Home / Pemuda / Cerpen / Aku Putra Mahkota?

Aku Putra Mahkota?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (camarkecilsekali.blogspot.com)

dakwatuna.com – Bus yang aku tumpangi terasa lama sekali. Dari pagi hingga senja memerah aku belum juga sampai ke tempat tujuanku: Bandung. Ini bisa dibilang kedua kalinya aku pergi ke tempat jauh sendirian. Yang pertama kepergianku ke tempat jauh yaitu ke Jogja, ada bedah buku yang diadakan oleh penulis favoritku di sana, selebihnya aku tidak pernah. Kecuali piknik zaman SMP dulu dengan seangkatan ke Jakarta-Bandung, sementara pas kelas sebelas SMA aku tidak diperbolehkan oleh Abah untuk piknik, piknik ke Bali. Alasannya tempat itu tempat orang berpakaian semaunya sendiri, tempatnya tidak … ah, banyak sekali alasan-alasan lain yang membuatku berpikir bahwa Abah benar, sesuai pula dengan idealismeku. Mungkin saat itu aku hanya berpikir enak-enaknya saja, kebersamaan dengan teman-teman dan nggak mau jadi kambing congek saat teman-teman bercerita tentang pengalaman seru mereka.

Bus telah memasuki terminal Cirebon, perbatasan antara Jateng dan Jabar. Adzan Maghrib berkumandang dari segala penjuru saling bersahutan, matahari menenggelamkan diri dan rembulan mengangkasa menguasai malam. Aku pun tayamum seperti Zhuhur dan Ashar (meski aku bisa melaksanakan kemudahan shalat yang telah ditetapkan, namun aku merasa tenang bila melaksanakan tayamum ini, takut ada apa-apa dalam perjalanan), biasanya kalau jam seperti ini aku sudah siap shalat berjamaah di mushalla pondok, setelah itu mengaji Al Qur’an pada Ustadz Syaif (Ia tidak ada rasa pakewuh meski aku anaknya Kyai, kalau salah tak jarang kupingku dijewer hingga memerah).

Ada bayangan Abah dan Ummi di mataku, yang pasti mereka resah dan kebingungan melihat kenyataan anak laki-lakinya jam segini belum pulang sekolah.

Dari siang tadi hingga senja ini telepon genggamku sudah berdering tiga kali. Nama Abah, Ummi dan mbak Fidah – kakak perempuanku – terpampang di layar secara bergantian. Aku tidak menghiraukannya. Aku matikan saja telepon genggamku agar aku tetap fokus terhadap tujuanku.

“Memang kamu tidak cukup, sekolah sampai SMA! Lihatlah mas Nawawi, dia nrimo saja apa yang Abah putuskan, lulus tsanawi langsung mondok!” marah Abah padaku. Sebenarnya pemarah bukan sifatnya tapi kalau ada sesuatu yang tidak beres, beliau akan marah. Apalagi Abah pengidap darah tinggi, tekanan darahnya terakhir 190. Kata mantri sangat rawan. Rawan apa aku lupa menanyakan itu.

Saat aku utarakan dan meminta biaya untuk USM ITB, beliau malah menceramahi aku habis-habisan. Aku menggangguk pasrah. Tapi di hatiku semangat berkobar untuk menjadi seorang desainer komunikasi visual. Aku suka menggambar, aku ingin kerja di sebuah penerbitan. Selain menggambar aku juga punya hobi menulis. Penulis juga menjadi cita-citaku sejak dulu. Desainer komunikasi visual yang penulis, itulah impianku.

Suatu kali cerpenku pernah dimuat di sebuah majalah remaja. Senangnya perasaanku saat itu, aku bagi perasaanku pada adikku Ulya yang nyantri di Ponpes Al Istiqomah Bintoro Demak asuhan KH. Abdullah Mu’thi, saat liburan di rumah. Tapi dia malah cerita sama Ummi dan Ummi cerita sama Abah, bisa di bayangkan betapa marahnya Abah saat tahu anaknya menulis di sebuah majalah corong kapitalis macam majalah Aneka Yeah, majalah hedon. Padahal Abah belum tahu isi cerpenku, beliau enggan membacanya hanya menyimpulkan tampilan covernya saja.

