diimunisasi

Angka kejadian beberapa penyakit yang termasuk PD3I memang telah menurun drastis. Namun kejadian penyakit tersebut masih cukup tinggi di negara lain. Siapa pun termasuk wisatawan dapat membawa penyakit tersebut secara tidak sengaja dan dapat menimbulkan wabah. Hal tersebut serupa dengan KLB polio di Indonesia pada tahun 2005 lalu. Sejak tahun 1995 tidak ada kasus polio yang disebabkan oleh virus polio liar. Pada bulan April 2005, Laboratorium Bioofarma di Bandung mengkonfirmasi adanya virus polio liar tipe 1 pada anak berusia 18 bulan yang menderita lumpuh layuh akut pada bulan Maret 2005. Anak tersebut tidak pernah diimunisasi sebelumnya. Virus polio itu selanjutnya menyebabkan wabah merebak ke 10 propinsi, 48 kabupaten. Sampai bulan April 2006 tercatat 349 kasus polio, termasuk 46 kasus VDVP (vaccine derived polio virus) di Madura. Dari analisis genetik virus diketahui bahwa virus berasal dari Afrika barat.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa virus sampai ke Indonesia melalui Nigeria dan Sudan sama seperti virus yang diisolasi di Arab Saudi dan Yaman. Dari pengalaman tersebut terbukti bahwa anak tetap harus mendapat imunisasi karena dua alasan. Alasan pertama adalah anak harus dilindungi. Meskipun resiko terkena penyakit adalah kecil, bila penyakit masih ada, anak yang tidak terproteksi tetap berpeluang terinfeksi. Alasan kedua imunisasi anak penting untuk melindungi anak lain di sekitarnya. Terdapat sejumlah anak yang tak dapat diimunisasi (misalnya karena alergi berat terhadap komponen vaksin) dan sebagian kecil anak yang tidak memberi respons terhadap imunisasi. Anak-anak tersebut rentan terhadap penyakit dan perlindungan yang diharapkan adalah dari orang-orang di sekitarnya yang tidak sakit dan tidak menularkan penyakit kepadanya.

Kesalahpahaman 5: Pemberian vaksin kombinasi (multipel) meningkatkan resiko efek simpang yang berbahaya dan dapat membebani sistem imun

Anak-anak terpapar pada banyak antigen setiap hari. Makanan dapat membawa bakteri yang baru ke dalam tubuh. Sistem imun juga akan terpapar oleh sejumlah bakteri hidup di mulut dan hidung. Infeksi saluran pernapasan bagian atas akan menambah paparan 4-10 antigen, sedangkan infeksi streptokokus pada tenggorokan memberi paparan 25-50 antigen. Tahun 1994 IOM menyatakan bahwa dalam keadaan normal penambahan jumlah antigen dalam vaksin tidak mungkin akan memberikan beban tambahan pada sistem imun dan tidak bersifat imunosupresif. Data penelitian menunjukkan bahwa imunisasi simultan dengan vaksin multipel tidak membebani sistem imun anak normal. Pada tahun 1999 Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP), American Academy of Pediatrics (AAP), dan American Academy of Family Physicians (AAFP) merekomendasi pemberian vaksin kombinasi untuk imunisasi anak. Keuntungan vaksin kombinasi adalah mengurangi jumlah suntikan, mengurangi biaya penyimpanan dan pemberian vaksin, mengurangi jumlah kunjungan ke dokter, dan memfasilitasi penambahan vaksin baru ke dalam program imunisasi.

Kesalahpahaman: Vaksin MMR menyebabkan autisme

Beberapa orangtua anak dengan autisme percaya bahwa terdapat hubungan sebab akibat antara vaksin MMR dengan autisme. Gejala khas autisme biasanya diamati oleh orangtua saat anak mulai tampak gejala keterlambatan bicara setelah usia lewat satu tahun. Vaksin MMR diberikan pada usia 15 bulan (di luar negeri 12 bulan). Pada usia sekitar inilah biasanya gejala autisme menjadi lebih nyata. Meski pun ada juga kejadian autisme mengikuti imunisasi MMR pada beberapa kasus. Akan tetapi penjelasan yang paling logis dari kasus ini adalah koinsidens. Kejadian yang bersamaan waktu terjadinya namun tidak terdapat hubungan sebab akibat.

Kejadian autisme meningkat sejak 1979 yang disebabkan karena meningkatnya kepedulian dan kemampuan kita mendiagnosis penyakit ini, namun tidak ada lonjakan secara tidak proporsional sejak dikenalkannya vaksin MMR pada tahun 1988. Pada tahun 2000 AAP membuat pernyataan : “Meski kemungkinan hubungan antara vaksin MMR dengan autisme mendapat perhatian luas dari masyarakat dan secara politis, serta banyak yang meyakini adanya hubungan tersebut berdasarkan pengalaman pribadinya, namun bukti-bukti ilmiah yang ada tidak menyokong hipotesis bahwa vaksin MMR menyebabkan autisme dan kelainan yang berhubungan dengannya.

Pemberian vaksin measles, mumps, dan rubella secara terpisah pada anak terbukti tidak lebih baik daripada pemberian gabungan menjadi vaksin MMR, bahkan akan menyebabkan keterlambatan atau luput tidak terimunisasi. Dokter anak mesti bekerja sama dengan para orangtua untuk memastikan bahwa anak mereka terlindungi saat usianya mencapai 2 tahun dari PD3I. Upaya ilmiah mesti terus dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti dari autisme. Lembaga lain yaitu CDC dan NIH juga membuat pernyataan yang mendukung AAP. Pada tahun 2004 IOM menganalisis semua penelitian yang melaporkan adanya hubungan antara vaksin MMR dengan autisme. Hasilnya adalah tidak satu pun penelitian itu yang tidak cacat secara metodologis. Kesimpulan IOM saat itu adalah tidak terbukti ada hubungan antara vaksin MMR dengan autisme.

Penutup

Setelah mengkaji berbagai literatur sebagaimana disebutkan di atas, maka secara berangsur kegalauan saya menghilang. Saya semakin yakin akan kebenaran teori ilmiah berbasis bukti yang sudah ditemukan para ahli. Bahkan beberapa waktu lalu ada sejawat saya Dr Julian Sunan, seorang dokter yang masih muda dan amat ganteng (menurut pengakuannya sendiri) telah menelaah bahwa ternyata tokoh-tokoh antivaksin yang sering dikutip kelompok antivaksin di Indonesia ternyata banyak yang fiktif. Mereka melakukan pemelintiran data dan pemutarbalikan fakta. Tak heran kalau yang sangat aman dianggap sangat berbahaya dan penyakit sangat berbahaya nan mematikan dianggap tidak apa apa dan mungkin malah diajak bersahabat karib oleh kelompok antiimunisasi.

Terima kasih.

Bahan bacaan

Ranuh IGNG, Suyitno H, Hadinegoro SRS, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko. Buku Pedoman Imunisasi di Indonesia, edisi ke-4. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta 2011.

Center for Disease Control http://www.cdc.gov

Gangarosa EJ, et al. Impact of anti-vaccine movements on pertussis control: the untold story. Lancet 1998;351:356-61.

Am. Acad. Ped. When Parents Refuse to Immunize Their Children. PEDIATRICS Vol. 115 No. 5 May 2005, pp. 1428-1431 (doi:10.1542/peds.2005-0316)

Diekema DS and the Committee on Bioethics. Responding to Parental Refusals of Immunization of Children. Pediatrics 2005;115:1428–1431

World Health Oranization: http://www.who.int/immunization_safety/aefi/immunization_misconceptions

http://www.quackwatch.com

Halsey NA and others. Measles-mumps-rubella vaccine and autistic spectrum disorder: Report from the New Challenges in Childhood Immunizations Conference Convened in Oak Brook, Illinois, June 12-13, 2000. Pediatrics 107(5):E84, 2001.

National Network for Immunization Information http://www.immunizationinfo.org/

The Red Book http://aapredbook.aappublications.org/

http://juliansunan.blogspot.com/ Bahaya imunisasi, telaah tahap 1 dan tahap 2

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (87 votes, average: 8,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
  • rusdisrg88

    Adik saya alhamdulillah tidak di imunisasi masih sehat kq.. waktu dia masih umur2 2 bulan dia d bawa naik motor ada 100 Km tapi g pernah sakit.. 

    • saya kadang pun masih bingung dengan telaah yang ada saya sendiri sudah melihat kenyataan di lapangan, dan hasil dari tulisan kawan2 dokter… terkadang saya terkaget dengan jumlap penyakit yang disebabkan sistem imun meningkat luas di negara ini… tapi keluarga saya sendiri tidak melakukannya karena tinjauan haram bahan atau produk imunisasi… boleh jelaskan literatur terkait produk, yang ada di atas kan masalah penurunan angka kesakitan kan… 

  • Wallahualam pak…saya masih kurang yakin, dan yang menolak pun pasti ada alasan yang kuat, dan saya pun pernah dapat info itu dari seorang dokter sendiri bhw ketiga anaknya tidak ada yang diimunisasi..kemudian sebutan kelompok “anti imunisasi” saya rasa terlalu over reac karena keputusan untuk tidak atau mengimunisasi anak adalah keputusan orang tua anak itu sendiri

  • Harus lebih banyak tulisan tulisan dari para dokter muslim yang terpercaya , karena mereka yang mengharamkan vaksin sudah menyebarkan kerancuan dan kegalauan dimana mana tanpa berlandaskan bukti bukti ilmiah.

    Yang semakin mengagetkan adalah mereka mengutip dalil dalil qur’an dan hadits secara serampangan untuk memperkuat pendapatnya.

    • ummu salamah al hajjam

      TESTIMONI IBU CORY, PERBANDINGAN 3 ANAKNYA YANG DI VAKSIN DAN YANG TIDAK.
      Penulis ibu Mutia C
      sumber : Ummu Salamah Al-Hajjam pada 18 Juli 2010 jam 1:02

      terimakasih ummu atas undangan yg tlah diberikan kepada saya untuk menceritakan pengalaman saya kepada ibu ida..

      padahal menurut saya penjelasan dari bpk untung prayogo sdh jelas dan detail berikut solusinya. demikian pun dg saya mengalami hal serupa yg dialami oleh bp untung..hanya saya dapat membandingkan sendiri antara anak pertama, kedua dan ketiga.

      anak 1 Lk2(lahir caesar-ASI Selama 4 bln) vaksinasi selama 6 bln..pd bln ke 9 general check up krn berat badan tidak bertambah, batuk tiap hari dan kurang aktif ternyata divonis dokter mengalami flek paru2 dan telah diberi resep dokter terapi obat selama 6 bln…tp saya tidak menebusnya krn saya melihat sendiri anak yg menggunakan terapi tsb tidak banyak perubahan akan kesembuhannya..kemudian saya konsultasi dg salah satu guru herbal saya waktu itu..ternyata beliaupun telah mengetahui bahaya vaksinasi/imunisasi pd bayi…sdg saya waktu itu masih dlm keadaan ragu. beliau memberi resep kepada saya terapi herbal madu, pegagan dan omega 3. dlm waktu 2 bln saja anak saya kembali lebih aktif, tidak batuk lagi, dan berat badan bertambah …sejak itu kakak tidak pernah imunisasi lagi dan daya tahan tubuhnya semakin kuat dg obat2an herbal.meskipun masih sering terkena masalah pencernaan.

      anak ke 2,Lk2 (lahir normal-ASI selama 1 th lebih) krn masih dlm keadaan ragu dan blm yakin sepenuhnya sementara orangtua terus mewanti2 agar anak sy diimunisasi..alhasil nanda di vaksin selama 4 bln..pada waktu bayinya sering mengalami masalah pencernaan..pernah diare selama 3 hari berturut turut hingga badan lemas dan BAB hampir tiap 15 menit keluar…tapi alhamdulillah krn ada sedikit ilmu ttg herba saya cukup memberinya dg ramuan kunyit tanpa kedokter berangsur2 nanda sembuh..bicara dan jalan agak lambat…bicara lancar menjelang usia 3 th..belajar jalan umur 14 bln..

      anak ke 3, Lk2(lahir normal-ASI hingga sekarang) saat ini usia 1 th lebih 1 bln tanpa imunisasi dari awal saya hamil hingga kelahirannya…tiap 1 bln Berat Badan naik hmpr 1 kg..hingga terakhir ditimbang BB 10,5 Kg. sudah jalan lancar, berbicara 1-5 kosakata..yang terpenting adalah alhamdulillah tidak pernah mengalami masalah pencernaan dan BAB nya tidak berbau menyengat spt kakak2nya meskipun tlah diberi makanan tambahan..

      alhmdulillah, sejak mengenal herbal saya sekeluarga sudah tidak pernah menggunakan obat2an kimia sintesis apalg obat2an warung..krn terbukti lebih cepat dirasakan manfaatnya dan tanpa efek samping tentunya..halal dan thoyib..serta menjaga pola makan yang sehat, Sarapan dg bhn mkanan berProtein (bukan berbahan Karbon spt nasi,mie,roti) , No MSG, dan free obat2an kimia…BACK TO NATURE..

      buat saya prinsip dalam kesehatan tubuh adalah ketika seluruh tubuh kita yg alami diciptakan oleh Alloh Tuhan YMKuasa..semuanya hidup berzikir kpd Nya maka zat2 yg seharusnya masuk kedalam tubuh kitapun yg alami, hidup dan baik untuk tubuh..bukan zat2 yg berbahaya, sintetis dan merusak tubuh kita..meskipun sedikit tapi jika zat2 itu masuk kedalam tubuh kita setiap hari maka akan terjadi penimbunan racun yg akan mengakibatkan berbagai penyakit di keesokan harinya…

      jika swami ibu ida masih ragu ttg bahaya imunisasi dan masih menganggap penting imunisasi sebaiknya ibu berdiskusi dan meyakinkan swami ttg zat2 yg terkandung di dalam vaksin itu…adalah zat2 yg berbahaya dan merusak tubuh jg Haram!!. maka jika kita sebagai orangtua yg sudah tau ttg hal tsb dan tetap mengimunisasi anak kita lalu apakah hukumnya?? sementara anak kita dlm keadaan sehat walafiat.

      Subhanallah, alhamdulillah dan Astaghfirullah..setelah membaca buku Ummu Salamah sayapun bergidik, keluar keringat dingin dan penyesalan terdalam kepada kedua buah hati yg telah saya imunisasi krn saya tidak cepat tanggap thd isu2 yg beredar wktu itu…

      demikian share pengalaman sya..semoga ibu mjd salah satu orangtua yg selalu memberikan yg Terbaik untuk buah hatinya…terimakasih dan salam.

      • Muhammad Satria

        terimakasih atas pengalamannya mas,

  • Jadi mAKin bingung… sebenarnya yang betul yang mana ?? 

    • ummu salamah al hajjam

      Silahkan baca buku Vaksinasi Dampak Konspirasim dan solusi sehat ala Rasulullah. bisa pesan ke 081398665033.

  • saya dulu pernah berprofesi sbg medical representatif. saya tanyakan lgsg dgn doktr2 senior…dok maaf apakah putra/inya jg divaksin dulunya? jawabnya ada yg iya banyak jg yg enggak, dan ada jg yg bilang , ga divaksin jg ga masalah,.nah ini yg semakin membuat saya bingung. mana yg benar?

    • ummu salamah al hajjam

      memang harus ber pegang kepada Allah dan Rasulnya. Silahkan baca buku Vaksinasi Dampak Konspirasim dan solusi sehat ala Rasulullah. bisa pesan ke 081398665033.

  • bisa saja kebalikannya, seruan untuk tidak ikut imunisasi itulah yang merusak generasi islam.. karena banyak anak2 yg tidak di imunisasi dan akan berkembang biaklah penyakit dikalangan umat islam..

  • saya dari kecil tidak d imunisasi  Alhamdulillah  sehat-sehat aja,,,,tuh

  • ari setiawan

    Bismillah….

    Kalau boleh tahu :

    1. Halalkah bahan-bahan yang ada dalam pembuatan vaksin?

    • Kalau kita bukan ulama, maka halal-haram kita ikuti ulama dan majelis ulama.
      Pendapat Syaikh Yusuf Qaradhawy dikutip disini:
      http://infad.usim.edu.my/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=10313

      Pendapat ulama salafy dikompilasi disini:
      http://muslimafiyah.com/fatwa-fatwa-ulama-keterangan-para-ustadz-dan-ahli-medis-di-indonesia-tentang-bolehnya-imunisasi-vaksinasi.html 

      • ummu salamah al hajjam

        Manusia itu punya Akal, dan Allah menurunkan Alquran untuk pelajaran dan tauladan bagi manusia. Jadi yang namanya manusia ketika membaca Al Quran itu sendiri sudah di beri kemampuan oleh Allah untuk mengerti.

        Tetang Rumus kesehatan untuk manusia, Allah sudah berikan yaitu Halalan Toyiban. Jadi kalau sudah ada Rumus dari Allah, maka pakailah… karena ALlah yang menciptakan manusia. Manusia bukan di ciptakan oleh manusia yang membuat vaksin. Kenapa percaya sama rumus manusia yang membuat rumus tandingan dari rumus Allah…??

        Ingatlah ada mahluk Allah yang sangat membenci dan iri pada manusia, yang berkomitmen membawa manusia sebanyaknya ke neraka, yaitu SETAN.

    • atwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah
      Mufti Besar Kerajaan Arab Saudi ketua Lajnah Daimah dan Mantan Rektor Universitas Islam Madinah

      Ketika beliau ditanya ditanya tentang hal ini,

      ما هو الحكم في التداوي قبل وقوع الداء كالتطعيم؟

      “Apakah hukum berobat dengan imunisasi sebelum tertimpa musibah?”

      Beliau menjawab,

      لا بأس بالتداوي إذا خشي وقوع الداء لوجود وباء أو أسباب أخرى
      يخشى من وقوع الداء بسببها فلا بأس بتعاطي الدواء لدفع  لبلاء الذي يخشى
      منه لقول النبي صلى الله عليه وسلم في الحديث الصحيح: «من تصبح بسبع تمرات
      من تمر المدينة لم يضره سحر ولا سم (1) » وهذا من باب دفع البلاء قبل وقوعه
      فهكذا إذا خشي من مرض وطعم ضد الوباء الواقع في البلد أو في أي  كان لا
      بأس بذلك من باب الدفاع، كما يعالج المرض النازل، يعالج بالدواء المرض الذي
      يخشى منه.

      “La ba’sa (tidak masalah)
      berobat dengan cara seperti itu jika dikhawatirkan tertimpa penyakit
      karena adanya wabah atau sebab-sebab lainnya. Dan tidak masalah
      menggunakan obat untuk menolak atau menghindari wabah yang
      dikhawatirkan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih (yang artinya),“Barangsiapa makan tujuh butir kurma Madinah pada pagi hari, ia tidak akan terkena pengaruh buruk sihir atau racun”

      Ini termasuk tindakan menghindari penyakit sebelum terjadi. Demikian
      juga jika dikhawatirkan timbulnya suatu penyakit dan dilakukan
      immunisasi untuk melawan penyakit yang muncul di suatu tempat atau di
      mana saja, maka hal itu tidak masalah, karena hal itu termasuk tindakan
      pencegahan. Sebagaimana penyakit yang datang diobati, demikian juga
      penyakit yang dikhawatirkan kemunculannya.

      [sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/238%5D
       

      • mungkin shaikh bin baz berasumsi bahwa bahan vaksinasi sudah dijamin halal makanya jawabannya membolehkan. kalau pertanyaannya menekankan bahwa kehalalannya ga jelas bisa jadi akan jauh berbeda jawabannya

        • kiki

          mungkin???

