Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / (Curhat) Sang Mantan

(Curhat) Sang Mantan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Semalam aku mengirim SMS kepada seorang kawan.

Aku bertanya, “Hai Fulanah, bagaimana rasanya tidak lagi berpacaran??

Kawanku menjawab dengan sebuah kalimat kiasan, “Dulu saya bagai meminum air berwarna dan kini saya bagai meminum air putih.”

Agak mengernyitkan alis ketika saya membaca balasan SMS itu. Air putih dan air berwarna?? Apa maksudnya?

Saya kembali mengirimkan SMS untuk mendapatkan jawaban untuk pernyataan yang membingungkan saya.

Saya sekarang seperti meminum air putih. Rasanya tawar tapi saya tidak akan mau untuk merasa bosan. Karena saya sudah tahu manfaatnya. Semakin saya banyak minum air putih itu semakin banyak manfaatnya untuk diri saya. Mungkin selama ini saya lebih suka air berwarna, tanpa sadar air berwarna itu yang membuat diri saya menjadi tidak sehat. Jomblo itu air putih dan pacaran adalah air berwarna.

Begitulah balasan SMS yang membuat saya mengerti akan perasaannya kini. Dan itulah curhat langsung dari “Sang Mantan”.

Dulu saya kenal ia masih menganut sistem pacaran. Ia pun dekat dengan kawan pria lainnya. Terlebih lingkungan kerjanya yang memang belum ada batasan mengenai pergaulan, sedang kawan saya masih belum bisa terlepas dari lingkungan seperti itu meskipun hatinya sering dilanda kegelisahan. Keterbatasan pergaulan juga membuat dirinya seakan terkungkung pada dunia yang itu-itu saja, termasuk masalah pacaran (terasa aneh bagi yang tidak mau pacaran). Ia jengah.

Alhamdulillah. Perlahan ia ditunjukkan Allah lewat kegelisahan hatinya ketika melakukan sesuatu yang tidak Allah sukai. Fulanah dibukakan pikirannya untuk lebih banyak mencari ilmu yang bermanfaat. Hal-hal yang dulu seakan nothing baginya, kini menjadi makanan jiwanya. Dia menjadi jauh lebih bersemangat. Ia ingin melepaskan sedikit demi sedikit pengaruh pergaulan dari lingkungan pekerjaannya. Hingga ia ditakdirkan berpindah dari tempat kerjanya, ia mulai berhijrah untuk berkerudung.

Tentang pacarnya. Allah menunjukkan suatu jalan melalui suatu peristiwa yang akhirnya secara tidak langsung membuka keburukan sifat pacarnya. Dan Fulanah tidak lagi berhubungan dengan pacarnya sejak saat itu.

Berawal dari niat untuk berubah kearah lebih baik dan Allah mendengar setiap keinginan walaupun yang belum terucap. Perlahan Allah menunjukkan kasih sayangNya lewat jalan yang tidak disangka-sangka.

Lalu, apa kabarnya dengan hati Fulanah kini??

Di antara lalu lalang pasangan (tidak halal) di depan matanya, seperti sebuah isyarat kebahagiaan bahwa ia telah meninggalkan sesuatu yang buruk, ia menjadi beda. Beda dalam kebaikan. Apalagi ketika ia semakin paham sederet efek negatif dari pacaran dari beberapa artikel yang ia baca atau dari kisah kawan-kawannya.

Fulanah kini paham tentang arti kesia-siaan dalam berpacaran. Ketika berpacaran belum tentu pacarlah yang menjadi jodohnya kelak. Padahal sudah capek hati, capek pikiran, capek tenaga, capek kantong dan capek segalanya untuk si pacar. Lebih baik ia menggunakan waktunya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat hingga nanti pada saatnya biar Allah memberikannya seorang suami, bukan pacar.

Meskipun sempat merasakan agak trauma dengan seorang pria bahkan seperti “mati rasa”, namun kini ia jauh lebih baik. Pria dan pacaran, bukanlah satu-satunya masalah yang menggelayut hatinya. Ia lebih merasa enjoy saat ini, ia bisa melakukan sesuatu yang sebelumnya belum bisa ia kerjakan karena berpacaran. Ia lebih bisa menjaga diri dan hatinya dari seseorang yang belum halal. Ia menjadi lebih dekat kepada PenciptaNya. Ia jauh lebih menikmati hidupnya kini. Alhamdulillah.

Fulanah kini masih sendiri dan acapkali mendapat undangan pernikahan dari kawan-kawannya. Terkadang ia diminta menjadi panitia pernikahan. Sebagai seorang wanita normal, pastilah memiliki keinginan untuk mengundang karib kerabatnya juga dalam sebuah pernikahan spesialnya. Tapi Allah masih menginginkannya untuk menuai pahala menempuh kesabaran. Keinginan yang terbesit tak membuatnya patah arang. Penantiannya kini menjadikan ia lebih strong dan tidak lembek sebagai seorang wanita.

Seperti kiasan yang ia sampaikan, kini ia merasakan manfaat dari air putih. Air yang jarang dipilih orang karena membosankan dan tidak ada rasa sama sekali tapi justru paling menyehatkan dibanding minuman lain. Sedang dahulu ia merasakan kelezatan pada air berwarna meskipun sejatinya itu berdampak tidak bagi tubuhnya.

Perumpamaan yang indah, yang merupakan penggambaran keteguhan dari seorang wanita yang telah berhijrah kearah yang lebih baik karena mengharap keridhaan dari RabbNya.

Sebuah hikmah yang bisa saya ambil, ketika kita berniat ingin menjadi lebih baik dan berusaha untuk mendekati Allah, maka Allah akan membantu kita. Kita berjalan menuju Allah dan Allah akan berlari mendekati kita.

Semoga Fulanah tetap istiqamah dalam masa penantiannya. Dan keberkahan selalu melingkupi setiap jejak langkahnya. Aamiin.

Allahua’lam.

Sebuah kisah nyata seorang kawan.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (33 votes, average: 8,91 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu'
  • adam

    siapakah wanita itu masihkah dia mempujang…?????

Lihat Juga

Cover buku "Apa Salahku Sayang?".

Apa Salahku Sayang?