Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Anak-Anak Dakwah

Anak-Anak Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (flickr.com/array064)

dakwatuna.com – Sahabat,

Tahukah Anda, kita bisa memiliki anak meskipun kita belum menikah? Kok bisa?

Apa sih yang tak bisa terjadi dalam hidup ini. Terlalu banyak keajaiban yang bisa jadi beratus-ratus halaman tak akan cukup untuk menuliskannya. Sekali lagi kita berhak memiliki anak ini meskipun kita belum menikah. Meskipun kita tak pernah mengandungnya selama sembilan bulan. Meskipun kita tak menyusuinya. Meskipun kita tak pernah meninabobokannya saat menjelang tidurnya. Meskipun kita tak harus membanting tulang memenuhi kebutuhannya. Meskipun kita sama sekali tak pernah membiayai sekolah atau kuliahnya. Lebih hebatnya lagi, kita bisa menjadi orang tua bagi anak-anak ini meskipun usia mereka berpuluh-puluh tahun umurnya di atas kita

Wah anak apakah ini? Apakah anak-anak seperti ini nyata dan ada di bumi?

Anak yang saya deskripsikan di atas adalah anak-anak Dakwah. Anak-anak Jariyah. Anak-anak yang akan mengalirkan pahala tiada putus-putusnya kepada orang tuannya. Anak-anak yang dilahirkan dari rahim dakwah. Anak-anak dakwah yang akan melahirkan cucu dan cicit dakwah dan cicit-cicit dakwah selanjutnya. Sebuah keluarga dakwah yang mengalirkan pahala jariyah yang tiada putus-putusnya.

Sahabat,

Beruntung sekali jika kita bisa memiliki anak-anak dakwah yang selanjutnya juga akan melanjutkan keluarga dakwah berpuluh-puluh tahun hingga kiamat nanti. Walau kita sebagai orang tuanya telah terkubur ratusan tahun ternyata limpahan pahala akan mengalir tiada putus-putusnya hingga dunia berakhir.

Sahabat,

Anak-anak dakwah adalah anak-anak yang kita rekrut dan bina untuk menjadi kader dakwah selanjutnya. Anak-anak yang kita ajarkan kebaikan kepadanya kemudian dia mengajarkannya kepada yang lain. Anak-anak dakwah yang meskipun tidak ada kesamaan DNA, dia kita bimbing sepenuh hati untuk menjadi manusia hebat yang juga akan menghebatkan orang lain. Sejatinya kita hari ini juga anak-anak dakwah dari orang tua-orang tua dakwah kita yang ikhlas membina sepenuh hati. Subhanallah kenapa Abu Bakar dapat penghargaan tertinggi dalam hal balasan pahala hingga jika ditimbang pahala Abu Bakar dengan pahala seluruh orang beriman selain Rasulullah, timbangan amal Abu Bakar lebih berat. Jawaban nya sederhana, karena Abu Bakar telah sukses menjadi orang tua dari anak-anak Dakwah sekelas Utsman Bin Affan, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdurahman bin Auf dan anak-anak dakwah hebat lainnya. Kemudian anak-anak itu menyebar ke muka bumi menyampaikan kebaikan dan merekrut serta membina anak-anak dakwah baru. Amalan-amalan hebat dari anak-anak dakwah itu juga bisa dinikmati pahalanya oleh orang tuanya tanpa mengurangi sedikit pun balasan amal hebat yang telah dilakukannya.

Sahabat,

Sudahkah kita hari ini memiliki anak-anak dakwah? Jika belum carilah dan pantaskan diri untuk menjadi orang tua yang baik untuknya. Binalah mereka dengan energi ketulusan yang kau miliki. Binalah mereka dengan pengorbanan di atas rata-rata. Jadilah kau pegangan dalam titian jalannya menuju surga. Jangan kau lepaskan pegangan titian itu hingga dia mampu berjalan sendiri. Hingga saatnya dia menjadi pegangan bagi titian yang dilalui oleh anak-anak dakwahnya. Hingga anak-anak dakwahnya juga akan melahirkan anak-anak dakwah baru. Hingga anak-anak dakwah akan selalu lahir mewarnai muka bumi.

Sahabat seringkali kita menunda untuk memiliki anak dakwah. Padahal peluang itu hampir setiap detik ada di hadapan kita. Ada sebuah pepatah yang mengatakan, banyak anak banyak rezeki. Ayo kita perbanyak anak dakwah kita karena Rasulullah sendiri bangga pada umatnya yang memiliki banyak anak.

Betapa banyak anak-anak terlantar tanpa ada yang mau mengurusnya. Mereka masih sering meninggalkan shalat, masih terbiasa membuka aurat, masih terbawa budaya-budaya barat yang terkadang menyalahi kodrat. Sementara di rumahnya mereka juga memiliki orang tua yang tak peduli dengan perkembangan dirinya. Kalau sudah seperti ini siapa yang lagi yang akan mengurusnya kalau bukan kau wahai para pejuang dakwah?

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sardini Ramadhan
Staf di Bappeda Kabupaten Ketapang. Alumni FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak.

Lihat Juga

Ilustrasi. (sinarharian.com.my)

Pernah Bernadzar Akan Berhenti Bekerja Setelah Melahirkan, Ternyata Gaji Suami Tidak Cukup, Bagaimana?