    •  Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah
      Mufti Besar Kerajaan Arab Saudi ketua Lajnah Daimah dan Mantan Rektor Universitas Islam Madinah

      Ketika beliau ditanya ditanya tentang hal ini,

      ما هو الحكم في التداوي قبل وقوع الداء كالتطعيم؟

      “Apakah hukum berobat dengan imunisasi sebelum tertimpa musibah?”

      Beliau menjawab,

      لا بأس بالتداوي إذا خشي وقوع الداء لوجود وباء أو أسباب أخرى
      يخشى من وقوع الداء بسببها فلا بأس بتعاطي الدواء لدفع  لبلاء الذي يخشى
      منه لقول النبي صلى الله عليه وسلم في الحديث الصحيح: «من تصبح بسبع تمرات
      من تمر المدينة لم يضره سحر ولا سم (1) » وهذا من باب دفع البلاء قبل وقوعه
      فهكذا إذا خشي من مرض وطعم ضد الوباء الواقع في البلد أو في أي  كان لا
      بأس بذلك من باب الدفاع، كما يعالج المرض النازل، يعالج بالدواء المرض الذي
      يخشى منه.

      “La ba’sa (tidak masalah)
      berobat dengan cara seperti itu jika dikhawatirkan tertimpa penyakit
      karena adanya wabah atau sebab-sebab lainnya. Dan tidak masalah
      menggunakan obat untuk menolak atau menghindari wabah yang
      dikhawatirkan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih (yang artinya),“Barangsiapa makan tujuh butir kurma Madinah pada pagi hari, ia tidak akan terkena pengaruh buruk sihir atau racun”

      Ini termasuk tindakan menghindari penyakit sebelum terjadi. Demikian
      juga jika dikhawatirkan timbulnya suatu penyakit dan dilakukan
      immunisasi untuk melawan penyakit yang muncul di suatu tempat atau di
      mana saja, maka hal itu tidak masalah, karena hal itu termasuk tindakan
      pencegahan. Sebagaimana penyakit yang datang diobati, demikian juga
      penyakit yang dikhawatirkan kemunculannya.

      • Sheikh Yusuf Al-Qaradawi states the following:

        In fact, I was completely astonished at knowing the attitude of our
        fellow scholars of Kano towards polio vaccine. I disapprove of their
        opinion, for the lawfulness of such vaccine in the point of view of
        Islam is as clear as sun light. I may understand their motives and good
        will behind this attitude, and I beseech Almighty Allah to reward them
        for their good will and to forgive them what they erred in that regard.

        I, together with some trustworthy scholars in the Islamic Fiqh Council
        held in Muscat lately, have stated and asserted the importance of the
        following:

        First, it is a duty upon every Muslim to ward off harm as much as he
        can. He must not do something that may cause him harm or lead to his
        death. One’s self is a trust from Almighty Allah in one’s hand, and thus
        it is not lawful for one to cause it harm. Allah Almighty says: (And
        spend of your substance in the cause of Allah, and make not your own
        hands contribute to (your) destruction; but do good; for Allah loveth
        those who do good) (Al-Baqarah 2:195).

        He Almighty also says: (O ye who believe! Eat not up your property among
        yourselves in vanities: But let there be amongst you traffic and trade
        by mutual good-will: Nor kill (or destroy) yourselves: for verily Allah
        hath been to you Most Merciful!) (An-Nisaa’ 4:29).

        It was also reported that `Amr Ibn Al-`Aas (may Allah be pleased with
        him) performed dry ablution and led his companions in Prayer in one of
        the battles, though he had been in a state of major impurity and should
        have taken a bath for that. His companions criticized him for this and
        told the Prophet (peace and blessings be upon him) about it. `Amr
        justified his doing so to the Prophet (peace and blessings be upon him)
        saying: “O Allah’s Messenger! It was a very cold night and I remembered
        Allah’s words: (…Nor kill (or destroy) yourselves: for verily Allah hath
        been to you Most Merciful!) (An-Nisaa’ 4:29). Hearing that, the Prophet
        (peace and blessings be upon him) smiled and did not say a thing, which
        means he (peace and blessings be upon him) did approve of what `Amr
        did.

        There is a juristic ruling that says: Harm is to be warded off as much
        as possible. This ruling is derived from the Prophetic hadith: “There
        should be neither harm nor reciprocating harm” (Ibn Majah, Ad-Darqutni,
        and Al-Hakim).

        There is another relative juristic ruling in that regard: Warding off harm is to be prior to bringing about benefit.

        Second, parents are responsible for providing their children as much as
        they can with all means of protection and immunity against harm and
        diseases in order to save them long-life suffering.

        There is no doubt that children inflicted with poliovirus suffer a great
        deal and need special care, let alone the psychological and social
        effects they suffer from.

        If there is a certain vaccine that can prevent such a disease
        altogether, parents are to seek to give it to their children to prevent
        them from being inflicted with it. If parents neglected their duty in
        that regard, they would incur upon themselves the sin of causing their
        children long-life ill health. Parents who do so would enter the
        category about whom the Prophet (peace and blessings be upon him) said:
        “It is a sufficient sin for one to neglect (those) whom he is
        responsible for” (Imam Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim, Al-Baihaqi on the
        authority of Abdullah Ibn `Amr).

        The Prophet (peace and blessings be upon him) is also reported to have
        said: “[On the Day of Judgment] Allah Almighty will ask everyone in
        position of responsibility about those under his responsibility: Has he
        fulfilled his duties towards them or neglected these duties?” (Ibn Hiban
        on the authority of Anas).

        Third, people in authority in every country are to enact laws and take
        actions, by means of which the health of people in general, and children
        in particular, is to be protected against diseases. This does not only
        include providing treatments for diseases, but also affording means of
        prevention against them. People would say that a tiny amount of
        prevention is better than a great deal of treatment.

        Besides, it was reported in an agreed-upon hadith on the authority of
        Ibn `Umar (may Allah be pleased with him) that the Prophet (peace and
        blessings be upon him) said: “All of you are guardians and responsible
        for your wards and the things under your care. The imam (ruler) is the
        guardian of his subjects and is responsible for them, and a man is the
        guardian of his family and is responsible for them. A woman is the
        guardian of her husband’s house and is responsible for it. A servant is
        the guardian of his master’s belongings and is responsible for them.”

        During his caliphate, `Umar ibn Al-Khattab (may Allah be pleased with
        him) would say, “I am afraid I may be brought to account before Almighty
        Allah on the Day of Judgment for a goat that stumbled on the bank of
        the Euphrates: Why did I not pave the way so that it might not have
        stumbled?”

        If such is the point of view of Islam regarding preventing evil and harm
        that may afflict even an animal, how would it be the case with
        preventing diseases that may cause children great suffering?

        If people in authority order that a certain vaccine be given to children
        all over the country, people are to abide by this, for it is a duty
        upon them to obey rulers so long as this is done in the framework of
        following what is right.

        Fourth, things are primarily in a state of purity. Almighty Allah says:
        (It is He Who hath created for you all things that are on earth)
        (Al-Baqarah 2:29) and (Do ye not see that Allah has subjected to your
        (use) all things in the heavens and on earth, and has made his bounties
        flow to you in exceeding measure, (both) seen and unseen?) (Luqman
        31:20).

        These verses indicate by implication that all things created by Allah
        Almighty are pure (except the few things that Almighty Allah has
        referred to elsewhere as impure.

        Hence, we are not to refer to something as impure unless there is clear
        evidence of this. Likewise, we are not to give a ruling to the effect
        that something is unlawful unless there is a certain proof in that
        regard.

        As for the polio vaccine, there is no sign that it includes impure
        elements or causes infertility, and hence, it could not be described as
        unlawful to use.

        Besides, we are to consult expert specialists in the field of medicine
        regarding whether this vaccine has side effects or includes impure
        elements. Experts are the ones who know for sure what is under the
        domain of their specialization. Allah Almighty says: (None can inform
        you like Him Who is Aware) (Fatir 35:14)

        Experts in the field in question, i.e., the polio vaccine, are the World
        Health Organization (WHO). We asked its branch in Egypt, whose staff is
        trustworthy and knowledgeable. They said that the polio vaccine is not
        harmful in any way, nor does it include impure elements or cause
        infertility. On the contrary, it is proved by experiment—thank Almighty
        Allah—to be highly effective in protecting against polio.

        Fifth, polio vaccine has been used for a long all over the world,
        including more than fifty Muslim countries, and has proved to be highly
        effective in eradicating the disease. No outstanding scholar, whether
        from Al-Azhar University, Al-Qarawyeen University, or in the Sacred
        Shrines, has been reported to have objected to the use of such vaccine.

        Would the harm of the polio vaccine be hidden from all the eminent
        Muslim scholars all over the world and discovered only by our fellow
        scholars of Kano?

        May Allah forgive those scholars of Kano and reform them. In fact, if
        they insist on their attitude regarding polio vaccine, they will incur
        upon themselves the sin of exposing the Muslim children to great harm
        and suffering, and hinder the effective world-wide campaign to eradicate
        the disease.

        Furthermore, by adopting such an attitude, they distort the image of
        Islam and make it appear as if it contradicts science and medical
        progress. Islam is completely innocent of such distorted images. On the
        contrary, it calls for adopting healthy methods and seeking medical
        treatment when needed. In fact, the field of medicine has received great
        care in Islamic civilization.

        Hence, we call upon our fellow scholars in Kano to review their attitude
        and recant the fatwa they have given without consulting specialists or
        even mediating sufficiently. Right is worthy to be followed after all.
        There is no wrong at all if one gives up an opinion that has proved to
        be wrong. In this regard, it was reported that `Umar ibn Al-Khattab (may
        Allah be pleased with him) said to Abu Musa (may Allah be pleased with
        him), “Do not hesitate to review (and give up) a judgment you gave
        yesterday (when it appears to you it was wrong), for right is
        everlasting, and it is better for you to return to right than to persist
        in wrong.”

        Should the scholars of Kano refuse to follow the advice of their fellow
        scholars in the Muslim ummah—which I doubt they would—I would turn to
        the people of Kano themselves and call upon them to vaccinate their
        children against polio according to the fatwa of the majority of Muslim
        scholars in that regard.

        If you have any further questions, please don’t hesitate to write back!

        May Allah guide you to the straight path, and guide you to that which pleases Him, Amen.

        Country Of Origin : Nigeria

        Fatawa Issuing Body : Islam Online
        Author/Scholar : Yusuf Al-Qaradawi
        Date Of Issue : 01/Jan/2006 

        • percuma sampeyan copas tulisan diatas, sampaikan saja apa yang sampeyan pahami …

      • Maaf mas bro, hadits yang sampeyan sampaikan itu Rasulullah mencontohkan dengan menggunakan zat sudah jelas halal, sementara vaksin yang sampeyan paparkan diatas sebagian jelas menggunakan unsur babi dan sebagian yang lain belum jelas.
        Jadi hadits itu tak bisa dijadikan dalil untuk menggunakan vaksin yang sudah jelas berbahan babi apalagi yang belum jelas, jauuuuuuuuuuuuuuuuh sekali …

  • Kalau kita bukan pakar kesehatan, maka masalah manfaat & mudharat
    kita ikuti pakar kesehatan dari institusi kesehatan atau perhimpunan
    pakar kesehatan yang mampu mengkaji secara ilmiah. Tulisan ini cukup
    menjelaskan. Penulisnya pengajar FKUI, pengurus ikatan profesi dokter
    anak (IDAI).

    Kalau kita bukan ulama, maka masalah halal haram kita ikuti ulama dan
    majelis ulama. Sampai saat ini sudah ada fatwa halal untuk vaksin, dan
    belum ada fatwa haram dari ulama atau majelis ulama.

    Pendapat ulama salafi dikompilasi disini :

    http://muslimafiyah.com/fatwa-fatwa-ulama-keterangan-para-ustadz-dan-ahli-medis-di-indonesia-tentang-bolehnya-imunisasi-vaksinasi.html

    Pendapat Syaikh Yusuf Qardhawi dikutip disini:

    http://infad.usim.edu.my/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=10313

  • Kalau kita bukan pakar kesehatan, maka masalah manfaat & mudharat
    kita ikuti pakar kesehatan dari institusi kesehatan atau perhimpunan
    pakar kesehatan yang mampu mengkaji secara ilmiah. Tulisan ini cukup
    menjelaskan. Penulisnya pengajar FKUI, pengurus ikatan profesi dokter
    anak (IDAI).

    Kalau kita bukan ulama, maka masalah halal haram kita ikuti ulama dan
    majelis ulama. Sampai saat ini sudah ada fatwa halal untuk vaksin, dan
    belum ada fatwa haram dari ulama atau majelis ulama.

    Pendapat ulama salafi dikompilasi disini :

    http://muslimafiyah.com/fatwa-fatwa-ulama-keterangan-para-ustadz-dan-ahli-medis-di-indonesia-tentang-bolehnya-imunisasi-vaksinasi.html

    Pendapat Syaikh Yusuf Qardhawi dikutip disini:

    http://infad.usim.edu.my/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=10313

  • Kalau kita bukan pakar kesehatan, maka masalah manfaat & mudharat
    kita ikuti pakar kesehatan dari institusi kesehatan atau perhimpunan
    pakar kesehatan yang mampu mengkaji secara ilmiah. Tulisan ini cukup
    menjelaskan. Penulisnya pengajar FKUI, pengurus ikatan profesi dokter
    anak (IDAI).

    Kalau kita bukan ulama, maka masalah halal haram kita ikuti ulama dan
    majelis ulama. Sampai saat ini sudah ada fatwa halal untuk vaksin, dan
    belum ada fatwa haram dari ulama atau majelis ulama.

    Pendapat ulama salafi dikompilasi disini :

    http://muslimafiyah.com/fatwa-fatwa-ulama-keterangan-para-ustadz-dan-ahli-medis-di-indonesia-tentang-bolehnya-imunisasi-vaksinasi.html

    Pendapat Syaikh Yusuf Qardhawi dikutip disini:

    http://infad.usim.edu.my/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=10313

    • tulisan diatas sama sekali tidak membahas dan menjelaskan mengenai kehalalan dari vaksin

  • Ahmad Fathi

    jaman dulu mana aja sih vaksin, itu orang pada sehat2 aja ko

  • kembali kepada pengobatan thibbun nabawi adalah salah satu solusi menghindari imunisasi

  • egwin

    ada sebuah kelompok pro vaksin yang saya pantau, yang diasuh oleh (ternyata ) ikhwah, malah kerjaanya hanya mencela dan mencela, sedikit sekali tentang pembelajaran. sedangkan kelompok anti vaksin yang saya pantau jarang sekali mencela, lebih banyak pembelajarannya, bagaimana pengobatan herbal dan kesehatan yang diajari oleh Rasulullah SAW. “Silahkan para orang tua memilih, hidup sehat secara instan ( Vaksin ), atau cara hidup yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah ( walaupun tanpa vaksin InsyaAllah sehat ).”.. Sesungguhnya yang haram itu jelas dan yang halal itu jelas..

    • saya malah melihat kebalikannya. Yang antivaksin sampai melontarkan pernyataan yang meragukan keislaman yg provaksin. Sampai-sampai diujung diskusi terlontar “bagiku agamaku, bagimu agamamu”

    • kiki

      udh di baca satu2 blm mas komentar2nya smpe mnymplkan sprti itu?^_^

  • mohon ditulis sumber yg sudah meneliti bahwa dengan vaksin bisa mencegah campak…

    setahu saya di amerika sendiri blom ada penelitian yg membandingkan antara anak yg divaksin campak dan tidak untuk bisa terinfeksi

    tentang bahaya vaksin rasanya smua orang sudah tau, bahkan di amerika sendiri adalembaganya (http://www.hrsa.gov/vaccinecompensation/index.html)

    walaupun bahayanya hanya 1 persen, apakah parah orangtua mau berjudi dengan taruhan kesehatan anaknya walaupun 1 persen…??

  • kalau percaya (beriman)  sm Alloh dan rosulnya pasti percaya dg tuntunanNya, hidup sehat dg Thibbun Nabawy, bukankah Alloh suda menyediakan berbagai macam obat diantaranya madu, jintan hitam, zaitun dan banyak herbal lainnya..

    • jempol untuk @jamal ahmad

    •  Tapi Nabi Muhammad SAW. tak pernah mengajarkan operasi patah tulang, bedah jantung.

      Kenapa sikap ilmiah dan pengembangan ilmu kedokteran penting bagi umat Islam?

      1. Karena sikap ilmiah dalam ilmu pengetahuan adalah warisan Islam.
      Ilmuwan dan ulama Islam telah berperan penting dalam menemukan dasar
      ilmiah dalam mengembangkan ilmu kedokteran, di saat pengobatan barat di
      masa itu masih tidak rasional dan berdasar takhayul. Misalnya metode
      perumusan hipotesa dalam penelitian ilmiah diajukan oleh Ibnu Sina, dan
      masih digunakan sampai sekarang.

      2. Karena bersikap ilmiah adalah bagian dari ikhtiar. Allah SWT. yang
      menyembuhkan, dan manusia dituntut berikhtiar dengan mengupayakan
      terbaik. Ketika kita berhadapan dengan pilihan-pilihan terapi, maka kita
      perlu menentukan terapi mana yang paling efektif dan paling aman.
      Ketika sebuah terapi diklaim mampu menyembuhkan, maka sejauh mana
      kesembuhannya? Berapa yang sembuh dan berapa yang tidak sembuh? Jika
      dibandingkan dengan terapi yang lain, mana yang lebih baik
      kesembuhannya? Bagaimana dengan keamanan dan efek sampingnya?
      Pertanyaan-pertanyaan itu yang dicoba dijawab dengan
      penelitian-penelitian ilmiah.
      Umumnya pengobatan alternatif
      mengandalkan kesaksian beberapa orang yang mendapat manfaat dari terapi
      tersebut. Secara ilmiah, kesaksian beberapa orang tidak cukup kuat
      sebagai bukti manfaat. Logika sederhananya, kalau ada 1000 pasien yang
      diterapi, dan yang memberikan kesaksian sembuh 10 orang, maka angka
      kesembuhannya sangat rendah.

      3. Bagaimana mungkin kita tidak tergerak mengisolasi zat aktif dari
      berbagai obat herbal yang ada, dari jamu, ramuan, atau minyak-minyak itu
      ? Mengisolasinya, mengkarakterisasinya, mencari target molekulnya,
      mengukur hasil reaksinya, memodifikasi dan seterusnya sampai didapatkan
      satu compound yang sahih farmakokinetik dan farmakodinamiknya. Al Qur’an
      jelas menganjurkan penggunaan madu dalam pengobatan. Tapi apakah ada
      ayat dan hadits yang menyatakan zak aktif apa saja yang bermanfaat dalam
      madu? Dosis, indikasi, kontraindikasi, efek sampingnya?
      Pekerjaan
      10-20 tahun untuk menemukan satu obat terasa seperti perbuatan bodoh,
      kalau materi ukurannya, untuk apa bersusah payah kalau dalam 1-2 tahun
      saja bisa laku keras mendompleng ghirah? Padahal efek samping tidak
      diketahui, dosis tidak standar, variasi genetik tidak dipertimbangkan,
      sterilitas dipertanyakan, potensi alergi tidak tahu, bahkan efek
      terapinya pun belum reproducible.

      Bagaimana mungkin umat Islam tidak
      merasa terusik ketika yang mem-follow up hadits Nabi tentang
      habbatussauda adalah non-muslim, yang melakukan penelitian ilmiah, uji
      klinis, sampai saat ini memproduksi habbatusauda dalam bentuk sediaan
      yang diresepkan. Penelitian di barat sudah mampu meng-ekstrak thymoquinone dari habbatussauda, mengujinya dalam pengobatan kanker, dan lain-lain.
      Sementara kita mengkampanyekan habbatussauda tanpa tahu zat aktif nya dan sejauhmana potensi terapinya.

