Home / Berita / Opini / Mempertanyakan Eksistensi Pemuda Islam

Mempertanyakan Eksistensi Pemuda Islam

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comKetika berbicara mengenai pemuda, banyak hal yang menarik dan hal-hal menyenangkan. Karena dalam fase kesatriaannya, kita akan menemukan berbagai macam hal tentang pencarian jati diri dalam menyusuri setiap lembaran mozaik masa depan yang masih terlihat samar-samar. Sebuah pepatah mengatakan, “Negara yang tangguh salah satunya bisa dilihat dari sosok pemudanya”. Bahkan Rasulullah SAW mengisyaratkan bahwa pemuda adalah salah satu dari lima pilar yang dibutuhkan untuk membangun negara tangguh selain pemimpin yang adil, ulama, wanita shalihah, dan umat yang baik.

Seharusnya, sebagai pemuda Islam merasa tersanjung dengan hal tersebut kemudian berusaha melakukan yang terbaik untuk mewujudkannya. Tapi, mungkin saja, ada beberapa dari kita merasa bingung, tidak puas dan bertanya, “Kenapa harus pemuda?”. Jawabannya cukup sederhana, karena pemuda adalah kumpulan anak-anak muda dengan semangat besar, daya serap dan pikir yang cepat, juga fisik yang masih prima. Karena peranan pemuda yang strategis itulah, Soekarno sampai berani mengatakan sesuatu yang masih dikenang dunia hingga sekarang, “Berikan kepadaku 1000 orang tua, aku sanggup mencabut Semeru dari uratnya. Tapi, berikan kepadaku 10 pemuda maka aku sanggup mengguncangkan dunia.”

Pemuda Islam hari ini adalah gambaran masa depan Islam. Apabila baik pemudanya maka akan baik pula Islam di dalamnya. Dr. Syakir Ali Salim berpendapat, pemuda Islam merupakan tumpuan umat, oleh karena itu ekistensinya sangat diperlukan di masyarakat.


“Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu main-main (saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami” (QS. al-Mu’minuun:115)
.

Kecintaan para pemuda Muslim terhadap dien-nya kini sudah begitu jauh. Bukan karena sebab, namun memang secara tersistem ternyata telah ada langkah-langkah terstruktur yang menjauhkan pemahaman dan kecintaan pemuda terhadap Islam. Paling tidak menjauhkannya dari segala nilai yang bernafaskan islami dan digantikan dengan nafas kebaratan (westernisasi).

Sering kita bertanya, kenapa ada orang Islam yang bergabung dengan aliran sesat?
Kenapa ada orang Islam yang bermaksiat? Kenapa ada orang Islam yang Islamophobia?
Pertanyaan semacam ini, dapat dijawab dengan merefleksi bagaimana daya tahan bangunan keislaman seorang Muslim, yang dapat dilihat dari kualitas pondasi (Iman), tiang (Islam), dan atapnya (Ihsan).

Ada empat hal yang harus diperhatikan pemuda dalam memperbaiki kualitas eksistensinya, yaitu hati nurani (spiritual intelligence), emosi (emotional intelligence), akal (intellectual intelligence), dan fisik. Menurut As-Syahid Hasan Al-Banna, hal-hal tersebut dapat dimaksimalkan melalui perbaikan jiwa. Perbaikan jiwa dapat dilakukan melalui pendidikan dan pembinaan. Rajin menambah ilmu dengan mengikuti kajian, seminar, mentoring atau training, melakukan introspeksi diri, melembutkan hati dengan banyak berdoa merupakan cara-cara yang dapat ditempuh untuk mendidik dan membina jiwa.

Di zaman di mana kekuatan kebathilan saling bersatu padu meminggirkan Islam bahkan menghancurkannya serta memberangus eksistensinya, sudah sepantasnya jika para penyeru Islam untuk bersatu, bergandeng tangan menghadapi musuh-musuhnya. Jika perbedaan yang ada di tengah-tengah umat ini masih bisa ditolerir, maka hendaknya saling berlapang dada. Tetapi jika perbedaan itu pada persoalan-persoalan yang prinsipil dan mendasar, maka mengedepankan sikap tanashuh (saling menasihati dalam kebenaran) adalah jalan yang paling tepat di saat kita menghadapi musuh dari berbagai arah.

Pemuda dalam sejarah Islam, selalu ditempatkan pada posisi yang istimewa, bahkan Al-Qur’an banyak menjelaskan bahwa manusia-manusia pilihan yang mendapat mandat kerasulan dan kenabian adalah mereka dari kelompok pemuda. Kenalkah Anda dengan Nabiyullah Ibrahim AS.? Bapak para Anbiya’, di mana agama-agama besar lahir dari perantara “rahimnya”. Ibrahim AS adalah sosok pemuda yang disebutkan Allah yang mampu menggentarkan kerajaan Namrudz.

Jika semua pemuda Islam di Indonesia bertekad untuk menjadi pemuda berkualitas, impian akan ketangguhan negara Indonesia nantinya, besar kemungkinan akan terwujud. Karena di hadapan kita –bisa jadi– akan muncul lagi pemuda-pemuda tangguh yang mengikuti jejak Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, Mus’ab bin Umair, dan pemuda pejuang Islam lainnya. Dengan segala kemampuan mereka masing-masing, sehingga namanya terukir dengan tinta emas dalam pentas sejarah peradaban Islam. Lantas, bagaimana dengan masa muda kita?

Pemuda Islam tidak cukup hanya bertugas menjelaskan zaman, namun juga harus melampauinya dengan mengubah zaman. Karenanya, di tengah zaman yang bergerak, masyarakat membutuhkan pemuda Islam yang bergerak!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sang Melankolis - Sanguinis yang ingin mendekap ridha Nya dalam tulisan dakwah.

Lihat Juga

Ilustrasi. (vm-kompania.com)

Implementasi Perkembangan Praktik Audit Syariah di Bank Islam Malaysia