Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / About Love (Again)

About Love (Again)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (wallpapers-place.com)

dakwatuna.com – Tenang saja, kau pun akan mendapatkan sebuah cinta atau bahkan kau telah memiliki cinta. Bukan hanya sebuah retorika tentang cinta. Perlakuan manja para pecinta pada yang dicinta. Atau sebuah cibiran berbalut halus kata-kata yang sebenarnya menghujam si penanti cinta. Tiada yang tahu jika tidak menjadi korban.

Ya, mungkin aku, kau atau mereka kini bermain dalam sinema cinta. Entah sedang berlakon sebagai pemeran utama yang memainkan cerita cinta dengan beragam likunya. Atau berlakon sebagai penanti cinta yang sejati yang entah kapan akan lelah ditunggui. Yang aku yakin, tidak ada yang sia-sia kawan, jika kita berniat ikhlas. Mungkin, ada yang telah kecewa dan menjadikan cinta sebagai tersangka. Oh bukan, cinta tidak pernah salah dan tidak mungkin jadi tersangka. Cinta hanya sebuah objek dan subjeknya adalah pelaku (baca: manusia). Cinta selalu indah, meskipun jalan mendapatkannya memerlukan langkah tertatih, airmata yang kerap mengalir atau doa yang menjadi bertambah.

Jika cinta menjadi sebuah beban, maka lepaskanlah saja cinta itu. Karena cinta bukanlah sebuah beban. Jika cinta selalu menghadirkan perasaan was-was tiada terkira, bisa jadi itu adalah sebuah ketakutan akan sesuatu yang berlabel cinta. Jika cinta membuat lalai, mungkin itu adalah benalu di sudut qalbu. Ya, itu bukanlah sebuah cinta.

Jangan anggap bahwa kau belum mendapatkan cinta, hanya karena belum ada pasangan yang kerap kau rindui hadir menemanimu saat makan malam. Jangan anggap bahwa kau belum mendapatkan cinta, hanya karena banyak yang berkata, “Anakku ada tiga, anakmu berapa?”. Jangan pula kau anggap, cinta itu hanya sebuah penghambaan manusia kepada manusia lainnya yang diberi nama “kasih sayang”. Cinta bukan sebuah penghambaan.

Cinta selalu hadir pada hatiku, kamu dan mereka. Tidak selalu cinta kita itu nampak. Butiran emosi kadang menampik cinta sebenarnya. Tenang saja. Hati yang naik turun dan cinta yang timbul tenggelam. Itu adalah fitrah. Yang terpenting, ingatkan selalu hati akan cinta itu tidak melanglang teramat jauh. Tanpa cinta, tak akan ada memori indah, tak akan ada hikmah dan cerita.

Fitrahnya manusia ingin dicinta dan ingin mencintai. Ada segumpal rasa yang hendak dikeluarkan, untuk dilabuhkan. Karena Allah Sang Maha Kasih telah menebarkan pada hati manusia sebuah cinta. Juga Allah sisakan satu ruang dalam hati untuk melembutkan diri dan menerima curahan cinta dari manusia lainnya. Meski tidak semua -termasuk saya- menginginkan cinta itu. Karena belum baik waktunya atau akan menimbulkan efek yang tidak baik jika diterima. Cinta bisa menjadi indah, jika dihadirkan pada orang yang tepat, saat yang tepat dan tujuan yang benar. Apa yang kau rasa, tidak selalu benar tidak selalu salah. Biarlah itu menjadi rahasia hatimu dan Tuhanmu. Walau banyak yang berkata menunjuk seolah menghakimi. Hanya kau dan DIA yang tahu.

Oh cinta, dimana-mana ada cinta. Pada media manapun, jika mengangkat berita atau tulisan mengenai cinta (apalagi cinta antar manusia) bisa dipastikan akan menjadi trending topic. Tentu saja seperti itu, baru membaca judulnya saja sudah penasaran. About love. Meskipun berita yang diangkat tidak jauh berbeda antara satu dengan yang lainnya (bisa jadi tulisan ini seperti itu).

Segores makna dari sang pencinta.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 9,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu'

Lihat Juga

Sujud - Ilustrasi

Denting Cinta di Sujudku