    • ibu evy, jgn membawa masalah terlalu jauh. sampai ke masalah keimanan. seolah2 yg lain tidak beriman. ini hanya masalah apakah imunisasi bermanfaat atau tidak. bukan masalah akidah.

  • Kalau kita bukan pakar kesehatan, maka masalah manfaat & mudharat kita ikuti pakar kesehatan dari institusi kesehatan dan perhimpunan profesi kesehatan yang memang mampu untuk mengkaji. Tulisan ini sudah menjelaskan, penulisnya pengajar di FKUI dan pengurus ikatan dokter anak.

    Kalau kita bukan ulama, maka masalah halal-haram kita ikuti ulama dan majelis ulama. Dan sampai saat ini tidak ada fatwa haram dari ulama dan majlis ulama tentang vaksin.

    Pendapat Syaikh Yusuf Al Qaradhawy dikutip disini:
    http://infad.usim.edu.my/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=10313

    Pendapat ulama salafy (salahsatunya mufti saudi Syaikh ibn Baaz) dikompilasi disini:
    http://muslimafiyah.com/fatwa-fatwa-ulama-keterangan-para-ustadz-dan-ahli-medis-di-indonesia-tentang-bolehnya-imunisasi-vaksinasi.html

     

    • fatwa halal pun baru pada meningitis dan polio (dengan catatan) sehingga vaksin – vaksin lainnya sama sekali belum jelas. seharusnya vaksin – vaksin yang lain diaudit terlebih dahulu oleh LP POM MUI dan diberikan sertifikat halal barulah para pro vaksinasi pendapatnya adil, tidak mengeneralisir kehalalan vaksin berdasarkan vaksin meningitis saja

  • Apa tidak mungkin program imunisasi/vaksinasi sengaja diciptakan untuk dijadikan ladang bagi sebagian orang untuk mencari makan? memperkaya diri dan memperkuat kekuasaannya di dunia yg semakin sembrawut ini… hati2 membuat opini.. karena orang barat pun banyak yang membuat laporan palsu ttg keberhasilan program tersebut… saat ini, fakultas kedokteran adalah fakultas favorit dimanapun dan diperguruan tinggi mana pun di indonesia. siapa sih yang banyak kuliah di sana? trus disurvey, apa motif mereka masuk fakultas kedokteran..ya… ujung2nya punya ladang duit (pekerjaan) yang mapan. meraup keuntungan besar dari pesakitan orang lain. sy pernah mewawancara seorang anak SMU luar jawa yang mau masuk UGM Fak. kedokteran, katanya dia masuk kedokteran minimal harus punya duit 150 juta. sy tanya untuk apa? dia bilang pelicin.. wah keren banget. emang bapakmu kerja dimana? dia bilang anak pimpinan cabang bank Mandiri.. O, my god… calon dokter kita itu… kembali ke topik,,,, Imunisasi/vaksinasi,.. hmm.. berapa banyak duit yg dikeluarkan pemerintah utk itu? dan kemana vaksin itu harus dibeli? siapa yg ada di balik ator itu semua?? Ah, silahkan cari referensi dari mereka yg kontra… biar fair, wahai pak dokter….

    • Apa Anda punya data yg mendukung pernyataan Anda ? –>  Apa tidak mungkin program imunisasi/vaksinasi sengaja diciptakan untuk
      dijadikan ladang bagi sebagian orang untuk mencari makan?

      • Arham

        bapa dokter ini banyakan berkelit, n ga netral bagt, data banyak berkiblat sma barat, yang sudah terbukti n meyakinkan data mereka banyak yang di manipulasi, data yang nyata ya data pengalaman orang lah pa dokter yang udah merasakan secara real, bapa dokter ini suka menyepelekan n tidak menerima pengalaman orang, suka ditanya lg datanya dari mana.. ya dari pengalaman lah pak dokter yang mereka langusung merasakan…

        masalahnya para doter n bidan suka maksain n nakutin2in orang biar divaksin, klo orang ga mau kya maksa bgt, bahkan ada yang tanpa izin orang tuanya main vaksin aja anak orng, ujung-ujungnya tu anak dirawat dirumah sakit sampe ber minggu-minggu, sebelumny sehat-sehat aj..

        DATA PENGALAMAN PRIBADI YANG REAL DIDEPAN MATA>>>

        • Jamal Ahmad

          Data pengalaman pribadi yg didepan mata saya adalah orang yg terkena tetanus. Anak yg meninggal karena radang paru dan radang otak sebagai komplikasi campak. Anak yg lehernya harus dilubangi karena saluran napasnya tersumbat akibat difteri. Itu penyakit-penyakit yg bisa dicegah dengan vaksinasi.

          Kalau anda lihat komentar-komentar disini, anda akan tahu siapa sebenarnya yg menyepelekan orang lain. Termasuk menyepelekan profesi kesehatan, menyepelekan pemerintah dan bahkan menyepelekan ulama.

          Majelis Tarjih Muhammadiyah membolehkan vaksinasi.
          Batsul Masail NU membolehkan vaksinasi.
          Syaikh Yusuf Qaradhawy membolehkan vaksinasi.
          Mufti Saudi Syaikh ibn Baaz membolehkan vaksinasi.
          Majelis ulama Eropa membolehkan vaksinasi.
          Majelis ulama Amerika Utara membolehkan vaksinasi.

          Apakah ulama-ulama ini bodoh sehingga membolehkan vaksinasi? Bukankah sikap ini menyepelekan ulama?

  • Mas Jamal, Anda itu terlalu hitam putih melihat permasalahan ini… Nabi itu memberi stimulan, tentu umat ini yg mesti melanjutkan dan meneliti stimulan tersebut. orang barat itu hanya sekedar hanya ingin membuktikan hadits Nabi.. saya fikir gak perlu dipermasalahkan jika mreka meneliti itu. masalah efek samping, dosis dll, setiap orang berbeda… di tempat teman saya bekerja, ada lho dokter edan yang menerapkan dosis dan jenis obat sekarepe dewe… ada pasien yang mestinya mampu beli dan diobati obat generik, eh malahh di suruh beli obat yg mahal dan membuat si pasien kesulitan beli obat… banyak kasus kelakukan buruk dokter yang dibiarkan oleh organisasi profesi mereka, entah IDI ntah IDAI.. terlepas itu adalah oknum menurut org, tetapi bagi saya itu sangat menyakitkan dan pembodohan kemanusiaan…

    • Anda juga terlalu menggeneralisir masalah. Makanya untuk itu tampilkan data dan referensi anda, bukan hanya pengalaman pribadi -yang membuat menjadi bias dan kemudian digeneralisir-.
      Artikel diatas menampilkan data, kalau anda tidak setuju, silakan sampaikan dg hujjah yang kuat juga.

  • Bisa disimpulkan permasalahan ttg imunisasi yg perlu diklarifikasi adalah sbb:

     

    1. Manfaat & mudhorotnya.

     

    Dalam kedokteran (sebagaimana juga hal-hal lain dalam hidup kita)
    setiap tindakan medis selalu memiliki manfaat & mudhorot. Tidak ada
    tindakan yg 100% bebas mudhorot, tapi tindakan tsb tetap dilakukan atas
    pertimbangan bahwa manfaatnya melebihi mudhorotnya, atau mudhorot yg
    dicegah lebih besar daripada mudhorot yg ditimbulkan -kaidah yg juga
    berlaku dalam banyak hal.

     

    Imunisasi juga demikian. Manfaatnya telah terbukti, penyakit-penyakit
    yg dulu menjadi momok sekarang sangat jarang terjadi. Imunisasi juga
    menjadi sangat penting terutama ketika berkaitan dg penyakit-penyakit yg
    menjadi masalah masyarakat, bukan sekadar masalah individu. Misalnya
    penyakit menular seperti campak, difteri, TBC dan polio. Seseorang yg
    mendapat penyakit tersebut akan menyebarkannya kepada orang-orang
    disekitar. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan Pemerintah untuk
    mewajibkan 5 imunisasi dasar yg termasuk dalam Program Pengembangan
    Imunisasi (PPI), yaitu BCG, hepatitis B, DPT, polio & campak.

     

    Ilmu kedokteran juga mengakui secara jujur bahwa tidak semua
    imunisasi 100% efektif, misalnya vaksin BCG untuk TBC hanya mampu
    mengurangi resiko tertular serta menurunkan derajat keparahannya,
    sehingga kejadian TBC yg parah pd anak menjadi jauh berkurang, walaupun
    tidak 100% bisa dicegah.

     

    2. Halal-Haramnya Imunisasi.

     

    Masalah halal-haram tentunya harus ditanyakan kepada ulama. Pendapat
    perseorangan perlu diseleksi, apalagi jika orang tersebut tidak memiliki
    kapasitas untuk memeberikan fatwa. MUI sendiri telah mengeluarkan fatwa
    halal untuk vaksin meningitis produksi Novartis dan buatan China.

     

    Syaikh ibn Baaz (ulama salafy, Mufti Saudi) dan Syaikh Yusuf Qaradhawy juga membolehkan vaksinasi. Fatwa MUI tentang vaksin polio mengakui bahwa vaksin polio yg disuntik (bukan yang ditelan) telah
    bersinggungan dg zat-zat yg haram, namun tetap memperbolehka dg
    pertimbangan darurat bahwa ada kemudhorotan besar yg perlu dicegah,
    serta kita tidak punya pilihan vaksin yg halal. Saya berpendapat bahwa
    fatwa ini bisa juga diterapkan pd vaksin lain yg memiliki kondisi
    serupa.
     

     

    3. Teori Konspirasi.

     

    Saya mengajak teman-teman untuk lebih percaya kepada fatwa ulama
    & penelitian ilmiah yg sahih daripada teori konspirasi yang menuduh
    imunisasi sebagai strategi penghancuran umat Islam, karena teori
    konspirasi seringkali didasari sikap paranoid dan bukti lemah yg
    dipaksakan.

     

    Teman-teman yg mendukung imunisasi pun sebaiknya tidak bersikap
    paranoid kepada teman-teman yg menolak, misalnya dg menyatakan bahwa
    ajakan menolak imunisasi merupakan konspirasi musuh Islam untuk
    melemahkan anak-anak Islam. Sekali lagi, marilah mengacu kepada ulama
    & penelitian ilmiah yg sahih.
     

    • M Yanto Heryanto

      Setuju, anda memang ahlinya

  • bgmn dengan tetangga saya meninggal akibat efek kipi???mohon penjelasannya…keadaan sebelumnya anaknya sehat….

  • Trimakasih atas pencerahannya…! Secara ilmiah dan dg hujjah sudah mulai jelas arah dr diskusi d atas!

  • ane aktif di dunia medis…dan ane menghindari vaksin

  • tulisannya belum memuaskan je…  solusi vaksinasi sendiri kesannya seperti solusi yang terkesan dipaksakan untuk menangani wabah. padahal vaksin itu sebenarnya hanya memasukkan kembali wabah penyakit dalam keadaan lumpuh.  ada apa tidak hasil penelitian pembanding untuk menyelesaikan masalah wabah dengan selain vaksinasi?  

    Kasusunya serupa dengan dunia peternakan yang sangat kasat mata sebagai permainan pengusaha untuk mempermainkan harga dengan menyebarkan wabah di peternakan

  • keren mas jamal ahmad, ilmiyah dan tepat sasaran dalam menjawab. syukron atas pencerahannya..

  • wikobaddox

    Sumber adiatas hanya menampilkan manfaat, kebaikan, keberhasilan dari program imunisasi..
    Coba anda paparkan bahan apa saja yg dipakai untuk bahan baku pembuat vaksin, sumbernya dari apa dan mekanisme pembuatannya bagaimana dan seperti apa..
    Bila perlu disertakan data2 kegagalan yg terjadi akibat vaksin itu (yg lumpuh, meninggal dll)
    Biar lebih lengkap dan akurat..
    Karena data keberhasilan, manfaat atau apalah bisa saja direkayasa agar suatu program terlihat berhasil..
    Jadilah lebih netral
    Karena pembahasan anda jelas sekali itu adalah pembahasan orang2 yg pro atau setuju dengan vaksinasi
    Trimakasih.

  • wikobaddox

    Pembahasan anda hanya menampilkan kebaikan, manfaat serta keberhasilan program imunisasi saja
    Dari pembahasan diatas kelihatan sekali bahwa anda pro atau seteju dengan program iminisasi.
    Anda mengatakan orang2 yg antivaksinasi atau yg kontra itu telah memelintirkan kebenaran informasi, lantas apa bedanya dengan anda??
    Informasi yg anda sampaikan juga tidak menampilkan data secara detil dan akurat.
    Coba anda paparkan juga bahan apa saja yg digunakan untuk membuat
    vaksin2 itu, asalnya dari mana? bila dari hewan, hewan apa? bila dari manusia, manusia yg seperti apa?. Lalu bagai mana cara dan mekanisme
    pembuatannya.

    Bila perlu anda tampilkan juga data2 tentang kegagalan2 vaksin (yg lumpuh, meninggal dll)

    Jadi pembahasannya lebih netral.

    Jadilah lebih netral
    Trimaksih

  •  Pembahasan anda hanya menampilkan kebaikan, manfaat serta keberhasilan program imunisasi saja

    Dari pembahasan diatas kelihatan sekali bahwa anda pro atau seteju dengan program iminisasi.

    Anda mengatakan orang2 yg antivaksinasi atau yg kontra itu telah
    memelintirkan kebenaran informasi, lantas apa bedanya dengan anda??

    Informasi yg anda sampaikan juga tidak menampilkan data secara detil dan akurat.

    Coba anda paparkan juga bahan apa saja yg digunakan untuk membuat
    vaksin2 itu, asalnya dari mana? bila dari hewan, hewan apa? bila dari
    manusia, manusia yg seperti apa?. Lalu bagai mana cara dan mekanisme
    pembuatannya.

    Bila perlu anda tampilkan juga data2 tentang kegagalan2 vaksin (yg lumpuh, meninggal dll)

    Jadi pembahasannya lebih netral.

    Jadilah lebih netral

    Trimaksih

    • Saya memang provaksin, tapi juga tidak membabibuta. Saya mendukung karena hujjahnya kuat.
      Artikel diatas juga mengakui resiko vaksinasi, dan menyajikan perbandingan resiko jika tidak divaksinasi.
      Penulis juga menyertakan referensinya, salah satunya adalah link yg mengupas argumentasi kontravaksin.
      Bukankah kita diperintahkan, ““…maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” {An-Nahl: 43}.
      Kalau masalahnya manfaat dan mudhorot terkait kesehatan, maka tanyakan pada ahlinya di institusi kesehatan atau perhimpunan para pakar yang memang memiliki kemampuan mengkaji dan meneliti.
      Kalau masalahnya halal-haram, maka ikuti ulama dan majlis ulama.

      • Sedikit usulan saja, mungkin akan lebih luas wawasan(Hujjah) kita ketika mengikutkan atau menkaji dari Syekh Prof. Dr. Abdul Majid azzindaani. i’jazul ilmi fil quran wal hadits. Beliau Seorang Ulama dan Ilmuwan sekaliber Qardhawi dengan wawasan mungkin lebih dari Qardhawi(pendapat seorang Ustadz yang menjadi murid beliau). Beliau periset sekaligus guru dari Harun Yahya.Beliau rektor di jameetaliman di yaman, pemilik Lab riset dll. Jika Qardhawi dan Bin bazz mungkin kurang mendalami sains, beliau mendalami sains bahkan Obat Aids dan hepatits pun berhasil diriset beliau dari kombinasi Zaitun, Hbbsauda dan madu. Khawatir kita ini berdalih (memaksakan pendapat dan mencocokan/mencari dalilnya), bukan berdalil(ada dalil tunduk kepada/bernaung dibawahnya). Oy, kajian halal haram akan lebih komprehensif jika yang berfatwa adalah menguasai ilmu kesehatan (manfaat dan madhorot), jadi tidak terpisah/parsial antara keduanya. atau antara keduanya seakan tidak ada hubungan. Dan lebih ideal. karena menghindari asumsi dari kedua belah pihak ahli (ulama dan ahli kesehatan) karena ketidaktauan tentang ilmunya. ilmu Allah amatlah luas, boleh jadi yang disampaikan saudara kita provaksin adalah benar dan boleh jadi juga yang disampaikan saudara kita yang antivaksin juga benar. Allahu’alam

  • Terlepas dari ikhtilaf di atas. Mungkin bisa menjadi usul, untuk kembali dilakukan riset klinis khususnya terkait respon imun dan sel tubuh terhadap vaksin. Data klinis di atas menurut saya pribadi lebih cenderung membandingkan angka kematian dan harapan hidup pasca vaksin. Mungkin akan lebih objektif dan menjembatani kedua belah pihak terkait riset klinis dengan uji respon tubuh dan (perbaikan/kerusakan sel) dalam tubuh. usul juga, baru-baru ini pengkajian terkait ilmu diagnosa iridologi mulai dikaji kembali, mungkin ilmu ini bisa dimasukan dalam kriteria standar pada riset klinis. Allahu’alam 

  • Asslmlikum Yuk kita kembali k Herbal saja yg InsyaAllah sehat dan tak ada efek yang jelek…

    • Obat-obatan yang digunakan di kedokteran modern selalu merupakan hasil dari serangkaian penelitian dan uji klinis, yang intinya adalah mengetahui manfaat dan keamanannya. Oleh karena itu obat-obatan yang digunakan dokter umumnya sudah diketahui manfaat dan resikonya. Sehingga penggunaan suatu obat selalu berdasarkan pertimbangan apakah manfaatnya melebihi resikonya. Bagi dokter, tidak ada jenis terapi yang 100% manjur, dan tidak ada terapi yang tanpa efek samping. Kalau kita baca penelitian atau textbook tentang manfaat sebuah terapi, selalu kita temukan angka kegagalan pengobatan, walaupun mungkin sedikit, dan kejadian efek yang tidak diharapkan dari terapi tersebut.

      Oleh karena itu iklan pengobatan alternatif dengan jargon “dijamin sembuh” dan “bebas efek samping” yang sering kita lihat ditempel di pintu angkot selalu membuat prihatin. Suatu terapi yang dikampanyekan sebagai “bebas efek samping” sesungguhnya lebih tepat kalau disebut “belum diketahui efek sampingnya”, karena belum ada penelitian ilmiah yang menelitinya. Sehingga pilihan pengobatan adalah ‘terapi yang sudah diketahui efek sampingnya versus terapi yang belum diketahui efek sampingnya’, BUKAN ‘terapi yang berefeksamping versus terapi tanpa efek samping’.

      Pengalaman juga menunjukkan adanya pasien-pasien yang mengalami gangguan lambung, kerusakan ginjal, dan kerusakan hati diduga disebabkan karena mengkonsumsi jamu. Kasus Sindrom Steven Johnson (reaksi alergi yang berat) juga pernah dilaporkan akibat obat herbal.

      Masalah manfaat pun tidak mudah untuk disimpulkan. Umumnya pengobatan alternatif mengandalkan kesaksian beberapa orang yang mendapat manfaat dari terapi tersebut. Di kedokteran modern, kesaksian beberapa orang tidak cukup kuat sebagai bukti manfaat. Logika sederhananya, kalau ada 1000 pasien yang diterapi, dan yang memberikan kesaksian sembuh 10 orang, maka angka kesembuhannya sangat rendah. Belum lagi kalau ditelusuri bagaimana kelanjutan perjalanan penyakit dari pasien tersebut, keakuratan diagnosis, metode, dan lain-lain.

      Komunikasi yang baik antara kedokteran modern dengan pengobatan alternatif (termasuk pengobatan cara Nabi atau thibunnabawi) sebenarnya sudah ditunjukkan dengan adanya terapi alternatif yang sudah diakui oleh kedokteran modern. Misalnya akupunktur yang dulu dianggap tidak ilmiah, saat ini sudah ada perhimpunan dan pendidikan spesialis akupunktur. Walaupun belum seluruh manfaatnya diakui, tapi sekarang beberapa manfaat akupunktur sudah ada dasar ilmiahnya melalui penelitian-penelitian yang mendukung.