“Trus… nanti yang mangku pondok siapa? Yang meneruskan perjuangan Abah siapa lagi kalau bukan putranya sendiri. Abah akan sepuh, Abah ndak akan selamanya seperti ini.“Abah mencoba melunakkan kata-katanya agar sampai nuraniku.

Tapi kenapa harus aku? Kenapa bukan Mas Nawawi yang mondok berbilang tahun di Lirboyo, Jatim. Tentu saja lebih bagus penguasaan kitab kuningnya lebih faqih dibandingkan dengan aku yang ngaji saat tertentu saja. Mas Nawawi lebih berhak menjadi “Putra Mahkota” pesantren daripada aku.

“Mas Nawawi adalah harapan Abah. Dan kamu juga harapan Abah, jangan pernah kecewakan Abah. Kalian berdua jika bersatu padu mengasuh pondok ini. Abah yakin, pesantren ini akan selangkah lebih baik, akan menjadi pesantren termasyhur di Demak.”Ujar Abah, sepertinya tahu apa yang sedang aku pikirkan.

Aku hanya diam terpaku mendengar wejangan-wejangannya. Menunduk, menatap lantai.

“Ndak usahlah neko-neko ingin ini itu. Masa depanmu yo… pesantren ini. Sudah cukup sampai SMA saja ndak usah tinggi-tinggi kalau kamu suka nggambar desain. Kursus saja di mas Tri ujung jalan sana kan ada.” ucap Abah lembut.

Sekali lagi aku hanya mengangguk. Tapi hatiku tidak demikian. Aku tetap keukeuh menjadi illustrator handal, menciptakan tampilan buku lebih menarik agar yang malas membaca menjadi tinggi minat bacanya. Tetap keukeuh menjadi seorang penulis, aku ingin “Hidup” meskipun sudah terpisah dengan ruhku. Aku terinspirasi sebuah artikel majalah dari kertas bungkus cabe yang mengatakan bahwa kenapa Imam Malik lebih terkenal, lebih “Hidup” sekalipun beliau telah lama wafat dibandingkan Imam Laits? Padahal menurut Imam Syafi’i, Imam Laits lebih faqih ketimbang Imam Malik. Jawabannya karena Imam Malik telah menulis, menulis buku yaitu kitab Al Muwatha’. Sedangkan Imam Laits tidak menulis maka pemikirannya mati bersamaan dengan kematiannya.

Itu yang ingin aku jelaskan pada Abah, tapi sepertinya Abah tidak akan menggubris alasan-alasanku.

Terlalu banyak melamun membuat perutku keroncongan minta diisi. Sejak keberangkatan, perutku belum terisi nasi. Terisi nasi hanya saat sarapan di rumah, seterusnya aku makan 1 roti pisang dan minum air mineral 1 botol. Jika berlebihan malah akan memberatkan perutku, juga mengurangi uang yang aku pegang, khawatir tidak mencukupi untuk ongkos pulang. Satu-satunya benda berharga yang aku bawa hanya telepon genggam. Itu pun second, hasil menukar dengan telepon genggamku QWERTY keypad yang berharga satu jutaan. Uangnya aku gunakan untuk membeli formulir seharga Rp. 350.000,- dan ongkos naik bus.

Sekali lagi, ini adalah pertama kalinya aku pergi ke ITB. Aku mengetahui rute perjalanan dari seorang teman Facebook bernama Amir, kami tidak perah bertemu sama sekali. Dia adalah anak teman ayahnya Ihsan, tema rohisku, jadi aku tidak tahu pasti ongkos Terboyo-Cicaheum, kata orang yang di seberangku uang yang aku berikan melebihi normalnya, aku di tipu, tak apalah, pengalaman.

