Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Berayah Tapi Tak Berbapak

Berayah Tapi Tak Berbapak

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comSatu hari, di dua kota berbeda, dua wanita berhati mulia tak sanggup menahan tetes air mata setelah mendapat kabar dari putri tercintanya.

Wanita pertama adalah seorang ibu yang sudah memasuki usia senja. Yang kedua juga seorang ibu, namun belasan tahun lebih muda dari wanita pertama.

Bukan hanya usia dan tempat tinggal mereka yang beda, tapi makna  dari tangisan merekapun jauh berbeda.

Wanita pertama tak sanggup menahan air mata bahagia setelah mendengar kabar dari putri bungsunya. Betapa tidak, setelah hampir sepuluh tahun menunggu, akhirnya ia akan segera menimang cucu. “Subhanallah wal hamdulillah. Terima kasih ya Allah, Engkau telah mengabulkan doa dan harapanku,” bergetar ia mengungkapkan kebahagiaan hatinya.

Berbeda dengan yang dialami wanita kedua. Berita yang sampai kepadanya sama dengan yang diterima oleh wanita pertama, tapi berbeda ceritanya. Air mata tiada henti mengalir dari kedua mata sayunya. Bagaimanalah tidak, ia akan mempunyai seorang cucu dari putri tunggalnya yang belum menikah. “Astaghfirulloh! Ampuni anakku ya Allah. Ampuni dia…,” gemetar ia menahan duka dan laranya. Hancur luluh hati dan juga harapannya.

Meski sang laki-laki bersedia bertanggungjawab, namun bukan sekedar itu yang jadi permasalahan. Meski  nantinya mereka menikah, tidak lantas selesai semua persoalan.  Bayi itu! Bayi yang tak berdosa itu itu akan terlahir sebagai anak yang ‘berayah tapi tak berbapak’.

Secara biologis, laki-laki itu memang ayahnya tapi secara syara’, ia bukan bapaknya. Bayi yang terlahir dari hasil zina tidak mempunyai hubungan nasab, waris, dan nafaqah dengan lelaki yang menyebabkan kelahirannya. Ia hanya mempunyai hubungan itu dengan ibunya dan juga keluarga ibunya.

Dan jika sang bayi nanti lahir berjenis kelamin perempuan, siapa yang akan menjadi wali bila kelak ia menikah? Laki-laki itu tiada sah menjadi wali nikah. Bagaimana menjelaskan padanya, mengapa wali hakim yang menikahkan sedangkan sang ayah masih hidup,sehat dan bahkan dekat di sampingnya. Bagaimana membuat ia mengerti tentang jati dirinya, masa lalu kedua orang tuanya? Haruskah ia berduka disaat yang seharusnya bahagia? Ia memang tak menanggung dosa perbuatan orang tuanya, tapi dia akan merasakan  dampak buruk yang ditimbulkannya.

Hanya sebatas itu? Tidak! Kelak bila salah satu dari mereka ( anak atau ayah ) meninggal dunia, mereka tiada saling mewarisi. Bukan tak mendapatkan harta yang menjadi kekhawatiran, tapi bagaimana bila mereka memakan harta yang bukan menjadi haknya?

Dan bila teringat itu semua, semakin hancur luluh hati dan perasaannya. Entah berapa kali sudah wanita malang itu tak sadarkan diri.

Wahai diri, pikirlah seribu kali lagi, bahkan lebih dari itu sebelum bertindak. Manusia memang tiada lepas dari salah dan khilaf, tapi jangan jadikan keduanya sebagai alasan dan pembenaran terhadap setiap dosa yang dilakukan. Benar bahwa Allah Maha Pengampun. Sebesar dan sebanyak apapun dosa dilakukan, asal sungguh-sungguh bertaubat, insya Allah akan dimaafkan. Tapi apakah masih ada kesempatan, itu yang jadi permasalahan?!

Wahai diri, jagalah diri, hati dan terutama iman. Jangan teritpu oleh syetan yang menjerumuskan manusia dengan mengatasnamakan cinta, keindahan dan juga kenikmatan. Dari semua yang setan janjikan, tiada satupun mereka propagandakan kecuali agar manusia mau menemaninya di neraka.

Wahai diri, ingatlah tidak semua dosa akan terbalas di akhirat. Jangan jadikan syetan sebagai kawan, jangan dengarkan bujuk rayunya, jangan turuti tipu dayanya, atau akan kau rasakan betapa panas dan pedihnya siksa neraka, dan bahkan bukan tidak mungkin bila sudah harus kau terima dp nya di dunia.

Ya Allah, bimbinglah aku untuk mendekat pada segala sesuatu yang dapat mendekatkanku kepada Mu. Dan kuatkanlah aku untuk menjauh dari segala sesuatu yang dapat menjauhkanku dari Mu. 

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (19 votes, average: 9,21 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abi Sabila
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
  • Munajat

    Is not the human be the judge of all humankind character it is Allah … Do you may think this article is to scare people? It is Allah created us to be imperfect, no human kind in this world is perfect. So before you place such article think if this is in your side first ….  Let me know what you would do as Human from where the above story ..Allah decreed, “If you express gratitude, I shall
    certainly give you more, and if you are ungrateful, then My punishment
    is severe.” (Surah Ibrahim;7)

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Bolehkah Aku Menyentuh Lukamu, Ayah?