      Contoh lain adalah habbatussauda (jinten hitam, Nigela sativa), yang berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW dapat digunakan untuk semua penyakit. Di kedokteran, obat yang paling mungkin untuk dapat digunakan untuk banyak penyakit adalah anti oksidan dan imunomodulator (penguat kekebalan tubuh). Dan sekarang sudah ada pabrik farmasi yang memproduksi habbatussauda sebagai imunomodulator dalam bentuk produk farmasi yang diresepkan. Walaupun uji klinisnya belum selesai, tapi manfaatnya sudah diteliti secara ilmiah. Sayangnya orang non-muslim yang memproduksinya. Kaum muslimin sendiri tampaknya kurang tertarik untuk menjadikan habbatussauda sebagai bagian dari kedokteran modern, malah ada yang menganjurkan untuk meninggalkan kedokteran modern.

      • ibnu sofyan

        yakin?

    • mengkonsumsi herbal sdr prl ilmu.kl g faham,tanaman obat bs jd racun.sayur dan buah sekalipun ktk kt tdk mengenal dng detail manfaat dan kandungannya,bs mjd racun bg tubuh qt.pemanfaatan daun kejibeling kl berlebih bs peradangan di ginjal.pengkonsumsi jamur u hipertensi,bs jd hipotensi kl berlebih.dll

  • Aku gak divaksin Hepatitis A, nyatanya KENA. Langsung anak2ku kuvaksin.

  •  http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/1676/bahayanya-menolak-imunisasi/

  •  http://agnes.ismailfahmi.org/wp/archives/1676/bahayanya-menolak-imunisasi/

  • assalamualaikum….well dalam hal ini saya tidak mau menjustifikasi siapapun,sabaiknya pemerintah melihat maslah ini dan menjelaskan sejelas-jelasnya kepada masyarakat sehingga tidak timbul kecurigaan pada masing2 pihak,jujur saya dalah petugas kesehatan dan saya adalah pro vaksin sbenarnya yg diributkan itu apa? kandungannya? manfaatnya? siapa yg membuat? atau dikaitkan dengan prppaganda siapa? bagaimana bila tidak ada vaksin? apakah penyakit2 yg dulu tdk ada akan muncul kembali dijaman sekarang yg segala sesuatunya sama sekali tidak ada yg alamiah lagi spt jaman kakek dan nenek atau buyut2 kita dulu? masalhnya saya kira hanya keterbukaan dari pemerintah saja…. semuanya dikembalikan kepada diri masing2…jangan dibutakan oleh sebuah artikel atau tulisan yg memprovokasi tapi tidak ditelaah dan dicari kebenaranya,bukankah Alloh SWT memberikan kita akal dan fikiran? jazakumullahkhairan kastiran…

    • Saya juga petugas kesehatan bu. Dan sebagai petugas kesehatan, bukankah menjadi bagian dari tugas kita juga untuk memahami tindakan yg kita lakukan, dan menjelaskan kepada masyarakat ?
      Mariiiii…..

      • Pilmon Ginting

        pantas…

  • sering bahkan berulang kali saya menjelaskan mengenai vaksin pada pasien (orang tua dalam hali ini) bahkan pd keluarga saya sendiri tapi saya kira mindset mereka benar2 berbeda,sehingga saya sendiri sulit untuk masuk dan memberi pengertian sehingga saya sering dihadapkan pada sebuah keimanan padahl iman kita sama ya? jadi berasa beda agama?! hahahhahaha…jadilah sya disebut sebagai orang yg pro pemerintah (padahal iya!) lha buat apa ibu saya capek2 nguliahin saya bukannya supaya menjadi orang yg berilmu (bukan dukun) dan pintar (bukan “orang pintar” juga) ?

    • wartono

      ibu hanya perlu menjelaskan,bukan meminta atau menyuruh pasien untuk melakukan imunisasi,karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
      karena saya yakin,seandainya terjadi hal2 yg tidak di inginkan setelah imunisasi,ibu gak bakalan berani bertanggung jawab,walaupun berani ibu gak akan bisa mengembalikan keadaan sehat seperti semuala.
      ibu juga gak benar2 tau proses pebuatan dan kandungan vaksin halal atau tidaknya,maksud saya melihat secara langsung. pengetahuan ibu hanya membaca sama dengan yg kontra. sama2 membaca. dan kita tidak pernah tau bacaan siapa yg benar!!

  •  memang membingungkan kalau melihat paparan dari yang pro maupun kontra vaksin. tapi saya insya Alloh mantap mengambl posisi anti vaksin,.. alhamdulillah my baby akhtar sudah 8 bulan dan tidak ada masalah apa apa. karena saya pikir dulu saja  saya vaksin campak, cacar tapi masih kena juga ketika besar. back to thibbun nabawi :)

    • Hadits Nabi Muhammad SAW bahwa “Tiap-tiap penyakit ada obatnya,
      apabila suatu obat mengenai penyakit, maka sembuhlah penyakit itu dengan
      izin Allah” merupakan dorongan bagi kita untuk mencari cara dalam
      masalah pengobatan. Ini menunjukkan bahwa tradisi pengobatan Nabi tidak
      hanya berhenti pada praktek pengobatan yang diajarkan beliau, tetapi
      lebih dari itu, mendorong manusia untuk mencari dan bereksperimen dengan
      model pengobatan baru. Dan cara yang tepat untuk mengembangkan
      pengetahuan medis adalah melalui penelitian dan mencari tanda-tanda
      Allah SWT di alam semesta.

      Metode kuratif yang dicontohkan Nabi SAW
      bukanlah suatu pembatasan untuk tidak mengembangkan metode lain. Islam
      sangat menghargai ilmu pengetahuan, termasuk ilmu kedokteran. Ilmuwan
      dan ulama Islam telah berperan penting dalam menemukan dasar ilmiah
      dalam mengembangkan ilmu kedokteran, di saat pengobatan barat di masa
      itu masih tidak rasional dan berdasar takhayul. Membatasi kedokteran
      Islam hanya pada metode yang diterapkan pada zaman Nabi SAW dan menutup
      mata terhadap perkembangan ilmu pengetahuan adalah suatu bentuk
      kemunduran. Padahal para ilmuwan dan ulama Islam yang telah meletakkan
      dasar-dasar ilmu kedokteran modern.

      • wartono

        saya setuju dengan kedokteran modern,karena dulu juga justru kedokteran modern dikembangkan ulama2 besar. cuma yang mungkin saya tdk setuju adalah cara dan kandungannya. yg jelas pasti berbeda antara dokter yang muslim dengan non muslim cara pandang dan cara menelitinya,dilihat dari higienis, bukan secara ilmiah saja tapi secara islam.
        cara: bagaimana mendapatkan vaksin,metodenya,kehalalan cara pengembanganya,yg mungkin kita tidak tahu.
        kandungan: apakah halal kandungannya?

  • itulah jeleknya org indonesia lebih percaya “katanya” atau “statement emosional” (bisa dikaitkan agama, dan keyakinan lainnya..) padahal budaya ilmiah berdasarkan hujjah, referensi yg dpt dipertanggungjawabkan, dan data empirik adalah budaya Islam.. semoga kita selalu mendapat petujuk dan bimbingan NYA,, aamiin..

  • bagi yang anti vaksin,
    1. kenapa tidak menggugat MUI?. MUI sudah mengeluarkan sertivikasi halal.. ayo dong gugat, itu kan bagi anti vaksin lansung atau tidak langsung berasumsi MUI telah menghalalkan apa yg telahj diharamkan,. jangan cuman berani kasak kusuk di blog saja? 
    2. berbicara vaksin saya sering oleh orang orang herbalis di tanya, “bagaimana hasil uji klinisnya?” . pertanyaan yg menurut saya bertanya, apakah mobil avansa sudah lolos uji emisi?. padahal mobilnya keluyuran dimana-mana plus sdh diproduksi masal.. pertanyaan uji klinis itu pantas ditanyakan bila masih taraf lab penelitian. maka saya balik tanya, apakah sudah ada uji klinis utk obat herbal?. urusan banyak hadis nabi tentang obat obat tertentu, ya kita imani. tapi ketika itu dibuat sbg produk masal, maka uju lab dan klinisnya bgmana berkaitan dgn obat herbal terkait?.
    3. jangan dibiasakan mengutip-ngutip sebagian kecil pendapata seseorang utk menggiring  opini agar bisa disimpulkan org tsb anti vaksin,. tapi lihat pandangan secara keseluruhan,. yg paling sering dikutip itu siti fadillah supari,. padahal pandangan keseluruhannya sangat clear anjuran vaksin,. ini sama dengan berdalil larangan sholat dgn menggunakan dalil “celakalah orang orang yg sholat”.

    • MUI sdh konfirmasi pak deddy, mereka TIDAK Pernah mengeluarkan label HALAL untuk biofarm*, produsen vaksin itu sendiri tidak pernah minta di audit. kok bisa badan yang tidak mengeluarkan label di gugat ??

      • ummu salamah al hajjam

        Seharusnya departemen kesehatan membayar ganti rugi kepada seluruh jemaah haji yang di suntik vaksin HARAM…. Tidak adakah keinginan dan maksud baik dari pemerintah kepada rakyat yang sudah di zolimi …??

      • ummu salamah al hajjam

        Seharusnya departemen kesehatan membayar ganti rugi kepada seluruh jemaah haji yang di suntik vaksin HARAM…. Tidak adakah keinginan dan maksud baik dari pemerintah kepada rakyat yang sudah di zolimi …??

  • Awalnya saya setuju dengan imunisasi tapi setelah menelaah lagi dari sumber2 yang saya baca tentang bagaimana vaksin dibuat dan dari mana asalnya bahan pembuatannya  lambat laun saya mulai menghindari anak saya untuk diimunisasi dan dengan membandingkan kondisi dan perkembangan anak saya yang diimunisasi dengan yang tidak tersentuh imunisasi malah membuat saya makin yakin untuk tidak mengimunisasi anak anak bayi kita. 

    •  Sumbernya darimana aja bu? Coba bandingkan dengan bahan bacaan dari artikel diatas.
      Berapa jumlah anak yang diimunisasi yg ibu amati?

      • wartono

        mf,mas jamal jg jngn terlalu pede gitu,,saya bkn yg pro maupun kontra,cm kita ga pernah tau kebenaran yg sebenarnya. siapapun bisa salah.
        saya pernah baca wa2ncara dirutnya (sblm yg skr) biofarma yg mengatakan bahwa ia (dirut) belum sanggup untuk menyediakan vaksin halal. dan dia sendiri ga bisa menjamin kehalalanya vaksin karena bahan2nya sebagian besar dibuat dan di datangkan dari luar negeri yg notabene bebas dan menghalalkan babi.

  • Rahmat Satoto

    tidak datang sebuah penyakit dan tidak datang pula kesembuhan atas ijin Allah… kita diWAJIBkan berikhtiar dengan cara2 yang baik… pengetahuan manusia sangatlah terbatas.. saaangat terbatas.. tiap ikhtiar dengan jangkauan kemampuan manusia kebenarannya TIDAK PERNAH mutlak.. dengan bergantinya waktu sebuah teori dapat dipatahkan oleh teori lain… jangan sampai pemahaman kita terhadap sesuatu menjadikan kita berpikir bahwa itu adalah yang paling benar… tidak hanya dipertanyakan akidah kita… hal itu juga bertolak belakang dari sikap ilmiah… kita akan cepat puas dengan hasil simpulan kita terakhir… 

    tidak kaget ketika ada sikap pro dan kontra vaksin atau imunisasi dll.. masing2 saaaangat dipengaruhi latar belakang pemahaman, ilmu yang ditekuni, dll… merendahkan pendapat pihak lain tentang cara berikhtiar hanyalah sikap-sikap yang lahir dari pikiran sempit meskipun paparan data yang diungkapkan sangat banyak… 

    benar salah-nya data sangat mungkin terjadi baik terjadi kesengajaan ataupun tidak.. semua sangat mungkin. pro vaccine sering dituduh dekat dengan isu2 konspirasi dg data palsu dll.. benarkah??
    anti vaccine sering pula dituduh dengan isu2 lain yang dekat ke arah tidak ilmiah dg data fiktif dll.. benarkah??

    generalisasi bahwa anti vaccine tidak didukung oleh data yang ilmiah dan dekat dengan tendensi ideologis menurut saya tidak benar… saat saya mengumpulkan data untuk ambil keputusan untuk anak saya, ada info tentang World Association for Vaccine Education atau lembaga2 serupa.. data yang daipaparkan akurat tanpa mengungkapkan tendensi ideologis. pendekatannya pun cukup ilmiah.. sebuah vaccine dibahas komposisi sampai dengan efek tiap ingredient… mungkin bisa jadi referensi bagi yang belum pernah membaca..kita tidak bisa pungkiri ada data manfaat vaccine… tapi kita juga tidak bisa pungkiri ada kasus2 meskipun kurang mengemuka mengenai efek lain dari tindakan vaccine. mungkin di indonesia tidak pernah mengemuka sampai menjadi kasus hukum.. jangankan efek vaccine.. malpraktik dokter yang kadang terjadi jarang kita mengetahui hasil akhir di putusan hukumnya… berbeda dengan berita2 di negara2 maju.meskipun data yang ditunjukkan bahwa efek negatif imunisasi ditemui dalam prosentase kecil anggaplah 1 per 1 juta tindakan, sebagai orang tua tentu tidak mau menjadi yang 1 tersebut.. urusan nyawa manusia tentu beda penyikapannya dengan urusan ternak ayam.. 100juta ayam diimunisasi misal ada 1 yang mati karena ternyata ada resistensi, kita akan tenang2 saja kehilangan 1 ekor ayam… saya sempat mendengar pendapat seorang dokter yang cukup bijak.. tindakan imunisasi yang sangat besar manfaatnya tetapi tidak dipungkiri tiap anak memiliki penerimaan yang berbeda… saya kurang sreg dg imunisasi yang dilakukan secara seporadis… mungkin bisa dikembangkan cara yang lbh baik… insya Allah berhati-hati untuk setiap tindakan sekecil apapun akan lbh baik.aspek darurat yang digunakan sebagai dasar tindakan vaccine pun berbeda2 juga pendapatnya. benarkah kita sudah sangat darurat sehingga tidak ada cara lain? benarkah ancamannya sekritis itu? banyak pendapat mengenai itu…jangan sampai tujuan utama kita untuk melahirkan generasi terbaik nanti justru dicederai sikap2 yg justru mengarah ke isu2 lain, saling menjatuhkan, prasangka buruk dll hanya karena kita berbeda pendapat. mulailah saling menghormati pendapat yang berbeda… dan teruslah mengkaji…wallahualam…

  • Rahmat Satoto

    Btw, untuk kehalalan imunisasi adakah para pembaca yang memiliki datanya? vaksin apa saja yang telah bersertifikat halal?? tentu saya berharap ada data vaccine A, B, C dst dengan nomor sertifikat halal dan tanggal dikeluarkan… bukan hanya pendapat ulama ini itu yang tanpa pertanggungjawaban yang jelas… 

    •  Saat ini vaksin yang menggunakan tripsin babi ada 3 :

      1. IPV, vaksin polio yang disuntik, bukan yg diteteskan. Majelis Ulama Indonesia dalam rapat pada 1 Sya’ban 1423H, setelah mendiskusikan masalah ini mereka menetapkan :
      Pemberian vaksin IPV kepada anak-anak yang menderita
      immunocompromise, pada saat ini, dibolehkan, sepanjang belum ada IPV
      jenis lain yang suci dan halal. (.Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia hlm. 370).

      2. Vaksin meningitis tertentu, salah satunya produksi GSK. MUI sudah menerbitkan Sertifikat Halal untuk vaksin meningitis produksi Novartis (Menveo) dan Tianyuan (Mevac). http://www.dakwatuna.com/2010/07/6551/mui-vaksin-meningitis-novartis-dan-tian-yuan-halal/

      3. Rotarix, vaksin untuk virus rotavirus penyebab diare pada anak.

      Tentang penggunaan tripsin sebagai katalisator dlm pembuatan vaksin, telah mengalami ultrafiltasi (setara dg pencucian 65 milyar kali).
      Sebagian ulama membolehkannya terkait masalah istihalah, sedikit saya kutip dari majalah Majalah Al Furqan, Edisi 05 Th. ke – 8 1429 H/2008 M, oleh Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi:

      “Apakah benda najis yang telah berubah nama dan sifatnya tadi bisa
      menjadi suci? Masalah ini diperselisihkan ulama, hanya saya pendapat
      yang kuat menurut kami bahwa perubahan tersebut bisa menjadikannya suci,
      dengan dalil-dalil berikut :

      a.Ijma’ (kesepakatan) ahli ilmu bahwa khomr apabila berubah menjadi cuka maka menjadi suci.

      b.Pendapat mayoritas ulama bahwa kulit bangkai bisa suci dengan
      disamak, berdasarkan sabda Nabi “ Kulit bangkai jika disamak maka ia
      menjadi suci.” ( Lihat Shohihul-Jami’ : 2711)

      c.Benda-benda baru tersebut – setelah perubahan – hukum asalnya
      adalah suci dan halal, tidak ada dalil yang menajiskan dan
      mengharamkannya.

      Pendapat ini merupakan madzhab Hanafiyyah dan Zhohiriyyah[10], salah
      satu pendapat dalah madzhab Malik dan Ahmad[11]. Pendapat ini dikuatkan
      oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah[12], Ibnul Qoyyim, asy-Syaukani[13],
      dan lain-lain.[14]

      Alangkah bagusnya ucapan Imam Ibnul-Qoyyim : “Sesungguhnya benda suci
      apabila berubah menjadi najis maka hukumnya najis, seperti air dan
      makanan apabila telah berubah menjadi air seni dan kotoran. Kalau benda
      suci bisa berubah najis, lantas bagaimana mungkin benda najis tidak bisa
      berubah menjadi suci? Allah telah mengeluarkan benda suci dari kotoran
      dan benda kotor dari suci. Benda asal bukanlah patokan. Akan tetapi,
      yang menjadi patokan adalah sifat benda tersebut sekarang. Mustahil
      benda tetap dihukumi najis padahal nama dan sifatnya telah tidak ada,
      padahal hukum itu mengikuti nama dan sifatnya.”[15]”

      Referensi:
      10.Roddul-Mukhtar’: 1/217, al-Muhalla: 7/422

      11.al-Majmu’: 2/572 dan al-Mughni: 2/503

      12.Al-Ikhtiyorot al-Fiqhiyyah hlm. 23

      13.Sailul-Jarror: 1/52

      14.Lihat masalah ini secara luas dalam kitab al-Istihalah wa ahkamuha Fil-Fiqh Islami kar. Dr. Qodhafi ‘Azzat al-Ghonanim.

      15.I’lamul-Muwaqqi’in: 1/394

      • Rahmat Satoto

        trimakasih sekali Mas Jamal.. 
        itu Fatwa-fatwa ya? adakah yang sudah masuk LP POM MUI? outputnya berupa sertifikat halal.. sehingga audit kehalalannya cukup komprehensif…

        untuk vaksin lain selain 3 vaksin tsb di atas apakah juga sudah bersertifikat halal? untuk ketiga vaksin tsb saya kebtulan ada datanya berupa fatwa vaksin meningitis.. kalau ga salah Fatwa MUI no 6 2010.. 16 Juli 2010… 

        untuk polio khusus 8 oktober 2002..mm betul 1 Sya’ban 1423H… potongan akhir Redaksi dari fatwa tsb sbb : (saya tidak mencantumkan menimbang dan mengingat-nya krn terlalu panjang)

        Dengan bertawakkal kepada Allah SWTMEMUTUSKANMenetapkan :1. FATWA TENTANG PENGGUNAAN VAKSIN POLIO KHUSUS
        2. Pertama : KetentuanHukum1. Pada dasarnya, penggunaan obat-obatan, termasuk vaksin, yang berasal dari –ataumengandung–benda najis ataupun benda terkena najis adalah haram.2. Pemberian vaksin IPV kepada anak-anak yang menderita immunocompromise,pada saat ini, dibolehkan, sepanjang belum ada IPV jenis lain yang suci dan halal.3. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hariternyata terdapat kekeliruan, akan diperbaiki dan disempurnakan sebagaimanamestinya.

