Home / Pemuda / Cerpen / Sahabat-Sahabat Kecilku

Sahabat-Sahabat Kecilku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (123rf.com / Tjui Tjioe)

dakwatuna.comTiga anak kecil berlarian mengejar layang-layang mereka yang putus. Mereka terus dan terus berlari mengikuti lambaian sang bayu yang terus membawa pergi layang-layang mereka. Hari itu nampaknya bukanlah hari keberuntungan mereka. Layang-layang yang mereka upayakan untuk selamat, ternyata tersangkut pada ranting pohon yang menjulang tinggi. Mereka pun tak kehabisan akal, saling bahu membahu untuk dapat memanjat ke atas pohon.

“Cepat…cepat sebentar lagi sampai.” Teriak salah satu dari mereka, menyemangati temannya yang sedang memanjat.

“Di atas banyak semutnya, ambilkan batang kayu, aku akan coba mengambilnya dari sini.” Kata anak yang memanjat.

“Baiklah, aku akan segera mencarinya.” Kata salah satu dari mereka sambil bergegas pergi.

Ya Rabb, benar-benar suasana yang aku rindukan. Lima tahun sudah tak kujumpai suasana riang anak-anak bermain. Dan kini adalah saatnya aku menumpahkan segenap buncahan rasa rinduku.  Mereka mengingatkanku pada masa kecilku 20 tahun silam. Ya Allah waktu 20 tahun itu terasa hanya sekejap mata. Rasanya baru kemarin aku merasakan masa kanak-kanak seperti mereka, rasanya baru tadi malam aku belajar huruf hijaiyah dengan Mbah Yoso. Ya Rabb 20 tahun yang begitu cepat, kini duniaku telah berubah. Alat permainanku pun juga telah berubah, bukan lagi layang-layang atau bambu-bambu yang kami sulap menjadi perahu atau pedang, namun hari-hariku senantiasa berkutat pada tumpukan buku dan laptop. Itulah alat permainan yang selalu menemani hari-hariku saat ini. Melihat mereka seperti memutar film masa kecilku dulu. Oh teman-teman di manakah kalian sekarang? Akankah kesibukan kita pada dunia masing-masing membuat hubungan persahabatan kita kian merenggang? Ibarat seutas tali yang kini menunggu saat-saat putusnya, karena telah usang dimakan zaman.

5 tahun aku berada di Mesir, tanpa kutahu bagaimana kabar kampungku, terlebih sahabat-sahabatku. Setelah itu aku ditugaskan untuk mengabdi di sebuah pesantren yang ada di Jakarta. Kesibukan yang begitu padat membuatku harus rela untuk mengulur-ulur waktu pulang. Dan saat ini saat gema takbir mengalun di seantero jagad raya, alam dan segala isinya ikut bertakbir membesarkan nama-Nya, Alhamdulillah Allah memudahkanku untuk pulang. Bersilaturahim dengan orang tua, keluarga, guru dan para sahabatku. Merekalah yang telah mengukir warna dalam hidupku. Kebersamaan bersama mereka telah menjadikanku pribadi seperti sekarang ini. Mbah Yoso, dialah guru mengajiku untuk pertama kali. Guru yang begitu ikhlas membagi ilmunya pada anak-anak desa sepertiku, tanpa meminta imbalan sepeser pun. Tanpa jasa beliau tak mungkin aku dapat menginjakkan kaki di bumi Nabi Musa. Allahu Akbar…, hanya Engkau ya Allah yang dapat membalas semua jasa-jasa beliau dengan imbalan yang setara.

Anto, Irfan, Ika, Nana dan sahabat-sahabat kecilku yang lain, di manakah kalian semua sekarang? Aku jadi teringat, dulu kita sering sekali bermain petak umpet. Rimbunan pohon, kolong kursi, rumah tua sampai kamar mandi pun tak luput menjadi markas persembunyian kita. Dulu ketika aku yang jadi dan bertugas mencari kalian semua, saat aku lelah mencari kalian karena tempat persembunyian kalian yang lumayan ribet, aku pun akan dengan setia menunggu kalian di dekat pos permainan. Tak berapa lama kemudian kalian yang akan keluar dari tempat persembunyian kalian. Ha…ha…ha… masa kecil yang begitu indah. Namun kini ke manakah aku harus mencari kalian? Di pos jaga mana aku harus menunggu kalian? Aku seperti orang asing di kampung kelahiranku sendiri tanpa kalian.

