Home / Berita / Opini / Lady Gaga dan Fenomena Kemiskinan di Indonesia

Lady Gaga dan Fenomena Kemiskinan di Indonesia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comBaru-baru ini di seluruh media massa, baik cetak maupun elektronik mengangkat berita tentang akan datangnya artis kontroversial dari Amerika Serikat yang dikenal dengan nama Lady Gaga dengan julukannya Mother Monster. Beragam reaksi datang dari berbagai lapisan masyarakat, ada yang pro dan ada juga yang kontra. Bagi mereka yang pro menganggap kedatangan Lady Gaga ke Indonesia untuk mengadakan konser akbarnya, adalah sebagai bentuk ekspresi kebebasan dan hiburan bagi para penggemarnya. Sedangkan bagi mereka yang kontra berpandangan bahwa kehadiran Lady Gaga ke Indonesia sudah mencoreng budaya ketimuran orang Indonesia yang terkenal dengan sopan santunnya. Bagaimana tidak, Lady Gaga tidak hanya mendapat penolakan dari kalangan umat Islam, namun juga datang dari umat nasrani, dikarenakan penampilannya yang Porno dan syair-syair lagunya yang kerap kali menyinggung umat beragama.

Terlepas dari itu semua, jika kita lihat dari sudut pandang ekonomi, tentang berapa harga tiket yang harus dibayar oleh seseorang untuk dapat menonton konser Lady Gaga sungguh sangat ironi. Bayangkan saja, harga satu tiket termurah dihargai dengan Rp 750.000 sedangkan yang termahal kisaran Rp 2.000.000. Bayangkan jika uang sebesar itu diberikan untuk memberdayakan 1 orang miskin ditotal dengan jumlah pembeli tiket, maka sudah berapa banyak orang miskin yang dapat ditolong.

Fenomena kemiskinan yang hari ini terjadi di Indonesia sudah sangat menyedihkan. Tidak hanya kemiskinan yang dilihat dari rendahnya pendapatan perkapita masing-masing penduduk, tapi yang lebih berbahaya lagi adalah kemiskinan akhlak (moral) yang menjangkiti hampir seluruh lapisan masyarakat. Contohnya adalah pengguna NARKOBA di Indonesia diperkirakan mencapai 2-3 juta orang. Jika diasumsikan pengguna NARKOBA tersebut menghabiskan Rp 500 ribu setiap pekan, atau Rp 2 juta per bulan, maka volume transaksi NARKOBA bisa mencapai Rp 6 triliun perbulan. Dalam setahun bisa mencapai Rp 72 triliun. Angka tersebut sama dengan belanja Indonesia untuk menanggulangi krisis global. Hal yang serupa juga terjadi pada transaksi pelacuran. UNDP mengestimasikan tahun 2003 di Indonesia terdapat 190 ribu hingga 270 ribu pekerja seksual komersial yang tiada lain mereka adalah para pelacur dengan 7 hingga 10 juta pelanggan. Artinya setiap pelacur rata-rata melayani 37 pelanggan (rasio maksimum). Jika diasumsikan akhir tahun 2008 tumbuh 20% atau sekitar 324 ribu, dan jika rasio pelacur dan pelanggannya masih sama yaitu 1 banding 37, maka diperkirakan pelanggan pelacuran mencapai 12 juta pelanggan. Dan jika diasumsikan, setiap pelanggan mengeluarkan Rp 1 juta per bulan, maka transaksi pelacuran per tahun mencapai Rp 144 triliun.

Dari kedua hal di atas bisa kita perkirakan biaya untuk transaksi amoral di atas setara dengan 46 jembatan Suramadu dan 3,6 kali belanja Indonesia untuk orang miskin per tahun. Belum lagi jika dihitung dengan judi atau korupsi?

Solusi Islam

Setidaknya ada dua aspek yang harus diperbaiki untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial di atas:

1. Perbaikan Sistem

Islam adalah sistem hidup (The way of life) yang universal dan komprehensif. Universal karena keberadaan Ad Dinul Islam tidak hanya diperuntukkan bagi pemeluknya saja, namun bagi seluruh makhluk hidup di alam semesta. Sebagaimana yang Allah SWT firmankan:

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. al-Anbiyaa’: 107).

Sedangkan komprehensif karena Islam mengatur semua sisi di dalam aspek kehidupan manusia. Baik posisi manusia sebagai seorang hamba yang mempunyai kewajiban menyembah kepada sang pencipta dirinya, maupun posisi manusia sebagai makhluk sosial yang mempunyai hak dan kewajiban di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, Islam adalah aqidah, ibadah, manhaj kehidupan, dan dukungan-dukungan penguatnya.

Oleh sebab itu Islam sebagai sistem hidup tidak bisa diambil “setengah-setengah” sesuai nafsu manusia, namun menjalankan semua sisinya dalam aspek kehidupan itulah yang disebut dengan muslim yang kaffah (paripurna). Sehingga setiap pandangan hidup dan perilakunya bersumber dari Islam.

2.  Perbaikan Akhlak

Akhlak yang menjadi pilar kemuliaan seorang muslim, merupakan buah dari Tarbiyah Islamiyah (Pembinaan keislaman) yang istimrariyah (terus-menerus). Oleh karenanya penanaman nilai-nilai moral Islam harus senantiasa diusahakan dan ditanamkan sejak dini. Ghazwul Fikri (Perang pemikiran) yang digencarkan oleh musuh-musuh Islam sudah mulai masuk ke rumah tangga-rumah tangga muslim. Tidak heran jikalau anak-anak usia belia sudah sangat akrab dengan tontonan-tontonan porno, nyanyian-nyanyian “orang dewasa”, kata-kata kotor dan lain sebagainya. Sasaran mereka adalah bagaimana generasi-generasi muda muslim lupa dengan agamanya, sehingga pola pikir dan cara hidupnya tidak lagi berdasarkan nilai-nilai Islam. Berdasarkan itu semua, perbaikan harus dimulai dari individu-individu muslim, keluarga muslim, masyarakat muslim, pemerintah, dan masyarakat dunia. Jikalau perbaikan itu dilakukan secara sungguh-sungguh maka fenomena kerusakan tadi akan hilang dan tergantikan oleh keindahan warna Islam.

Wallahua’lam bi shawab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (14 votes, average: 8,07 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lahir di Pontianak pada tahun 1987. Saat ini tinggal di Depok, Jawa Barat. Telah menikah dan dikaruniai 1 orang anak. Bekerja sebagai Staf Divisi Kemahasiswaan STEI SEBI Depok.

 

Lihat Juga

Rohingya

DPR Desak Pemerintah Indonesia Bersikap Tegas atas Insiden Kekerasan di Rohingya