        3. Pertama . Rekomendasi (Taushiah)1. Pemerintah hendaknya mengkampanyekan agar setiap ibu memberikan ASI,terutama colostrum secara memadai (sampai dengan dua tahun).2. Pemerintah hendaknya mengupayakan secara maksimal, serta melalui WHO dannegara-negara berpenduduk muslim, agar memperhatikan kepentingan umat Islamdalam hal kebutuhan akan obat-obatan yang suci dan halal.

        Ditetapkan di : Jakarta Padatanggal : 0 1 Sya’ban 1423 H. 08 Oktober 2002 M.

        maaf saya hanya ingin hati-hati karena saya sangat awam baik dr sisi pemahaman medis maupun fiqh..keduanya bukan bidang saya…:D

        Pada redaksi dlm fatwa tsb ” Pemberian vaksin IPV kepada anak-anak yang menderita immunocompromise, pada saat ini, dibolehkan, sepanjang belum ada IPV jenis lain yang suci dan halal.” Pengertian immunocompromise apa ya Mas? apakah semua anak kita saat ini menderita immunocompromise sehingga masuk dalam kategori “dibolehkan”? Apakah “dibolehkan” ini  setara dengan “diharuskan”? 

        btw kalau mo japri bisa ke mana? saya ingin dapat info lbh banyak (jika tidak keberatan).. saya memiliki anak dimana saya harus mengambil keputusan2 terbaik untuknya…

        Trimakasih Mas Jamal..

        • Vaksin IPV memang tidak diberikan secara umum, yang umum OPV (oral) yg diteteskan dan tidak menggunakan tripsin babi.
          Penggunaannya sesuai dengan indikasi medis dari dokter, salahsatu indikasinya imunocompromis.

          Kalau ingin berdiskusi lebih lanjut, bisa bergabung di group ini:
          http://www.facebook.com/groups/GESAMUN/

        • Sampai saat ini belum ada fatwa haram terkait vaksinasi, namun banyak fatwa berbagai ulama yang membolehkan vaksinasi.
          Apakah Anda punya referensi ulama saat ini yg mengharamkan vaksinasi ?

          • sampai saat ini yang diberi label halal oleh MUI adalah vaksin meningitis dan vaksin polio (dengan catatan), berarti tidak bisa digeneralisir bahwa vaksin – vaksin lain adalah halal.

          • ummu salamah al hajjam

            Bagaimana tanggung jawab negara yang sudah memvaksin para jemaah haji dengan vaksin yang haram….???

            Tidak ada tanggung jawabkah dari departemen kesehatan yang membuat program vaksin haram…?? seharusnya semua jemaah haji yang di vaksin haram harus di beri ganti rugi.

          • ummu salamah al hajjam

            Bagaimana tanggung jawab negara yang sudah memvaksin para jemaah haji dengan vaksin yang haram….???

            Tidak ada tanggung jawabkah dari departemen kesehatan yang membuat program vaksin haram…?? seharusnya semua jemaah haji yang di vaksin haram harus di beri ganti rugi.

  • Sampai saat ini belum ada fatwa haram terkait vaksinasi, namun banyak fatwa berbagai ulama yang membolehkan vaksinasi.
    Adakah yg punya referensi ulama saat ini yg mengharamkan vaksinasi ?
     

    • Rahmat Satoto

      pertanyaan yang sama dengan balasan dari pertanyaan saya di komentar sebelumnya… hehehe.. maaf sekali mas jamal..mudah2an tidak ada kesalah pahaman..
      sebelumnya saya bertanya karena tidak saya pungkiri bahwa info yang saya miliki
      menyebabkan keraguan yang amat sangat untuk memilih yang mana.. saya pikir banyak yang mengalami itu saat ini…

      tidak ada sedikitpun pernyataan saya yang menyatakan atau
      menginformasikan vaksin itu haram.. belum pernah juga saya mendengar
      larangan vaksin dan saya pun tidak berpendapat demikian.. jadi kalau
      pertanyaan yang sama persis tsb ditujukan ke saya spt di balasan pertanyaan yang mengikuti komen saya sebelumnya, saya pikir tidak relevan… kalau untuk semua ya sah-sah saja hehe…

      tentu bisa saja saya menanyakan kembali.. adakah fatwa yang menyatakan dosa bagi yang tidak mengikuti program vaksin… kita sudah sama2 tahu… sebagaimana kita juga tahu blum ada pembahasan di sini tentang 
      ulama yang mengharamkan… tapi tentu saya tidak tertarik membahas ke
      sana… tidak ada gunanya membahas pertanyaan yang dibalas pertanyaan kembali karena
      tujuan kita tentu menggali dan bertukar informasi lbh dalam… bukan tujuan2 atau tendensi lain… saya bukan dokter yang menjual jasa… atau penjual herbal yang cari peluang bisnis yang sering2 dibahas sebagai tendensi…. walaupun mereka juga belum tentu semua memiliki tendensi khusus seperti itu…

      saya bertanya tentang sertifikat halal MUI karena ada yang menyatakan
      itu selintas saya baca ada yang menyatakan “sertifikat/sertifikasi halal
      dr MUI” tentu ini hal yang sangat khusus dan saya belum pernah
      mendapatkan informasi sertifikat tersebut.. saya pikir saya ketinggalan
      info… kalau memang blm ada info ya sudah…

      jawaban mas jamal no 2.. (maaf saya kutip) : 2. Vaksin meningitis tertentu, salah satunya produksi GSK. MUI sudah
      menerbitkan Sertifikat Halal untuk vaksin meningitis produksi Novartis
      (Menveo) dan Tianyuan (Mevac) dg link berita di dakwatuna sebelumnya… link tersebvut tidak berbicara sertifikat halal MUI yang dikeluarkan LP POM MUI, tapi fatwa tentang halal-nya produk tsb… saya tetap menerima kehalalan tsb dr fatwa… dan saya juga sdh kebetulan punya data2 tsb

      saya hanya ingin bersikap hati-hati… contoh ketika istri saya ingin
      makan cokat.. di supermarket saya memilih cad****y daripada
      silv******n… produk C bersertifikat halal meskipun dr malaysia..
      sedangkan produk S bertuliskan tulisan arab “halal”.. tapi belum
      tertera info logo bersertifikasi MUI atau ulama di negara manapun…

      saya hanya ragu, pertama karena pernah mendengar cerita miring dr teman yang
      pernah magang di pabrik produk S…. juga karena pemikiran mengapa produk
      setenar dengan perusahaan sebesar itu koq belum bersertifikat??? padahal
      saya pernah kerja di perusahaan restoran cepat saji kecil.. kami
      mendaftarkan produk kami dan kami dapatkan sertifikat halal tsb. dan itu
      tidak sulit..

      apakah saya dikatakan mengharamkan produk S? tentu tidak
      demikian kan? saya mencoba utk tidak berprasangka buruk, namun tidak bolehkah kita berhati2? insya Allah saya hanya hati2…

      ketika mungkin produk C tidak ada stok di supermarket.. saya pun menyarankan istri saya utk
      tidak perlu beli coklat.. toh masih banyak makanan lain seperti biskuit dll
      yang bersertifikat halal MUI… atau tidak perlu beli apapun krn tidak
      makan coklatpun kita tidak membuat kita mati atau membuat kita
      berdosa…

      mudah2an gambaran itu menjelaskan kondisi saya yang awam.. saya sangat2
      menghormati bagi siapapun yang pro vaccine, begitu juga yang anti
      vaccine… tidak perlu menyalahkan pihak manapun… toh kebenarah hanya milik Allah..

      saya pikir tidak ada orang tua yang mau memberikan hal buruk buat anaknya.. dan bagi yang memiliki pilihan meskipun berbeda saya yakin telah cukup lelah mengumpulkan informasi seeebanyak mungkin… saya merasakannya.. walaupun rasa lelah itu tidak pernah akan membuat kita berhenti berikhtiar dan terus mencari informasi dg berharap Allah memberikan petunjuk..

      btw terimakasih sekali mas saya juga dah join group FB yang Mas Sarankan.. dan FB mas juga dah saya add ya… senang mengenal Mas Jamal dan dapat banyak pengetahuan dr mas Jamal… :)

      thx 4 sharing…

      • Dalam Daftar Produk Halal Nasional, vaksin Menveo produksi Novartis dinyatakan halal dg Sertifikat Halal MUI no 00140055550710, dan vaksin Mevac dg Sertifikat Halal MUI no 00140055560710.
        Lengkapnya bisa dilihat disini: http://jambi1.kemenag.go.id/file/dokumen/DAFTARPRODUKHALALNASIONALPERIODENOVDES2011.pdf

        Dalam beberapa hal, Saya sepakat dg Anda. 
        Namun Saya juga menyayangkan pernyataan teman-teman anti vaksin yg tidak mempercayai ulama yang telah memberikan fatwa boleh terhadap vaksin, sementara mereka sendiri tidak dapat memberikan penjelasan dari ulama yang bersikap sebaliknya.

        • Catat penyataan anda “ulama yang telah memberikan fatwa boleh terhadap vaksin” bukan halal.
          Dokter, Ulama, saya atau siapa saja juga manusia yang memiliki fitrah alpa dan khilaf.
          MUI juga pernah menyatakan halal untuk satu produk penyedap masakan (yang ternyata mengandung unsur babi) yang akhirnya ditarik sertifikasi halal tersebut sampai pihak produsen memperbaharui produknya dengan bahan yang halal.
          Seorang dokter juga pernah melakukan khilaf saat mendiagnosa pasiennya sehingga memberikan dosis yang salah.
          Pengalaman saya pribadi, saya memiliki alergi yang tak diketahui penyebabnya (bintik-bintik merah & gatal). Selama lebih dari sepuluh tahun saya tak pernah konsultasi/berobat ke dokter. Setelah menikah isteri saya menyarankan untuk berobat ke dokter spesialis kulit, dokter pun tidak menyampaikan jenis alergi saya dan hanya memberikan resep (salep dan obat dalam) untuk satu bulan. Selama saya minum obat dan menggunakan salep dengan teratur hasilnya menakjubkan alergi saya sembuh sampai obat (oral) yang saya minum habis. Setelah obat oral habis saya tetap mengoleskan sisa obat salep, tetapi hanya berselang beberapa hari berangsur-angsur kondisi alergi saya justru semakin parah bahkan lebih parah dari sebelum saya berobat ke dokter (kulit panas & melepuh seperti terbakar). Akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan penggunaan salep dan beralih ke obat herbal (Habbatusaudah & Minyak Zaitun) dan hasilnya jauh lebih baik, meski sudah tak rutin minum herbal ketika alergi saya kambuh tetapi masih lebih ringan dari kondisi sebelumnya (gatal-gatal) dan hanya berlangsung tak lama.
          Dari pengalaman saya ini, bukan berarti saya tak percaya dengan ilmu medis. Tetapi ini menunjukkan bahwa tak sepenuhnya ilmu kedokteran bisa menyembuhkan semua penyakit…

        • lukuik

          di Indonesia instansi apa aja bisa di suap pak,tdk terkecuali.makanan yg jelas2 ada zat tdk halal nya .tetap dia kasih label HALAL.apa lg
          imunisasi belanja besar Indonesia…

    • Rahmat Satoto

       mas.. maaf nanya lagi.. kalau ingredient dan efek samping vaksin2 yang ada di Indonesia saat ini bisa kita dapatkan infonya di mana ya? aku browsing2 ga nemu2… yang kudapat hanya manfaat2 saja… pengen tahu juga.. kalau ga salah itu hak konsumen juga kan ya?

    • ummu salamah al hajjam

      manusia akan berpendapat sesuai dengan aqidah dan keyakinan dan juga penddidikan dan juga pelajaran, pengalaman dan fakta yang dialami, maut/mati dicabut nyawa oleh Allah melalui malaikat Ajroil. Vaksinasi memang sepengatahuan kami banyak menimbulkan masalah penyakit, seperti pendapat kawan di atas bahwa pembuat virus komputer adalah pembuat anti virus komputer, ada yang berujar itulah bisnis ala sekarang….

  • Rahmat Satoto

    ada yang tahu ga…. ingredient vaksin2 yang
    ada di Indonesia saat ini bisa kita dapatkan infonya di mana ya? juga efek sampingnya.. kan kalau beli obat bisa dibaca di kemasan tuh… aku
    browsing2 ga nemu2… yang kudapat hanya manfaat2 saja… pengen tahu
    juga.. kalau ga salah itu hak konsumen juga kan ya?

  • Dalam Daftar Produk Halal Nasional, vaksin Menveo produksi Novartis dinyatakan halal dg Sertifikat Halal MUI no 00140055550710, dan vaksin Mevac dg Sertifikat Halal MUI no 00140055560710. Lengkapnya bisa dilihat disini: http://jambi1.kemenag.go.id/fi

    Saya menyayangkan pernyataan teman-teman anti vaksin yg tidak mempercayai ulama yang telah memberikan fatwa boleh terhadap vaksin, sementara mereka sendiri tidak dapat memberikan penjelasan dari ulama yang bersikap sebaliknya.

    • lukuik

      di Indonesia instansi apa aja bisa di suap pak,tdk terkecuali.makanan yg
      jelas2 ada zat tdk halal nya .tetap dia kasih label HALAL.apa lg
      imunisasi belanja besar Indonesia.

  • wah…saya lebih memilih imunisasi aja deh. soalnya yg milih antivaksin argumennya krg didukung data ilmiah.

    • lukuik

      kamu ikut aja dngn orang yg data ilmiah nya ngarang…. di Islam klu bohon kan dosa.makanya gak mau ngarang.coba kamu lihat kiblat ilmiahnya ke barat kan.orang barat kan suka ngarang .contohnya : neil amstrong ke bulan . 30 thn umat di bohongi.sekarang terbongkar ,ternyata gak nyampe bulan .wkwkwkwkwk…
      begitu jg lah dengan pernyataan 2 lainya

  • ORANG YANG BERILMU YANG ILMUNYA TIDAK BERMANFAAT :

    “Orang yang paling keras adzabnya pada hari kiamat adalah orang yang berilmu yang ilmunya tidak bermanfaat baginya”
    (Diriwayatkan Ath-Thabrani, Ibnu Adi dan Al-Baihaqi)

    Mendebatkan suatu topik masalah dengan tujuan mencari kemenangan dan pamor merupakan sumber akhlak yang TERCELA.
    dengan itu orang tersebut menjadi ujub untuk unggul dari lawan-lawannya, tidak pernah selamat dari riya, karena tujuanya supaya orang lain tahu kehebatannya dan mendapatn kalimat “KAMU HEBAT”

    Minhajul Qashidin

    • ummu salamah al hajjam

      Apa apa yang di lakukan oleh umat Islam yang paham, bahwa hidupnya itu untuk beribadah, maka apa yang di lakukannya hanyalah untuk mendapat Ridho Allah.

      Apa apa yang membahayakan ciptaan Allah, dan merusak nya, apalagi merusak ciptaan ALLAH , mahluk yang di sebut Manusia, adalah hal yang sangat merendahkan martabat manusia.

      Allah ciptakan manusia khususnya umat muslim, agar mampu mengelola dunia ini dengan Aturan ALLAH. Apa apa yang sudah di tentukan oleh ALLAH, maka manusia HARAM melakukan dan membuat rumus rumus tandingan.

      Untuk tindakan pencegahan terhadap suatu penyakit yang belum ada, maka Rasulullah sudah contohkan.

      Untuk Bayi dengan ASI halalan toyiban dan Tahnik.

      Untuk anak anak , remaja, dewasa, orang tua dengan Bekam, makan halalan toyiban, herbal contoh Rasul, dan prilaku taat Syariah di setiap langkah kehidupan . Bukan VAKSIN.

  • Dalam Daftar Produk Halal Nasional, vaksin Menveo produksi Novartis dinyatakan halal dg Sertifikat Halal MUI no 00140055550710, dan vaksin Mevac dg Sertifikat Halal MUI no 00140055560710.

    Saya menyayangkan pernyataan teman-teman anti vaksin yg tidak mempercayai ulama yang telah memberikan fatwa boleh terhadap vaksin, sementara mereka sendiri tidak dapat memberikan penjelasan dari ulama yang bersikap sebaliknya.

    • lukuik

      di Indonesia instansi apa aja bisa di suap pak,tdk terkecuali.makanan yg jelas2 ada zat tdk halal nya .tetap dia kasih label HALAL.apa lg imunisasi belanja besar Indonesia.

      • Andang Irfan Riyanto

        anda sudah tidak percaya MUI ? berarti anda juga makan makanan haram dong

        • ummu salamah al hajjam

          Memang dalam Hukum Demokrasi apa apa bisa di beli oleh uang, Makanya demokrasi in memang sistem Haram yang hanya menghasilkan manusia manusia yang rusak.

          Karenanya harus ganti dengan Sistem Islam, Kalau Sistem yang di gunakannya adalah Sistem Islam, baru bisa percaya MUI

        • ummu salamah al hajjam

          Memang dalam Hukum Demokrasi apa apa bisa di beli oleh uang, Makanya demokrasi in memang sistem Haram yang hanya menghasilkan manusia manusia yang rusak.

          Karenanya harus ganti dengan Sistem Islam, Kalau Sistem yang di gunakannya adalah Sistem Islam, baru bisa percaya MUI

    • Biru Langit

      vaksin halal? yang saya dengar masih ada perbedaan pandangan dari MUI tentang halal/ haramnya vaksin. bagaimana caranya halal dan haram vaksin dapat ditentukan bila vaksin belum didaftar untuk di audit oleh BPOM MUI? yang menyatakan vaksin halal hanya bersandar pada fatwa bila terdesak barang haram jadi halal. namun apakah sekarang kondisi terdesak? apakah kondisi terdesak adalah sebuah rutinitas? bahkan ada anak yg tidak di vaksin sehat-sehat saja.

      yang saya tidak suka dari vaksin salah satunya adalah kandungan merkuri pada vaksin, ada dampak merkuri pada otak dan tubuh anak. cara masuk vaksin juga tidak alami karena langsung ke darah, tidak alami seperti makanan yg melalui berbagai filter, (ex: hati, ginjal etc) untuk membuang racun.

      coba dilihat di youtube dampak mercury sebagai neuron degeneration.

  • salam dok, nice artikel
    sebaiknya kita melihat kembali mengapa vaksin dibuat, yakni untuk mencegah atau mengurangi komplikasi dari penyakit tertentu.
    silahkan cari di internet, apa bahaya dan komplikasi penyakit2 seperti tuberkulosis, dipteri dan lain-lain. vaksin bukanlah obat dewa, yang menjamin perlindungan 100%. namun vaksin menimalisir komplikasi yang bisa ditimbulkan.

    dampak bila diberi vaksin atau tidak, tidak bisa hanya dinilai 1-2 tahun, sehingga tidak rasional bila ada pernyataan ” anak saya umur 5 tahun tidak diberi vaksin sehat-sehat saja”. jelas sehat, ruang lingkup pergaulannya masih terbatas,

    saya tidak kontra dengan pengobatan metode lain malah saya mengapresiasi promosi terapi2 herbal pada masyarakat untuk memperluas wawasan. yang membuat saya tidak respek adalah penyampaian “Hal ilmiah tanpa didukung “data ilmiah” dan ungkapan menyerang karakter, data ilmiah didapat dari pengamatan ilmiah, bukan asumsi subjektif berdasarkan pengalaman atau testimoni orang lain.