“Buk, Ibuk tahu tidak bagaimana kabar sahabat-sahabat kecil saya sekarang?” tanyaku pada Ibuk saat duduk di serambi rumah ketika senja hari.

“Oh maksudmu si Ika, Nana, Anto dan Irfan itu Lif?”

“Betul Buk, dimana mereka sekarang?” kejarku tak sabar.

“Kayaknya dari mereka berlima, kaulah yang paling sukses Lif.” Kata Ibu sambil menepuk pundakku.

“Maksud Ibu?” tanyaku tak mengerti.

“Ika gadis manis itu dulu sempat menjadi TKW di Arab. Namun baru lima bulan dia sudah kembali lagi. Kau tau Lif apa yang dibawanya ketika pulang? Bukan uang atau pun dirham, melainkan janin dalam perut yang tak jelas siapa Bapaknya.”

“Astaghfirullah…, Ika Buk?”

“Ya, dan karena keluarganya tak mau menanggung malu, ia pun dikirim ke rumah pamannya yang ada di Madura. Dan menurut kabar burung ia sudah melahirkan tiga bulan yang lalu. Namun seakan tak mengenal kata jera dia kembali bekerja sebagai TKW sebulan setelah melahirkan.

Ludahku tercekat kaku di kerongkongan, aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Ika yang dulu pernah menjadi primadona kampung itu, harus menanggung cobaan seberat itu. Aku masih ingat, dulu walaupun dia baru duduk di bangku SD, puluhan pemuda kampung berebut untuk mendekatinya. Ia bagaikan artis desa, ke manapun ia pergi kumbang-kumbang akan berkejaran merebut cintanya. Namun kini ia bagaikan bunga layu yang telah terhisap sari madunya oleh kumbang bejat yang tak bertanggung jawab. Aku yakin pilihan untuk kembali bekerja di luar negeri adalah pilihan berat yang harus ia ambil. Ya karena ia harus menghidupi buah hatinya seorang diri. Oh sahabat kecilku, moga Allah senantiasa memberikan kekuatan untukmu dan berkenan menunjukkanmu jalan kehidupan terbaik.

“Lif, Alif kok malah bengong sih? Mau Ibuk lanjutkan nggak?” sergah Ibuk membuyarkan lamunanku.

“Eh iya Buk.”

“Nah kalau si Nana sekarang sudah menjadi perawat di rumah sakit yang ada di Surabaya. Katanya rumah sakit itu milik bapak mertuanya sendiri. Suaminya juga seorang dokter yang bekerja di rumah sakit yang sama. Hebat loh Lif keluarganya itu. Walaupun orang kaya namun mereka begitu baik dan bersedia membantu rakyat kecil dengan penuh keikhlasan. Lebaran tahun lalu, Nana an keluarga suaminya itu menggelar pengobatan gratis untuk warga kurang mampu di desa ini.”

“Subhanallah, Walhamdulillah…, Nana yang kecil itu Buk?”

“Iya siapa lagi kalau bukan dia.”

Nana adalah sahabat paling kecil di antara kami berlima. Karena tubuh kecilnya, seringkali anak-anak menyanyi lagu nyil unyil unyil usro’ setiap kali dia lewat. Sering pula karena kepolosannya dia dikerjain oleh teman-teman. Mulai ditakut-takuti dengan hantu-hantuan, selalu dijadikan orang yang jaga pos setiap kali main petak umpet, sampai anak yang paling sering uangnya dipelorotin oleh teman-teman. Mungkin karena kesabarannya tempo dululah Allah berkenan memberikan kehidupan yang jauh lebih baik untuk masa depannya.