“Sebungkus berapa mas tahunya?” tanyaku pada penjual tahu goreng di dalam bus saat bus menurun naikkan penumpang.

Aku memberikan uang seribu seperti yang dikatakan dan menerima tahu itu lalu memakan dengan lahap, sekalian mengobati ngilerku melihat teman sebangkuku yang makan sedari tadi tapi tidak menawariku sama sekali. Huh!

* * * * *

Akhirnya bus yang aku tumpangi merayap juga ke terminal Cicaheam. Sesegera mungkin aku turun mencari angkot Cicaheum-Ciledeng berwarna hijau tua strip hitam. Badanku rasanya pegal sekali, kaku. Dua belas jalan aku duduk di dalam bus.

Aku terus berjalan mengikuti perempuan berjilbab di depanku yang aku taksir dia adalah seorang mahasiswi. Dia pun naik angkot yang seperti yang aku inginkan. Aku pun naik tapi angkot masih ngetem menunggu penumpang lain aku menyeka peluh di jidat dan tubuhku yang lengket, gerah, baunya tidak mengenakkan. Asem.

Tak berapa lama angkot berjalan saat penumpang penuh. Di dalam angkot mataku tak lepas-lepasnya mengamati pemandangan di luar, siapa tahu aku kelewatan.

“ITB, sudah lewat apa belum mas?” tanyaku pada laki-laki yang duduk di depanku memakai jaket merah di lengan atas tertulis anak mushalla, hanya tinggal aku dan dia penumpang yang ada masih ada.

“O… sudah, naik ini saja terus, nanti putar balik” jawabnya ramah, tak berapa lama ia turun juga.

“Turun mana, A’?” tanya pak sopir, heran.

“ITB”

“Lho tadi kan sudah lewat, Aa ke mana?”

“Saya ngantuk jadi begini deh” dustaku, bicara asal dapat.

“Turun tamansari apa ganesha?” tawarnya

“Ganesha” jawabku setelah berpikir agak lama.

Angkot berhenti menaikkan penumpang.

“”Sedang ada tugas atau… “Selidik pak sopir, seterusnya dia banyak menggunakan bahasa Sunda yang tak ku mengerti artinya, mengucapkannya kembali pun aku tak bisa. Kalimatnya aku cerna sedikit demi sedikit dan aku hubung-hubungkan saja. Aku jawab sekenanya saja.

Angkot berhenti, satu lembar lima ribu aku berikan. Dia cepat-cepat menerimanya, tidak memberi kembalian. Tak ku pedulikan, yang terpenting aku sudah sampai. Di depanku menjulang tinggi pohon-pohon besar dan tampak menyeramkan walaupun malam makin hitam serta hanya ada satu lampu penerang, aku berjalan, berjalan saja terus, di jalan setapak itu ada seorang mahasiswa.

“Salman, di sana.” katanya menunjuk ke sebuah arah saat aku tanya keberadaan Salman.

“Lurus?”

“Ya lurus… keluar gerbang sebrang jalan. Nah, di sana Salman berada”

Aku mengangguk, sedikit paham. Sampai di sana aku masih bertanya padahal ternyata hanya tinggal beberapa langkah saja.

“Subhanallah, interiornya indah sekali apalagi diterangi temaram lampu” batinku saat mengintip dibalik kaca Salman. Aku mencari pintu masuk tapi tutup, sepertiya dikunci. Lalu aku mengambil air wudhu untuk tunaikan Isya. Usai shalat Isya di serambi, aku menghempuskan segala kegelisahanku padaNya. Lewat doa tapi doaku terhenti saat kudengar suara takbiratul ihram di sudut pojok dekat pintu. Aku menuntaskan doaku dan mencari sumber suara, kutemukan seorang mahasiswa sedang shalat yang membuatku ingin tertawa. Aku menoleh kanan kiri. Memastikan tak ada yang melihat saat aku shalat tadi, bisa malu setengah mati jika ketahuan kalau aku ternyata salah kiblat. Huh…konyol.

