Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mempersiapkan Kader Wilayah

Mempersiapkan Kader Wilayah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comKampus adalah dunia ideal bagi para pemikir-pemikir peradaban. Kampus adalah tempat menempa diri untuk menghadapi kehidupan pasca-kampus. Bukan berarti para pewaris peradaban yang tidak bisa mencicipi dunia kampus tidak bisa melanjutkan peradaban. Tetapi idealnya, di dunia kampuslah setiap orang bisa mempengaruhi orang lain untuk menggerakkan pilar-pilar peradaban.

Para aktivis kampus yang selalu bersemangat menggelorakan idealismenya akan senantiasa bergerak mendobrak perubahan. Mereka seringkali menyerukan hal-hal yang lebih menyorot kepada kepentingan rakyat kecil. Jika ada keputusan pemerintah yang tidak memihak pada rakyat kecil maka dengan tegas bahkan keras mereka menolaknya.

Tetapi tidak jarang juga para pemikir-pemikir peradaban itu terbawa arus setelah mereka mulai mengarungi kehidupan sebenarnya (kehidupan pasca-kampus). Yang awalnya mereka memiliki suara lantang dalam memberantas ketidakadilan, pada akhirnya mereka justru menyerah dan bahkan mendukung para penguasa yang bertindak sewenang-wenang agar bisa mencicipi kelezatan jabatan dan harta.

Inilah yang perlu dipahami oleh para aktivis dakwah bahwa di manapun posisinya maka Al Qur’an dan As Sunnah lah pedoman yang harus dipegang teguh, terlepas sesuai atau tidak daripada idealisme-idealisme palsu. Seperti yang telah dijelaskan “sungguh Aku tinggalkan dua perkara kepada kalian dimana kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya, yaitu kitabullah dan sunnahku. Serta keduanya tidak akan berpisah sampai keduanya mendatangiku di telaga (surga)”. (Lihat al-Hakim, al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain, Kitab al-Ilmi, Hadits no. 322) dan dalam Q.S Al Ahzab: 36 “dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan satu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.”

Hal yang perlu diingat bagi para aktivis dakwah bahwa di manapun dirinya berada maka di sanalah amar ma’ruf nahi mungkar harus diterapkan. Terlepas dari peran kecil atau peran besarnya sebagai tokoh atau bagian dari masyarakat. Karena tidak jarang idealisme pada saat sekolah ditinggalkan ketika masuk dunia kampus (karena menemukan idealisme baru yang lebih menggiurkan). Atau idealisme pada saat di kampus dihapus begitu saja ketika berhasil menaklukkan dunia profesi yang lebih bisa menjamin masa depan.

Gelombang-gelombang arus akan semakin deras setelah para aktivis kampus memasuki zona profesi/ masyarakat. Dari sinilah pertarungan kehidupan baru dimulai. Jika gejolak di kampus saja telah banyak membuang waktu, pikiran, dan tenaga maka di dunia masyarakat akan lebih dari itu. Oleh karenanya, perlu ada kesiapan yang perlu dilatih bagi para aktivis dalam menghadapi kehidupan yang serba menggiurkan.

Memang tidak mudah mempertahankan idealisme atau mengistiqamahkan diri di jalan yang sesuai dengan Islam. Tetapi dengan kesungguhan dan kesabaran maka Insya Allah pasti bisa menghadapi ujian-ujian itu. Sesuai dengan Q.S Al Baqarah: 155 “Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” dan Q.S Al Maidah: 48 “… tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan…” Hal ini pun tertulis pada Q.S Muhammad: 31.

Ribuan langkah dimulai dari satu langkah awal. Begitu pun dengan aktivitas besar di dunia nyata (wilayah pasca-kampus) diawali dari aktivitas kecil. Perlu kesabaran untuk memulainya kembali, tetapi tidak perlu menunda untuk mengawalinya. Anggap saja langkah kecil ini merupakan bagian dalam menerapkan kandungan Q.S Az-Zalzalah: 7-8.

Banyak para aktivis dakwah yang merasa bingung ketika dia kembali ke wilayah setelah mengakhiri masa studinya. Ketika di kampus terasa banyak yang harus diurus karena didukung oleh banyaknya bidang garapan dan manajemen organisasi, setelah di dunia masyarakat mulai meraba-raba apa yang harus dilakukan. Padahal secara logika ladang pekerjaan di wilayah yang notabenenya adalah masyarakat tentu lebih banyak daripada di kampus. Maka langkah awal itulah yang perlu dilakukan oleh para aktivis dakwah dalam mengembangkan wilayahnya. Kebingungan-kebingungan itu bisa dikonsultasikan kepada orang-orang yang telah berpengalaman.

Tidak jarang para aktivis kampus memiliki jarak dengan masyarakat di wilayahnya. Jika di kampus difasilitasi program-program yang mendukung pengabdian pada masyarakat, lain halnya dengan wilayah sendiri. Para aktivis kampus lebih sering menggunakan waktu mudik untuk beristirahat daripada digunakan untuk bersosialisasi. Maka untuk mengawali sosialisasi dengan masyarakat tidak bisa sekaligus dekat dengan mereka. Masyarakat akan melihat hal yang tidak wajar jika para aktivis langsung mengisi peran-peran strategis di antara mereka. Perlu waktu yang cukup bagi masyarakat untuk bisa mengenal. Namun hal ini bukanlah alasan untuk tetap berdiam diri saja. Para aktivis bisa mengambil peran kecil dalam membantu program-program dalam masyarakat. Dari mulai peran kecil inilah para aktivis bisa menjadikannya batu loncatan.

Setelah peran itu mulai berkembang dan masyarakat mulai bisa mengenal dan menerima maka perlu adanya pendekatan dengan para tokoh masyarakat. Maka lambat laun pun dakwah mulai bisa diterima oleh masyarakat luas. Terkadang butuh waktu bertahun-tahun untuk merajut peran kecil menjadi peran besar dalam masyarakat. Dalam kurun waktu itulah aktivis bisa merangkai dan melaksanakan dakwah dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.

Selamat menempuh hidup baru bagi para pewaris peradaban Islam.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Atik NH
Lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia. Tinggal di Sumedang. Berharap tulisannya bisa bermanfaat bagi orang lain (pembaca maupun dirinya). Mari bersama kita mencari ilmu pengetahuan.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Indra Fitriyana)

Kader “Siang Malam Tunggu Panggilan”