    • ummu salamah al hajjam

      Mas Rizky, apa bisa kumpulkan Dananya…?? Saya sudah pernah membicarakan untuk mengupayakan pengumpulan dan data ilmiah, Dari pemerintah dan instansi tak ada respon, malah kita harus mengumpulkan dana sendiri…??

      Di belanda sudah ada pak… jadi ini bisa di jadikan bukti ilmiah. Karena manusia di belahan bumi manapun organ tubuhnya sama , tak ada yang berbeda.

    • ummu salamah al hajjam

      Mas Rizky, apa bisa kumpulkan Dananya…?? Saya sudah pernah membicarakan untuk mengupayakan pengumpulan dan data ilmiah, Dari pemerintah dan instansi tak ada respon, malah kita harus mengumpulkan dana sendiri…??

      Di belanda sudah ada pak… jadi ini bisa di jadikan bukti ilmiah. Karena manusia di belahan bumi manapun organ tubuhnya sama , tak ada yang berbeda.

    • M Yanto Heryanto

      Setuju. alhamulillah ada orang yg menguasai ilmunya

  • Ahmad Ridho

    Kita ketahui, dimanapun obat dan apapun jenisnya berefek samping pada tubuh lain. seperti obat TBC berefek pada hati, juga obat flu dll karena ada unsur kimia yang pada dasarnya sifatnya racun atau asing bagi tubuh. begitu juga dengan Imunisasi. walau ada manfaatnya tapi akan ada dampaknya.
    banyak obat herbal lain yang bisa dijadikan alternatif. seperti misalnya saya terkena flu, saya tidak langsung membeli obat flu, saya lebih senang mengkonsumsi vit C, buah2an, dan madu. ya agak lama 2-4 hari baru sembuh tapi saya merasa lebih aman karena itu asli ciptaan Allah bukan buatan.
    lagi pula pada Al-Quran madu termasuk kategori yang disebut obat oleh Allah. jadi siapa yang lebih dipercaya dari pada Allah?
    lebih lagi Rasul pernah bersabda bahwa “Apabila haram sudah jelas, dan halal sudah jelas maka ditengah2 itu adalah subhat, dan subhat itu lebih dekat kepada haram”. pertanyaannya adalah apakah posisi imunisasi itu? Halalkah? Haramkah? atau subhat? kalau masih subhat lebih baik saya menghindarinya karena rasul melarang mencari pengobatan dari yang haram. kalau makan masih diperbolehkan memakan yang haram kalau terdesak, tapi sepertinya rasul tidak mengizinkan pengobatan dengan yang haram walaupun terdesak…
    Wallahu’alam bishshowab

    • Ahmad Ridho

      satu hal lagi, saya lihat referensi penulis akan imunisasi diadopsi dari tulisan barat dan WHO. padahal kita ketahui, media barat, organisasi, dan lain sebagainya banyak data yang mereka sampaikan tidak valid dan cenderung politis. kita lihat kasus analisa pinjaman ke Indonesia berkenaan pertumbuhan ekonomi dari hutang yang mereka berikan, data bahwa irak memiliki senjata kimia, data tentang kesehatan di Afrika bahkan data tentang wabah flu babi dan burung. data mereka sangat politis dan untuk kepentingan mereka. cobalah cari data dari sumber yang lain. mungkin penulis bisa saya sarankan membaca buku dengan judul Deadly Mist. buku itu dibredel di AS. tapi buku itu gak ada salahnya jadi referensi dan juga data2 valid yang bisa penulis dapatkan. jangan full ambil dari data yang barat berikan. Jazakumullah.

      • kadang sy jg berpikir2. kenapa org2 jaman dulu umurnya panjang2. dan skrg umurnya pendek2. padahal mereka sdh bisa dikatakan hidup dlm kondisi yg higienis??

        • adahal mereka tidak diimunisasi

          • Ukhti, karena jaman dulu, keadaan belum sepolutif sekarang, makan tidak banyak nerpengawet, tidak memakai pemanis buatan dll…Namun tetap perlu kita kritis dalam hal imunisasi…

          • ummu salamah al hajjam

            karena itu manusia harus berubah, manusia tak bisa menentang Aturan Allah, Rumus Allah mau di lawan dan membuat aturan tandingan, maka tak heran manusia yang hancur.

            Rumus manusia untuk sehat adalah makan yang halalan toyiban, halal lagi baik, baik menurut ALLAH yang alami.

            Nah sekarang manusia membuat makanan yang instan, berpengawet, ayam di suntik hormon penggemuk yang merusak, oabtan pakai kimia, minum susu formula, di suntik penyakit Vaksin, Ini semua jelas menentang aturan ALLAH. Maka tak heran manusia sakit sakitan, rusak,

            Karena itu maka tak bisa manusia itu menentang hukum Allah, aturan Allah, wajib hukumnya mengikuti aturan Allah, agar manusia itu Sukses.

            Coba aja kalau beli motor, bikin aturan sendiri tempat bensin di tambah air teh, oli di kasih kolek pisang .. rusak nggak motornya…?

          • ummu salamah al hajjam

            karena itu manusia harus berubah, manusia tak bisa menentang Aturan Allah, Rumus Allah mau di lawan dan membuat aturan tandingan, maka tak heran manusia yang hancur.

            Rumus manusia untuk sehat adalah makan yang halalan toyiban, halal lagi baik, baik menurut ALLAH yang alami.

            Nah sekarang manusia membuat makanan yang instan, berpengawet, ayam di suntik hormon penggemuk yang merusak, oabtan pakai kimia, minum susu formula, di suntik penyakit Vaksin, Ini semua jelas menentang aturan ALLAH. Maka tak heran manusia sakit sakitan, rusak,

            Karena itu maka tak bisa manusia itu menentang hukum Allah, aturan Allah, wajib hukumnya mengikuti aturan Allah, agar manusia itu Sukses.

            Coba aja kalau beli motor, bikin aturan sendiri tempat bensin di tambah air teh, oli di kasih kolek pisang .. rusak nggak motornya…?

          • orang dl mah makanya organik.jrng2 mkn daging merah,ayam bro, srng puasa krn jaman susah pangan.qt kan over.makan kl g enak,berdaging g berselera,badan melar dibiarin aja,krn susah membagi tuh.cb aja ditengok dapur qt,sangat byk racun yg diolah dikonsum setp hr.blm mrk sll jalan kaki kemana aja.pantas aja kl org dl panjang umur.cb aja ditiru ya…

  • Kenapa bukti ilmiah (evidence based) penting?

    1. Karena sikap ilmiah dalam ilmu pengetahuan adalah warisan Islam. Ilmuwan dan ulama Islam telah berperan penting dalam menemukan dasar ilmiah dalam mengembangkan ilmu kedokteran, di saat pengobatan barat di masa itu masih tidak rasional dan berdasar takhayul. Misalnya metode perumusan hipotesa dalam penelitian ilmiah diajukan oleh Ibnu Sina, dan masih digunakan sampai sekarang.

    2. Karena bersikap ilmiah adalah bagian dari ikhtiar. Allah SWT. yang menyembuhkan, dan manusia dituntut berikhtiar dengan mengupayakan terbaik. Ketika kita berhadapan dengan pilihan-pilihan terapi, maka kita perlu menentukan terapi mana yang paling efektif dan paling aman.
    Ketika sebuah terapi diklaim mampu menyembuhkan, maka sejauh mana kesembuhannya? Berapa yang sembuh dan berapa yang tidak sembuh? Jika dibandingkan dengan terapi yang lain, mana yang lebih baik kesembuhannya? Bagaimana dengan keamanan dan efek sampingnya? Pertanyaan-pertanyaan itu yang dicoba dijawab dengan penelitian-penelitian ilmiah.
    Umumnya pengobatan alternatif mengandalkan kesaksian beberapa orang yang mendapat manfaat dari terapi tersebut. Secara ilmiah, kesaksian beberapa orang tidak cukup kuat
    sebagai bukti manfaat. Logika sederhananya, kalau ada 1000 pasien yang diterapi, dan yang memberikan kesaksian sembuh 10 orang, maka angka kesembuhannya sangat rendah.

    3. Bagaimana mungkin kita tidak tergerak mengisolasi zat aktif dari berbagai obat herbal yang ada, dari jamu, ramuan, atau minyak-minyak itu ? Mengisolasinya, mengkarakterisasinya, mencari target molekulnya, mengukur hasil reaksinya, memodifikasi dan seterusnya sampai didapatkan satu compound yang sahih farmakokinetik dan farmakodinamiknya. Al Qur’an jelas menganjurkan penggunaan madu dalam pengobatan. Tapi apakah ada ayat dan hadits yang menyatakan zak aktif apa saja yang bermanfaat dalam madu? Dosis, indikasi, kontraindikasi, efek sampingnya?
    Pekerjaan 10-20 tahun untuk menemukan satu obat terasa seperti perbuatan bodoh, kalau materi ukurannya, untuk apa bersusah payah kalau dalam 1-2 tahun saja bisa laku keras mendompleng ghirah? Padahal efek samping tidak diketahui, dosis tidak standar, variasi genetik tidak dipertimbangkan, sterilitas dipertanyakan, potensi alergi tidak tahu, bahkan efek terapinya pun belum reproducible.
    Bagaimana mungkin umat Islam tidak merasa terusik ketika yang mem-follow up hadits Nabi tentang habbatussauda adalah non-muslim, yang melakukan penelitian ilmiah, uji
    klinis, sampai saat ini memproduksi habbatusauda dalam bentuk sediaan yang diresepkan.
    Penelitian di barat sudah mampu meng-ekstrak thymoquinone dari habbatussauda, mengujinya dalam pengobatan kanker, dan lain-lain.

    • irawan agung hidayat

      Terima kasih. Tulisan anda di atas mewakili kecemasan saya terhadap produk-produk herbal yang konon diklaim thibun nabawi. Inilah yang seringkali saya cemaskan dari produk-produk herbal : “efek samping tidak diketahui, dosis tidak standar, variasi genetik tidak dipertimbangkan, sterilitas dipertanyakan, potensi alergi tidak tahu,
      bahkan efek terapinya pun belum reproducible”. Tanyakan ke produsen-produsen herbal apakah mereka mengetahui dan mengaplikasikan konsep GMP & HACCP dalam pembuatan dan pengemasan herbal mereka??

      10 gram habbatussauda tentu berbeda dengan 10 gram zat aktif dalam habbatussauda. misal dalam 1 gram habbatussauda mengandung 5 miligram thymoquinone, lalu dosis untuk kesembuhan adalah 500 miligram maka pasien harus mengkonsumsi 500 gram (setengah kilo) habbatussauda. berapa uang yang harus anda habiskan untuk mebeli 500 gram habbatussauda??

      ini yang sering tidak disadari oleh para pengkonsumsi herbal yang diklaim thibun nabawi. bahwa zat aktif berbeda dengan raw material.

  • Adhim Setiadiansyah

    Terimakasih dok, saya memang sudah yakin, namun karena kurang literatur saya ga berani mendebat.. saya izin copy dok…

  • Vaksin campak tapi tetap kena campak, Vaksin cacar tapi tetap saja kena cacar, trus divaksin buat apa kalo masih kena? anak saya dari lahir sampai mau usia 9 bulan tidak menampakan gejala autisme semua respon baik ada tatap mata dipanggil menoleh, namun pada saat setelah imunisasi di usia 9 bulan, semua berubah drastis diawali panas tinggi kemudian penurunan berat badan kemudian terjadi gejala autisme setelah dibawa ke dokter ternyata memang autisme. dari semua teman2 yang menterapi anaknya berkebutuhan khusus semua di imunisasi dan yang paling parah sampai lumpuh setelah vaksin anti meningitis. buku bisa dikarang dok, isinya belum tentu benar, sesuai dengan pikiran si penulis aja. kalo memang anda tidak mau kesalahan sebaiknya pakai sistem survey lakukan survey terhadap anak yang di vaksin dengan yang tidak dan lihat hasilnya. kalo banyak mudharatnya ya hentikan…

    • Betul Bu ini juga menjadi pertanyaan saya….sekarang ini banyak sekali kasus-kasus anak seperti autisme, ODD, dislexia dll sampai saya , menurut saya banyak yang harus diteliti korelasi antara vaksinasi dan kesehatan anak ( generasi), antara yang haram dimakan dengan yang tidak terhadap perkembangan anak, antara kerusakan lingkungan ( termasuk jenis makanan ) dengan perkembangan kesehatan anak, antara pola pendidikan dengan pekembangan anak dll. semua perlu penelitaian …….tapi harusnya kita memlihat sejarah kapan ada masa dimana anak-anak dan generasi dapat tumbuh dan berkembang dengan baik…..jawabannya apakan Pada masa Rasulullah? kalau ya berarti masa itulah yang harus kita ikuti

    • fajar

      mba anak saya sdh mau masuk usia 9 bl, saya jd takut unk mengimunisasi campak, aapa benar anak mba stlh imunisasi campak jadi autis?

      • M Yanto Heryanto

        @Fajar sekedar saran, jangan takut memberikan imunisasi pada anak anda. segera lakukan imunisasi. bila ragu segera cari informasi yg dapat dipercaya, tambah ilmu dan pengetahuan seakurat mungkin

      • didin bae

        setelah imunisasi anak saya panas tinggi lebih dari 38’C saat itu saya takut anak saya step. Alhamdullilah ternyata ga step tapi setelah dua hari panasnya turun, tapi mulai nampak tanda2 autis. setelah dibawa kedokter memang autis. sampai sekarang mau 6 th masih belum bisa komunikasi. jangan begitu percaya sama dokter. udah jadi rahasia umum dokter bisa kaya karena 2 hal, buka praktek dan berhasil kalo ga jadi suplyer obat. kadangkala hal2 yang ga baik pun bisa dibilang baik demi melancarkan bisnisnya. pa admin ini juga bisnis vaksin lho, tapi semoga vaksin yang di bisniskan beliau tahu semua asal usulnya sehingga tidak membawa mudharat. teman terapi anaknya lumpuh layu karena mengikuti anjuran dokter supaya pakai vaksin anti meningitis. begitu dokternya didesak untuk tanggung jawab jawabannya saya ambil tindakan ini kan atas persetujuan bapak ibu, apa bila terjadi efek samping bukan tanggung jawab saya, kecuali saya mengambil tindakan tanpa seijin bapak ibu. tetap kalo ada masalah pasien ga menang lawan dokter. rata2 dokter bilang vaksin imunisasi baik, tapi berani ga jamin kalo terjadi apa2 dengan anak kita dia mau membiaya seluruh pengobatannya sampai sembuh??? saran saya kalo memang ingin anaknya di imunisasi pilih yang penting saya, tidak semua vaksin bermanfaat. setiap penyakit bisa datang karena ijin Allah yg di imunisasi belum tentu selalu sehat dan yang tidak imunisasi pun belum tentu penyakitan. ini beberapa pernyataan dokter anti imunisasi.

        “Satu-satunya vaksin yang aman adalah vaksin yang tidak pernah digunakan.”
        ~ Dr. James R. Shannon, mantan direktur Institusi Kesehatan Nasional Amerika

        “Vaksin menipu tubuh supaya tidak lagi menimbulkan reaksi radang. Sehingga vaksin mengubah fungsi pencegahan sistem imun.”
        ~ Dr. Richard Moskowitz, Harvard University

        “Kanker pada dasarnya tidak dikenal sebelum kewajiban vaksinasi cacar mulai diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200 kasus kanker, dan tak seorang pun dari mereka yang terkena kanker tidak mendapatkan vaksinasi sebelumnya.”
        ~ Dr. W.B. Clarke, peneliti kanker Inggris

        “Ketika vaksin dinyatakan aman, keamanannya adalah istilah relatif yang tidak dapat diartikan secara umum”.
        ~ dr. Harris Coulter, pakar vaksin internasional

        “Kasus polio meningkat secara cepat sejak vaksin dijalankan. Pada tahun 1957-1958 peningkatan sebesar 50%, dan tahun 1958-1959 peningkatan menjadi 80%.”
        ~ Dr. Bernard Greenberg, dalam sidang kongres AS tahun 1962

        “Sebelum vaksinasi besar besaran 50 tahun yang lalu, di negara itu (Amerika) tidak terdapat wabah kanker, penyakit autoimun, dan kasus autisme.”
        ~ Neil Z. Miller, peneliti vaksin internasional

        “Vaksin bertanggung jawab terhadap peningkatan jumlah anak-anak dan orang dewasa yang mengalami gangguan sistem imun dan syarat, hiperaktif, kelemahan daya ingat, asma, sindrom keletihan kronis, lupus, artritis reumatiod, sklerosis multiple, dan bahkan epilepsi. Bahkan AIDS yang tidak pernah dikenal dua dekade lalu, menjadi wabah di seluruh dunia saat ini.”
        ~ Barbara Loe Fisher, Presiden Pusat Informasi Vaksin Nasional Amerika

        “Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatan. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya.”
        ~ Dr. William Hay, dalam buku “Immunisation: The Reality behind the Myth”

    • Burhan

      Secara mendasar, vaksin adalah virus yg dilumpuhkan. Yg diharapkan akan memicu antibodi, untuk mengenali virus tsb. Shg jika suatu saat ada virus tsb atau yg sejenis yg masuk, bisa langsung dikenali dan dibasmi…
      Jika ada efek buruk seperti itu, kemungkinan antibodi tidak kuat menahan serangan virus tsb. Sehingga ada efek samping yg timbul, seperti yg Anda alami

      Secara logika, cara mengatasinya adalah mengeluarkan virus tsb. Gimana? Dengan terapi. Terapi apa? Terapi bekam… Insya Allah mendapatkan solusi dengan berbekam

    • M Yanto Heryanto

      Saya mempunyai anak 3 dan sebentar lagi lahir anak ke 4, ketiga anak saya di diberikan imunisasi lengkap, dan alhamdulillah mereka kebal terhadap penyakit-penyakit yg dibicarakan, berbanding terbalik dengan saudara saya yang memiliki anak 2 dan tidak pernah memberikan imunisasi. Sayang skali dan sangat prihatin kedua ponakan saya ini sakit-sakitan sampe2 mengeluarkan biaya yg sangat besar. Saya tidak sependapat dengan mereka yang beranggapan negatif terhadap (IMUNISASI). Walahu alam.

  • anak saya yg terakhir tidak saya Imunisasi sama sekali….tidak berbeda jauh dengan kakaknya yg mendapat Imunisasi…

  • Vaksin paling ampuh untuk anak anda adalah air susu ibu
    susuilah anak2 kalian sampai dia berumur 2tahun

    • Heriz Karzani

      SETUJUUUUU BANGET mas!!!

  • perdebatan ttg imunisasi ujung2nya qt serahkan aja ke personal.yg bs jaga anak2nya,tapa imunisasi ya silahkan.kl yg khawatir,dipersilahkan jg.hanya saja, sikap kita thdp sesama hrs menghargai perbedaan itu.yg herbalis harus bijak menempatkan diri,shg makin byk yg simpatik.yg menggunakan kimia ya hrs diimbangi dng anti toksin,semisal madu.jd akur kan.
    sy rasa masalah ini sama aja dng perdebatan antara KB dan tidak KB.satu hal yg menyatukan adalah keduanya berkaitan dng mewariskan generasi. perlu diingat, rosul menganjarkan” jangan tinggalkan generasi yg lemah(fisik,finansial dan fikrahnya)”.