Pagi yang cerah ini terasa indah karena aku bisa berjalan-jalan sekitar kampus, yang sepertinya pernah kulihat di film Jomblo, sambil menunggu jam delapan untuk membeli formulir. Rasanya badanku kaku semua dan sedikit masuk angin sebab semalaman aku tidur sambil duduk di serambi. Sebenarnya ingin berbaring tapi ada larangan tertulis di dinding yang membuatku enggan melakukannya.

Usai melihat-lihat, perutku keroncongan. Untuk sementara aku tangguhkan dulu. Aku ingin membeli formulir dulu di Direktorat ITB di Tamansari. Entah kenapa aku ingin cepat-cepat membelinya dan cepat-cepat sampai di rumah, padahal sampai di rumah, ah… ku rasa kau sudah tahu, masalah biaya kuliah aku tidak terlalu memusingkan, toh akhirnya Abah yang membiayai.

Setelah bertanya ke sana ke mari, akhirnya aku tiba di gedung Annex. Usai memperoleh formulir aku dihadang lagi orang penjual “Jasa” soal, seperti saat masuk, aku menepis dan minta maaf karena buru-buru. Sambil menunggu angkot, tak ada salahnya ku siapkan ongkos repot jika harus merogoh-rogoh uang di dalam tas saat mau bayar. Terlintas di pikiranku untuk mengaktifkan telepon genggam yang ada ditempat sama dengan uangku tadi, barangkali saja ada telepon atau pesan masuk, lagipula pesan itu tidak akan mempengaruhiku tujuan awalku karena formulir sudah ku dapat.

Nada pesan berdering. Tombol aku tekan. Tertulis nama abah, pukul 18.30 WIB.

Silakan lakukan apa saja yang ingin kamu….

Belum selesai ku baca, nada pesan berdering lagi. Aku matikan dan meneruskan membaca pesan lagi.

… lakukan, tapi…

Maksud Abah apa? Kenapa pesannya menggantung.

Pesan kedua dari Mbak Fidah, pukul 19.30 WIB

Mam, kamu dimana? Cepat pulang. Abah di rumah sakit.

Astaghfirullah al adzim. Apakah ini gara-gara aku? Tapi kenapa abah tiba-tiba berada di rumah sakit? Yang ku tahu abah tidak sakit, hanya mengidap hipertensi. Oh Tuhan… tekanan darahnya pasti naik akibat memusingkan aku.

Nada pesan berdering lagi. Di sana terpampang Mbak Fidah pukul 05.02 WIB.

Gus Imam … kondur. Abah…

“Innalillahi wa innna ilaihi roji’un” lirihku. Pesan dari Rohim, qodim rumahku membuat ku lemas, langit sepertinya runtuh di atas kepalaku. Di akhir kalimat tertulis: sedo.

M-maafkan aku, Abah, maafkan putramu ini tidak manut, tidak bisa menjalankan kepercayaan yang Abah “sematkan” di pundakku. Karena ini sebuah pilihan, aku yang akan menjalaninya. Saat melakukan sesuatu atas pilihan sendiri maka semuanya menjadi indah. Semoga abah memahami.

Air mata bening di mataku pun menganak-ular ke pipi. Mendadak aku seperti tokoh rekaanku dalam cerpen dengan ending yang mengagetkan pembaca.

Ketika hati menentukan….

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 8,71 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Sholich Mubarok
Koordinator Syiar Humas Badan Dakwah Rohani Islam (Badaris) BSI Jakarta. Menulis bagi saya adalah kebutuhan tak ubahnya makanan jiwa. Kebahagiaan sebagai seorang penulis ketika tulisan saya mendatangkan manfaat buat orang lain.
  • saya pernah baca ini dari buletin kampus, ditulis oleh penulis yang sama. tapi kali ini terasa lebih sedap meresap. 

  • apakah keadaan penulis ketika ini? sudah berjayakah dalam bidang yang diceburi?

Lihat Juga

Nasihat Lukman Kepada Putranya yang Patut Diteladani