Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Hey, Ada Allah Lho!

Hey, Ada Allah Lho!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com “Apa ini? Kenapa begini? Aaarghh… aku gak suka!”

Terkadang memang ada hal-hal yang tidak kita kehendaki namun terjadi pada diri kita. Semua kembali pada kita, bagaimana menyikapinya dan bagaimana kita minta pertolongan pada Allah. Seekor lebah hinggap di satu bunga, beralih ke tangkai, beralih ke tanaman lain, dan begitulah seterusnya hingga ia tutup usia. Begitu pun perjalanan di dunia ini, kita terus bergerak dan dituntut untuk terus melangkah hingga nafas tak lagi bersatu dengan raga. Ibarat lebah, kita hinggap dari satu fase ke fase selanjutnya, dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu titik ke titik lainnya hingga terbentuklah sebuah garis atau gambar, dan itulah bentuk cerita kita, cerita kehidupan kita di dunia ini. Baik atau buruk? Itu tergantung kita, mau dibawa ke mana cerita hidup kita masing-masing dan seperti apa tujuan kita, jangan sampai kita tak punya tujuan hidup sehingga nanti gambarnya menjadi tak karuan. Jika punya tujuan hidup maka gambarnya pun mungkin akan berbentuk, bahkan jelas terlihat maknanya.

Karena kita beralih dari satu titik ke titik lain, maka jangan terlalu ingin memiliki sesuatu, dan jika sudah memiliki sesuatu jangan terlalu merasa memiliki karena pada hakikatnya semua itu adalah titipan dari Yang Maha Kuasa. Ya, hanya titipan, jadi tak pantas bagi kita merasa teramat sedih sekali ketika kita tak bisa memilikinya atau harus melepasnya. Ingat, hanya titipan.

Alangkah baiknya jika kita bisa bersikap pertengahan dalam segala hal, sehingga dengan sikap pertengahan itu diharapkan kita dapat menyikapi sesuatu dengan lebih bijak. Tidak terlalu suka terhadap barang tertentu, tidak terlalu benci pada makanan tertentu, tidak terlalu sedih ketika kehilangan sesuatu dan tidak terlalu senang dengan berbagai hadiah atau pujian dari orang lain, misalnya. Ya, bersikap pertengahan sejatinya lebih aman bagi kita, lebih baik bagi kita dan juga memang itu yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-NYA (Q.S. 25:67; Q.S. 7:31; Q.S. 31:19).

Serahkan semuanya pada Allah, dan libatkan Allah dalam setiap kejadian yang menghampiri kita. Jangan lupakan Allah, ingatlah Allah selalu. Ketika senang, ketika sedih, dan dalam berbagai kondisi lainnya. Ketika membutuhkan sesuatu,  mintalah pada Allah, ketika menghadapi banyak masalah, mengadulah pada Allah, bersandarlah pada Allah, karena bersandar pada manusia itu sama halnya seperti bersandar pada sandaran yang rapuh, bahkan bisa saja membuat kita terjatuh. Jangan terlalu berharap pada manusia, namun berharaplah pada Allah.

Yuk, hadirkan Allah dalam setiap hembus nafas dan detak jantung kita. Yuk, ingat Allah dalam berbagai kondisi. Ada Allah… kita tak sendiri, Allah selalu ada untuk kita, jika kita mau.

IA lah Sang Pemilik hati, Yang membolak-balikkan hati,  Yang bisa mengubah sedihmu menjadi bahagia, yang bisa mengubah bahagiamu menjadi sengsara, yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, dengan hanya berucap “Jadilah”, maka Jadilah sesuatu itu (Q.S. 36:82).

Sekarang rasanya tak ada lagi alasan untuk larut dalam beragam rasa ‘keterpurukan’, apapun itu… karena ada Allah yang senantiasa membersamai kita, Insya Allah.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (21 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

  • menghalakan tujuan hidup pada Allah, dan merelakan semua ketentuannya

  • jazakallaahu khairan…sobat ^_^ ,atas artikelnya.

Lihat Juga

Ilustrasi. (seputarmalang.com)

Begitu Melimpah Nikmat Allah, Maka Berqurbanlah