Home / Berita / Opini / Kontroversi Erotisme dan Kontroversi Lady Gaga

Kontroversi Erotisme dan Kontroversi Lady Gaga

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comLady Gaga akan hadir dalam konser bertajuk “Born This Way Ball”. Tak lepas dari berbagai kontroversi yang meliputinya sejak kemunculan artis tersebut, di Indonesia konser tersebut sudah memicu perdebatan sengit sebulan sebelum ia sendiri tiba di Indonesia.

Perdebatan yang diusung berlandaskan pada dua isu. Yang pertama adalah kebebasan berekspresi dalam seni, dan yang kedua adalah pencegahan terhadap nilai buruk dari seni itu sendiri. Kebebasan seni seolah membuka pintu bagi seni yang tidak diinginkan atau yang dianggap mengusung nilai buruk. Lady Gaga dalam hal ini membuka kesadaran khalayak Indonesia tentang kebebasan seni yang ternyata bagi beberapa pihak dianggap bertentangan dengan nilai luhur bangsa Indonesia.

Argumen dari pihak yang mendukung konser Lady Gaga cukup simpel. Lady Gaga hanyalah seorang yang mengekspresikan dirinya melalui lagu-lagu dan gerakan tari. Kebebasan ini pada dasarnya sudah diterima oleh semua orang secara umum, termasuk kalangan yang menentang kehadirannya dalam konser yang akan dilaksanakan pada 3 Juni 2012 tersebut.

Di sisi lain, argumen dari pihak yang menolak Lady Gaga tidak diterima atau disadari sebagai hal yang benar oleh seluruh pihak, terutama pihak yang menentang. Jika ia tidak boleh hadir atas dasar melanggar moral ketimuran, lalu moral mana yang dilanggar? Jika ia dianggap mengumbar erotisme, gerakan mana yang dianggap erotis? Erotisme – sama seperti batasan pada pornoaksi dan pornografi – masih belum jelas di negeri ini. Ketidakjelasan tersebut bukan karena tidak adanya pengetahuan tentang erotisme, melainkan karena nilai tabu dari erotisme itu sendiri yang membuat orang yang menolak erotisme sulit untuk menentukan batas mana yang wajar dan mana yang dianggap tidak wajar.

Perdebatan ini kemudian menjadi tidak adil. Di satu sisi kebebasan diterima secara luas oleh berbagai kalangan, melainkan di sisi lain batas-batas moral (seperti dalam hal ini erotisme) sulit untuk dijelaskan, yang kemudian membuatnya menjadi lemah. Standar seperti itu juga dapat dengan mudah dikelitkan orang. Orang yang mendukung konser bisa saja bilang bahwa para penentang yang berpikiran ngeres, sementara mereka menanggap gerakan-gerakan dan kostum Lady Gaga dianggap wajar. Terlepas dari mereka merasakan dorongan syahwat dari melihat aksi Gaga di panggung, mereka dapat dengan mudah menolak anggapan bahwa Gaga berlaku erotis.

Dalam perdebatan ini hal yang perlu diperjelas kembali dalam masyarakat adalah tentang apa yang secara umum diterima. Melalui nilai-nilai universal semuanya akan menjadi jelas. Lady Gaga akan mendapat penilaian yang tepat, seandainya batas-batas erotisme sudah ditetapkan dan batas-batas tersebut berani diungkapkan. Lady Gaga paling tidak menyadarkan satu hal dalam masyarakat kita, yaitu seberapa berani masyarakat mengungkap hal-hal yang sebenarnya dianggap tabu demi mempertahankan kepercayaan mereka.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Atomisbi
Ahmad Tombak Al Ayyubi yang biasa dipanggil Tom saat ini sedang berkuliah di Program Studi Jurnalisme, Departemen Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Di kampusnya ia belajar untuk menulis karya-karya jurnalistik, selain mengikuti klub debat bahasa Inggris dan organisasi keilmuwan yang mengkaji ajaran Islam.

Lihat Juga

ilustrasi - (indonesiarayanews.com)

Inilah Pesepakbola Penuh Kontroversi namun Sarat Prestasi