  • Logis ga ya? kalo saya punya pendapat kalo produsen anti virus komputer adalah sekaligus produsen virus itu sendiri?, maaf sekedar pendapat aja…!!! jgn marah

    • yadi

      betul tuh,,

  • nandar

    bukan mau bersikap lebay atau sejenisnya.. tapi imunisasi ini program siapa?? apa tujuan orang yg memiliki program ini.. bangsa indonesia bangsa besar.. dan mayoritas muslim.. bukankah ini cikal bakal kekuatan dimasa depan.. maka solusi terbaik adalah hancurkan generasinya sedini mungkin..

    saya orang tua yang SAMA SEKALI TIDAK PERCAYA IMUNISASI BERMANFAAT..
    saya yakin anak saya terlahir dengan kondisi dan potensi terbaik dari Allah.. dan tugas saya adalah memastikan asupannya benar.. kalaupun harus… lebih baik kita kembali ke herbal dan sesuatu yang alami..

    herannya saya adalah orang tua bisa memaklumi anaknya panas setelah diimunisasi.. ini apa bukan doktin pembodohan.. anak sy numbuh gigi alhamdulillah tanpa ada panas sedikit pun.. sebelumnya pernah panas itupun karena terlalu aktif bergerak.. di pijit bayi dan diolesi dengan bawang.. alhamdulillah sehat.. Allah maha menyembuhkan.. ikhtiar kita pun tidak boleh salah…

    • ilham jefri

      itu sangat logis
      dan anehnya tujuan vaksin dan imunisasi simpang siur.
      tetap negara megabisnis dan multi konspirasi
      yang bermain

  • Abu Usamah

    Kenapa klo ada berita-berita ttg imunisasi kok seringnya itu terjadi di dunia ketiga? Kok di negara maju jarag kedengaran beritanya? Kepikir juga, jangan-jangan ini nih yang bikin banyak orang curiga sehingga menyimpulkan bahwa imunisasi agenda untuk melemahkan negara ketiga. Padahal vaksin banyak dibuat di negara maju. Padahal siapa dan bagaimana sikap negara maju terhadap dunia ketiga sudah bukan rahasia lagi.

    Awalnya oke oke saja memandang vaksin. Tapi setelah anak saya yang saya imunisasi terindikasi autis (alhamdulillah, bukan autis yg berat), akhirnya anak kedua dan selanjutnya tidak saya imunisasikan, dan alhamdulillah mereka baik-baik saja.

  • waldha

    GAMPANG SIH…AMBIL 100 ANAK…50 DIVAKSIN..DAN 50 TIDAK DIPAKSIN…SAYA PIKIR TIDAK TERLALU LAMA MENINGGU 10 TAHUN…..LIHAT AJA MANA YANG SAKIT2AN MANA YANG SEHAT2 AJA….GIMANA?

    • Edi Suryanto

      boleh tu… tapi cara hidup / lingkungannya harus di buat sama juga

  • Bang Roy

    Saya tidak anti imunisasi. Hanya saja, saya tidak mau anak saya di imunisasi. Yang mau imunisasi silakan, yang nggak mau juga silakan. fair saja.
    Dua-duanya ada resikonya sendiri-sendiri. Yang diimunisasi juga tidak 100% selamanya terbebas dari penyakit. Saya pribadi juga membuktikannya sendiri.
    Yang tidak diimunisasi kalo hidupnya seenaknya, tanpa diimbangi dengan asupan gizi vitamin dsb, juga sama saja.
    Yang petugas kesehatan, silakan lanjutkan tugasnya sesuai dengan sumpah jabatannya.
    Yang yakin dengan herbal thibbun nabawi, silakan konsumsi dan buktikan kemanjurannya.

  • aizawanda

    Bismillah, alhamdulillah saya masih menganggap imunisasi bukan memperparah generasi bangsa. kutipan kutipan yang diambil diatas juga sebenernya bisa di pertanyakan dan bisa dipertanggungjawabkan. buka mata, telinga, hati, bahwa Allah SWT memberikan manusia otak yang dapat mencerna berbagai ilmu pengetahuan yang notabene masih banyak misterinya. segala sesuatu itu penempatannya sama kok, tergantung gimana caranya atau responnya per individu. imunisasi bukan dengan gagahnya memberantas penyakit, makanya ada yg namanya takaran, dosis, cara pakai, hingga pengulangan pakainya. sama kayak obat, pernah terpikir kalau obat itu setengahnya racun? dapat menyembuhkan tetapi jika berlebih pasti ada efek sampingnya. gak hanya itu kan. kalo mau dangkal mikirnya, gampangnya segala sesuatu ada penempatannya. gabisa diliat itu baik maka baik, itu benda jahat maka haram. uang bisa jadi baik atau jahat, pisau bisa berguna untuk memotong sayuran atau jadi pembunuh, sholatpun bisa jadi baik atau jika dibuat pamer malah dosa karena riya.
    kalau bilang punya anak ga diimunisasi gapapa, Alhamdulillah, maka lebih baik bersyukurlah. karena kesehatan dan kesembuhan sesungguhnya hanya di tangan Allah. jika ada yg bilang anaknya sakit karena diimunisasi, kembalilah ingat Allah, sakitnya seseorang tidak hanya diakibatkan suatu hal, “masih ingat ayat jika Allah memberikan sakit itu adalah balasan, ujian, ataupun cobaan?” segala sesuatu bisa terjadi, yg namanya manusia cuma bisa ikhtiar. dan menurut saya imunisasi salah satu bentuk ikhtiar yang baik. jangan dilihat mau terhindar dari penyakit maka ikut imunisasi, tapi lihat dari posisi ingin ikhtiar supaya bisa sehat, mungkin dngn maksimal. tetapi ingat, jalan ikhtiar balik ke Allah, bisa bagus dan tidak. alangkah baiknya jika kita berpikir positif ttg kemajuan dunia kedokteran jaman sekarang tanpa harus membatasi pikiran dengan “zaman nabi ga ada imunisasi, jadi imunisasi belum ada hukumnya”. yaiyalah, zaman dulu mobil aja belom ada kalee *capek deh*. naik mobil gimana hukumnya saudara? mempermudah tetapi menimbulkan polusi (ini cuman perumpamaan saja, biar ga ribet mikirnya).
    kembali ke pribadi masing2, terima ga terima ga masalah. diskusi boleh, asal jangan main judgement.
    Be Smart, Think Positively (berpikiran positif dan benar berarti juga khuznuzan terhadap Allah)

    • lukuik

      anda gak paham ya ,yg di tolak itu apa nya.setau sy yg di tolak itu .karna imunisasi itu halal /haram nya kan gak tau.menurut cerita dl,terbongkarnya imunisasi itu karna gen babi lebih mirip dengan manusia,jd ilmuwan menggunakan babi untuk melumpuh kan penyakit setelah itu baru di ambil jadi faksin.tolong kamu jawab klu bisa?

      • Andang Irfan Riyanto

        lukuik………saya rasa anda juga belum begitu yakin bahwa vaksin terbuat dari babi, dan sama dengan saya belum yakin nya bahwa vaksin itu bukan dari babi…jadi harus di lakukan penelitiaan yang mendalam tehadap vaksin tersebut, bukan hanya dari cerita

      • aizawanda

        coba deh baca komen2nya org yg menolak vaksin bung lukuik, apa semuanya sama seperti anda? satu statement yaitu ogah vaksin krn dari babi? herannya orang sekarang, mendengar cerita bisa percaya, mendengar sebuah penelitian eksperimen atau sesuatu yg sangat ilmiah tidak percaya..

        saya memberikan statement yg sangat global ttg imunisasi, ttg pro dan kontranya, memberikan sedikit pandangan yang mungkin selama ini orang tidak memandang dari posisi itu.. saya hanya memberikan statement knp saya masih mendukung imunisasi, dari sudut berbeda.. soal haram halal emangnya anda paham benar asal muasal vaksin tersebut? lantas bisa mengatakannya berasal dari babi? berdasarkan cerita? mungkin anda lebih baik menjawabnya sendiri :)

        no offense

        • Haryono Adigunawan

          hehehe.. coba main2 ke pabrik produsen vaksin di Indonesia udah belum ? lihat metodologinya.. bahan2nya.. baru bisa komentar…

  • gwen

    saya jg ngga anti imunisasi tapi sejak anak pertama saya autis setelah vaksin saya tdak mewajibkan anak saya yg kedua untuk di imunisasi atau apalah namanya…..mungkin ada yg merasa perlu anaknya di imunisasi tapi say dianjurkan oleh dokter saya cukup beri makanan yg bergizi dan vitamin Insya Allah sehat, sampai anak say yg ke 2 umur 12 tahun dia blm dapat imunisasi lengkap tapi mungkin akan saya imunisasi karena dia sudah besar mungkin takkan terlalu berpengaruh jelek untuk anak saya Insya Allah….Imunsasi sebnarnya jangan diwajibkan tapi atas kemauan ortu sendiri, dokter jangan terlalu beranggapan imunisasi penting sehingga mengenyapingkan dampak buruknya….baru sakit rasanya kalo lhat anak kita autis gara2 imunisasi….tapi itu semua terserah ayah dan bunda.

  • hari

    Saya muslim, jadi imunisasi anak saya dengan cara Rasulullah yaitu tahnik, adapun vaksinasi adalah metode di luar Islam, dan asalnya dari barat yang notabene musuh Islam. Siapapun anda yang mengaku Islam, silahkan tanya hati masing-masing, lebih percaya Sunnah apa metode manusia?

  • lukuik

    Nich yg nulis gak paham ya ,yg di tolak itu apa nya.setau sy yg di tolak itu
    .karna imunisasi itu halal /haram nya kan gak tau.menurut cerita
    dl,terbongkarnya imunisasi itu karna gen babi lebih mirip dengan
    manusia,jd ilmuwan menggunakan babi untuk melumpuh kan penyakit setelah
    itu baru di ambil jadi faksin.tolong kamu jawab klu bisa?

    • Wahyu Anggoro

      Pertama, ejaan yang benar itu V A K S I N. Bukan faksin. Kedua, saran saya kalau memang itu argumentasi yang ingin digunakan, mohon berikan referensi ilmiah berupa jurnal penelitian dan sitasi yang jelas. Ketiga, ada gunanya baca dulu terkait proses pembuatan vaksin itu sendiri, media yang digunakan, metodologi, sampai masalah formulasinya. Keempat, baik menurut saya, bila dua hal di atas diberikan terlebih dahulu sebelum menuntut penjelasan (padahal data di atas sudah sangat baik disajikan dengan mengutip dari sumber yang bisa dicek). Kelima, sekali lagi cek ejaan, cobalah menulis dengan benar.

  • re

    maaf, sya memang tdk terlalu paham dg vaksinasi ini, tapi dari artikel diatas, kalau saya tidak salah datanya sebagian besar adalah data2 kasus yg terjadi di amerika kan y?kenapa kita tidak menganalisisnya dengan2 kasus2 yg terjadi di indonesia atau setidaknya yg satu ras dengan kita. bisa jadi kejadiannya berbeda kan?
    selain itu, saya juga memang pernah mendengar tentang usaha dari pihak tertentu yg memang ingin menghancurkan generasi muda, salah satunya dengan imunisasi ini, saya hanya takut kalau data2 tersebut adalah manipulasi. sekarang apa yg tidak mungkin terjadi, konspirasi, pembohongan publik, dll.
    dari segi halal dan haram sya juga pernah baca bahwa vaksin meningitis itu dari babi.walaupun alhamdulillah sudah ada vaksin yg sudah mendapat sertifikasi kehalalan dari MUI.kalaupun vaksin ini benar2 diperlukan, semoga dengan kemajuan ilmu pengetahuan, vaksin2 tersebut dapat dibuat dari bahan2 yang halal.

  • HIDAYAT

    HATI – HATI syirik kecil,,,
    imunisasi tidak dapat mendatangkan manfaat ataupun mudhorot,,,
    Allah lah yang Maha kuasa, sedangkan makhluk tidak kuasa,,
    LAA ILAAHAILLALLAH…

    • ummu salamah al hajjam

      Vaksin jelas mendatangkan mudhorot, karena bahannya dari yang haram dan beracun, bertentangan dengan Rumus Allah Halalan Toyiban.

    • ummu salamah al hajjam

      Vaksin jelas mendatangkan mudhorot, karena bahannya dari yang haram dan beracun, bertentangan dengan Rumus Allah Halalan Toyiban.

  • Ceo Baituna Corp

    coba tanya kebanyakan anak2 dokter pakah juga di vaksin? kebanyakan dokter ga memvaksin anaknya sendiri

    • ummu salamah al hajjam

      Betul…. beberapa dari mereka menyatakan, itu program pemerintah yang terjajah. Vaksin adalah doktrin dan program yang mengikat, sehingga sebagai dokter merasa serba salah…

      Pilihan terakhir para dokter mensuntikan vaksin kepada pasien atau tidak… tergantung kepada Aqidahnya…

    • ummu salamah al hajjam

      Betul…. beberapa dari mereka menyatakan, itu program pemerintah yang terjajah. Vaksin adalah doktrin dan program yang mengikat, sehingga sebagai dokter merasa serba salah…

      Pilihan terakhir para dokter mensuntikan vaksin kepada pasien atau tidak… tergantung kepada Aqidahnya…

  • yadi

    data sejarah imunisasinya kok terbalik yah,,,perasaan mata saya saat baca artikel di website lainya,,dalam keadaan baik2 saja,,,
    dan 1 lg,,,generasi ygsudah di imunisasi,,keadaan jasmani dan rohaninya,,mayoritas hancur

  • Mizany Amanda

    benar2 dilematis,, karena imunisasi trmasuk slh satu target penting di P2M jg menyangkut Kesehatan Ibu dan Anak di puskesmas.. sbaiknya ad pnelitian lanjut oleh dinkes, dan klw mmg tak berpengaruh thd kesehatan, sbaiknya jgn dijadikan sbg target di puskesmas..

  • Kang Obenk Tekno

    Anak sya sudah 1 thun 4 bulan, sya tdk anti imunisasi. tp stelah melihat keponakan sya yg di imunisasi sering sakit2’an sya dan istri memutuskn untuk tdk imunisasi. hasilnya alhmdulillah, sakit anak sya, klo dihitung baru 3 kali, jauh sekali klo dibandingkan keponakan sya yg di imunisasi. paling sakit pilek saja, obatnya pun mudah, cukup asi dan diberikan air minum yg banyak + madu, alhmdulillah 2-3 hari pileknya sembuh… apa pengalaman sya ini bisa dijadikan bukti/perbandingan?

    • ummu salamah al hajjam

      Secara akal sehat, ini adalah hal yang sangat mudah di pahami, sangat manusiawi dan alami. Sungguh pengalaman bapak bisa di jadikan bukti, bahwa tanpa vaksin manusia lebih sehat dan cerdas.

      Tetapi banyak orang yang terkecoh dengan hal hal yang dinyatakan sebagai ilmiah, hasil rekayasa manusia yang terbatas.

      Kalau saja manusia itu mau berpikir mendasar, sungguh ALLAH itu maha pengasih dan penyayang dengan aturannya yang sempurna dan mudah jika kita pahami… maka selesailah masalah.

    • ummu salamah al hajjam

      Secara akal sehat, ini adalah hal yang sangat mudah di pahami, sangat manusiawi dan alami. Sungguh pengalaman bapak bisa di jadikan bukti, bahwa tanpa vaksin manusia lebih sehat dan cerdas.

      Tetapi banyak orang yang terkecoh dengan hal hal yang dinyatakan sebagai ilmiah, hasil rekayasa manusia yang terbatas.

      Kalau saja manusia itu mau berpikir mendasar, sungguh ALLAH itu maha pengasih dan penyayang dengan aturannya yang sempurna dan mudah jika kita pahami… maka selesailah masalah.

    • Haryono Adigunawan

      kalau menurut produsen sih nggak :P

  • Renol A Umar

    sebanyak itu dokter memaparkan tentang imunisasi tapi sampe habis dokter tidak membahas tentang proses penciptaan dari imunisasi itu sendiri.. penentangan imunisasi bukan hanya sekedar meluhat dari sisi kebetulan saja tapi lebih kepada cara pembikinannya serta kandungan yg berbahaya di dalamnya yg salah satunya adalah merkury… apalagi bagi kami yg orang muslim proses kehalalan sebuah produk itu sangat penting… coba dokter sebutkan kepada kami satu saja imunisasi yang di buat dengan bahan2 yg halal menurut islam…

  • esamha

    setuju atau tidak setuju imunisasi itu terserah orang tua bayi dimana orang punya pendapat yang berbeda beda kita harus bisa menghargai perbedaan pendapat
    dan petugas kesehatan tidak memaksa orangtua bayi, karena orang tua bayi berhak menentukan apa yang menurutnya terbaik untuk bayinya, nabi muhammad aja menyampaikan dakwa dengan mengajak bukan memaksa
    dan bila terjadi apa apa petugas bertanggung jawab
    dan dikenakan sangsi hukuman undang undang perlindungan konsumen

  • Jamal Ahmad

    Bisa disimpulkan permasalahan ttg imunisasi yg perlu diklarifikasi adalah sbb:

    1. Manfaat & mudhorotnya.

    Dalam kedokteran (sebagaimana juga hal-hal lain dalam hidup kita)
    setiap tindakan medis selalu memiliki manfaat & mudhorot. Tidak ada
    tindakan yg 100% bebas mudhorot, tapi tindakan tsb tetap dilakukan atas
    pertimbangan bahwa manfaatnya melebihi mudhorotnya, atau mudhorot yg
    dicegah lebih besar daripada mudhorot yg ditimbulkan -kaidah yg juga
    berlaku dalam banyak hal.

    Imunisasi juga demikian. Manfaatnya telah terbukti, penyakit-penyakit
    yg dulu menjadi momok sekarang sangat jarang terjadi. Imunisasi juga
    menjadi sangat penting terutama ketika berkaitan dg penyakit-penyakit yg
    menjadi masalah masyarakat, bukan sekadar masalah individu. Misalnya
    penyakit menular seperti campak, difteri, TBC dan polio. Seseorang yg
    mendapat penyakit tersebut akan menyebarkannya kepada orang-orang
    disekitar. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan Pemerintah untuk
    mewajibkan 5 imunisasi dasar yg termasuk dalam Program Pengembangan
    Imunisasi (PPI), yaitu BCG, hepatitis B, DPT, polio & campak.

    Ilmu kedokteran juga mengakui secara jujur bahwa tidak semua
    imunisasi 100% efektif, misalnya vaksin BCG untuk TBC hanya mampu
    mengurangi resiko tertular serta menurunkan derajat keparahannya,
    sehingga kejadian TBC yg parah pd anak menjadi jauh berkurang, walaupun
    tidak 100% bisa dicegah.

    2. Halal-Haramnya Imunisasi.

    Masalah halal-haram tentunya harus ditanyakan kepada ulama. Pendapat
    perseorangan perlu diseleksi, apalagi jika orang tersebut tidak memiliki
    kapasitas untuk memeberikan fatwa. MUI sendiri telah mengeluarkan fatwa
    halal untuk vaksin meningitis produksi Novartis dan buatan China.

    Syaikh ibn Baaz (ulama salafy, Mufti Saudi) dan Syaikh Yusuf Qaradhawy juga membolehkan vaksinasi. Fatwa MUI tentang vaksin polio mengakui bahwa vaksin polio yg disuntik telah bersinggungan dg zat-zat yg haram, namun tetap memperbolehkan dg
    pertimbangan darurat bahwa ada kemudhorotan besar yg perlu dicegah,
    serta kita tidak punya pilihan vaksin yg halal. Saya berpendapat bahwa
    fatwa ini bisa juga diterapkan pd vaksin lain yg memiliki kondisi
    serupa.

    3. Teori Konspirasi.

    Saya mengajak teman-teman untuk lebih percaya kepada fatwa ulama
    & penelitian ilmiah yg sahih daripada teori konspirasi yang menuduh
    imunisasi sebagai strategi penghancuran umat Islam, karena teori
    konspirasi seringkali didasari sikap paranoid dan bukti lemah yg
    dipaksakan.