“Anto lain lagi Lif, sekarang dia bekerja di kalimantan mengikuti jejak pamannya. Tahu tidak ia hampir saja bunuh diri dengan minum obat anti nyamuk.”

“Hah bunuh diri? Anto yang selalu menjadi juara itu?”

“Ya, sudah 2 tahun setelah lulus sekolah dia menjadi pengangguran. Kerjaannya hanya lontang lantung tidak karuan. Sesekali dia ngamen di perempatan-perempatan lampu merah. Mungkin karena tidak tahan dengan kehidupan keras yang harus ia jalani dan orang tua yang terus mendesaknya untuk mencari pekerjaan itulah, akhirnya ia nekat untuk mencoba bunuh diri. Pamannya yang bekerja di kalimantan merasa kasihan dengannya, akhirnya Anto diajak merantau bersamanya.”

Kejutan apa lagi ini, kenapa kehidupan Anto berbalik 1800 dengan tempo dulu. Masa kecil Anto yang selalu diliputi oleh juara demi juara, semua orang menyanjungnya. Orang tua, guru dan masyarakat bangga padanya. Namun kini kenapa ia terlihat tak berdaya menghadapi derasnya tempaan kehidupan. Bagaikan jerami yang kian melapuk karena derasnya hujan yang menimpa. Moga Allah selalu memberikan jalan terbaik untuknya.

“Kalau si Irfan sekarang sudah menjadi Ustadz, dia mondok di Jombang lalu mengabdikan diri sebagai ustadz di pesantrennya.”

“Irfan Buk?” tanyaku tak percaya dengan mata berbinar.

“Ya, Irfan yang gendut itu.”

Ilahi, sungguh betapa indahnya skenario hidup yang telah Engkau rangkaikan untuk kehidupan kami. Irfan yang dulu selalu kami anggap sebagai biang kerok waktu di surau, sampai-sampai Mbah Yoso harus mengeluarkan suara yang menggelegar ketika menegurnya, namun kini Engkau angkat derajatnya menjadi seorang ustadz. Moga Engkau senantiasa memberi keberkahan pada ilmunya.

Sahabat-sahabat kecilku engkau mengajariku banyak arti dalam kehidupan ini. Jaminan kehidupan kita di masa depan hanya berada di tangan Allah. Dan Allah tidak akan merubah nasib kita kalau kita sendiri tidak berupaya untuk merubahnya. Anto yang dulu hidupnya begitu bersinar menurutku, selalu di kelilingi oleh sanjungan-sanjungan namun kini ia harus merasakan kerasnya bekerja menjadi buruh di Kalimantan. Irfan yang dulu kami anggap sebagai biang onar, kini Engkau takdirkan dirinya sebagai warosatul ambiya’, penyampai agama-Mu. Kehidupan kecilku yang serba berkecukupan juga telah menempaku menjadi pribadi yang dewasa. Bapakku yang hanya seorang tukang becak, lalu ketika aku menginjak SMP Engkau ambil dia, membuatku begitu frustasi kala itu. Tapi Kau menganugerahi Ibu yang luar biasa untukku. Berkat motivasi dari beliaulah aku begitu bersemangat dalam belajar hingga dapat meraih bea siswa hingga luar negeri. Terima kasih ya Allah atas pelajaran hidup yang Kau berikan. Moga aku dapat selalu mengambil hikmah dari setiap kejadian yang Engkau tampakkan di bumi ini.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Safira Rahima
Safira Rahima adalah nama pena dari Santy Nur Fajarviana. Ingin selalu menjadi manusia pembelajar di universitas kehidupan yang tak ada batas usianya ini. Pernah mendapat juara harapan 2 lomba menulis novel tingkat nasional juga juara 3 lomba menulis artikel tingkat provinsi. Saat ini ia sedang berjuang menggapai mimpinya untuk menjadi penulis best seller dan bercita-cita mendirikan sekolah menulis di kota kelahirannya, Madiun.

Lihat Juga

Ilustrasi. (dakwatuna)

Respons Ulama Sunni Terhadap Pengkafiran Sahabat Rasulullah SAW