    Teman-teman yg mendukung imunisasi pun sebaiknya tidak bersikap
    paranoid kepada teman-teman yg menolak, misalnya dg menyatakan bahwa
    ajakan menolak imunisasi merupakan konspirasi musuh Islam untuk
    melemahkan anak-anak Islam. Sekali lagi, marilah mengacu kepada ulama
    & penelitian ilmiah yg sahih.

  • ummu

    Saya pernah mendengar langsung ucapan seorang dokter perempuan muslimah (akhwat), ketika membahas masalah kb.
    Teman dokter : dok, alat kontrasepsi yg direkomendasikan apa ya dok? saya bingung menentukan.

    Dokter : Spiral bu

    Teman dokter : kalo dokter sendiri pakenya apa?
    Dokter : kalo saya ga pake alat kontrasepsi, tapi kalau ada pasien yang tanya saya bilang kalo saya pake spiral juga, hehe .. bohong putih kan gapapa ya.. (-> nah lhoo, benarkah ini termasuk bohong putih ???)

    *memang di luar pembahasan ttg imunisasi, ini salah satu contoh, analog saja, kalau ternyata dunia medis dan beberapa pelaku nya tidak selalu jujur mengatakan apa yang dia sendiri ga yakin memakainya (menurut saya).

  • anik wulandari

    menurut pemahaman saya berarti jika Bias DT/Td cakupanmemenuhi >95% berarti membentuk kekebalan masal pada peny difteri, tapi tidak untuk tetanus pak????

  • ela

    maaf sy tdk lengkap bacanya..penelitian itu berlaku di israel g y..di sekolah2 terkesan di paksakan agar anak bs di suntik semua

  • Anukasep Anubageur

    Anak saya ngga di imunisasi, Alhamdulillah sehat2 saja sekarang dua2 nya sudah SD.. Kls 4 dan Kls 1. Allah menciptakan tubuh manusia dgn sudah sempurna, mengapa harus dikasih imunisasi??? ada cara Nabi yg dgn korma itu.
    Imunisasi menurut saya hanya salah satu bisnis dari dunia kedokteran modern saat ini… Ngga ada gunanya.. Semua penyakit itu datangnya dari hati manusia itu sendiri

  • jeffry ridho

    masa gusti ALLOH menciptakan manusia masih ada kurangnya…apalagi mslah kesehatan….

    • Ginekologi Jaka (dokterginekol

      Tull …. setuju sama masbro…. banget tapi ghak tau ya … kayaknya dokternya merasa lebih pinter dari Tuhannya … kayaknya banyak kurangnya aja tuh nyiptain manusia …. padahal cacat ….. bayi ghak sehat karena faktor lebih ke orng tuanya dari masa kehamilan sampai lahir dan dewasa dalam masalah asupan yg kurang untuk pertumbuhan janin ataupun asupan yg membahayakan janin atau faktor fisik yg lain blum lagi faktor genetis …. apakah tubuh ghak mampu membangun antibodi
      … kalo gak bisa pasti ada sesuatu yg salah ….. walaupun kesannya kejam anak ghak di imunisasi tapi saya sendirilah buktinyata anak pertama …. semua suntikan imunisasi masuk ….. a sampai z …. anak kedua udah ghak komplit lagi anak ke 3,4,5 tak satupun masuk vaksin …. selama ini kalopun sakit campak, sakit cacar, yg lain2 berhasil dilalui tanpa kendala walaupun ketika masuk fasilitas kesehatan terlihat dimusuhi dokter, perawat dan lain2 konkrit … mematahkan semua argumen dokter2 ternama, bukan hanya satu kasus … anak pertama dan 2 kami dirujuk untuk sesar … di intimidasi dokter dengan alasan berjuubel ….. ini dan itu yg ghak bisa disebutin satu persatu alasannya …. kemudian selanjutnya dgn modal beriman kepada Allah … alhadulillah anak kami selanjutnya berhasil melahirkan normal tanpa kendala …. kami bukan keluarga berada ataupun keluarga yang kekurangan finansial untuk sesar ataupun berlebih ….

      Atas dasar apa kita percaya vaksin tidak memasukkan zat yg lain selain yg dibutuhkan tubuh untuk membangun antibodi …. siapakah penjaminnya … apakah tubuh menerima atau alergi thd vaksin … apakah persiapan sebelum dan sesudahnya kembali lagi kepada masing2 kepercayaannya … yg pro ya harus siap dgn konsekuensinya ….. yg kontra vaksin harus lebih capek dgn mengurus generasinya biar terbangun antibodi yg kuat …. kesehatan itu mahkota pejuang kebenaran Allah ….. tak sehat tak bisa perjuangkan apa2 …. dalam tubuh yg sehat …. jiwa yg kuat …. mental spiritual yg sehat … tubuhnya akan kuat …. sakit mental dan spiritual akan mudah penyakit masuk …. definisi sakit mental dan spiritual akan melebar kemana2 silahkan kembangkan sendiri …. selamat berjuang

  • Indra Dokter

    Para anti vaccin…sudahkah anda telaah secara ilmiah tulisan diatas? Tulisan yg dibuat oleh spesialis anak konsultan…., kalau anda masih juga tidak terima, sama saja anda tidak percaya ilmiah. Jadi percuma donk diskusi sama anda, ya sudah tidak ada paksaan anak2 anda harus di vaccin. Yg pasti tanggung jawab sebagai tenaga kesehatan sudah lepas…silahkan menanggung akibat pilihan kita masing2…

    • Haryono Adigunawan

      sepertinya supaya ilmiah coba dijelaskan saja pak sejelas2nya komposisi vaksin itu sendiri..

  • Jainal Arifin

    Maaf, Menurut saya materinya belum sempurna atau masih sangat meragukan atau masih belum ilmiah masih bercerita berupa data kasus dari sebuah sumber (bahan bacaan) seharusnya Gelar Dr. bisa lebih dari itu..!!!, Yang ilmiah seharusnya 1. Sebutkan salah satu vaksin 2. Apa komposisi vaksin tersebut dan jelaskan komposisinya apa, dari mana dan gunanya?.. 3. Cara buatnya seperti apa? 4. data-data berupa bukti dari no. 2-3
    cerita diatas sama seperti menceritakan makanan di sebuah restoran “KATANYA ENAK” buktinya dengan menanyakan kepada orang sudah makan disana “TAPI KITA GA TAU APA KANDUNGAN MAKANANYA?” jika bumbunya ada “Minyak BABI” mana kita tau..?

    • Haryono Adigunawan

      yup salah satunya merkuri…

  • phantom1926

    O jadi ciptaan Allah SWT kurang sempurna ya, sehingga karena perubahan jaman dan perkembangan varian/jenis penyakit “diprediksi” tidak akan bisa melawan penyakit2 yg notabenenya Allah juga penciptanya.
    Kayaknya pernah dengar jg deh komentar2 seperti ini untuk syariat islam, penerapan khilafah dll.

  • Abu Mujahid

    BUKA MATA PAK N JANGAN HANYA AMBIL REFERENSI DARI WHO,REFERENSI YANG SESUNGGUHYA ADALAH APA YANG TERJADI DILAPANGAN

  • dedi firmanto

    Vaksin ..knapa jd sugesti dan tdk?…kupas halaman2 terdahulu ..knapa didakan vaksin?…pernahkah suatu negara terjangkit wabah/ penyakit?..karena kemiskinan kuarangnya gizi?…banyak objek2 lainnya yg beralasan…di berlakukanya..Vaksin…sdh jelas bahwa vaksin itu menguntungkan …bukan pada waktu terdahulu…bahkan untuk saat sekarang..lebih mengantisipasi bakteri2 yg lebih merugikan pd tubuh manusia…waallahualam

  • ilham jefri

    maaf pak, coba kita analisa mengapa virus virus tersebut muncul dinegara AS, baik sejarah aids sampai polio.
    dan saat ini negara tersebut mengklaim telah bebas dari polio, dan kita analisa lagi donatur intansi kesehatan di dominasi adalah konglomerat AS dan sejawatnya.
    memang lahan basah penjualan vaksin adalah negara berkembang dan negara nomor tiga.
    melihat efek samping Pemberian vaksin sangat menyiksa balita, bisa demam sampai beberapa hari, bekas suntikan terjadi pembengkakan. sunguh membuat Ibu khwatir.
    rakyat kita mulai terjangkit virus yang tak jelas sumbernya, dan seluruh dunia terjangkit setelah terjadi PD ke II.

  • Budiasih Wulan N

    Dalam jangka pendek efek samping vaksin cm demam. Tp setelah beberapa tahun tuh virus mengendap di tubuh anak nah bakala ada banyak efek samping yg lebih berbahaya lagi. Lagian juga orang di suruh dihidup ala rosul dgn makan kurma, madu, jintan trus pola hiduo seperti sunah rosul itu lo sdh cukup., insyaAllah dalam perlindungan Allah terus. Gak perlu obat obatan kimia lagi.

  • Gahax Rawa

    Asslmlkm, dok, tlng bls ke email sy sj, ini kwn lama dari rawa-rawa..

  • Shandanoni

    Dokter, mohon dibuat contoh contoh yang berasal dari Indonesia atau negara lain, misalnya negara Palestina, china, Jepang, dll .. mengapa virus Polio dan lain2nya menyerang negara Amerika saja? apakah sejarah pernah mencatat Indonesia terkena wabah juga? lalu bagaimana dengan Palestina, mereka selalu perang di Israel apakah mereka tetap ada imunisasi? artikel anda sudah baik, tapi mohon ditambahkan lagi penelitiannya.

    saya sih tidak anti Imunisasi/Vaksin, tetapi penasaran dengan info2 lainnya, kalo bisa yang tidak berhubungan dengan Amerika atau lembaga2nya, untuk kaum religius seperti Indonesia sangat penting untuk menjalani syariat2 Agamanya, karena kami lebih percaya Tuhan daripada apa yang diciptakan Manusia, jangan salah mengartikannya ya.. yang penting jangan memaksakan untuk Vaksin/Imunisasi bila orang tua memilih tidak mau.

    mungkin saya lebih pro untuk pendidikan pemberian ASI ekslusive dan pola hidup sehat serta menjaga lingkungan supaya bersih kepada Rakyat miskin digencarkan.

    wallahualam semoga kita selalu dilindungi dan ditunjukan kebenaran oleh Allah Swt.

  • Mirza Syah

    KATAKAN “TIDAK!” UNTUK VAKSIN

    Seorang dokter senior menyatakan dengan tegas bahwa vaksin (asli) mengandung unsur haram yaitu babi.

    Berikut saya kutip tulisan Jagad A. Purbawati (2013) dalam bukunya yang berjudul “The New World Order, Konspirasi Global Para Penyembah Iblis Menaklukkan Dunia”, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

    Mari kita pelajari fakta -fakta tentang vaksinasi, zat apa saja yang terkandung di dalamnya, baik atau jahat kah kandungan-kandungan dalam suatu vaksin yang disuntikkan dalam tubuh manusia?

    A. BERMACAM VIRUS

    Virus -virus dalam suatu vaksinasi ada yang telah mati atau ‘dilemahkan’ dengan cara diberi tambahan bahan bahan kimia beracun. Virus yang dilemahkan tersebut tidak hanya menjadi tidak berdaya namun juga sekarat. Binatang yang sekarat bisa saja mati dan membusuk di dalam tubuh kita. Hu Tetapi ada hal yang lebih parah: virus yang ‘dilemahkan’ ini merupakan percampuran (ibarat) sup. Di bagian sup tersebut selain terdapat virus-virus yang mati atau sekarat, sebagian lagi terdapat virus-virus yang akan segera sehat kembali. Banyak di antaranya akan menjadi sangat kuat dan hebat dan tetap hidup serta berkembang biak dalam tubuh kita.

    Jadi vaksin yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia pada hakikatnya mikroba berbahaya yang sekarat.

    Sekarang Anda dapat mengerti kenapa seseorang yang di vaksinasi polio justru terserang polio! Virus-virus polio dalam vaksin tersebut sembuh, lalu memperbanyak diri dalam tubuh yang disuntik vaksin.

    B. BAKTERI DAN BERBAGAI MIKROBA LAINNYA

    Jangan berfikir hanya ada satu jenis virus dalam suatu vaksin. Ada jutaan bakteri dan virus yang didapati dari serum untuk membuat vaksin yang diambil dari berbagai NANAH MONYET, sapi, BABI, dan binatang lainnya yang dilakukan para pekerja di lab. Para pekerja lab selanjutnya ‘membersihkan’ vaksin tersebut. Namun para pekerja lab tidak bisa memastikan diri mampu mengamati zat-zat asing dan bentuk kehidupan dalam zat cair yang disuling tersebut dengan baik. Kenapa? Karena terdapat jutaan mikroba binatang dalam suatu vaksin!

    Faktanya para pekerja tidak bekerja secara langsung dengan jumlah virus dan bakteri satu persatu. Sebelum memproduksi massal produk untuk dijual kepada dokter, mereka harus mengembangkan suatu cara untuk memproduksi serum dalam vats dengan mesin dalam jumlah yang begitu besar. Jadi, jangan membayangkan produk ini diperiksa semuanya, hanya sampelnya saja yang diperiksa.

    Sekarang Anda mengerti kenapa seseorang yang diberi vaksin pertussis (infeksi saluran pernafasan akut dan sangat menular, biasanya mengenai anak kecil dan disebabkan oleh Bordetella pertussis.Kamus Kedokteran Dorlan, Edisi 29, hlm. 1652), dapat, selain memperoleh batuk rejan – menjadi lumpuh. Ada banyak kuman-kuman dalam vaksin tersebut, selain virus-virus pertussis.

    Namun masih ada bahan lain di dalamnya, yakni bahan kimia beracun.

    C. BAHAN KIMIA BERACUN

    Di dalam lab, satu atau beberapa bahan kimia beracun digunakan untuk melemahkan atau membunuh virus-virus. Virus yang dilemahkan tersebut tetap akan membawa racun kimia agar tetap dalam keadaan setengah hidup.

    Selanjutnya didapati masalah dari pembuluh-pembuluh darah yang mengalir cepat. Darah dipompa dengan cepat ke seluruh tubuh. Jadi, pada saat semua percampuran dalam vaksin disuntikkan ke dalam tubuh, virus-virus dengan cepat memisahkan diri dari cairan-cairan yang mengelilingi mereka. Dalam hitungan detik, virus dan racun lenyap larut dalam aliran darah, melalui nadi, arteri – dan memasuki arteri besar. Dari situlah, virus dan racun melewati jantung dan keluar dari vena kava. Saat itu, benar-benar terpisah, bahan kimia beracun dan virus memasuki jaringan-jaringan di mana mereka mulai membuat kerusakan.

    Sementara itu, virus-virus telah menemukan sel-sel untuk dimasuki, dan menggunakan sel DNA dan RNA untuk menggandakan diri. Bakteri dan virus asing juga ada dalam injeksi tersebut dan mulai membuat ‘rumah sederhana’ dalam tubuh selagi menggandakan diri.

    Hasilnya, virus-virus tersebut, setelah cukup banyak, dapat menyerang tubuh yang telah dilemahkan oleh bahan kimia beracun. Selanjutnya Anda mengerti kenapa ada banyak penyakit baru tiap tahun yang diidap manusia. Dan itulah sebabnya dokter tidak mampu berbuat banyak karena para dokter dikondisikan tidak bisa menghubungkan antara penyakit dan virus dengan tepat.

    Dalam Cry of the Heart: Stop Hurting Children / The Medical Terror of Vaccinations (Mark Sircus Ac., OMD ; 28 – 29) dijelaskan daftar senyawa yang terdapat dalam vaksin vaksin sebagai berikut:

    Aluminium

    Aluminium adalah sebuah neuro-toxin yang berhubungan dengan penyakit Alzheimers disease dementia dan serangan jantung. Aluminium merupakan carcinogenic (carcinogen sendiri diartikan semua substansi penyebab kanker) dalam laboratorium tikus dan ditambahkan ke dalam vaksin-vaksin untuk ‘meningkatkan respon antibodi ‘. Injeksi aluminium ke dalam binatang mengakibatkan perubahan perilaku neurochemical dan neuropathological seperti serupa dengan Alzheimers. Aluminium dikenal memiliki kemampuan untuk menghasilkan neurotoxicity oleh beragam mekanisme. Efek neurotoxic aluminium diketahui lebih dari 100 tahun lalu, namun baru-baru ini saja dikaji secara mendetail. Jadi kita harus menanyakan diri kita bagaimana kalau aluminium ini DISUNTIKKAN ke dalam tubuh sebagai suatu bahan vaksin namun sebagai suatu adjuvant (obat tambahan)?

    (Adjuvant, dalam imunologi, perangsang nonspesifik respon imun, seperti vaksin BCG. Kamus Kedokteran Dorlan, Edisi 29, hlm. 38).

    Mekanisme-mekanisme neurotoxicity tidaklah jelas namun bukti yang telah ada menyebutkan bahwa akumulasi aluminium dalam otak dapat mengubah struktur syaraf sinyal mekanisme sensorik tubuh yang berkenaan dengan sel glutamate yang peka terhadap rangsangan. Aluminium digunakan secara luas sebagai obat tambahan dalam tubuh manusia, dan anak-anak dapat menerima aluminium ini hingga 3,75 mg aluminium parenteral selama siklus hidup enam bulan. Lalu apakah yang bahan kimia neoro-ramah ini lakukan terhadap si kecil yang divaksin? (…)

    Thimerosal

    Thimerosal merupakan suatu garam sodium yang diperoleh dari racun mercury yang mematikan dan digunakan sebagai obat desinfeksi dan pengawet. Mercury juga menjadi penyebab autisme pada anak. Thimerosal dihubungkan dengan kerusakan ginjal dan otak selain kerusakan kekebalan dan kerusakan neurological. Thimerosal merupakan komponen vaksin DPT, tetanus, hepatitis B, dan Hib.

    Formaldehyde

    Formaldehyde merupakan suatu komponen utama cairan pembalsem, yang tentu saja dimasukkan ke orang yang sudah mati; dikenal sebagai bahan kimia penyebab kanker, zat racun ini digunakan untuk ‘menonaktifkan’ virus-virus dan toksin bakteri detoxifi; formaldehyde juga berbahaya bagi hati dan memicu mutasi gen.

    Carbolic Acid (Phenol)

    Carbolic acid dipercaya menyebabkan mutasi jender; racun mematikan yang digunakan sebagai desinfektan, bahan celup kain.

    Anti (Against) Biotics (Life)

    Anti biotik merupakan Neomycin, Streptomycin, dan sejumlah obat-obat lainnya – dari obat-obatan tersebut sejumlah populasi mengalami alergi yang serius dan dari obat-obatan tersebut mikroba-mikroba mengembangkan daya tahan tertransmisi secara genetis.

    Acetone

    Digunakan sebagai pembersih kuku jari dan sebagai bahan pelarut.

    Alum

    Digunakan sebagai bahan pengawet

    Glycerin

    Suatu alkohol tri-atomik yang dihasilkan dari lemak-lemak alami yang membusuk dan dibusukkan; racun yang mengakibatkan kerusakan ginjal, hati, paru-paru dan mengakibatkan kerusakan jaringan-jaringan lokal, kerusakan lambung dan usus serta kematian.

    MSG (monosodium glutamate)

    Pada saat disuntikkan menjadi suatu neuro-toxin, yang menyebabkan kerusakan CNS dan otak pada anak-anak.

    Demikian begitu berbahaya nya isi kandungan vaksin tersebut.

    Maukah kita masukkan zat-zat berbahaya itu ke dalam tubuh putra putri kita tercinta???

    Ya Allah Ya Rabbal Alamiin, mohon lindungi kami semua nya dari segala bentuk kejahatan….

Lihat Juga

Degradasi Moral Generasi Abad ke-21